ENEAS DAN TABITHA YANG SUKA MENOLONG

Kisah Para Rasul 9: 32-42

1.    Pendahuluan: Ketika penganiayaan terjadi, para rasul memilih untuk tetap tinggal di Jerusalem (8:1b). Setelah keadaan damai tercipta (31), Petrus menggunakan waktu yang indah untuk berjalan keliling. Tujuannya tidak hanya untuk mengabarkan Injil, namun juga mengunjungi orang Kristen yang ada di Lida, serta mengajar dan menguatkan mereka. Ternyata kunjungan ini berdampak bagi pekabaran Injil yang lebih luas (35,42). Salah satu kegiatan pelayanan yang sering terabaikan adalah visitasi (pelawatan). Banyak alasan dapat dikemukakan untuk mendukung hal pernyataan tersebut. Petrus sebagai rasul dan pemimpin gereja saat itu memberikan contoh yang baik. Petrus memperlihatkan bahwa pelawatan adalah salah satu bentuk pelayanan yang efektif. Melalui efektifitas pelayanan pelawatan, gereja akan menjumpai jemaat yang membutuhkan bimbingan dan pertolongan.

2.    Kuasa dalam pemberitaan Injil. Rasul-rasul terus berupaya menyebarkan Injil. Dan sebagaimana perkataan yang telah diucapkan Yesus, murid-murid sudah menerima kuasa untuk menjadi saksi-saksi Tuhan (Kis. 1:8). Salah satu dari kuasa itu adalah kuasa untuk melakukan mukjizat.

Pada waktu itu Petrus menemui orang-orang percaya di Lida (ayat 32). Di situ Petrus menyembuhkan Eneas, seorang yang sudah delapan tahun menderita lumpuh (ayat 33). Petrus menyatakan bahwa penyembuhan itu merupakan karya Yesus (ayat 34). Kita tahu bahwa Yesus telah berkata kepada seorang lumpuh di Kapernaum untuk mengangkat tilam dan berjalan (Mat 9:6; Mrk. 2:11; Luk. 5:24). Yesus juga kemudian mengatakan hal yang sama kepada orang lumpuh di kolam Betesda di Yerusalem (Yoh. 5:8). Kuasa Yesus bekerja di dalam diri Petrus. Eneas, orang yang lumpuh itu kemudian segera bangkit! Mukjizat ini ternyata membuat heboh orang-orang di tempat itu. Mukjizat yang menakjubkan itu membuat mereka kemudian jadi percaya kepada Tuhan (ayat 35).

Berita yang menghebohkan itu tersebar luas hingga ke Yope. Rupanya tengah terjadi sesuatu di sana. Tabitha (dalam bahasa Yunani disebut Dorkas), seorang wanita yang terkenal berbudi baik karena suka menolong orang, mengalami sakit hingga ia mati. Dalam ayat 36 dijelaskan bahwa seseorang bernama Tabita – Yunaninya Dorkas dikenal sebagai perempuan yang banyak melakukan kebaikan di antaranya ia suka memberi sedekah dan di ayat 39 menurut kesaksian orang-orang Tabita juga banyak memberikan atau menjahitkan pakaian untuk mereka. Tetapi kini Tabita telah meninggal sehingga banyak orang meratapinya.

Hal yang menarik adalah ketika Tabita meninggal, banyak orang meratapinya, mereka seakan-akan tidak ingin kehilangan sosok Tabita. Tetapi coba saudara telusuri apakah ada keterangan bahwa dari sekian banyak orang (semua janda) yang meratapi kematian Tabita mempunyai hubungan darah atau family dengan Tabita? Ternyata tidak ada. Lalu mengapa mereka terlampau bersedih? Tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa mereka merasa kehilangan Tabita.

Namun mukjizat yang terjadi di Lida membangkitkan harapan orang-orang Yope. Mereka meyakini bahwa bila Petrus dapat menyembuhkan Eneas, maka ia pun dapat membangkitkan Tabitha dari kematian. Terlihat mereka tidak menguburkan Tabitha, melainkan hanya memandikan dan meletakkan tubuhnya (ayat 37).

Ketika Petrus datang dan melihat jenazah Tabita, sinyal imannya langsung terhubung dengan Tuhan. Dan Petrus langsung mempraktekkan iman itu dengan berlutut dan berdoa dalam arti menyerahkan Tabita kepada Tuhan. Petrus mempraktekkan imannya kepada Tuhan, ia tahu dan yakin  bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Jika Tuhan brkehendak Dia sanggup melakukan perkara besar. Dalam Kisah 9:36-43 ini baik Tabita maupun Petrus memiliki iman yang berbuah. Ketika Tabita masih hidup ia melakukan kebaikan itulah iman yang berbuah. Petrus berdoa dan berlutut menantikan perkara besar dari Tuhan itulah iman yang berbuah.

Melalui iman yang berbuah itu Tuhan menjadi nyata baik bagi orang-orang di sekitar kejadian itu maupun bagi Petrus maupun Tabita. Dan ayat. 42 jelas mengatakan di Yope banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan, karena menyaksikan ada pterus dan Tabita yang memiliki iman berbuah.

Apa yang dapat kita ambil untuk menjadi pengajaran kepada anak Sekolah Minggu? Mungkin ada beberapa hal yang penting, namun menurut hemat saya, hal-hal itu adalah:

3.    Berpusat pada Kristus. Pusat setiap gerak pelayanan Petrus adalah Yesus Kristus. Ada tiga bukti yang mendukung pemahaman ini: pertama, Petrus mencontoh apa yang pernah dilakukan Yesus dalam melakukan mukjizat (34; 40 ); kedua, semua mukjizat itu dilakukan dalam nama Yesus “Yesus Kristus menyembuhkan engkau” (34); lalu ia berlutut dan berdoa (40); ketiga, mukjizat yang dikerjakan oleh Petrus hanya untuk memuliakan Yesus (35, 42). Tanda-tanda mukjizat yang dilakukan oleh Petrus itu mempunyai tujuan untuk menguatkan dan mengilustrasikan berita keselamatan di dalam Yesus. Petrus juga ingin menunjukkan bahwa di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, maut dan penyakit dipatahkan-Nya. Kesaksian keajaiban karya Kristus membawa orang mendengar berita Injil, melihat mukjizat dan menjadi percaya.

Mungkin kita tidak mempunyai karunia seperti Petrus untuk melakukan banyak mukjizat, namun prinsip “pelayanan berpusat pada Kristus” harus selalu kita pegang teguh. Pola ini merupakan kunci mengapa Gereja mula-mula terus bertumbuh di tengah-tengah masa penderitaan dan di masa damai (ay. 31).

4.         Tuhan Yesus pun senantiasa mengingat setiap perbuatan baik yang mereka (Eneas dan Tabitha) lakukan sehingga Dia tetap setia. Eneas dan Tabitha adalah orang-orang yang senantiasa memberitakan Injil dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada setiap orang. Kebaikan mereka senantiasa diingat oleh orang lain dan melalui perbuatan mereka tersebut banyak orang ingin menjadi seperti mereka. Tuhan Yesuspun senantiasa mengingat setiap perbuatan baik yang mereka lakukan sehingga Tuhan tetap setia menyertai dan memberkati mereka. Bahkan sampai sekarangpun hanya Tuhanlah yang tahu setiap perbuatan baik yang kita lakukan apakah untuk menyenangkan hati-Nya atau untuk diri kita sendiri. Hanya bagi orang-orang yang dengan tulus hati mau menyenangkan hati Tuhan akan menerima berkat penyertaan di sepanjang hidupnya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s