ALLAH MEMBENCI PERCERAIAN

EPISTEL MINGGU, 3 OKTOBER 2010

Maleakhi 2: 13-16

ALLAH MEMBENCI PERCERAIAN

1. Latar Belakang kitab Maleakhi. Nama Maleakhi berarti “utusanku”; nama ini berasal dari kata “Malakhiah” yang artinya “utusan Tuhan”. Dia adalah seorang Yahudi saleh yang tinggal di Yehuda masa pasca pembuangan, rekan se-zaman Nehemia, dan sangat mungkin seorang imam nabi. Kepercayaannya yang kokoh akan perlunya kesetiaan kepada perjanjian (Mal. 2: 4, 5, 8, 10) dan yang melawan ibadah yang munafik dan tak bersungguh-sungguh (Mal. 1:7-2:9), penyembahan berhala (Mal. 2:10-12), perceraian (Mal. 2:13-16), dan mencuri persepuluhan dan persembahan yang menjadi milik Allah (Mal. 3:8-10) semua ini menunjuk kepada seorang yang memiliki integritas teguh dan pengabdian kuat kepada Allah.

Maleakhi menggambarkan keadaaan Israel setelah masa pembuangan. Pada masa itu Israel sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Mereka berada di bawah pemerintahan Persia. Persia memberikan kekuasaan kepada para imam untuk memerintah Israel. Sayangnya para imam ini menyalahgunakan kekuasaan yang mereka terima. Para imam ini melakukan penyimpangan-penyimpangan yang tidak patut dilakukan oleh imam. Pada masa ini pajak sangat tinggi karena para imam melakukan korupsi. Kondisi seperti ini membuat keadaan orang-orang Israel semakin menderita. Tidak ada lagi yang dapat mereka anut dalam kehidupan mereka. Kitab ini merefleksikan kelemahan dari Israel dan di dalamnya pertanyaan-pertanyaan keputusaasaan sering dilontarkan. Keputusasaan Israel inilah yang membuat mereka meragukan kasih Tuhan bagi mereka. Mereka merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi mereka. Integritas dari imam-imam dalam menjalankan tugasnya serta bagaimana melayani Tuhan dan menyembah Dia dalam seluruh kehidupan menjadi bahasan yang menonjol dalam kitab Maleakhi.

Ketika Maleakhi menulis, orang Yahudi pasca pembuangan di Palestina kembali mengalami kesusahan dan kemunduran rohani. Orang-orang telah menjadi sinis, meragukan kasih dan janji-janji Allah, menyangsikan keadilan-Nya dan tidak percaya lagi bahwa ketaatan kepada perintah-Nya itu berguna. Seiring dengan memudarnya iman, maka pelaksanaan ibadah menjadi otomatis (rutinitas) dan tidak berperasaan. Mereka juga acuh tak acuh terhadap tuntutan hukum Taurat dan bersalah karena berbuat bermacam-macam dosa terhadap perjanjian.

2. Latar belakang nas: Pada ay. 13 dikatakan, “Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan…”. Perkataan ini menunjukkan hubungan yang erat dengan nas sebelumnya. Pada fasal 2: 10-12 dinyatakan bagaimana sikap yang terjadi pada saat itu, yaitu penyimpangan hidup kerohanian sebagai umat Allah. Apakah penyimpangan itu?

a.  Para imam yang seharusnya bertanggungjawab penuh memelihara pengetahuan dan pengajaran yang benar, telah menyelewengkan makna ibadah (2: 9).

b. merusak perjanjian anugerah Allah (2:10)

c.   menajiskan bait Allah dengan menjadi suami anak perempuan allah asing (2:11).

Pada ay. 12, Allah menyatakan melalui Maleakhi bahwa akan melenyapkan orang-orang yang berbuat demikian sekalipun membawa persembahan kepada Tuhan (bnd. Yes. 1: 13). Sikap tidak menghormati kemuliaan Tuhan semesta alam, tidak menutup kemungkinan merupakan alasan penghukuman Allah. Para imam yang seharusnya bertanggungjawab penuh memelihara pengetahuan dan pengajaran yang benar, telah menyelewengkan makna ibadah, merusak perjanjian anugerah Allah.

