JUBILEUM 150 TAHUN HKBP bag. 1

BANGSA YANG BERJALAN DALAM KEGELAPAN

Oleh:

Pdt. Ramlan Hutahaean, MTh

(Sekretaris Jenderal HKBP)

P

eter Bellwood, guru besar arkeologi dari Universitas Nasional Australia pernah mengemukakan teori bahwa berdasarkan bukti-bukti bahasa dan arkeologi, masyarakat pengguna bahasa-bahasa Austronesia yang mendiami Pulau Sumatera adalah pendatang yang berasal dari Taiwan dan Filipina, setelah menyinggahi Jawa dan Kalimantan, kurang lebih abad ke-5 sebelum Masehi. Orang Batak, lanjut Bellwood, adalah salah satu kelompok pendatang itu.[i] Para pendatang yang berlatar belakang budaya pertanian itu selanjutnya berbaur dengan penduduk asli yang telah lebih dulu mendiami Sumatera.

Ada tiga asumsi mengenai motif migrasi para pendatang itu. Pertama adalah motif ekonomi, yakni untuk mencari daerah pertanian yang lebih menguntungkan karena semakin terbatasnya lahan di pemukiman semula. Kedua adalah motif politik, yakni konflik di dalam kelompok akibat persaingan para pemimpin serta oleh penaklukan kekuatan luar. Ketiga adalah motif alamiah, yakni akibat bencana alam.[ii]

Lepas dari motif pasti mengapa migrasi itu terjadi, para pendatang, yang selanjutnya dikenal sebagai orang Batak itu, lantas memilih wilayah pedalaman di sekitar Danau Toba sebagai pemukiman mereka. Keterkucilan geografis itu selanjutnya melahirkan anggapan bahwa orang Batak terisolasi, terpenjara dalam kerangka berpikir primitif, kebiasaan-kebiasaan liar, ganas, tidak beradab, barbar.  Anggapan itu dilekatkan oleh para penjelajah asing, baik yang pernah menginjakkan kaki maupun tidak di tanah Batak. Mereka mendeskripsikan masyarakat Batak sebagai sebuah suku ganas dari pedalaman Sumatera. Predikat itu terbentuk sedemikian rupa dan secara telak mengubur fakta bahwa di luar batas-batas geografisnya di jantung Sumatera, orang Batak memiliki kontak yang intensif dengan dunia luar.

Identitas Batak dan Pengaruh Luar

Berdasarkan bukti-bukti arkeologis mengenai Barus, pusat perdagangan internasional pantai Barat Sumatera sejak abad ke-8, orang Batak memiliki peran yang tidak kecil dalam aktivitas perdagangan di kota pelabuhan itu. Komoditi kamfer dan kemenyan yang menjadi ekspor utama Barus, dibudidayakan di hutan-hutan dataran tinggi Toba. Dalam aktivitas perdagangan itu orang Batak niscaya mengalami perjumpaan dengan manusia dari bangsa-bangsa lain mulai dari Arab, Persia, India, hingga China. Sebuah inskripsi berbahasa Tamil di Lobutua, Barus, yang ditulis tahun 1088 menjelaskan adanya komunitas masyarakat Tamil di tempat itu. Selain itu, keberadaan benda-benda keramik China di tempat yang sama juga menjelaskan keberadaan pedagang-pedagang Tiongkok. Di tanah Batak selatan, peninggalan candi di Padang Lawas menunjukkan adanya kontak teratur antara orang Batak dengan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Hubungan itu terjalin melalui simpul-simpul perdagangan dan politik. Orang Batak juga telah memiliki perjumpaan dengan kekristenan melalui orang-orang Persia. Laporan-laporan pedagang China pada abad ke-7 menyebutkan bahwa orang-orang Persia yang beragama Kristen dari golongan Nestorian melakukan kegiatan perdagangan dan keagamaan di Barus. Sedangkan dengan Islam, orang Batak telah mengenalnya dengan baik melalui aktivitas para pedagang Arab di kota yang sama. Interaksi global antara orang Batak dengan dengan bangsa-bangsa lain juga nampak dari gagasan-gagasan sosial keagamaan yang terserap dalam kebudayaan Batak. Harry Parkin, menyebutkan bahwa keberadaan orang-orang Tamil di Barus sejak abad ke-10 memberikan pe-ngaruh yang tidak kecil bagi perkembangan aga-ma, budaya dan sistem sosial orang Batak.[iii]

