BUKTI IMAN YANG SEJATI

KHOTBAH MINGGU MISERIKORDIAS DOMINI

Ev.: Lukas 17 : 11 – 19

Ep.: Ratapan 3 : 22 – 26

BUKTI IMAN YANG SEJATI

1. Orang yang benar-benar telah diselamatkan pasti menunjukkan kepekaan akan hal-hal rohani. Salah satunya adalah kepekaan akan anugerah yang sudah terjadi dalam hidupnya. Hidupnya akan penuh ucapan syukur. Kesaksian-kesaksiannya bukan berpusatkan kepada dirinya sendiri dan apa yang sudah terjadi pada dirinya, tetapi kepada Allah dan apa yang Allah sudah lakukan atas dirinya. Itulah yang kita dapatkan dalam Kisah “Kesepuluh orang kusta” dalam nas khotbah Minggu MISERIKORDIAS DOMINI (“bumi penuh dengan kasih setia TUHAN”, Mzm. 33:5b) ini ketika Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem. Pada saat Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea dan memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Orang yang berpenyakit kusta dalam kebiasaan orang Yahudi, dianggap memiliki penyakit yang kotor dan najis. Dengan stigma masyarakat seperti itu, maka sudah dapat diduga, mereka yang berpenyakit kusta dipinggirkan atau lebih jelasnya dikucilkan (diasingkan) dari khayalak ramai. Mereka benar-benar dianggap sebagai orang-orang yang berdosa yang tidak diperkirakan sebagai penduduk. Artinya, bahwa mereka yang berpenyakit kusta mendapat tekanan dari masyarakat bahkan tidak mendapat tempat dalam masyarakat ketika itu. Mereka tidak memiliki keberpihakan apapun atau dari siapa pun. Orang-orang menderita sakit kusta benar-benar diperlakukan diskriminatif. Karena itu seorang penderita kusta dari zaman ke zaman sering mengalami penderitaan yang sangat kompleks, yaitu:

a. Penderitaan fisik karena sedikit demi sedikit anggota tubuh khususnya jari-jari kaki dan tangan dapat terlepas setiap saat tanpa mereka ketahui.

b. Mereka harus dikucilkan dari pergaulan masyarakat luas, sehingga kehilangan komunikasi dan keakraban dengan orang-orang yang semula sangat dekat dan mengasihi diri mereka.

c. Kehilangan harapan dan masa depan yang cerah karena mereka merasa hidup mereka tidak lagi berguna, bahkan diri mereka dianggap najis. Ke mana mereka pergi mereka hanya boleh berteriak memberi tanda kepada orang-orang di sekitarnya: “najis, najis!”

d. Keadaan sakit mereka dianggap pula sebagai bentuk hukuman dan murka Allah.

Ketika menyusur perbatasan Samaria dan Galilea itulah Yesus berjumpa dengan kesepuluh orang sakit kusta yang juga berasal dari dua daerah itu, paling tidak ada satu orang Samaria. Biasanya orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai “orang najis”, tetapi penyakit tersebut membuat mereka semuanya “najis” menurut peraturan-peraturan agama, sehingga hilanglah perbedaan antara orang Yahudi dan orang Samaria dalam kelompok kesepuluh orang yang sakit kusta itu.

Sebagaimana kelaziman zaman itu kesepuluh orang kusta tersebut tidak berani mendekat kepada Kristus dan para muridNya. Mereka hanya berdiri agak jauh karena hukum Taurat melarang mereka untuk bersentuhan dengan anggota masyarakat. Hukum Taurat di Im. 13:46 berkata: ”Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya”.

2. “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”: Berharap (percaya) kepada Yesus walaupun dalam keberadaan diri yang najis. Dari tempat yang agak berjauhan, mereka menyampaikan permohonan untuk mendapat belas kasihan Kristus: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Kesepuluh orang kusta tersebut memanggil dan menyapa Yesus dengan sebutan “guru” (epistata). Makna sebutan “guru” yang berasal dari kata “epistata” (epistata), memiliki pengertian: seorang yang sempurna, tuan, seperti seorang raja atau panglima militer (bandingkan 2 Raj. 25:19). Arti sinonim dari kata “epistata” adalah: kurios (tuan), didaskalos (guru), despotes (penguasa yang mutlak), rabbi (guru yang sangat dihormati), kathegetes (seorang guru yang memimpin atau membimbing). Di Injil Lukas, sebutan Yesus sebagai “epistata” hanya dicatat dilakukan oleh Simon Petrus ketika dia gagal untuk memperoleh ikan sepanjang malam (Luk. 5:5). Jadi baik Petrus maupun kesepuluh orang kusta memahami makna identitas diri Kristus sebagai “guru” pada saat mereka berada pada situasi yang sulit dan tanpa pengharapan.

