INGIN MENJADI BESAR? JADILAH PELAYAN

KHOTBAH MINGGU SEXAGESIMA

MINGGU, 7 PEBRUARI 2010

Evangelium  :           Markus 10 : 35 – 45

E p i s t e l     :           1 Samuel 8 : 1 – 9

INGIN MENJADI BESAR? JADILAH PELAYAN

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(Markus 10 : 43b)

1. Berawal dari suatu permintaan: memanfaatkan hubungan dengan Yesus. Ada permintaan dari anak-anak Zebedeus, yaitu Yakobus dan Yohanes kepada Yesus. Mereka mengatakan, “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” (ay.35). Yesus tidak menolak untuk mendengar permintaan itu dan menjawab dengan mengatakan “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” (ay. 36). Jawab anak-anak Zebedeus, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu” (ay. 37). Ternyata permintaan itu adalah agar Yesus memperkenankan mereka duduk dalam kemuliaan. Segera kita akan bertanya, apa dasar kedua murid untuk meminta duduk dalam kemuliaan Yesus. Kedua murid memahami bahwa Yesus adalah Mesias. Dalam pertanyaan itu terkandung makna dan kepercayaan kepada diri Yesus.

Hubungan mereka berdua kepada Yesus terasa dalam pertanyaan itu. Kehadiran Yesus dalam kehidupan mereka berdua membuka ruang pemberdayaan diri agar mereka duduk dalam pemerintahan Kristus. Yohanes dan Yakobus menghendaki agar mereka kelak berkuasa dalam kemuliaanNya. Ada keinginan, karena hubungan murid yang dekat dengan Yesus, untuk mendapatkan kedudukan bahkan kekuasaan (baca: kemuliaan). Apakah permintaan itu salah? Mari untuk tidak melihat soal salah atau benar, karena sekali lagi, ada pengaruh yang dirasakan oleh kedua murid dengan kehadiran Yesus di tengah-tengah hidup mereka. Dan tidak dapat dipungkiri, bahwa pertanyaan dan permohonan itu dilatar belakangi dari pemahaman mereka bahwa Yesus adalah Mesias. Dalam pemahaman orang Israel, Mesias akan membawa tidak hanya dalam kejayaan secara politis untuk mengalahkan lawan-lawan bangsa Israel, tetapi juga untuk membawa bangsa Israel masuk dalam kemuliaanNya di sorga.

Maka, permintaan kedua murid itu wajar-wajar saja. Mereka memintanya dari latar belakang pemahaman, latar belakang hubungan mereka kepada Yesus. Namun, kita harus katakan bahwa apakah permintaannya yang wajar itu berangkat dari pengenalan mereka yang benar sehingga mereka layak memintanya seperti itu?

Pengenalan yang melekat dalam diri Yesus haruslah menjadi bagian yang tidak boleh dilupakan oleh siapapun. Pengenalan itulah yang akan menentukan kita untuk meminta sesuatu secara benar dan layak. Apakah duduk dalam kemuliaan Yesus hanya ditentukan oleh pemahaman bahwa Yesus adalah Mesias? Seorang anak haruslah meminta kepada ayahnya apa yang patut diberikan sesuai dengan kemampuan finansial dan perekonomian keluarga. Bukankah seperti itu harusnya? Tetapi ada-ada saja anak yang tidak mampu mengenal dengan benar kemampuan seorang ayah. Kesulitan untuk mengenal, itulah persoalannya. Kemungkinan, ada beberapa hal yang membuat seseorang sulit untuk mengenal orang lain atau sesuatu, yaitu: pertama, adanya praduga tertentu yang menghalangi mengenal seseorang dengan tepat. Hal itu biasanya disebabkan oleh karena seringnya seseorang mengeneralisasi dan menganggap semua orang yang secara fisik mirip maka mereka juga sama secara esensi. Kemiripan-kemiripan itu menjadi dasar untuk mengenal sehingga semua yang mirip itu dianggap sama esensinya. Kedua, waktu pengenalan yang singkat. Waktu yang singkat tidak dapat menjadikan seseorang dapat mengenal betul seseorang atau sesuatu itu. Dan yang ketiga, sifat yang menonjolkan keakuan, yang berpusat kepada diri sendiri (egosentris), yang melihat dari sisi untung rugi. Apa manfaatnya bagiku?, itulah yang sering dilontarkan. Bukankah hal demikian sering terjadi sehingga mengarahkan seseorang untuk bersikap opportunis (melihat kesempatan). Bila yang bersangkutan mempunyai kedudukan yang baik, pangkat yang tinggi, uang dan harta yang banyak, maka itu dapat mengarahkan seseorang untuk memakai kesempatan mengenal lebih dalam lagi. Pengenalannya hanya didasarkan kepada, apakah ada untung-rugi kepada yang bersangkutan.

