BERSAMA YESUS ADA SUKACITA

KHOTBAH MINGGU OKULI

Minggu, 7 Maret 2010

Evangelium  : Yohanes 2 : 1 – 10

Epistel           : Mazmur 115 : 9 – 15

BERSAMA YESUS ADA SUKACITA

1.    Nas khotbah Minggu ini dalam perikop “Perkawinan di Kana”. Dimana-mana rasepsi perkawinan adalah suatu kegiatan sukacita. Namun, yang satu ini berbeda, ada persoalan dan kesulitan yang terjadi, mereka kekurangan anggur. Melalui persoalan dan kesulitan ini kita menyaksikan pewujudan kemuliaan Tuhan Yesus, suatu mujizat yang menghasilkan iman dalam hati murid-murid-Nya.

Di Palestina pesta kawin merupakan suatu peristiwa penting. Dan pesta perkawinan itu berlangsung lebih dari satu hari (ada penafsir yang mengatakan bahwa pesta perkawinan di Palestina berlangsung selama tujuh hari). Di dalam pesta kawin yang penuh sukacita seperti itulah Yesus hadir. Di pesta sukacita itu, mereka (yang menyelenggarakan pesta adalah keluarga dari pihak mempelai laki-laki [paranak]) kehabisan anggur.

Anggur merupakan hal yang sangat penting di dalam pesta Yahudi. Para rabbi mengatakan: “tanpa anggur tak ada sukacita”. Itu sebabnya, anggur merupakan suatu kewajiban bagi orang Yahudi. Bagi mereka, anggur melambangkan dan membangkitkan sukacita (lih. Am. 9:13; Hos. 14:7). Namun, kita jangan berfikir bahwa anggur yang dihidangkan itu adalah sesuatu yang memabukkan, walaupun memang anggur itu beralkohol. Biasanya anggur yang dihidangkan itu adalah anggur yang diencerkan dengan perbandingan 1:3 sampai 1:10, sehingga kandungan alkoholnya sangatlah rendah. Anggur yang tidak diencerkan dianggap “minuman keras”, dan tidak diminum orang baik-baik.

2.    Kehabisan Anggur. Letak persoalannya adalah soal kehabisan anggur. Saudara bisa bayangkan, betapa malunya tuan rumah kalau sampai hal yang penting dalam resepsi perkawinannya yaitu anggur kurang atau habis, ‘apa kata dunia?’ Itu juga sama dengan pesta pernikahan bagi orang Batak. Bila makanan, baik “saksang” maupun nasi (indahan) kurang, itu adalah sesuatu yang memalukan dan bagian dari pelayanan yang kurang hormat dan pelayanan yang kurang baik.

Kehabisan anggur tidak hanya menimbulkan rasa malu bahkan kemungkinan juga dapat dituntut di pengadilan, jika apa yang mereka hidangkan tidak lengkap. Kehabisan anggur di dalam suatu pesta kawin merupakan penghinaan yang tak terhingga bagi kedua mempelai.

Tidak terbayangkan, bagaimana malu dan paniknya tuan rumah di saat itu. Begitu gelisahnya tuan rumah karena persoalan yang terjadi. Kemudian kita berfikir, kenapa anggurnya kurang atau habis? Mungkin saja tuan rumah ini adalah orang miskin sehingga anggur yang disediakan juga pas-pasan. Aduh, kalau itu persoalannya maka tuan rumah tidak dapat disalahkan. Ada ungkapan dalam bahasa Batak yang berkata demikian, “hansit do tangan mandanggurhon na soada”, tentu tidak mungkin melakukan apa pun karena memang yang dimiliki sangatlah terbatas. Yah, yang pasti pasrah dengan apa pun yang terjadi.

3.    Seorang Ibu yang peduli. Untung saja masih ada yang peduli dengan persoalan itu. Ibu Yesus tahu persoalan yang timbul di tengah-tengah pesta sukacita itu. Kepedulian Maria bukti bahwa dia ikut merasakan dan memikirkan pergumulan tuan rumah sehingga ia berkata kepada Yesus, anaknya itu, “Mereka kehabisan anggur” (ay. 3). Perkataan dan laporan Maria kepada anaknya, Yesus, ini memang agak sedikit aneh. Kenapa aneh? Karena menurut laporan Yohanes, Tuhan Yesus belum pernah melakukan tanda apapun. Air menjadi anggur adalah tanda pertama yang dilakukan Yesus ketika bersama dengan para murid dan ibunya (lih. ay. 11). Nah, apa yang membuat Maria begitu yakin sehingga harus melaporkan kesulitan (persoalan) itu kepada Yesus? Bagian ini merupakan inti dari khotbah ini. Laporan Maria ini menjadi titik awal secara terbuka Tuhan menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan-Nya, sehingga membuat para murid dan orang-orang yang ada di sekitar itu menjadi beriman. Ada beberapa bagian penting yang membuat Maria begitu yakin kepada Yesus. Pertama, Maria sungguh menyadari dengan mengingat nubuatan malaikat dan manusia pada waktu Yesus dilahirkan. Hal itu adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Kedua, Maria mengerti bahwa Yesus dapat diandalkan.