Sayangnya, serang-kaian bukti bahwa orang Batak adalah masyarakat terbuka dan memiliki kontak yang intensif de-ngan bangsa-bangsa lain semilenium yang lalu, tidak memupus predikat bangsa barbar sebagai identitas orang Batak. Marco Polo, pengelana Eropa pertama yang singgah di Sumatera menyebutkan dua macam penghuni pulau itu. Pertama adalah kelompok masyarakat pesisir yang sudah memeluk agama Islam. Kedua adalah kelompok masyarakat pedalaman yang masih hidup dengan cara barbar. Kelompok masyarakat pedalaman itu menunjuk kepada keberadaan orang Batak. Catatan buram itu dilanjutkan oleh Niccolò de’Conti, penjelajah dari Venesia. Berdasarkan kunjungannya ke Barus tahun 1421 penjelajah Italia itu menginformasikan tentang “orang Batak yang hidup secara kanibal dan berperang terus-menerus dengan tetangga mereka.”

Pendapat senada datang dari penjelajah Tiongkok, Zhao Rugua, yang menggunakan kata ‘Ba-ta’ untuk mendeskripsikan penduduk barbar Sumatera di bawah perwalian Kerajaan Sriwijaya. Laporan penjelajah Portugis Tomé Pires juga tidak berbeda. Dia menyebut adanya Kerajaan Batak, yang berbatasan dengan Kerajaan Aru dan Kerajaan Pasai, dengan kebiasaan kanibalisme.[iv] Anggapan-anggapan itu tampaknya mengikuti pandangan yang sudah terbentuk berabad-abad sebelumnya. Dalam tulisannya sekitar tahun 100 seb.M, Ptolomeus, sejarahwan Yunani mencatat adanya praktek kanibalisme di pedalaman Barusae, yang diidentifikasi sebagai Barus. Identifikasi negatif semacam itu selanjutnya membentuk anggapan bahwa praktek tersebut benar-benar ada dalam kehidupan orang Batak.

Parahnya, predikat orang Batak sebagai bangsa barbar dan pelaku kanibalisme tidak berubah hingga awal abad ke-19 saat Barus sudah kehilangan pengaruh perdagangannya dan digantikan oleh Sibolga dan Padang. Charles Miller dan Giles Holloway dari Inggris yang mengunjungi daerah Mandailing, Angkola dan sebagian Silindung pada tahun 1772 juga bersikukuh bahwa praktek kanibalisme di kalangan orang Batak masih ada. Selanjutnya, dua pekabar Injil  Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward yang sempat mengabarkan Injil hingga Tarutung, juga melaporkan adanya indikasi kanibalisme di desa-desa Batak yang mereka lalui. Pendapat ini belakangan didukung sepenuhnya setelah kematian dua pekabar Injil  dari Gereja Baptis Amerika, Samuel Munson dan Henry Lyman dalam sebuah insiden berdarah di Lobupining, Silindung tahun 1834. Kabar burung dihembuskan, orang Batak memakan tubuh mereka.