Saudara-saudara, apakah kita mengenal Yesus dengan benar? Permohonan yang kita sampaikan kepadaNya akan menentukan seberapa dalam kita mengenal Yesus, Tuhan kita. Jangan melihat Yesus secara fenomena, jangan hanya melihat ‘cover’nya, tetapi lihat isinya.

2. Mau duduk dalam kemuliaan Tuhan? Namun Yesus menangkis permintaan mereka. Bayangan kedua murid itu mengenai Kerajaan itu sungguh melenceng. Mereka tidak tahu apa yang mereka minta. Yesus tidak mempersalahkan pandangan mereka mengenai Kerajaan itu. Sebab Kerajaan yang akan datang itu juga datang ke bumi dan membuat segala sesuatu baru. Tetapi Kerajaan itu akan datang melalui salib, melalui penderitaan penuh. Garis yang menghubungkan masa kini dengan Kerajaan itu bukanlah satu garis lurus, yaitu hubungan yang paling singkat di antara dua titik, melainkan garis yang penuh liku, suatu garis yang membawa korban.

Dunia menganggap salib adalah bencana dan kutuk. Salah! Bagi orang yang percaya, salib adalah kemenangan, penggenapan dari seluruh rancangan karya keselamatan Allah. Salib menjadi benang merah sejak PL dimana keturunan perempuan akan menghancurkan ular dengan tumitnya (Kej. 3:15) dan korban-korban sembelihan dalam sistim hukum Musa dan hamba Allah yang menderita dalam Kitab Yesaya merupakan gambaran dari Juruselamat hingga sampai PB semakin jelas dibukakan bahwa Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus itulah yang berkuasa membuka meterai kitab kehidupan. Dalam salib itulah hikmat Allah dan kuasa Allah dinyatakan seperti yang diungkapkan oleh rasul Paulus (1 Kor. 1:18, 23, 24). Hanya melalui salib sajalah, manusia berdosa yang harusnya dibinasakan ini dapat diselamatkan. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan upah dosa adalah maut maka satu-satunya cara adalah Tuhan Yesus menggantikan hukuman kita. Tuntutan hukuman Allah telah dituntaskan oleh Yesus dengan kematian-Nya di atas salib dan kebangkitan-Nya telah melepaskan kita dari kuasa iblis yang mencengkeram – kuasa dosa telah dilenyapkan dari manusia. Yesus adalah sumber hidup, Dia menelan kuasa kematian sehingga orang yang percaya, tidak perlu takut pada kematian sebab kematian telah dikalahkan dan kita pun telah diperdamaikan kembali dengan Allah dan menjadi anak-Nya. Itulah sebabnya, rasul Paulus menyatakan aku tidak mau yang lain kecuali salib Yesus; aku menyampahkan semua yang lain dan hanya ingin mengenal Yesus dan kuasa kematian dan kuasa kebangkitan-Nya.

Allah yang tersalib merupakan sesuatu yang paradoks. Bagi dunia, hal ini sangat sulit dimengerti oleh logika. Karya keselamatan yang Allah rancangkan bagi manusia sejak kekekalan itu memang sulit dipahami oleh akal karena itu, hanya anugerah kalau dapat memahami kasih-Nya yang begitu besar dan ajaib. Kita yang telah merasakan kasih Allah yang nyata dalam hidup kita biarlah kita ditundukkan di bawah kaki-Nya. Sadarlah, siapakah kita ini, kita tidak lebih hanyalah manusia berdosa yang harusnya dibinasakan namun Ia mau berkorban demi kita. Melalui salib, kita melihat makna penderitaan – Allah memakai penderitaan untuk maksud yang mulia untuk kemuliaan Tuhan semata; salib diganti dengan mahkota mulia. Hal ini menjadi perspektif bagi mereka yang percaya sehingga orang mendapat kemenangan ketika berjalan bersama Kristus.

