KASIH SETIA TUHAN

Nas: Yunus 4 : 1 – 11

Penjelasan Teks

  1. Ay. 1-3. Yunus bereaksi atas sikap Tuhan yang mengampuni penduduk Niniwe. Yunus marah karena seolah Tuhan sudah mempermainkan dirinya. Sejak awal Yunus sudah menunjukkan sikap tidak bersedia menjadi nabi bagi Niniwe dengan cara melarikan diri ke kota lain, Tarsis. Penolakannya terhadap tugas menyampaikan berita kepada Niniwe adalah Yunus menganggap Niniwe berbeda dengannya. Perbedaan Niniwe selain Niniwe terkenal jahat, Niniwe bukanlah bagian dari Israel. Niniwe juga tidak menyembah Allah yang sama dengannya. Niniwe pun mempunyai karakteristik budaya dan kebiasaan yang berbeda dengan dirinya. Setelah pengalaman masuk ke perut ikan selama 3 hari, Yunus akhirnya menyanggupi untuk membawa berita penghukuman kepada Niniwe. Namun dia tidak membayangkan bahwa Tuhan akan mengampuni Niniwe ketika Niniwe bertobat. Dalam bayangannya, Tuhan adalah Allah yang konsisten dalam penghukuman terhadap Niniwe. Walaupun Yunus mengenal Tuhan yang maha penyayang dan pengasih serta pengampun, tetapi tindakan Tuhan terhadap Niniwe tidak sejalan dengan prinsip Yunus. Pertentangan prinsip antara Tuhan dan Yunus itu membuat Yunus berseru bahwa lebih baik dia mati saja.
  2. Ay. 4-8: Tuhan mendidik Yunus untuk memahami tindakan kasih-Nya kepada Niniwe melalui peristiwa pohon jarak. Tuhan memberi pohon jarak kepada Yunus untuk menghibur hatinya yang penuh kemarahan. Ketika Yunus mulai suka dan sayang terhadap pohon jarak, Tuhan membuat pohon jarak itu mati karena ulat, sehingga pohon jarak itu tidak bisa lagi melindungi dirinya dari panas terik. Kembali Yunus marah karena seolah Tuhan mempermainkan dirinya lagi. Seolah dia menyesali mengapa Tuhan harus memberikan pohon jarak yang sudah dia sayangi kalau akhirnya Tuhan mengambil pohon itu dari hidupnya. Yunus kembali merasa bertentangan dengan Tuhan, karenanya dia ingin mati saja.
  3. Ay. 9-11: Didikan Tuhan atas Yunus melalui pohon jarak mengajarkan kepada Yunus bahwa betapa Tuhan mengasihi Niniwe, walaupun Niniwe bukanlah bangsa/kota yang sama seperti bangsa di mana Yunus berasal. Tuhan mengasihi semua bangsa, termasuk Niniwe yang berbeda kepercayaan, budaya dan kebiasaan. Tuhan mengasihi mereka karena mereka adalah ciptaan Tuhan dan tidak menghendaki semua ciptaan-Nya binasa. Tuhan pun mengajarkan Yunus untuk mengerti dan memahami bangsa Niniwe yang melakukan kejahatan karena mereka tidak mengerti akan tindakan mereka. Ketika Niniwe sadar akan ketidakmengertiannya, Tuhan ingin mengajak Yunus untuk memahami mengapa Tuhan mengampuni Niniwe.

Aplikasi: Perspektif Allah dan perspektif manusia:

  1. Yunus, seperti juga kita semua, seringkali buta terhadap diri sendiri. Yunus lupa bahwa Tuhan telah berbelas kasihan kepadanya dan bahwa ia dan orang-orang Niniwe adalah manusia yang tidak taat pada Tuhan. Anehnya, Yunus melihat bahwa hanya dia, bukan Niniwe, yang layak diselamatkan. Pandangan ini menyebabkan Yunus marah ketika melihat Tuhan mengampuni orang Niniwe. Bagi Yunus, misi sebenarnya adalah memproklamasikan peringatan Tuhan dan menyaksikan-Nya menghancurkan bangsa Asyur yang jahat itu.
  2. Yunus tidak bisa menerima kenyataan jika karakter Tuhan yang baik juga dinikmati oleh bangsa yang jahat. Tuhan mengerti kondisi hati Yunus. Karena itu, untuk membuat Yunus mengerti hati-Nya, Ia membandingkan kasih-Nya kepada Niniwe dengan kasih Yunus kepada pohon jarak yang menaunginya. Kalau Yunus bisa begitu mengasihi pohon yang tidak ditanamnya dan hanya dekat dengannya selama satu malam, apalagi Tuhan terhadap 120.000 orang Niniwe.
  3. Kadang-kadang kita sering membentuk Allah seperti konsep pikir manusia. Jika manusia berbuat baik hanya kepada orang yang baik padanya, maka ‘harusnya’ Allah juga hanya peduli dan memperhatikan orang yang setia dan baik pada Allah. Konsep pikir kita membuat kita gagal memahami eksistensi Allah. Kita mengenal Allah, kita bekerja untuk Allah, kita hidup di rumah Allah tapi kita oleh pikiran kita menjadi tidak mengenal Allah sebagai Allah yang penuh cinta kasih, di mana kasihNya melampaui dosa manusia, sehingga memberi AnakNya yang tunggal untuk manusia, supaya manusia berdosa bisa beroleh keselamatan, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3: 16-21).
  4. Maunya Yunus dapat menyaksikan Allah menghukum bangsa yang jahat itu, menunggangbalikkan kota Niniwe. Dia ingin melihat bagaimana penderitaan akan dialami orang yang tidak patuh pada Tuhan, sebagaimana yang diberitakannya. Ketika Allah melakukan sebaliknya, mengampuni bangsa itu, amarahnya bangkit. Dia bahkan ingin mati, tidak mau melihat kebaikan Allah menyelamatkan bangsa itu. Dia kesal pada Allah karena dia telah melakukan apa yang diperintahkan Tuhan untuk dia lakukan yaitu untuk memberitakan hukuman Allah. Pemberitaan itu telah mengubah hati orang Niniwe, mereka telah bertobat (Yunus 3, 5-6). Sebaliknya, Yunus yang bercokol pada dendamnya, sehingga terjadi perbantahan antara Allah dan Yunus, karena Yunus merasa Allah tidak melakukan apa yang diinginkan oleh Yunus.
  5. ‘Layakkah engkau marah’. Itu pertanyaan Allah pada Yunus. Saat Allah menumbuhkan pohon jarak untuk tempatnya berteduh, tetapi dalam semalam, pohon itu layu karena digerek ulat, Yunus merasa layak marah, sehingga Tuhan berkata: pohon saja yang hanya semalam tumbuh dan layu, yang untuknya Yunus tidak berbuat apa-apa bisa dia kasihi, apalagi manusia, bukankah manusia lebih layak dikasihi? Dalam hidup materialisme, manusia sering lebih mengasihi hartanya dari nyawanya, lebih menghargai harta benda dari hidup manusia itu sendiri, sehingga muncullah sikap yang berbeda dalam memandang sesamanya.
  6. Di sinilah letak perbedaan cara pandang manusia dengan Allah. Manusia lebih memberhalakan benda, tapi Allah adalah Allah yang pro-kehidupan. Harta tidak pernah lebih berharga dari hidup manusia. Maka Allah akan memilih mengampuni daripada memusnahkan. Meskipun kita melihat kadang-kadang Allah seperti tidak konsisten pada keputusan-keputusannya, tetapi Dia selalu konsisten akan Cinta kasihNya pada manusia, sesuai dengan eksistensiNya sebagai Allah pengasih. Walaupun pada awalnya Yunus diutus ke Niniwe untuk memberitakan penghukuman, tapi kekonsistenanNya dalam kasih membuat langkah awal berubah menjadi pengampunan.
  7. Kasih Allah tidak terbatas, tidak berkesudahan dan tidak pilih kasih. Meskipun kita ingin lebih diutamakan Tuhan dan membatasi kasihNya kalau boleh menghukum orang yang berbuat jahat pada kita, tapi Allah kasih tidak dapat dimonopoli. Kalau sebelumnya Israel melihat Allah, sebagai Allah mereka, dan mereka adalah bangsa Allah, kitab Yunus membuka tabir keuniversalan Allah, bahwa Allah terbuka secara luas bagi semua orang, bahkan kepada orang yang tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kirinya sekalipun.
  8. Kecemburuan, egoisme dan sombong diri membuat kita lebih hebat dari Allah, sehingga keputusan Allahpun harus sesuai dengan keinginan kita. Maunya, Allah menyesuaikan kehendakNya ke dalam kehendak kita, bukan kita yang menyesuaikan kehendak kita ke dalam kehendak Allah. Ibarat kita menjahit baju, kita ingin tangan kita yang dipotong dan dibawa ke tukang jahit untuk mengukur panjang lengan, walau yang benar, meter yang harus dibawa tukang jahit untuk mengukur panjang lengan kita.
  9. Manusia membatasi Allah seukuran dengan pikiranya. Sudut pandang yang berbeda inilah menjadikan kita lebih mencintai pohon jarak dari hidup manusia. Maka sebagai umat pilihan, mari kita menunjukkan kepedulian kita bagi semua orang (Luk 4, 18-19), menjadi umat yang pro-kehidupan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s