BUKAN KONEKSI TETAPI RELASI

KHOTBAH MINGGU ADVENT III

13 DESEMBER 2009

EV.: LUKAS 13 : 23 – 30

EP.: 2 TESALONIKA 2 : 13 – 17

1. Untuk memahami nas khotbah Minggu ini, ada beberapa hal yang harus kita cermati, yaitu:

a. Konteks nas (Lukas 13:23-30) ini, adalah perjalanan Yesus ke Yerusalem (lihat ay. 22 “Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem”). Mengingat waktu Tuhan Yesus, maka tinggal sedikit waktu lagi untuk mengambil keputusan terhadap pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Orang-orang harus sesegera mungkin mengambil sikap, apakah menerima atau menolak pengajaran Yesus.

b. Dalam bagian ini (Lukas 13:23-30), pokok atau kesimpulannya justru terdapat pada ay. 30 “Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir”. Pandangan umum pada saat itu, ada kesan bahwa orang-orang Yahudi akan selamat secara otomatis karena mereka adalah keturunan Abraham, sedangkan bangsa-bangsa lain tidak akan selamat.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

2. Berawal dari suatu pertanyaan yang teoritis. Ada seseorang yang bertanya kepada Tuhan Yesus dengan mengatakan, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (ay. 23). Ada beberapa kesan yang kita dapatkan dari si penanya ini:

a. Si penanya ini terkesan bukan sebagai seorang pengikut Tuhan Yesus sejati. Dia seperti seorang penonton, atau seseorang yang memposisikan dirinya sebagai orang yang netral.

b. Sedikit sajakah orang yang diselamatkan? Ajaran moral oleh Tuhan Yesus demikian keras sehingga para pendengar-Nya yakin bahwa hanya sedikit orang yang bisa diselamatkan.

c. Memang, di kalangan para rabi Yahudi, ada pertanyaan yang selalu dipersoalkan, yaitu: siapakah yang akan kebagian keselamatan yang akan diwujudkan dalam kerajaan Mesias di masa depan? Berdasarkan Yesaya 60:21 (“Pendudukmu semuanya orang-orang benar, mereka memiliki negeri untuk selama-lamanya; mereka sebagai cangkokan yang Kutanam sendiri untuk memperlihatkan keagungan-Ku”) dan berdasarkan dogma bahwa orang Israel adalah “umat pilihan”, maka jawab yang biasa ialah “pada dasarnya semua orang Israel” (kecuali mereka yang telah berbuat “dosa berat” yang tertentu). Atau dengan kata lain, umat Israel sebagai umat pilihan Allah mempunyai hak seutuhnya dan mutlak bahwa keselamatan yang akan diwujudkan dalam kerajaan Mesias itu diperuntukkan hanya kepada mereka saja. Nah, pertanyaan ini hendak mengetahui dengan pasti, apakah Tuhan Yesus setuju dengan anggapan umum yang berlaku pada saat itu, bahwa hanya sedikit yang akan selamat?

Sebagai keturunan Abraham, orang Israel mengira bahwa fakta itu merupakan jaminan untuk memperoleh “free pass” guna masuk ke dalam Kerajaan Surga. Padahal Yohanes pernah memperingatkan mereka akan hal ini dengan berkata, “Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! (Luk. 3:7-8). Dan Yesus juga menyanggah pendapat itu melalui perumpamaan tentang pintu (bukan jalan) yang sempit.

3. “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!…” (ay.24). Tetapi Tuhan Yesus menolak untuk menjawab pertanyaan teoritis ini, apakah sedikit yang akan selamat? Dia justru menjawab dengan menjelaskan bagaimana supaya selamat. Maka Yesus menjawab dengan memberikan suatu perintah (ay 24a). Apakah perintah itu? Pada ay. 24a ini, dikatakan supaya selamat, haruslah “berjuang”. Kata “berjuanglah” sarat dengan makna yang terkandung di dalamnya. Marilah kita selidiki:

a. Kata “Berjuanglah” berarti menghadapi penderitaan yang hebat. Kata ‘berjuanglah’ diterjemahkan dari kata bahasa Yunani “agonizesthe”. Ini adalah suatu istilah yang diambil dari gelanggang gulat dalam Grecian Games (pesta olah raga Yunani), sehingga jelas bahwa kata itu mencakup arti ‘bergumul/bergulat’.

