MEMBERI TIDAK PERNAH SIA-SIA

RENUNGAN, SENIN 9 NOPEMBER 2009

Kisah Para Rasul 20:35 “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

  1. “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima,” (Kis. 20 : 35b). Perkataan ini tampaknya berbeda jauh dengan pandangan banyak orang dewasa ini. Sebab, yang dialami, dirasakan, dan diyakini oleh banyak orang justru sebaliknya. Banyak orang merasa lebih berbahagia menerima ketimbang memberi. Itulah sebabnya banyak orang lebih sering mengucapkan terima kasih ketika menerima sesuatu, dan sebaliknya jarang mengucapkan terima kasih ketika diberi kesempatan dan memang mampu untuk memberi sesuatu. Jangankan mengucapkan terima kasih untuk kesempatan memberi, banyak orang malah enggan memanfaatkannya (walaupun mampu); atau kalau akhirnya mau memberi, ia melakukannya dengan kurang antusias.
  2. Hal ini tentu saja tidak boleh dijadikan sebagai kesimpulan umum, namun minimal dapat kita katakan bahwa di dunia ini masih ada saja orang yang merasa lebih berbahagia menerima sesuatu ketimbang memberi sesuatu. Atau kalau memang sama-sama merasa bahagia dalam melakukan keduanya, maka kebahagiaan dalam menerima itu jauh melebihi kebahagiaan memberi. Hal ini memang wajar sebab kebahagiaan menerima sesuatu itu jauh lebih konkret dan langsung dapat dirasakan dibanding kebahagiaan karena memberi sesuatu. Untuk dapat merasakan kebahagiaan memberi itu, diperlukan suatu refleksi yang dalam dari panggilan hidup sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan. Kebahagiaan memberi hanya dapat dirasakan kalau ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang yang telah diselamatkan, dan bahwa pemberian itu sebenarnya adalah sekedar menyalurkan sesuatu yang telah terlebih dahulu diterima dari Tuhan. Sebab manusia tidak pernah memberi sesuatu yang datang dari dirinya sendiri. Semua yang dapat diberikan manusia itu dari Tuhan juga asalnya. Semangat memberi seperti ini tidaklah sia-sia. Dalam memberi, terisap semacam keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita berikan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s