PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS ADALAH JALAN MENUJU KEPADA KEHIDUPAN KEKAL

KHOTBAH MINGGU, 22 NOVEMBER 2009

Evangelium: Yohanes 11 : 25 – 26

Epistel: Wahyu 7 : 9 – 17

1. Pada hari Minggu ini, 22 November 2009, sesuai dengan kalender gerejawi, HKBP memasuki Minggu yang disebut dengan Minggu “Ujung Taon Parhuriaon” dan sekaligus “Parningotan di angka naung monding”. Sebagai minggu akhir penutup kalender gerejawi, tentu kita masing-masing perlu merenung ulang (flasback) perjalanan kehidupan selama satu tahun kalender gerejawi ini. Itu sangatlah penting, mengingat bahwa tahun 2009 ini telah ditetapkan oleh Gereja kita HKBP sebagai tahun diakonia, tahun pelayanan “parasinirohaon”, sudahkah itu terlaksana? Paling tidak, kita menginginkan bahwa setiap warga jemaat mau untuk “ber-diakonia”. Itu adalah salah satu panggilan gereja di dunia ini.

2. Sekaligus pada hari Minggu ini Gereja HKBP akan melaksanakan Minggu “parningotan di angka naung monding”. Bukan dalam maksud untuk mendoakan arwah-arwah yang telah meninggal tujuan dari ibadah ini, namun untuk menyadarkan orang yang hidup, bahwa suatu ketika, kita yang hidup akan mengalami hal tersebut. Maka iman percaya dalam pengharapan akan janji Allah melalui Tuhan Yesus Kristus adalah andalan utama kita.

Siapakah di antara kita yang cukup tegar menghadapi kematian dari orang yang kita kasihi? Umumnya di hadapan publik, kita akan berusaha tampak tenang dan tegar saat kita menghadapi kematian dari orang-orang yang kita kasihi. Sesungguhnya kita tidak ingin memperlihatkan perasaan dan dukacita kepada banyak orang. Karena kita menganggap sikap tersebut sebagai suatu bentuk kelemahan diri; dan bisa muncul anggapan dari orang banyak bahwa kita kurang memiliki iman. Tetapi sesungguhnya di dalam hati kita yang terdalam, kita belum terlalu rela dan sanggup untuk menghadapi kematian dari orang yang kita kasihi.

Setiap orang menyadari apa maknanya suatu peristiwa kematian. Karena dalam peristiwa suatu kematian, kita sungguh-sungguh mengalami perpisahan dan keterputusan dalam arti yang total serta menyeluruh dengan almarhum. Sedang bagi almarhum, dia telah menutup buku kehidupannya dan memasuki suatu keadaan yang tidak dapat dilukiskan. Bagi pemazmur, seorang yang meninggal akan berjalan seperti di tengah-tengah lembah maut; dan orang yang berada di dalam dunia maut juga tidak lagi akan ingat dan bersyukur kepada Tuhan (Mzm. 6:6). Karena itu kematian selain mendukakan setiap orang yang ditinggal pergi oleh almarhum, tetapi juga kematian sangat menakutkan bagi setiap orang yang sedang mengalaminya. Nah pertanyaannya sekarang adalah apakah kita telah siap dan berani menghadapi kematian itu? Tentu jawabannya ditentukan oleh bagaimana kita memahami peristiwa kematian itu. Apakah kematian itu adalah akhir dari segalanya? Ataukah ada pengharapan lain?

3. Harapan yang tak terwujud. Dalam Yohanes 11:17-19 menyaksikan Lazarus, saudara Marta dan Maria dari Betania telah meninggal. Yesus mempunyai hubungan baik dengan keluarga ini. Didorong oleh kedekatan itu, Marta dan Maria memberi kabar kepada Yesus tentang Lazarus yang sakit. Mereka sangat mengharapkan kehadiran Yesus untuk bertindak dan berbuat demi kesembuhan Lazarus. Namun harapan itu tidak terwujud, dan Lazarus pun meninggal.