Baru pada pertengahan abad ke-19, pandangan itu diragukan  oleh peneliti Jerman, Franz Wilhem Junghuhn, yang menjelajahi tanah Batak kurun waktu 1840-1841. Selama 17 bulan keberadaannya di daerah Batak, Junghuhn mengaku tidak pernah menyaksikan praktek kanibalisme di desa-desa Batak. Dia malah heran mengapa predikat barbar dan kanibalisme itu melekat pada diri orang-orang Batak selama berabad-abad. Dalam bukunya Die Battaländer auf Sumatra (1847), Junghuhn menyimpulkan bahwa cerita-cerita barbarisme dan kanibalisme hanya rumor yang sengaja diciptakan orang Batak sendiri untuk membentengi diri dari ancaman luar yang mungkin mengganggu ketenteraman mereka. Demikian orang Batak membentuknya selama berpuluh-puluh abad. Kesimpulan Junghuhn menjadi relevan karena ketika dia berkunjung, orang Batak masih trauma akibat serangan pasukan Padri.

Silang Budaya Agama Tradisional Batak

Interaksi dengan banyak bangsa sejak berabad-abad lampau merupakan jalinan yang membentuk tradisi sosial keagamaan tradisional Batak. Seperti diterangkan di atas, terdapat berbagai pengaruh luar yang dialami orang Batak di tengah-tengah aktivitasnya dalam perdagangan internasional di Barus. Menurut Parkin, pengaruh terbesar yang membentuk agama tradisional Batak serta nilai-nilai sosial budaya yang mengikatnya berasal dari Hindu Sivaisme yang dibawa oleh pengusaha-pengusaha Tamil di Barus.[v] Selain itu terdapat pula elemen Tantrisme yang berasal dari Majapahit, elemen Buddha Mahayana melalui kontak dagang dan politik dengan Sriwijaya.

Tidak mudah merekonstruksi bagaimana unsur-unsur asing itu membentuk silang budaya yang memengaruhi pembentukan sistem sosial, budaya dan agama tradisional Batak. Namun berdasarkan penelitian Parkin, di antara ketiga pengaruh dimaksud, Sivaisme memberikan pengaruh yang paling dominan. Ajaran Sivaisme adalah praktek keagamaan Hindu yang dipeluk masyarakat Tamil di India. Ajaran itu terutama menekankan keyakinan astrologis, takhyul dan ramalan-ramalan. Di sana, orang-orang tertentu, yang terdidik secara khusus di bidang keagamaan, memiliki peranan sosial yang besar. Berdasarkan bukti-bukti yang terdapat dalam pustaha-pustaha serta peran sosial datu dalam kehidupan orang Batak, Parkin meyakini bahwa praktek keyakinan orang Batak mengenai ramalan, takhyul, roh-roh, astrologi, dan sebagainya, sama dengan praktek yang umum ditemukan dalam kehidupan orang Tamil di India.

Parkin menyebut proses penyerapan pengaruh asing itu dengan istilah indigenisasi. Indigenisasi adalah adopsi, adaptasi dan transformasi yang dilakukan orang Batak terhadap keyakinan luar yang bermanfaat membentuk sistem sosial, budaya, dan agama yang terbarukan dan khas Batak. Hasil indigenisasi itu selanjutnya dicampur dengan elemen-elemen keyakinan lain yang, sekali lagi, dinilai bermanfaat oleh orang Batak. Sintesis dari berbagai keyakinan luar itulah, demikian Parkin, yang membentuk agama tradisional Batak. Jadi, agama tradisional Batak adalah hasil campuran berbagai elemen luar yang dicampur-baur sedemikian rupa. Parkin yakin bahwa bentuk dan tradisi keagamaan Batak adalah hasil dari apa yang dia sebut sebagai ‘Batakisasi India dalam bentuk, dan Indianisasi Batak dalam isi.’[vi]