Di samping itu, dari kata Yunani “agonizesthe” itu diturunkan kata bahasa Inggris “agony” (penderitaan yang hebat) atau to agonize (menderita sekali). Dan secara implisit ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan yang diwajibkan Yesus itu, kita pasti akan mengalami banyak penderitaan, termasuk penderitaan yang sangat hebat sekalipun!

b. Berjuanglah, itu berlaku untuk semua orang. Selanjutnya kata “agonizesthe” itu adalah suatu kata perintah yang ditujukan kepada ‘orang kedua bentuk jamak’. Perhatikan juga ay 24a: ‘Jawab Yesus kepada orang-orang di situ‘. Semua ini jelas menunjukkan bahwa perintah ini ditujukan bukan hanya kepada si penanya, tetapi kepada semua yang hadir saat itu, dan tentu saja juga kepada kita.

c. Kata “Berjuanglah” berarti melakukannya terus menerus. Hal penting lainnya adalah bahwa kata “agonizesthe” itu ada dalam bentuk present imperative (kata perintah dalam bentuk present/sekarang). Berbeda dengan aorist imperative (kata perintah dalam bentuk aorist/lampau) yang digunakan bila orang yang memberi perintah itu menghendaki supaya perintahnya dilakukan hanya satu kali saja, maka present imperative digunakan kalau orang yang memberikan perintah itu menghendaki supaya perintahnya dilakukan terus-menerus. Jadi dari bentuk present imperative ini bisa kita dapatkan bahwa Yesus bukan hanya menghendaki kita berjuang satu kali saja, atau kadang-kadang saja berjuang, tetapi terus menerus berjuang!

Yesus tidak hendak mengajarkan bahwa keselamatan didapatkan karena perbuatan baik (salvation by work). Karena di mana-mana Yesus mengatakan bahwa manusia bisa selamat karena iman/percaya (bnd. Yoh. 3:15, 16, 18, 36; 6:47 dll). Tentu yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Yesus berkata untuk selamat diperlukan perjuangan? Ada dua hal yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hal tersebut, yaitu:

a. Tidak ada orang yang selamat otomatis. Tuhan Yesus menyatakan bahwa hal masuk dalam Kerajaan Allah bukanlah suatu hal yang bersifat fisik, melainkan pada penerimaan terhadap keadaan dari Kerajaan tersebut. Mereka yang ingin masuk ke dalamnya harus berjuang memasuki pintu yang sempit dari Kerajaan ini.

b. Karena iman yang benar pasti akan menyebabkan orangnya berjuang. Orang yang hanya mengaku sebagai orang percaya, tetapi tidak mau berjuang, jelas sebetulnya bukanlah orang percaya (bnd. Flp. 2:12, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…”). Tuhan Yesus menyatakan bahwa hal masuk dalam Kerajaan Allah bukanlah merupakan perkara yang terjadi dengan sendirinya tetapi adalah akibat dan hasil dari suatu perjuangan. Perjuangan untuk masuk itu mestilah merupakan perjuangan yang sungguh-sungguh dan intens sehingga ia dapat digambarkan sebagai suatu penderitaan.

Tuhan Yesus dengan jelas menjawab si penanya itu bukan dengan membicarakan secara teoritis tetapi ditujukan secara langsung ke dalam hati manusia dan memuat suatu seruan untuk mengambil keputusan yang akan menetapkan kehidupan seluruhnya, lahiriah dan batiniah. Yaitu, janganlah tanya siapa dan berapa orang yang akan selamat, tetapi usahakanlah supaya engkau sendiri selamat! Karena tidak ada orang yang secara otomatis dapat saja memasuki pintu Kerajaan Allah, bahkan karena mereka yang memandang dirinya sebagai umat pilihan.