3.    Memahami Nas:

Ay. 13: Allah menolak persembahan mereka. “…Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan…” . Akibat dari penyimpangan-penyimpangan rohani, Allah tidak lagi berkenan menerima persembahan mereka. Dalam hal ini, kita diingatkan bahwa persembahan terkait erat dengan sikap dan perbuatan manusia. Persembahan bukan ditentukan oleh kuantitas (jumlah) tetapi karena kualitas (sikap) sebagaimana persembahan janda (bnd. Luk. 21:1-4). Allah tidak berkenan kepada persembahan umat walaupun diberikan dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan kalau pemahaman akan Allah yang benar dan sikap hidup yang benar telah memudar dan tidak diperdulikan. Dan memang yang paling menyedihkan di dalam kehidupan kita adalah apabila kita tidak lagi diperdulikan oleh orang lain apalagi Allah sendiri. Persembahan yang tidak diterima membuktikan bahwa Allah lebih menyukai sikap yang benar dalam diri manusia bukan hanya sekedar persembahan.

Ayat 14: Tuhan tidak berkenan, “oleh karena apa?” Ada satu alasan yang dikemukakan oleh Maleakhi, yaitu karena Tuhan telah menyaksikan “antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu”. Ternyata jawabannya jelas, yaitu karena pengkhianatan. Ada yang lain. Satu tindakan pengkhianatan diberitahukan. Bila mereka menyangkal dan bertanya apa maksudnya, maka jawabannya akan diberikan dengan jelas. Saksi antara engkau dan istri masa mudamu. Karena kontrak, pernikahan atau lainnya, dilaksanakan dengan Allah sebagai saksinya (lih. Ams. 2:17). Dia menganggap bersalah orang-orang Israel yang sudah mengambil istri dari bangsa Yahudi tetapi yang sekarang telah menyingkirkan mereka. Padahal dialah teman sekutumu. Ikatan kasih sayang seharusnya kuat bertahan sebagai hasil dari pengalaman bersama dalam waktu lama. Istri seperjanjianmu. Pernikahan adalah hubungan perjanjian di hadapan Allah. Allah membenci pengkhianatan itu. Istri masa muda diceraikan untuk hidup dengan istri muda. Apa sebab Allah membencinya? Yang menyedihkan adalah bangsa itu saling mengkhianati dan itu sebabnya menajiskan perjanjian yang dibuat Allah dengan para leluhur mereka. Maleakhi 2:10-16 membicarakan ketidaksetiaan Israel terhadap bangsa mereka sendiri (ayat 10), keluarga rohani mereka (ayat 11-12) dan pasangan perkawinan mereka (ayat 13-16), yang terbukti melalui pelacuran rohani, perkawinan campur dengan pasangan yang tidak percaya, perzinahan dan yang terakhir perceraian.

Ayat 15: Makna pernikahan. Apa dasarnya? Dasar pemikirannya adalah, mengapa Allah menjadikan Adam dan Hawa hanya satu daging pada hal Ia bisa memberikan kepada Adam istri yang banyak atau kepada Hawa suami yang banyak? Tentu saja Allah mempunyai kuasa kreatif yang lebih dari cukup untuk menyediakan pasangan seksual berlipat ganda! Jadi mengapa hanya “satu” saja? Sebab Allah menginginkan satu tunas yang saleh, suatu proses yang bertentangan dengan pasangan yang lebih dari satu.