Bilamanakah pengaruh itu menghampiri alam kebatakan? Pengaruh Hindu dalam kebudayaan Batak terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi pada kurun waktu abad ke-2 hingga abad ke-12, yang berpusat di Barus atau pantai barat Sumatera. Gelombang kedua terjadi pada kurun waktu abad ke-13 dan abad ke-14 melalui Melayu atau pantai Timur. Gelombang kedua itu mencapai tanah Batak setelah merambah dan memengaruhi kehidupan masyarakat di daerah Karo dan Pakpak.[vii] Pengaruh-pengaruh itu nampak dalam pembentukan silsilah dinasti Sisingamangaraja dan keyakinan bahwa Sisingamangaraja I merupakan titisan Batara Guru (Bhattâra Guru) yang merupakan sebutan Siwa (Siva) dewa tertinggi Sivaisme. Pandangan itu juga dikaitkan dengan keyakinan agama Batak mengenai tiga dewa tertinggi (debata na tolu) agama Batak tradisional, Batara Guru (Maheshvara, Shiva), Soripada (Shri Pada, Wisnu) dan Mangalabulan (Mahakala), yang cocok dengan susunan trimurti dalam Sivaisme. Selain itu, praktek-praktek pemujaan agama tradisional Batak memantangkan babi baik untuk dikonsumsi maupun sebagai korban persembahan. Hal yang sama ditemukan dalam praktek keagamaan Sivaisme.

Orang Batak juga mengadopsi elemen Buddha dalam praktek ke-agamaannya. Seperti diu-raikan di atas, pengaruh Buddha Mahayana datang melalui kontak dagang dan politik dengan Sriwijaya di Sumatera Selatan. Sejak lama, Barus memasok kamfer dan kemenyan dalam jumlah yang besar ke Sriwijaya. Di pihak lain pengaruh Tantrisme da-tang dari Majapahit mela-lui Melayu, Pagaruyung-Minangkabau dan Padang Lawas. Tantrisme berkem-bang bersamaan dengan kejayaan Majapahit abad ke-13 hingga abad ke-16.  Menurut Helmut Lukas, pengaruh elemen Buddha dan Tantrisme dalam agama tradisional Batak dapat ditemukan dalam konsepsi mitologis mengenai Sisingamangaraja I. Disebutkan bahwa pada masa mudanya, Sisingamangaraja I gemar melakukan aksi belas kasih kepada para pengikutnya selama beberapa waktu. Menurut Lukas, tema belas kasihan bukanlah bagian dari karakter Batak yang asli.

Pengaruh-pengaruh asing itu bukan isapan jempol belaka. Terdapat beberapa bukti material jejak-jejak Hindu dan Buddha di tanah Batak. Selain prasasti mengenai keberadaan kelompok pengusaha Tamil di Lobutua, Barus, juga ditemukan patung Ganesha di daerah Simangambat, Tapanuli Selatan, yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 atau ke-9, patung-patung dan relif pada makam raja-raja di Dairi dan bagian barat Danau Toba, serta patung kepala naga yang pernah ditemukan di Tuktuk, Samosir. Silang budaya pengaruh luar dalam perkembangan agama tradisional Batak di atas menunjukkan, pada satu sisi, bagaimana adaptasi orang Batak terhadap berbagai peluang perubahan yang dapat dimanfaatkan demi mengembangkan dirinya sendiri. Pada sisi lain, adaptasi dilakukan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menghindari tekanan eksternal yang berpotensi merusak tatanan yang ada. Karakter adaptatif tersebut terus dipertahankan orang Batak bahkan ketika Injil telah menerangi kehidupan sebagian besar orang Batak.

Pada akhir abad ke-19, sebagai tanggapan terhadap perubahan sosial yang disebabkan kekristenan dan kolonialisme, agama tradisional Batak dicoba dipertahankan oleh para pendukungnya dengan cara yang hampir sama dengan abad-abad sebelumnya.  Seorang datu dari Haumabange, Balige, bernama Guru Somalaing Pardede, melakukan sebuah usaha pembaruan praktek dan ajaran agama tradisional Batak yang dia sebut Parmalim. Dari segi sosioreligius inisiatif Somalaing merupakan respons terhadap agama Kristen yang secara struktural mengakibatkan hilangnya otoritas para pemimpin agama tradisional atau kalangan datu seperti dirinya. Dari segi sosiopolitis, meluasnya kekuasaan kolonial Belanda telah mendesak dengan sangat kuat otoritas tradisional tadi ke garis paling pinggir sistem kekuasaan. Somalaing mendirikan Parmalim setelah dia bertemu dengan ahli ilmu alam dari Italia, Elio Modigliani. Saat itu Somalaing menjadi penerjemah dan pemandu Modigliani mengelilingi desa-desa Batak hingga ke daerah Asahan. Perjalanan bersama Modigliani memberinya pengetahuan baru mengenai Katolik dan Islam.