Apapun yang menjadi alasan Maria, yang pasti adalah, di sini Yesus untuk pertama sekali menyatakan kemuliaan-Nya justru di suatu pesta kawin di Galilea. Dan di situ pula para murid-Nya mengetahui siapa sebenarnya Yesus, meskipun hanya sekejap.

4.    Jawaban Yesus: penolakan tetapi mengutamakan penyelesaian. Jawaban yang sulit untuk dipahami ketika Yesus berkata, “: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba” (ay. 4). Kenapa sulit? Karena walaupun Yesus seolah menolak namun akhirnya Dia melakukannya juga. Hanya ada satu alasan Tuhan Yesus menolak permintaan ibu-Nya bahwa saat-Nya belum tiba. Saat yang dimaksud dalam bahasa Yunani disebut “hora”. Kata “hora” dapat diartikan dengan “pukul” atau “jam”, namun kata ini lebih sering dipakai dengan kata “datang” (erkhomai) untuk merujuk pada penyaliban dan kebangkitan Tuhan Yesus, penderitaan murid-murid-Nya, atau suatu waktu di masa depan yang tertanda kebangkitan dan penyembahan yang benar. “Saat-Ku belum tiba” adalah upaya mengingatkan Maria, bahwa waktu-Nya, jam-Nya belum tiba. Ada beberapa hal yang perlu kita ingat dari perkataan ini, yaitu:

a. Tuhan Yesus ingin agar Maria dan semua orang yang ada di sana mengutamakan Kerajaan Allah, yang dapat diumpamakan sebagai Pesta Perkawinan (Mat. 22:1-14; 25: 1-13; Why. 19:7, 9), sehingga Dia langsung berbicara seolah-olah mengenai saat kemuliaan-Nya, yaitu Pesta Perkawinan Anak Domba. Pada zaman tersebut, anggur akan berkelimpahan, sepereti apa yang dinubuatkan dalam Yer. 31:12; Hosea 14:7; Amos 9:13-14), tetapi saat itu belum tiba.

b. Dalam peristiwa yang akan terjadi mereka akan melirik kemuliaan Tuhan Yesus, suatu kemuliaan yang akan dinyatakan dalam penyaliban, sehingga dikatakan dalam ay. 11 bahwa “…Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya”. Akan tetapi, Tuhan Yesus harus menyatakan kemuliaan-Nya atas perintah Allah Bapa, bukan pada permohonan ibu-Nya. Ibu-Nya minta Dia melangkah, tetapi Dia menolak, lalu melakukan apa yang diminta.

Namun, apapun alasannya, bahwa pada permulaan pelayanan di Kana, Tuhan Yesus memandang pada penyelesaiannya.

5.    Ditegur tetapi tetap berharap. Yesus menegur ibu-Nya atas permintaannya. Namun teguran itu diterima oleh ibu Yesus dengan lemah lembut. Suatu penunjukan sikap yang benar-benar tabah. Tidak semua orang mampu menerima teguran atau penolakan. Umumnya, apalagi dalam posisi sebagai ibu, mempunyai alasan dalam hubungan ibu-Anak untuk meminta sesuatu toh. Banyak orang akan marah, bila permintaannya ditolak, itu adalah suatu penghinaan dan membuat yang meminta malu kepada orang banyak. Namun ada perbedaan yang mencolok antara ay. 3 dengan ay. 5 pada nas ini. Dengan kata lain, dalam ay. 3 ibu Yesus datang sebagai ibunya dan dia ditegur, sedangkan dalam ay. 5 dia datang sebagai orang percaya, dan permohonannya diterima.

