KASIH YANG MEWUJUD DALAM TINDAKAN

RENUNGAN, SELASA 10 NOPEMBER 2009

Roma 12 : 13 “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!”

Di ayat 13 ini, Paulus mengemukakan konsep tentang kasih di dalam persekutuan yang bertalian dengan belas kasihan, yaitu: kasih yang membantu. Di ayat 13, Paulus mengungkapkan, “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!”

Konsep kasih yang bertalian dengan belas kasihan yaitu kasih yang membantu. Apakah kasih yang membantu? Kasih yang membantu adalah kasih yang diwujudnyatakan dengan memberikan apa yang kita miliki kepada orang lain. Orang lain di sini tidak berarti semua orang, tetapi orang-orang percaya. Paulus mengunci kepada siapa kita memberi ini dengan pernyataan “orang-orang kudus.” New International Version (NIV) dan God’s Word menerjemahkannya, “God’s people” (orang-orang/umat-umat Allah) King James Version (KJV), New King James Version (NKJV), Modern King James Version (MKJV), dan Revised Version (RV) menerjemahkannya, “saints” (=orang-orang kudus), Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “orang-orang Kristen lain” Ketiga arti yang berlainan ini memiliki inti yang sama yaitu orang-orang Kristen/seiman sebagai objek kita membantu mereka. Bukan hanya Paulus, Yakobus juga mengajar tentang pentingnya membantu sesama umat Tuhan (baca: Yak. 2:1-26; perhatikan ayat 1 dan bandingkan Yak. 1:1).

Bagaimana kita membantu mereka? Di ayat ini, Paulus membagi 2 cara membantu anak Tuhan lain, yaitu: Pertama, membantu yang membutuhkan. Kata “kekurangan” dalam ayat ini kurang tepat terjemahannya. Dari bahasa asli (Yunani)-nya, kata ini bisa diterjemahkan, “dalam kebutuhan-kebutuhan/untuk kebutuhan-kebutuhan (orang-orang) kudus ambillah bagian/berilah sebagian”. KJV, International Standard Version (ISV), NIV, dan mayoritas terjemahan Inggris menerjemahkannya kebutuhan (necessities, in need, dll). Dari sini, kita baru mengerti bahwa kita bisa membantu sesama orang Kristen dengan memberikan kepada mereka sesuai kebutuhan-kebutuhan mereka. Di sini, ada unsur solidaritas kepada sesama. Paulus ingin agar di samping kita membantu sesama kita, kita juga mendidik mereka agar bisa bekerja keras sendiri demi hidupnya. Tuhan memerintahkan kita membantu orang lain, tetapi di sisi lain tanpa kontradiksi, Tuhan yang sama memerintahkan kita untuk bekerja keras.

Kedua, keramah-tamahan kepada orang Kristen lain. Paulus hendak mengajar kita berlaku ramah kepada orang Kristen lain. “Keramah-tamahan” (hospitality) dalam bahasa Yunani disebut “philoxenia” yang berarti love of strangers (mencintai/kasih kepada tamu asing). Di dalam Ibrani 13:2 dan 3 Yohanes 5-8 untuk mengajar kita tentang pentingnya keramah-tamahan dalam hidup orang Kristen. Di dalam Ibrani 13:2, ketika kita membantu memberi tumpangan, beberapa orang secara tidak sadar sedang menjamu malaikat. Kata “memberi tumpangan” dalam Ibr. 13:2 menggunakan kata Yunani yang sama dengan Rm. 12:13 ini. Dengan kata lain, di dalam keramah-tamahan kepada orang lain, kita bukan hanya aktif memberi bantuan, tetapi kita juga “pasif” menolong orang. Ketika ada orang bertamu di rumah kita, beranikah kita bersikap ramah kepada tamu itu? Ketika orang lain membutuhkan pertolongan kita, sudahkah kita ramah kepada orang lain itu sambil menolong?

Membantu para hamba Tuhan dalam kebutuhan hidup mereka, terutama yang sedang kekurangan berarti turut serta menunjang pekerjaan Tuhan. Sikap dan tindakan kasih itu pasti sangat diperhatikan oleh Tuhan sebab mengandung nilai sebagai persembahan kepada Tuhan sendiri (Mat. 25:40). Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s