Pengetahuan itu menjadi inspirasi bagi Somalaing untuk melakukan usaha-usaha indigenisasi ajaran-ajaran agama asing ke dalam bentuk agama tradisional Batak yang dia anut. Di bawah pengaruh itu, Somalaing lantas melakukan penafsiran terhadap trinitas yang disebutnya terdiri dari Yehowa, Maria, dan Yesus. Di bawah ketiganya terdapat ilah-ilah yang berada di berbagai tempat seperti Singamangaraja (Bakara), Raja Rum (Roma), Raja Stambul (Istanbul), Raja Hatorusan, Ompu Raja Uti, Deak Parujar dan Naga Padoha. Keempat nama terakhir adalah tokoh-tokoh dalam mitologi Batak. Belakangan, nama Nommensen dan Pohlig, pendiri sekolah teknik Laguboti, dimasukkan ke jajaran ilah-ilah itu. Nommensen digelari Raja Tuan Omas atau Ompu Raja Uluan, Pohlig digelari Raja Sipapolin Uhum. Tidak cukup dengan modifikasi ajaran, ritus-ritus Parmalim juga menambahkan ayat-ayat Alkitab Perjanjian Lama ke dalam praktek pemujaan mereka.[viii]

Contoh lain mengenai adaptasi keagamaan orang Batak adalah munculnya aliran Par-siakbagi, tak lama setelah Soma-laing dipenjara oleh kolonial Belanda akibat aktivitasnya. Keisti-mewaan Parsiakbagi adalah bahwa gerakan ini dimotori orang-orang yang pernah memeluk agama Kristen. Parsiakbagi digunakan un-tuk menyebut aliran yang dimotori oleh seorang pengrajin emas dari Nagasaribu, Humbang, bernama Jaga Siborutorop. Motor lainnya adalah Mulia Naipospos, yang pernah menjadi sintua beberapa tahun sebelum menjadi pemimpin gerakan Malim di Hutatinggi, Laguboti. Terdapat juga Gaius Hutahaean, guru injil yang dipecat. Secara ekstrim Parsiakbagi menerima Yesus sebagai satu-satunya guru dan pemimpin. Mereka juga memahami bahwa penderitaan adalah akibat dosa manusia. Pengakuan dan pengampunan dosa adalah jalan keluar dari penderitaan itu. Konsep demikian ini jelas merupakan adaptasi dari ajaran Kristen yang pernah mereka pelajari.[ix]

Parmalim dan Parsiakbagi  merupakan gambaran orang Batak yang sangat sukar untuk sungguh-sungguh beralih kepada keyakinan baru. Tanggapan orang Batak menghadapi pengaruh luar adalah khas. Orang Batak memasukkan elemen-elemen asing yang bermanfaat ke dalam kerangka lama kebatakan untuk selanjutnya menghasilkan bentuk baru. Tujuannya adalah mempertahankan kebatakan itu sendiri untuk waktu yang tidak terhingga.

Tujuan Hidup orang Batak

Selama ribuan tahun berbagai pengaruh luar telah mengubah banyak konsep-konsep kebatakan. Namun kebatakan tetap eksis dalam sejarah. Komitmen tinggi orang Batak untuk selalu mempertahankan kebatakannya tidak terlepas dari usahanya yang gigih mencapai tujuan hidup yakni hamoraon, hasangapon, hagabeon. Secara tradisional seluruh energi orang Batak terkuras demi perwujudannya.