Seruan kesepuluh orang kusta itu sebenarnya lebih menekankan harapan memperoleh belas kasihan, memperoleh kemurahan hati seorang “Guru”.  bukan kemurahan “Tuhan”. Ternyata kesepuluh orang kusta itu telah terbentuk pemahaman dan kesadaran diri bahwa diri mereka sangat kotor dan najis. Sehingga seruan itu tidak mendasarkan diri sebagai orang benar, tetapi sebagai orang najis dan kotor. Tidak ada kesombongan di dalamnya, tetapi seruan dari keterpurukan dan tekanan jiwa yang dalam.

Saudara-saudara yang terkasih, hal ini mengingatkan kita dengan berbagai permohonan dan seruan yang kita sampaikan kepada Allah yang penuh kasih. Menempatkan diri sebagai orang benar kepada Allah adalah tindakan yang sombong. Bersikap dalam kerendahan hati sebagai orang yang berdosa dan berharap kepada-Nya adalah tindakan yang baik. Ketulusan untuk mengakui segala kekurangan dan berharap kepada-Nya akan menjauhkan kita dari sikap sombong. Dalam nas Epistel, Ratapan 3 : 22 – 26, kita benar-benar diingatkan bagaimana seseorang yang hidup dalam penderitaannya mampu berharap kepada pertolongan Tuhan dalam pengenalan yang benar.

3. Perhatian yang tertuju kepada orang yang merendahkan diri. Respon Kristus terhadap seruan kesepuluh orang kusta itu disebutkan “Lalu Ia memandang mereka”. Bukankah kesaksian ini mau menyatakan bahwa yang dipandang atau yang dipedulikan oleh Tuhan hanyalah mereka yang mau merendahkan diri dan mengharap belas-kasihanNya? Kasih setia yang selalu melekat di dalam diriNya, itulah yang diberikanNya kepada kesepuluh orang kusta itu.

Dalam Mzm. 34:16-17 berkata: “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi”.

Saudara-saudara yang terkasih, dalam penderitaan kesepuluh orang kusta itu kita diingatkan bagaimana dalam diri Tuhan melekat kasih setiaNya yang tak berkesudahan. Hal itu jelas kelihatan dalam nas Epistel minggu ini. Dalam Ratapan 3, seorang pribadi mengucapkan riwayat panjang penderitaannya, yang disebabkan oleh murka Tuhan, tetapi ketika ia mengingat kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan itu, harapannya diperbarui. Kasih setia Tuhan mengingatkan bahwa orang yang menderita atau bebannya berat harus menanti dengan sabar pertolongan Tuhan. Itu sebabnya dalam ayat 22 (“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya”; Bibel: “Asiasi ni Jahowa sambing do umbahen so haru sun siap hami, ai ndang marpansohotan asi ni rohana i”). Ada tiga kata kunci dalam ayat ini diperhadapkan dengan kenyataan akan penderitaan, yaitu:

a. Tak berkesudahan. Kata “tak berkesudahan” menghunjuk kepada kasih setia Tuhan yang tidak pernah berhenti. Kata itu dituliskan dengan bentuk jamak yang berarti bahwa begitu besar kasih setia Tuhan kepada umat-Nya yang ditunjukkan dengan kuantitas maupun kualitas kasih-Nya, yang kongkrit atau pun yang abstrak.

b. Kasih setia Tuhan. Kata “Kasih setia” dalam bahasa Ibrani disebut dengan “khesed”. Kata ini menunjuk kepada kasih Allah yang loyal, setia dan tidak berubah (bnd. Hos. 2:18) Bila kata “kasih setia” dihubungkan dengan Allah, maka kasih setia itu mengingatkan kita akan kesetiaan Allah kepada perjanjian antara Tuhan dengan umat-Nya.

c. Rahmat-Nya. Kata Ibrani dalam bentuk jamak menyebutnya dengan “raham”, yang berasal dari akar kata “rahim”. Ini mengisyaratkan bahwa kasih Tuhan sama seperti kasih seorang ibu.

Tidak itu saja, kasih setia Tuhan juga dinyatakan seperti di dalam ayat 23 “selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”. Kalau dikatakan bahwa kasih dan rahmat Tuhan “selalu baru tiap pagi” menghunjuk bahwa Allah bertindak atas kasih dan rahmat-Nya berulang-ulang, tidak satu kali saja. Bukan itu saja, tindakan yang berulang-ulang itu dilakukan bukan dengan satu bentuk, tetapi dengan kasih dan rahmat yang baru, yang menyegarkan, yang menyenangkan dan membahagiakan. Itu sebabnya kalimat “selalu baru tiap pagi” diterjemahkan dalam Bibel dengan “mulak rata do i tahe ganup sogot”. Kata “mulak rata do i” dapat berarti “semuanya menjadi baru”. Setiap hari, kasih Tuhan dirasakan melimpah, baru, juga teruji secara kualitas.