Marta dan Maria masih sangat berdukacita dengan peristiwa kematian Lazarus sehingga banyak tetangga sekitarnya yang datang untuk menghibur mereka. Penghiburan tetangga itu tentulah sebagai rasa ikut berdukanya masyarakat sekitar. Tentunya penghiburan dari para tetangga bagi Marta dan Maria memiliki arti yang sangat dalam dan penting bagi Marta dan Maria.

Banyak harapan-harapan yang telah dipanjatkan oleh orang Kristen. Ketika harapan-karapan itu tidak terwujud, maka yang terjadi adalah kekecewaan, bersungut-sungut, bahkan ada usaha pembenaran diri melalui ‘kebaikan-kebaikan” yang telah dilakukan selama hidup. Apakah jawab kita terhadap sesuatu harapan yang tak terwujud? Masihkah kita meragukan ke-Tuhanan- Yesus kini?

4. Perjumpaan antara Yesus dengan Marta. Jenasahnya sudah terkubur selama 4 hari ketika Yesus sampai di Betania dan kedua saudara itu muncul di dalam kisah ini dengan peran masing-masing yang khas. Marta, yang selalu siap untuk bertindak; adalah orang yang menyambut Yesus. Maria, yang terbenam di dalam kesedihannya, tetap duduk diam. Marta memiliki satu penyesalan – Yesus tidak berada di situ. Katanya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ay. 21). Betapa akan berbedanya keadaan seandainya Yesus berada di situ! Sekalipun demikian Marta tidak melancarkan kritikan. Sebagaimana sudah dikemukakan sebelumnya, Lazarus sudah meninggal ketika berita tentang dirinya yang sakit sampai kepada Yesus. Tetapi kedatangan Tuhan Yesus di tengah-tengah kedukaan mereka, pastilah memberi arti yang paling khusus. Mereka sangat diteguhkan oleh kedatangan dan kehadiran Tuhan Yesus. Marta menganggap Yesus sebagai menara kekuatan. Sekalipun demikian, kata-katanya (“Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya, ay. 22) tidak dapat dianalisa. Kata-kata respons Marta di dalam ay. 22 masih mencerminkan jawaban standar yang belum dilengkapi dengan terang pemahaman yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Apa yang mendasari sikap Marta memang benar dan baik, juga tidak sesat. Namun sikapnya itu sendiri belum lengkap. Allah punya kehendak khusus bagi situasi ini, yaitu bahwa Lazarus akan dibangkitkan demi kemuliaan Tuhan Yesus, Anak Allah (lih. ay. 4).

Kata-kata tersebut mengungkapkan keyakinan bahwa Yesus berkaitan erat dengan Allah sehingga dapat memperoleh anugerah dari Dia; sekalipun demikian kebangkitan saudaranya tampaknya tidak pernah terpikirkan oleh Marta (bnd. ay. 24).

5. “Saudaramu akan bangkit” (ay. 23). Perkataan Tuhan Yesus dapat dimengerti sebagai ucapan penghiburan dari seseorang yang ikut berdukacita, atau sebagai berita yang mengherankan, yaitu bahwa sebentar lagi dia akan bangkit. Jadi, perkataan-Nya samar-samar. Dia belum menyatakan dengan terang-terangan bahwa sebentar lagi Dia akan membangkitkan Lazarus. Mungkin Dia berkata samar-samar untuk menguji iman Marta.

Di dalam menegaskan kebangkitan Lazarus, Yesus tidak menyebut waktu tertentu (ay. 23). Adalah Marta yang memberikan waktu tersebut – pada akhir zaman; tetapi kata-kata itu diucapkan tanpa semangat, sebab ketika itu kakaknya masih ada di dalam pelukan maut. Kenapa tanpa semangat? Kesedihan itu telah menutupi mata imannya untuk percaya kepada perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Tuhan. Maka oleh karena itu, sekarang Tuhan bertindak untuk menyempurnakan iman Marta (bnd. ay. 22) dengan mengarahkan perhatian Marta pada kuasa-Nya atas maut.