3. Cawan dan Baptisan. Dua gambaran Yesus nyatakan untuk memperjelas hal ini. Yang pertama ialah cawan atau piala yang harus Ia minum. Cawan itu merupakan simbol sukacita dalam PL (Mzm. 23:5), tetapi juga lambang dukacita (Mzm. 11:6). Nah, Yesus memakai cawan dalam arti yang terakhir, yaitu dukacita. Itu adalah cawan maut yang Allah sodorkan kepadaNya, cawan berisikan hukuman yang harus Ia minum.

Makna cawan berarti kita mau ikut dalam penderitaan Yesus. Ikut dalam penderitaan Yesus tidak dapat dipersamakan dengan ketika kita menghadapi persoalan dan tantangan dalam kehidupan kita. Tetapi, ikut dalam penderitaan Yesus, itu berarti menderita karena mempersaksikan kebenaran dan keselamatan yang daripadaNya. Inilah yang menjadi panggilan bagi kita. Panggilan untuk mengambil bagian dalam keselamatan itu melalui cawan.

Yang kedua adalah mengenai baptisan. Terendam air dalam PL merupakan pertanda dari penderitaan (Mzm. 42:8). Dibaptis berarti merendahkan diri dengan penuh kepatuhan (bnd. Luk. 12:50), mengorbankan diri sendiri. Maka makna kemuliaan adalah ketika kita masing-masing mau ikut dalam mempersaksikan kebenaran dan keselamatan Tuhan yang mutlak dengan merendahkan diri, hidup di dalam kepatuhan. Dan ini menjadi tantangan umat Tuhan masa kini. Ketidakmampuan untuk merendahkan diri dan hidup dalam kepatuhan menjadi persoalan besar. Yang sering terjadi adalah bangga diri karena telah merasa melayani Tuhan yang di dalamnya rupa-rupa kepentingan hidup dan merajalela. Dalam kepatuhan termaktub peniadaan diri, penyangkalan diri dengan segala pangkat, kedudukan yang kita miliki. Kepatuhan kepada Kristus adalah mengutamakan kehendak Kristus (ajaran, nilai-nilai, hukum, perintah) hidup dan menghidupi diri seseorang. Surat Filipi menyebutnya dengan “kenosis”, mengosongkan diri.

Saudara-saudara, Kristuslah yang menjadi teladan bagi kita dalam hal kepatuhan dan penyangkalan diri yang dilakukanNya untuk melakukan perintah Bapa.

4. Mau duduk dalam Kemuliaan? Allah yang punya otoritas. Kedua gambaran itu memperjelas kenyataan bahwa para murid, demi Kerajaan itu, harus mengikuti jalur penderitaan itu. Dan Yesus bertanya kepada mereka, apakah mereka bersedia melakukannya. Jawaban kedua murid itu sangat mengejutkan. Secara spontan mereka menjawab dengan “kami dapat”. Kesediaan mereka sangat besar. Jika Yesus meminta korban demi Kerajaan itu juga, mereka pun bersedia memberikannya. Jika jalur penderitaan itu menjamin datangnya kemuliaan, maka mereka bersedia memberikan yang terbaik.

Tetapi sekali lagi Yesus harus menangkis. Memang jalur penderitaan harus dilalui, tetapi pengorbanan itu tidak akan membawa kemuliaan dengan sendirinya. Hal menjalani penderitaan itu bukanlah jaminan akan kemuliaan, sekalipun itu merupakan syarat. Segala keputusan ada pada Allah. Dan murid-murid Yesus tidak dapat menghindar dari penderitaan itu. Penderitaan Tuhan merupakan “contoh dan teladan untuk seluruh hidup kristiani”, tetapi kemuliaan adalah anugerah Allah semata-mata.

