HATI-HATI IBADAHMU YANG PALSU

HATI-HATI IBADAHMU YANG PALSU

Yesaya 1: 1-10

1.   Latar belakang sejarah bagi pelayanan nubuat Yesaya, anak Amos adalah Yerusalem pada masa pemerintahan empat raja Yehuda: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia (Yes. 1:1). Raja Uzia wafat pada tahun 740 SM (band. 1 Sam 6:1) dan Hizkia pada tahun 687 SM; jadi, pelayanan Yesaya meliputi lebih daripada setengah abad sejarah Yehuda. Menurut tradisi Yahudi, Yesaya mati syahid dengan digergaji menjadi dua (band. Ibr. 11:37) oleh Raja Manasye putra Hizkia yang jahat dan penggantinya (+ 680 SM).

Yesaya rupanya berasal dari keluarga kalangan atas di Yerusalem; dia orang berpendidikan, memiliki bakat sebagai penggubah syair dan berkarunia nabi, mengenal keluarga raja, dan memberikan nasihat secara nubuat kepada para raja mengenai politik luar negeri Yehuda. Biasanya, Yesaya dipandang sebagai nabi yang paling memahami kesusastraan dan paling berpengaruh dari semua nabi yang menulis kitab. Ia menikahi seorang wanita yang juga berkarunia kenabian, dan pasangan ini memiliki dua putra yang namanya mengandung pesan yang simbolik bagi bangsa itu.

Yesaya hidup sezaman dengan Hosea dan Mikha; ia bernubuat selama perluasan yang mengancam dari kerajaan Asyur, keruntuhan terakhir Israel (kerajaan utara) serta kemerosotan rohani dan moral di Yehuda (kerajaan selatan). Yesaya memperingati raja Yehuda, Ahas, untuk tidak mengharapkan bantuan dari Asyur melawan Israel dan Aram; ia mengingatkan Raja Hizkia, setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing menentang Asyur. Ia menasihati kedua raja itu untuk percaya Tuhan saja sebagai perlindungan mereka (Yes. 7:3-7; Yes. 30: 1-7). Yesaya mempunyai pengaruhnya terbesar pada masa pemerintahan Raja Hizkia.

2.   Mengapa Tuhan membandingkan manusia dengan binatang? Padahal manusia adalah ciptaan mulia, gambar Allah yang melampaui semua makhluk ciptaan lainnya.

Justru itulah yang memedihkan hati Allah. Perilaku bangsa Israel, yang adalah umat pilihan-Nya, tidak mencerminkan sama sekali kemuliaan Allah. Sepertinya tingkah laku mereka memperlakukan Allah tidak memakai akal budi dan nurani. Kalau binatang yang hanya hidup dari naluri hewani saja tahu siapa majikannya, masakan manusia tidak mengenal Allah, Sang Pencipta dan Pemiliknya? Di mana akal budi manusia tatkala memilih membelakangi Tuhan, alih-alih menyembah Tuhan (ayat 4)? Bahkan umat Israel memilih menyembah ilah-ilah palsu.

Di manakah nurani umat Allah? Bukankah seharusnya setiap pukulan kasih Allah diterima untuk memperbaiki diri dan tulus menyembah Dia (ayat 5-6). Namun mereka menipu Allah dengan persembahan kurban yang tidak tulus, seakan-akan sesajen untuk menyuap Allah (ayat 11-15). Betapa mereka hidup dalam kepalsuan. Di rumah Tuhan ibadah begitu sema-rak, tetapi di luar mereka menindas sesama dan mencelakakan orang-orang yang tidak berdaya (ayat 16-17). Yesaya menyamakan perilaku umat Tuhan seperti penduduk Sodom dan Gomora yang hatinya sama sekali tidak peka akan kenajisan hidup yang menyakitkan hati Allah. Tidak berlebihan kalau hukuman dahsyat dirancangkan Allah atas mereka.

Sebagai umat tebusan Kristus, mari kita melatih kepekaan kita terhadap kekudusan Allah. Dengan akal budi yang terus menerus diperbarui (Rm. 12:2) kita menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Jangan terjebak tipu daya dunia yang menawarkan ilah palsu, kekayaan, dan kenikmatan duniawi. Dengan nurani yang terus menerus dilatih dalam kekudusan, kita melayani Dia dengan tulus dan setia. Jangan jatuh dalam godaan egoisme, semata untuk keuntungan diri sendiri. Teladani Kristus yang hidup bagi kemuliaan Allah dan menjadi berkat untuk manusia.

3.   Aplikasi. Pada zaman Nabi Yesaya, orang Yahudi mengikuti perayaan-perayaan religius sesuai hukum. Mereka datang pada waktu yang tepat, mempersembahkan korban dengan jumlah yang benar, serta menaikkan banyak doa. Namun ketika meninggalkan tempat ibadah, sepertinya mereka juga meninggalkan Tuhan di situ.

Hampir 3.000 tahun telah berlalu, tetapi tidak banyak perubahan yang terjadi. Terkadang kita berpikir bahwa kita sudah menunaikan kewajiban terhadap Tuhan dengan pergi ke gereja serta memberikan persembahan. Namun tindakan ini justru tidak menyenangkan bagi Allah, dan bukannya menjadi berkat. Ini karena kita tidak menyelesaikan tugas yang dipandang penting oleh Allah-berbuat baik, mencari keadilan, membela anak-anak yatim, dan berjuang untuk para janda (lih. juga Yes. 1:17).

Allah tidak terkesan dengan kebaktian yang penuh sesak, jika orang orang datang dengan hati yang kosong. Tuhan rindu bertemu dengan jemaat yang dipenuhi dengan kasih kepada Allah. Dengan kasih itu dari hidupnya akan keluar perbuatan baik kepada orang lain.

4.   Iman yang Palsu. Akropolis, kuil kuno terkenal yang terletak di atas bukit di Atena tak pernah sepi dikunjungi para wisatawan selama berabad-abad. Dari situ, ribuan pelancong dari segala penjuru dunia sering membawa bongkahan batu pualam sebagai oleh-oleh.

Namun, bagaimana mungkin bongkahan batu itu tidak pernah habis? Jawabannya sangat mudah. Setiap beberapa bulan, sebuah truk yang bermuatan batu pualam didatangkan dari sebuah tempat, ribuan kilometer jauhnya dari situ. Batu-batu tersebut kemudian ditebarkan di seluruh daerah Akropolis. Jadi para turis selalu dapat pulang sambil dengan bangga membawa benda yang mereka kira suatu peninggalan bersejarah yang benar-benar asli.

Kita dapat terkecoh dengan berbagai penipuan semacam itu. Bahasa dan musik religius, benda-benda dan pelayanan religius dapat membodohi kita dan membuat kita berpikir bahwa kita sedang mengalami jamahan Allah. Padahal kita hanya terjebak dalam rutinitas yang hampa.

Pada zaman Nabi Yesaya, kebanyakan orang Israel hanya mengikuti arus. Itulah sebabnya Allah berkata, “Jangan lagi membawa persembahan yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku …. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya” (Yes. 1: 13-14).

Penipuan yang bersifat religius hanya akan membuat jiwa kita tetap dahaga. Tindakan-tindakan kita yang saleh belum tentu merupakan iman sepenuh hati yang dikehendaki Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s