4. Percaya dan sembuh. Respon Tuhan di atas dilanjutkan dengan perintah ““Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam”, dan kemudian kesepuluh sakit kusta pun pergi. Sama sekali tidak ada perbuatan Tuhan Yesus yang didahului dengan perbuatan atau tindakan menyembuhkan. Dia sama sekali tidak melakukan seperti yang dilakukan olehNya kepada seorang kusta di Luk. 5:12-16. Maka tindakan mereka mau turut kepada perintah Tuhan Yesus untuk pergi adalah tindakan yang berani. Kenapa? Tidak ada apapun yang sebenarnya dapat mereka dapatkan untuk mendapat jaminan diterima oleh para imam, karena ketika mereka disuruh untuk pergi memperlihatkan diri kepada imam, mereka belum sembuh. Tapi anehnya, mereka pergi, dan itu membuktikan mereka percaya kepada Tuhan Yesus walaupun belum sembuh. Mereka benar-benar berharap kepadaNya.

Berkaitan dengan hal itu, nas Epistel kita dengan indah merangkainya dengan perkataan, “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (ay. 25). Apakah mungkin orang yang menderita mendapat alasan untuk berharap? Penyair mendapatnya ketika dia mengingat dan memperhatikan kasih setia serta rahmat Tuhan itu. Melalui pengalamannya, dia mengetahui bahwa sama seperti Tuhan menolong umat Israel dan menyelamatkannya dari situasi-situasi yang berbahaya pada masa lampau, demikian peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya sendiri menunjuk kepada kasih Tuhan yang sama itu. Tuhan menyertai dia di tengah-tengah penderitaannya. Jika dia menunggu dan beriman, maka dia akan mengerti bahwa Tuhan sanggup membawa hal-hal yang baik dari kejahatan yang sementara dideritanya. Dengan demikian dia memuji Tuhan sebagai sumber dan dasar pengharapannya. Maka tepatlah kesaksian nas Epistel pada ay. 26 “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN”. Penderitaan hidup bukanlah akhir dari semuanya, karena Allah akan bertindak sesuai dengan kasih dan rahmat-Nya. Maka sikap yang dibutuhkan bagi semua orang yaitu menunggu sementara berharap Tuhan menggenapi tujuan-Nya. Tuhan justru akan berpihak kepada mereka yang berharap dimana Tuhan akan menunjukkan kebaikan-Nya. Tujuannya adalah supaya mereka tetap beriman dan menunggu pertolongan dari Tuhan, hidup dalam kesabaran dan bertahan. Dapat juga berarti berharap dengan teguh, sebab sama seperti fajar mengikuti malam, demikian pertolongan akan datang dari Tuhan secara pasti.

5. Sembuh tetapi tidak selamat. Dari kisah ini jelas kita melihat siapa yang sungguh-sungguh beriman dan diselamatkan dan siapa yang tidak. Sepuluh orang kusta itu memang percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan mereka. Keyakinan mereka akan Yesus sungguh besar. Terbukti, bahwa ketika Yesus tidak secara langsung menyembuhkan mereka, melainkan menyuruh mereka memperlihatkan tubuh mereka ke imam-imam, mereka tanpa ragu segera pergi mencari imam-imam. Saat itulah mukjizat terjadi, tubuh mereka menjadi tahir (ay. 14).

Tuhan Yesus mendengar seruan mereka dan mereka menjadi tahir (sembuh). Tuhan mentransformasi hidup kesepuluh yang berpenyakit kusta. Mereka sembuh (tahir = menjadi kudus) artinya dari tidak layak menjadi layak, lama menjadi baru, kotor menjadi bersih. Tranformasi itu hanya didapatkan dari Tuhan Yesus saja.

Namun, di sini ceritanya terpecah. Hanya satu orang, yaitu orang Samaria (sembilan lainnya mungkin sekali orang Yahudi), yang setelah melihat dirinya sembuh memuliakan Allah dan kembali kepada Yesus untuk menyembah Dia. Orang Samaria ini kembali karena dia bukan hanya merasakan dan mengalami jamahan kuasa Tuhan tetapi menyadari akan anugerah-Nya. Oleh karena itu ia kembali untuk mengucap syukur. Yesus menegaskan kepada orang tersebut bahwa imannya sudah menyelamatkannya (ay. 19)!

Bagaimana dengan kesembilan orang lainnya? Rupanya bagi mereka yang penting adalah kesembuhan itu, bukan Tuhan yang menyembuhkan. Mereka merasakan mukjizat ilahi tetapi tidak merasakan jamahan anugerah ilahi. Sentuhan kasih ilahi tidak mereka sadari, oleh sebab itu respons mereka pun tidak ada.

Apa yang dapat kita renungkan dari firman ini? Orang yang telah mengalami sentuhan anugerah Allah pasti penuh pengucapan syukur. Itu adalah bukti nyata bahwa ia sudah menjadi milik Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s