Itu mengartikan bahwa penderitaan adalah konsekwensi dari tahapan dalam pergumulan mempersaksikan kebenaran dalam Tuhan. Namun tidak serta merta, penderitaan itu mengharuskan seseorang mendapatkan kemuliaan dalam Kerajaan. Itu semata-mata adalah hak dan otoritas Allah semata.

5. Kebesaran dan pelayanan. Reaksi dari kesepuluh murid yang lain atas pertanyaan Yakobus dan Yohanes adalah dengan marah. Murid-murid menjadi gusar karena persoalan tempat yang utama dalam Kerajaan itu kelak. Para murid lainnya menangkap sinyal ambisi dari kedua anak Zebedeus itu. Kemarahan para murid menunjukkan bahwa mereka tidak suka dengan sinyal yang telah diungkapkan oleh kedua murid. Mereka mengekpresikannya dengan kemarahan. Namun hal itu menjadi peluang bagi Yesus untuk lebih memperjelas lagi makna yang sebenarnya dari kebesaran itu. Untuk memberikan gambaran, Yesus mula-mula mempertentangkan sikap raja-raja duniawi. Mereka yang menjalankan pemerintahan atas rakyat itu memberlakukan kuasanya. Kata “menjalankan kuasa” artinya merugikan orang lain demi keuntungan diri sendiri. Itu sebabnya bahwa pemerintah-pemerintah dunia, raja-raja menjalankan pemerintahannya dengan kekerasan guna untuk kepentingan diri sendiri.

Yang kedua, secara tidak langsung hal itu mau mengatakan bahwa semua pemerintahan itu bersifat relatif. Pemerintahan yang benar tidak ada pada penguasa-penguasa itu, tetapi pada Allah saja.

Maka dalam Kerajaan Allah itu sangatlah berbeda. Yang pasti keadaannya sangat bertolak belakang, bahwa jalan menuju kebenaran adalah jalan pelayanan. Jalan menuju yang terkemuka harus dilalui dengan perhambaan kepada semua orang. Yesus tidak memerintahkan untuk mengikuti jalan itu, namun demikianlah keadaan yang ada “di antara mereka”.

Ini menjadi bagian dalam memposisikan diri di tengah-tengah kehidupan ini. Siapa orang yang hendak menjadi besar dan terkemuka, maka konsisten untuk menyembunyikan seluruh atribut kebesarannya dengan mengedepankan pengabdian yang selalu merendah dan tidak mencari muka. Orang yang selalu mampu mencegah untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi atau penonjolan diri.  Kita juga sadar bahwa pemuliaan terhadap martabat sesama hanya akan dicapai melalui kasih, bukan dengan sikap yang egoisme. Sebab semakin sikap kasih dinyatakan dengan tindakan yang merendahkan diri, kita dimampukan untuk menemukan mutiara yang tersembunyi di dalam diri setiap sesama. Sebaliknya semakin kita meninggikan diri, maka semakin sulit bagi kita untuk menemukan mutiara dalam diri sesama tersebut. Itu sebabnya saat kita meninggikan diri umumnya kita hanya melihat begitu banyak “kotoran” atau berbagai hal yang sangat buruk dalam diri sesama. Dan akibatnya adalah kita akan selalu merasa diri selalu lebih benar dan baik dari pada sesama kita. Atau kita merasa diri lebih mulia dari pada orang lain.  Kita sering terjebak dalam kompleksitas perasaan yang menganggap diri serba kaya dan tinggi, padahal rohani kita sebenarnya sangat miskin dan dangkal. Spiritualitas yang merasa diri serba kaya dan tinggi justru akan semakin menjauhkan diri kita dari pemaknaan hidup yang transformatif.

Saudara-saudara, sekali lagi, Kristuslah yang menjadi teladan bagi kita. Dia memilih sikap pengosongan diri walaupun Kristus memiliki hak untuk meninggikan diri. Mari, jadilah hamba bagi sesama, jadilah pelayan bagi sekeliling kita karena Kristus. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s