3. Berjuanglah, awas nanti terlambat (ay.24, 25). Dalam ay. 24 ini dinyatakan bahwa pintu itu sempit (sesak!). Kiasan dalam ay. 25 beralih kepada kiasan rumah; apabila hari sudah jauh malam dan tuan rumah tahu segala penghuni sudah ada di dalam rumah, maka bangkitlah dia menutup pintu. Begitulah pada suatu kali kelak akan datang suatu saat di mana ditutup pintu kepada keselamatan yang dari Allah. Banyak orang yang mau mencoba masuk secara yang lebih gampang, dengan jalan mengabaikan tuntutan seperti yang diajukan Yesus kepada pengikut-pengikutNya (lih. 9:23-24 dan 9:57-62).

Itu sebabnya tiap orang harus berjuang keras untuk masuk. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan free-pass. Bukan hanya itu masalahnya. Pintu akan segera ditutup. Mungkin perjamuan akan segera dimulai. Itu berarti tertutupnya kesempatan untuk masuk, siapapun dia dan bagaimanapun usahanya untuk masuk! Juga meskipun mereka berupaya mengetok pintu dan mengaku pernah bersama-sama dengan Si Tuan Rumah (25-27). Itu sebabnya tiap orang harus bertindak cepat! Perumpamaan ini adalah pesan yang Yesus ingin sampaikan pada para pendengar-Nya: waktu untuk bertobat dan menerima Yesus sungguh singkat!

Akan datang suatu hari di mana mereka akan menemukan bahwa mereka bersalah, tetapi pada waktu itu keadaan sudah terlambat. Pintu ditutup itu merupakan akhir dari segalanya. Hal itu dapat kita artikan sebagai hari kematian atau kedatangan Tuhan Yesus yang kedua (parousia). Maka, jangan sampai ketika kita mengetuk pintu, Tuhan justru berkata, “Aku tidak tahu dari mana kamu datang”.

4. Usaha pembelaan diri yang sia-sia (ay. 26). Mereka yang ditolak ternyata masih memiliki keinginan untuk masuk dengan berkata, “Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami”. Mereka ini adalah orang-orang yang berpikir bahwa kalau mereka sudah merupakan anggota dari suatu peradaban umat yang terpilih maka dengan sendirinya segala sesuatu beres. Mereka menarik garis yang tegas antara mereka dengan orang-orang kafir dalam ketidaktahuan dan kebutaan mereka. Tetapi seseorang yang hidup dalam suatu peradaban umat terpilih (Kristen juga) tidaklah dengan sendirinya seorang Kristen.

Mereka mau masuk dengan alasan bahwa mereka telah makan minum di hadapan Yesus dan Yesus telah mengajar di jalan-jalan mereka. Dari sini terlihat bahwa mereka bukanlah orang yang membenci/memusuhi Yesus, bahkan mereka mempunyai ‘hubungan lahiriah tertentu’ dengan Yesus (seperti pergi ke gereja, dibaptis, melayani, memberi persembahan, dsb), tetapi jelas bahwa mereka tidak pernah sungguh-sungguh percaya dan menerima Yesus!

Bagaimana sikap Yesus terhadap orang-orang ini?

a. Yesus berkata: ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang’ (ay. 25b), dan pada waktu orang-orang itu mendesak dengan ay. 26 sebagai alasan, maka Ia mengucapkan kalimat yang persis sama sekali lagi (ay. 27a). Ini menunjukkan Yesus tidak bisa ditawar! Saudara mungkin bisa menawar/memberi alasan pada pendeta saudara untuk tidak datang dalam kebaktian, tidak melayani dsb, tetapi ingat bahwa pada akhir jaman, segala alasan / tawar menawar tidak ada gunanya!