6. “Akulah kebangkitan dan hidup”. Di tengah-tengah rasa kehilangan, kesedihan dan dukacita tersebut, Tuhan Yesus menyatakan diriNya: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25). Bagi yang telah mendengar dan mengalami kuasaNya, tentunya perkataan Tuhan Yesus ini merupakan perkataan yang sangat otoritatif dan ilahi. Sebab bagaimana mungkin seorang manusia berani menyatakan bahwa Dia mengidentikkan diriNya sebagai sang kebangkitan dan hidup? Juga bagaimana mungkin orang-orang diajak untuk percaya kepadaNya dengan jaminan  setiap orang yang mau percaya kepadaNya akan hidup walaupun ia sudah mati dan memperoleh hidup yang kekal? Perkataan Tuhan Yesus ini sungguh mengejutkan bagi setiap orang yang mendengarnya, dan menantang kuasa maut yang selama ini tidak pernah mungkin dapat dielakkan oleh setiap manusia. Setiap orang dari zaman ke zaman tidak pernah mampu menghindar dari peristiwa kematian; tetapi kini Tuhan Yesus justru menampilkan diriNya sebagai si pemberi kebangkitan dan hidup. Bukankah yang berwenang dan memiliki kuasa untuk memberi hidup yang kekal dan membangkitkan orang mati hanyalah Allah? Nabi Elia pernah membangkitkan anak janda di Sarfat (I Raj. 17:17-24), tetapi nabi Elia tidak pernah berani menyebut dirinya sebagai sang kebangkitan dan hidup. Secara tersirat perkataan Tuhan Yesus tersebut menyiratkan bahwa diriNya merupakan manifestasi dari kehadiran Allah dalam kehidupan umat manusia. Yoh. 1:4 berkata: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia”. Jadi karena Kristus sebagai sumber kehidupan, maka kini Dia dapat menyatakan diriNya dengan pernyataan: ““Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25).

7. Di dalam kasus ini pernyataan melalui firman mendahului penyataan melalui tindakan. Ajaran ini menjangkau lebih jauh dari kasus Lazarus dan meliputi semua orang yang percaya. Dua kebenaran dikemukakan di sini. Orang percaya mungkin meninggal dunia, sebagaimana dialami oleh Lazarus, tetapi oleh kuasa Kristus ia akan hidup, maksudnya: mengalami kebangkitan. Tetapi yang lebih penting ialah memiliki hidup kekal yang diperoleh melalui iman kepada Kristus. Orang-orang yang memiliki hidup kekal ini tidak akan pernah mati, artinya terpisah dari sumber kehidupan (ay. 25, 26). Ditantang untuk mempercayai kenyataan ini; Marta membuat suatu pengakuan yang justru merupakan alasan kitab ini ditulis (11:27; 20:31), tetapi Marta tidak mengerti implikasi dari pernyataannya tersebut. Bagi Marta, Kristus belum menjadi Tuhan yang mutlak atas hidup dan mati, seorang Juruselamat yang lengkap (bnd. ay. 39, 40).

8. Saudara-saudara, pertanyaannya bagi kita kini adalah sebagaimana Yesus bertanya kepada Marta, “Percayakah engkau akan hal ini?” Percaya adalah syarat utama untuk dapat menerima kehidupan kekal. Dalam hal ini, Yesus mau menyatakan bahwa manusia yang percaya kepadaNya secara jasmani pasti akan mati, namun dia hidup. Tetapi jika manusia hidup di dalam dosa, siapa yang akan membuat dia hidup kembali. Dalam pernyataan ini juga Yesus mau mengatakan kepada Marta bahwa kematian bukan akhir dari segalanya. Iman kepada Yesus akan membawa manusia yang percaya kepadaNya kepada hidup yang sesungguhnya walaupun kematian datang menimpa dirinya. Percaya kepada Yesus berarti dia berada di jalan menuju hidup yang sesungguhnya. Percaya kepada Yesus juga berarti menerima segala yang dikatakan Yesus sebagai kebenaran yang hakiki dan menancapkan (membuat pilar) hidup kita kepada kepercayaan yang sempurna. Melalui kepercayaan kepada Yesus dia masuk kepada persekutuan dengan Allah yang Maha Kuasa, pemilik kemuliaan dan juga kepada hidup sesungguhnya. Bila berpegang kepada apa yang dikatakan Yesus di dalam kebenaran, setiap orang yang percaya akan dibangkitkan dan dimerdekakan dari ketakutan akan kematian dan dimasukkan ke dalam hidup yang sesungguhnya. Hidup yang sesungguhnya adalah hidup yang dibangkitkan dari kematian akibat dosa, dan hidup yang kaya akan melihat kemuliaan Allah dan hidup yang tidak mati selama-lamanya. Dengan pengajaran ini, maka iman Marta terbuka dan memperoleh pengenalan yang sungguh-sungguh terhadap Yesus sehingga dia mengaku: Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang datang ke dunia (ay. 27).