Dengan hamoraon, orang Batak berusaha memiliki akses sebesar mungkin kepada sumber-sumber daya ekonomi. Indikator hamoraon adalah besar kecilnya kepemilikan aset bernilai ekonomis. Hasangapon mendorong orang Batak untuk mengakuisisi sebanyak mungkin klaim-klaim kekuasaan baik secara formal maupun informal. Jabatan rendah dan tinggi merupakan indikator besar kecilnya kuasa yang dimiliki. Hagabeon mengindikasikan luasnya akses demografis berdasarkan hubungan genealogis.

Ketiga tujuan hidup ini terjalin secara mutualistis di mana tujuan yang satu mensyaratkan tujuan yang lain. Kelangsungan satu tujuan didukung oleh terwujudnya tujuan yang lain. Hamoraon, misalnya, tidak begitu berdampak jika yang bersangkutan tidak memiliki keturunan banyak yang suatu saat akan membuat tingkat kekayaan semakin bertambah. Di sisi lain, hamoraon dapat diberdayakan untuk mendapatkan otoritas sosial, politik, dan budaya.  Pentingnya pencapaian ketiga tujuan hidup itu memengaruhi pandangan dunia (world view; sitz im leben) orang Batak dalam banyak hal. Pandangan dunia itu pula, pada gilirannya, membentuk sistem berpikir pragmatisme orang Batak. Pragmatisme orang Batak nampak dalam tindakan mewujudkan tujuan hidupnya. Sikap itu seringkali nampak, dengan mengorbankan berbagai hal mendasar, semata-mata untuk mempercepat terwujudnya tujuan hidup. Kita bisa melihat bahwa indeginisasi agama lain ke dalam kerangka kebatakan adalah dalam rangka menguatkan tujuan-tujuan kebatakan itu sendiri. Usaha Parsiakbagi, yang mendistorsi komponen penting konsep agama tradisional Batak mengenai trimurti adalah contoh corak pragmatisme Batak itu.

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa pada lapisan-lapisan ideologinya, orang Batak menempatkan kebatakan sebagai lapisan teratas. Lapisan-lapisan di bawahnya boleh berganti rupa dan bentuk namun semuanya dipahami sebagai penyangga lapisan teratas agar tetap bertahan dengan melewati proses adaptasi, adopsi dan transformasi. Prinsip seperti itu tertap bertahan ketika orang Batak diperkenalkan dengan elemen-elemen kekristenan pada pertengahan abad ke-19. rh

Sumber: Buku: Berakar, Dibangun, Tumbuh di Dalam Dia

Kilas Balik Pelayanan HKBP Menyambut Tahun Jubileum 2011

Endnote:


[i] Peter Bellwood, Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago (Honolulu: University of Hawaii Press, 1997). Akar-akar Austronesia dalam bahasa  Batak juga dikemukakan oleh Uli Kozok, Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak (Jakarta: KPG, 1999).

[ii] Togar Nainggolan, Batak Toba di Jakarta: Kontinuitas dan Perubahan Identitas (Medan: Binamedia, 2006), 48.

[iii] Harry Parkin,  Batak Fruit of Hindu Thought (Madras: The Christian Literature Society, 1978)

[iv] Leonard Andaya, “The Trans-SumatraTrade and the Ethnicization of the Batak”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 158, No. 3 ( Leiden: University of  Leiden, 2002), 367-409.

[v] Harry Parkin,  Batak Fruit, 134ff.

[vi] Harry Parkin,  Batak Fruit, 64

[vii] Helmut Lukas, “Theories of Indianization: Exemplified by Selected Case Studies from Indonesia (Insular Southeast Asia),” Manuscript (Bangkok: 2003), 12.

[viii] Lance Castle, Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940 (Jakarta: KPG, 2001), 58. Lihat pula, J.T. Nommensen, Ompui I.L. Nommensen, I & II  (Tarutung: YRPLT, 2003), 233.

[ix] Lance Castle, Kehidupan Politik, 59

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s