Kalimat itu tidak berarti bahwa Yesus betul-betul tidak tahu dari mana mereka datang. Artinya adalah: Yesus tidak mengenal mereka (bnd. Mat. 7:23; Yoh. 10:27; 2 Tim. 2:19). Yang menjadi pertanyaan bagi kita saat ini adalah, yakinkah saudara bahwa Yesus mengenal saudara?

b. Yesus menyebut orang-orang itu sebagai ‘yang melakukan kejahatan’ (ay. 27b). [Lit: ‘workers of unrighteousness’ (= pembuat ketidakbenaran)]. Kita sering mendengar orang berkata bahwa ada orang yang tidak percaya Yesus, tetapi hidupnya baik. Tetapi kata-kata Yesus ini menunjukkan bahwa semua orang yang tidak percaya kepada Yesus adalah orang-orang yang kerjanya hanya melakukan dosa! (bnd. Tit. 1:15).

c. Yesus berkata: ‘Enyahlah dari hadapanKu’ (ay. 27b). Seseorang mengatakan: “Those who refused to accept the invitation to ‘come’ will have to obey the order to ‘go’” (= mereka yang menolak untuk menerima undangan untuk ‘datang’ akan harus mentaati perintah untuk ‘pergi/enyah’).

4. Kontras dan surprise/kejutan (ay 28-30). Dalam ay. 28-29 ini dibicarakan tentang Kerajaan Allah yang akan nyata kelak dalam kesempurnaannya. Keselamatan dalam Kerajaan itu lukiskan dengan perjamuan agung. Walaupun pada saat itu, sangat membanggakan dirinya sebagai “anak-anak Abraham”, namun bukan mereka yang mendapat bagian keselamatan itu bersama-sama Abraham, Ishak, Yakub dan semua nabi dari dahulu, melainkan orang-orang lain, yaitu orang-orang yang bukan Yahudi yang akan dikumpulkan dari segala bangsa-bangsa di bumi, dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan! Tadinya adalah orang-orang Yahudi, yang kepada mereka pertama-tama Allah menyampaikan keselamatanNya, sebab kepada mereka itu Ia pertama-tama mengutus Yesus. Dari orang Yahudi keselamatan itu kemudian mencapai juga dunia bangsa-bangsa. Tetapi keadaan bisa berubah (lih. ay. 30), di antara “orang yang terakhir” (dari pihak dunia bangsa-bangsa) akan ada yang menjadi “orang yang terdahulu” dalam Kerajaan Allah; dan di antara orang-orang yang sudah ditentukan menjadi orang yang terdahulu (dari pihak orang-orang Yahudi) akan ada yang menjadi orang-orang yang terakhir (lih. akhir Kisah Para Rasul 28).

Namun jangan membuat pemisahan untuk memahami ay. 30 ini, seolah-olah ada pemisahan secara mutlak atau penunggang-balikan secara mutlak. Tidak ada dibicarakan tentang semua orang yang terkemudian atau semua bangsa-bangsa, dan tidak tentang semua orang yang terdahulu atau semua orang Yahudi! Orang-orang Yahudi tidaklah dikucilkan/ditolak ke luar karena mereka adalah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang bukan Yahudi tidaklah diterima karena mereka adalah orang-orang yang bukan Yahudi. Tetapi bagi semua orang yang dalam hidup ini mau berjuang dengan menyangkal dan merendahkan diri untuk mengikuti Yesus dan memasuki Kerajaan Allah, bagi mereka semuanya sungguh-sungguh pintu terbuka!

6. Kesimpulan

a. Hati-hati ‘Gede Rasa’ rohani sangat berbahaya. Ada seorang Kristen yang merasa senang sekali karena akan berjumpa dengan Bapak X yang sekarang sudah menduduki posisi nomer satu dalam sebuah sekolah teologia. Ia ingin segera bertemu dan berbincang- bincang dengan Bapak tersebut. Beberapa tahun lalu Bapak X ini pernah menginap di rumahnya ketika masih berstatus sebagai seorang mahasiswa. Namun, apakah yang terjadi ketika berjumpa? Bapak X menyambutnya dengan dingin, seakan-akan tidak pernah mengenal orang tersebut. Ketika diingatkan bahwa ia pernah tidur di rumahnya, Bapak X hanya berkata bahwa ia lupa. Betapa malunya orang tersebut.