Dua contoh ketidaksetiaan yang dimunculkan bagian ini adalah: perceraian dan perkawinan yang tak seimbang dengan orang tidak percaya. Kedua-duanya menodai hukum Allah yang kudus. Status perjanjian perkawinan terlihat pada bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama, seperti Kejadian 31:50; Amsal 2:17; Yehezkiel 16:8; dan Hosea 1-2. Kejadian 2:24 paling jelas mendefinisikan perkawinan: Yaitu terdiri dari peristiwa “meninggalkan” orangtua seseorang dan “bersatu” dengan istrinya. Meninggalkan dan bersatu berjalan seiring dan dengan tatanan seperti itu. Maka, perkawinan adalah tindakan meninggalkan, dengan maksud untuk membentuk suatu hubungan yang permanen (bersatu), dan disempurnakan secara seksual (menjadi satu daging). Penodaan apa pun terhadap perjanjian ini merupakan pelanggaran perjanjian yang dibuat di hadapan Allah dan sesama pasangan. Dan mengapa Dia menciptakan laki-laki dan perempuan untuk menjadi satu daging? Pada akhirnyalah baru maksud-maksud-Nya untuk memperoleh benih yang saleh, suatu umat perjanjian dengan agama yang murni, akan terwujud. Perceraian hanya akan menggagalkan maksud dari penciptaan oleh Allah. Janganlah orang tidak setia. Panggilan untuk bertobat sudah jelas.

Ayat 16: Allah membenci perceraian. Hukum Musa tak pernah mendorong, melarang atau menyetujui perceraian (lih. Ulangan 24:1-4). Sebaliknya, hukum itu hanya menggariskan tata cara tertentu jika dan tatkala perceraian terjadi secara tragis. Pengajaran utama dan Ulangan 24:1-4 melarang seseorang menikahi kembali istri pertamanya sesudah ia menceraikannya dan baik ia atau bekas istrinya pada waktu itu telah menikah kembali. Tak ada hukum Perjanjian Lama yang mengesahkan perceraian; hukum Ibrani hanya menolerir praktiknya namun mengutuknya secara teologis.

Kebencian Allah terhadap perceraian selanjutnya diungkapkan dalam pernyataan, “orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan.” “Pakaian” berhubungan dengan kebiasaan zaman dahulu yang menebarkan pakaian atas diri seorang wanita, sebagaimana yang diminta Rut untuk dilakukan oleh Boaz yang menyatakan bahwa ia adalah istrinya (Rut 3:9; lihat juga Ulangan 22:30; Yehezkiel 16:8). Jadi menutupi ranjang orang dengan kekerasan adalah tidak setia terhadap ranjang perkawinan itu dan kewajiban-kewajiban seseorang berkenaan dengan perkawinan. Lambang hukum perkawinan, yang hampir sama dengan cincin perkawinan pada zaman kita, menjadi pelaku kekerasan terhadap istri-istri ini.

4.    Apilkasi. Peranan Pernikahan. Pernikahan dan perceraian selalu mendapat perhatian serius dalam Alkitab. Umat Israel dilarang kawin campur dengan bangsa lain. Larangan ini bukan atas dasar rasial, tetapi alasan-alasan spiritual. Maleakhi menegur perkawinan campur dengan istilah “menjadi suami anak perempuan allah asing” (ay. 11). Ternyata klaim terhadap kawin campur ini terus digemakan dalam kehidupan bangsa Israel di Perjanjian Baru; dan tetap dalam penekanan yang sama, yaitu perkawinan antara orang percaya dan orang tak seiman.

Dalam situasi ekonomi bangsa yang “serba sulit” sekarang ini, banyak orang bertindak gegabah dan tak mau tahu aturan. Orang menggunakan cara pintas untuk keluar dari kesulitan. Dalam memilih teman hidup, mereka melirik dari kondisi ekonomi, sekalipun berbeda iman kepercayaan. Lebih baik meninggalkan isteri pertama dalam kondisi sulit, daripada harus kehilangan kesempatan menjadi kaya. Dan, Tuhan menentangnya; karena pernikahan Kristen adalah gambaran perjanjian Tuhan dengan umat. Hidup pernikahan yang dikasihi dan diberkati Tuhan adalah pernikahan yang diisi dengan kasih Tuhan dan harus dipertahankan kelanggengannya di dalam firman Tuhan. Dalam kehidupan pernikahan Kristen firman Tuhan melebihi pertimbangan psikologis, ekonomi, dlsb. Ingatlah, “Onpe, naung pinadomu ni Debata, ndang jadi sirangon ni jolma” (Mat. 19: 6b). Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s