9. Maka, kalau pada saat ini kita mengenang orang-orang yang telah dipanggil Tuhan, itu hendak mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini terbatas, namun mereka yang percaya, kematian tidaklah akhir dari segalanya, namun adalah awal kehidupan kekal.

Perlu kita mengetahui apa yang dimaksud dengan PERINGATAN AKAN ORANG YANG MENINGGAL dalam Konfesi HKBP 1996 pasal 15, sebagai berikut:

Kita mempercayai dan menyaksikan:

Kematian adalah akhir dari hidup manusia di dunia ini, dia berhenti dari segala pekerjaannya. Ada keselamatan bagi orang yang percaya. Yesus Kristus yang telah bangkit itulah yang membangkitkan orang dari kematian, Dialah Tuhan dari orang yang hidup dan yang mati (Rm. 14:7-9).

Berbahagialah orang yang mati di dalam Tuhan yang setia sampai akhir (Why.14:13).

Gereja menyelenggarakan peringatan bagi orang yang meninggal untuk menyadarkan iman kita supaya kita mengingat akan akhir hidup kita sendiri serta meneguhkan pengharapan akan kemenangan Kristus mengalahkan kematian, demikian juga pengharapan akan kerajaan sorga sebagai tujuan jiwa-roh kita dan persekutuan orang percaya dengan Tuhan Allah hingga kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali.

Dengan ajaran ini:

Kita menekankan pengharapan keselamatan manusia dari antara orang yang mati di dalam Yesus Kristus. Kita menentang pandangan yang mengatakan bahwa orang yang hidup dapat menerima berkat dari orang mati.

Kita menentang pandangan yang mengatakan bahwa orang yang mati dapat berhubungan dengan orang yang hidup dengan mendoakan arwah-arwah. Kita menentang pandangan yang mengatakan bahwa haruslah mendirikan tugu untuk menghormati orang yang mati sebagai cara menerima berkat bagi keturunannya.

Dan dengan ajaran ini:

Kita menolak semua bentuk ajaran agama kekafiran terutama ajaran tentang roh yang mengatakan: roh orang yang meninggal itu hidup, dan roh orang meninggal itu menjadi hantu dan roh leluhur (sumangot).

Pada waktu peringatan orang yang meninggal, baiklah kita mengingat untuk mengucap syukur kepada Allah, akan segala perbuatannya yang baik pada waktu masih hidup, tetapi tidak untuk memohon berkat dan tanda kesurupan dari yang telah meninggal itu.

4. Saudara-saudara, HKBP menentang pandangan yang mengatakan bahwa orang yang mati dapat berhubungan dengan orang yang hidup dengan mendoakan arwah-arwah (itu berarti tidak ada relasi/hubungan sama sekali). Gereja HKBP menyelenggarakan peringatan bagi orang yang meninggal untuk menyadarkan iman kita supaya kita mengingat akan akhir hidup kita sendiri serta meneguhkan pengharapan akan kemenangan Kristus mengalahkan kematian, demikian juga pengharapan akan kerajaan sorga sebagai tujuan jiwa-roh kita dan persekutuan orang percaya dengan Tuhan Allah hingga kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Memento Mori, “ingot ma ari hamamatem”, (”Ingatlah akan kematian”). Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s