Walaupun tidak persis sama, kisah nyata di atas dapat memberikan gambaran lebih lanjut betapa pentingnya pengenalan dan hubungan pribadi di antara dua pihak, seperti yang diutarakan oleh Yesus dalam perumpamaan-Nya (ay. 22). Merasa kenal dan merasa dekat, tidaklah cukup untuk menyatakan bahwa dua pribadi itu saling mengenal (ay. 26). Hal ini dialami oleh orang yang tidak diperbolehkan masuk ke dalam pesta perjamuan. Perumpamaan ini menggambarkan bahwa “gede rasa” rohani sangat berbahaya. Kita seringkali mengira bahwa dengan melakukan banyak pelayanan Gerejawi, atau mendengarkan khotbah tiap hari Minggu, atau mengikuti PA di gereja, sudah membawa kita pada hubungan pribadi dengan Yesus. Itu adalah ‘gede rasa’ rohani dan tidak cukup membawa kita kepada keselamatan kekal. Kita perlu menerima Yesus secara pribadi dan menjalin hubungan pribadi dengan-Nya agar kita semakin mengenal kehendak-Nya.

Pengenalan pribadi penting, karena pengenalan yang salah akan membuat seseorang memiliki persepsi yang salah tentang pihak yang merasa dikenal. Herodes memiliki pengenalan yang salah tentang Yesus, sehingga membuatnya memiliki persepsi yang salah. Ia berpikir bahwa Yesus ada untuk membangun kekuatan politik dan akan merongrong kekuasaannya atau pun untuk membuat kekacauan di daerah kekuasaan-nya. Itulah sebabnya ia ingin membunuh-Nya.

Mengenal Kristus secara pribadi dan benar bukanlah perkara mudah, karena kriteria pengenalan itu ditentukan oleh Dia sendiri. Kadar pengenalan kita terhadap Dia akan menentukan tindakan dan sikap kita terhadap-Nya. Jadi, BUKAN KONEKSI TETAPI RELASI.

b. Sekarang waktunya! Free pass adalah tiket bebas masuk untuk menonton film di bioskop. Tiket ini diberikan kepada orang-orang yang bekerja atau memiliki saham di bioskop tersebut.

Sebagai keturunan Abraham, orang Israel mengira bahwa fakta itu merupakan jaminan untuk memperoleh free pass guna masuk ke dalam Kerajaan Surga. Padahal Yohanes pernah memperingatkan mereka akan hal ini (bnd. Luk. 3:7-8). Yesus juga menyanggah pendapat itu melalui perumpamaan tentang pintu yang sempit. Dalam perumpamaan ini kelihatannya seorang Tuan Rumah sedang mengadakan perjamuan. Namun tidak mudah untuk masuk ke dalam karena hanya ada satu pintu sempit, sementara banyak orang yang akan masuk. Itu sebabnya tiap orang harus berjuang keras untuk masuk. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan free-pass. Bukan hanya itu masalahnya. Pintu akan segera ditutup. Mungkin perjamuan akan segera dimulai. Itu berarti tertutupnya kesempatan untuk masuk, siapapun dia dan bagaimanapun usahanya untuk masuk! Juga meskipun mereka berupaya mengetok pintu dan mengaku pernah bersama-sama dengan Si Tuan Rumah. Itu sebabnya tiap orang harus bertindak cepat! Perumpamaan ini adalah pesan yang Yesus ingin sampaikan pada para pendengar-Nya: waktu untuk bertobat dan menerima Yesus sungguh singkat!

Pesan ini juga merupakan peringatan bagi kita. Bertobatlah dan masuklah ke dalam Kerajaan Allah segera, selama pintu  masih terbuka. Yesus berkata bahwa kita harus berusaha keras untukmasuk karena belum tentu ada kesempatan lain. Ini bukan berarti bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan usaha manusia, tetapi karena waktunya begitu singkat. Bagaikan hadiah yang sedang diperebutkan banyak orang, kita harus menggapainya. Kita tidak bisa bersikap pasif! Segera atau kita akan kehilangan! Karena itu, jangan tunda! Jangan sampai terlambat! Inilah waktunya untuk mengambil keputusan! Jangan sampai kesempatan ditutup dan kita akan menyesal selama-lamanya. Selamat Advent, Tuhan Memberkati. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s