Yesus sangat menghargai ketabahan dalam doa. Jika seandainya iman dari ibu Yesus kurang kuat, mungkin dia akan berpikir, “ya, sudahlah”. Akan tetapi karena imannya kuat, dia tetap sabar dalam permohonan, dan dia meninggalkan masalah ini dalam tangan Tuhan Yesus. Ketabahan ibu Yesus mengajak kita untuk tidak jemu-jemu tetap berharap kepada Tuhan, mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan saja, karena di dalam Dia tidak ada kekecewaan. Maka, tidaklah baik sikap yang cepat menyerah, berputus asa karena itu bukti iman yang tidak kuat, iman yang kerdil. Permohonan akan tetap dinyatakan orang percaya kepada Tuhan, karena hanya Dia satu-satunya tempat kita berharap.

Ketidaktabahan adalah penyakit manusia modern masa kini. Zaman yang menuntun orang kepada sesuatu yang cepat terasa, instant dan praktis menjadi kesukaan orang di zaman ini. Perkembangan tekhnologi mempengaruhi karakter diri banyak orang. Bila sepertinya Tuhan tidak menjawab doa-doanya, kecenderungannya adalah orang akan mencari tuhan-tuhan lain, sebagai alternatif dan solusi bagi persoalan kehidupannya. Ya, opportunis, kecenderungan untuk ikut kemana angin berhembus, kepada kekuasaan dan kesempatan, yang penting keinginannya terwujud.

6.    Kehadiran Yesus mengubah sesuatu yang mestinya menimbulkan rasa malu menjadi pujian dan penghormatan. Kehadiran Yesus di tengah-tengah pesta perkawinan di Kana menjadi jaminan sukacita bagi tuan rumah dan banyak orang yang hadir di sana. Yesus dengan rela hati mau membantu orang ketika menghadapi kesulitan dan masalah. Tidak sedikit pun dari maksud Tuhan Yesus hendak mempertontokan tanda itu dengan tujuan untuk ketenaran diri-Nya, namun semata-mata keikutsertaan-Nya kepada pergumulan kehidupan manusia dan memberi jalan, bahkan bertindak sebagai penyelamat, mengubah yang semestinya menimbulkan rasa malu menjadi pujian dan penghormatan. Kita dapat bayangkan bagaimana bahagianya tuan rumah yang mengadakan pesta, karena dia tidak mendapatkan cemooh sedikit pun.

Oleh karena itu saudara, jangan ragu untuk tetap mengarahkan hidup dan kehidupan kita hanya kepada Tuhan saja. Apakah saudara merasa tidak didengar? Teladanilah sikap Maria, yang tetap berharap dalam iman. Keraguan membawa kita kepada ketidaktenangan hidup, namun menyandarkan diri hanya kepada Tuhan akan menjadikan kita hidup dalam sukacita, ada damai sejahtera (lih. Yakobus 1: 8 ”Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya”).

Apakah Yesus hadir di pestamu? Kehadiran Yesus yang mengubahkan menjadi dambaan kita semua, tetapi apakah Dia sudah berkenan hadir dan bertindak sesuatu di dalam hidup kita? Dan baiklah kita menginstrospeksi diri, apakah kita sudah mengundangnya, jangan-jangan kita lupa mengundangnya karena kita lebih sibuk dengan persiapan-persiapan lain-lain.

7.    Yesus hadir mengangkat kesederhanaan, kekurangan dan ketidaksempurnaan. Tanpa kita ketahui apakah yang punya hajatan/pesta itu dari keluarga berada atau hanya keluarga yang pas-pasan, namun yang jelas terjadi adalah di tengah pesta besar itu terjadi kekurangan (ay. 3). Kekurangan itu sendiri bisa terjadi akibat banyaknya yang datang di luar undangan, meski tidak mendapat undangan. Kesederhanaan kita tidaklah menjadi penghambat untuk bersukacita. Di dalam keterbatasan kita, Tuhan datang untuk menghadirkan sukacita. Yesus tidak menginginkan orang hina tetap diperhina, orang miskin tetap dipermiskin dan diperdaya, melainkan mengubah semuanya itu dengan cara-Nya sendiri.

8.    Kehadiran Yesus sekaligus menghadirkan sukacita bagi semua yang hadir. Kehadiran Yesus dalam kehidupan pribadi maupun keluarga selalu dalam rangka mengubah suasana kehidupan, meskipun kadang-kadang hal itu tidak terasa bagi semua orang. Anggur yang terbaik itu menggambarkan yang terbaik juga dalam kehidupan kita. Apapun yang baik yang kita miliki, baik harta dan kekayaan, kedudukan, bersama Yesus adalah yang terbaik dalam hidup kita. Sebagaimana juga Firman Tuhan berkata, “…sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Maka jangan ragu lagi, undanglah Yesus dalam kehidupanmu, dan biarkan Dia melakukan apapun sesuai dengan cara-Nya, satu yang pasti bersama Yesus ada sukacita. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s