IBADAH YANG MEMBERLAKUKAN KASIH, KEADILAN DAN MEMBEBASKAN BELENGGU

KHOTBAH MINGGU 8 NOPEMBER 2009

Ev.: Yesaya 58 : 4 – 12

Ep.: 2 Korintus 9 : 6 – 15

1. Pesan Yesaya terutama ditulis untuk bangsa Yehuda yang berada dalam pengasingan di Babel. Pengasingan ini merupakan konsekuensi dari Yesaya bagian pertama, “Penghakiman”. Tetapi, sekarang Yesaya mendapat kata baru yaitu “keselamatan”. Bangsa Yehuda di Babel tidak boleh putus asa: Allah akan menghampiri mereka dan mereka akan diselamatkan.

2. Hakikat puasa. Ibadah yang berkenan kepada Tuhan adalah sikap hati yang benar dalam tindakan yang saleh. Sebaliknya, perilaku rohani yang terlihat saleh, namun tidak keluar dari hati yang tulus adalah kemunafikan.

Dalam bahasa Ibrani, kata puasa adalah “tsum”, “tsom” dan “inna nafsyo” yang secara harafiah berarti “merendahkan diri dengan berpuasa” (terdapat sekitar 45 kali). Puasa artinya mencari hadirat Tuhan dengan merendahkan diri di hadapan-Nya agar terjadi rekonsiliasi atau pendamaian dengan Tuhan. Pendamaian itu penting agar Tuhan mau mendengarkan, menjawab dan melepaskan bangsa Israel dari persoalan yang menimpa mereka.

Jadi, tujuan puasa adalah mencari hadirat Tuhan, merendahkan diri dan memohon ampun dan pemulihan dari Tuhan. Hal ini juga jelas terlihat pada Imamat 16:29-31, “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan. Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.” Puasa merupakan hal yang wajib dilakukan oleh bangsa Israel karena diatur dalam Hari Raya Pendamaian (Hari Grafirat, Imamat 16:29-31) di atas.

Karena puasa adalah persoalan mencari hadirat Tuhan dengan merendahkan diri di hadapan-Nya agar terjadi rekonsiliasi atau pendamaian dengan Tuhan, maka bukan metode puasa yang terutama di sini, tetapi sikap hatilah yang menjadi hal yang terutama untuk dibenahi. Oleh karena itulah, Alkitab tidak menjelaskan secara rinci apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan, apa yang boleh dimakan atau yang tidak boleh dimakan, apa yang boleh diminum atau yang tidak boleh diminum ketika kita berpuasa. Sekalipun kata puasa yang dalam bahasa Yunaninya “nesteia” ialah berpantang atau menahan nafsu dari makan dan minum, tetapi aturan tentang berpantang makan dan minum itu sendiri tidak dijelaskan secara rinci.

Oleh karena itu, dalam Perjanjian Lama, kita memahami makna puasa adalah pertama, mencari Tuhan. Hal terpenting dari berpuasa bukanlah hal tidak makannya tetapi hal mencari Tuhan. Banyak orang yang terjebak ke dalam puasa sebagai ritual keagamaan (Yoel 2:12, “Tetapi sekarang juga,’ demikianlah firman TUHAN, ‘berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh,” 2 Tawarikh 20:3, “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.Kedua, merendahkan diri (Imamat 16:29, … kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa.”). Ketiga, membuka belenggu kelaliman dan melepaskan tali kuk (Yesaya 58:6, Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk”). Keempat, Mengasihi dan berbelaskasihan (Yesaya 58:7, … supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkaumelihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”).

3. Israel bertanya mengapa Tuhan tidak memperhatikan upaya dan jerih payah mereka berpuasa (3a)? Allah menjawab mereka dengan menunjukkan beberapa perbuatan mereka yang keliru, yaitu: bertindak semena-mena dan saling berkelahi (3b-5). Percuma melakukan hukum Tuhan yang satu sementara hukum-Nya yang lain dilanggar.

Kesalahan fatal manusia di hadapan Allah adalah merasa diri benar, lalu mengukur benar-tidaknya orang lain dengan standarnya sendiri. Kesalahan yang lain adalah mengira bahwa dengan melakukan ritual agamanya di hadapan Allah, maka ia boleh tidak perduli dengan sesama. Padahal mengasihi Allah harus mewujud nyata pada tindakan mengasihi sesama manusia.

Bangsa Israel terjebak dalam kondisi seperti itu. Mereka menyangka bahwa ritual yang mereka lakukan adalah sesuatu yang berkenan di hadapan Allah. Sepertinya mereka hidup saleh (ayat 2). Puasa mereka pun bukan main seriusnya (ayat 3, 5). Bagi kebanyakan orang beragama, perilaku itu dianggap agung dan terpuji, dan sepatutnya mendapat pujian serta pahala. Tidak heran mereka protes kepada Allah yang seolah-olah tidak memedulikan mereka (ayat 3). Maka dengan tegas, Tuhan menyatakan mereka bersalah dan berdosa! Mengapa demikian? Karena mereka munafik dan tidak memahami kehendak Tuhan. Segala tindakan mereka hanya untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk orang lain (ayat 6-7). Bangsa Israel lupa, Allah memanggil mereka sebagai umat-Nya untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Bukti lain bahwa mereka tidak mengerti kehendak Allah adalah mereka melanggar hukum Sabat (ayat 13). Sabat diberikan Tuhan kepada umat agar mereka menghormati Tuhan dengan beristirahat dan beribadah, serta mengasihi sesama dengan memberi kesempatan beristirahat.

Mengerjakan perilaku tak terpuji saat berpuasa sama dengan perbuatan sia-sia. Perilaku berpuasa seperti ini hanya sekadar tindakan lahiriah untuk menarik perhatian dan simpati orang lain, namun tidak dapat menipu Allah. Kiasan pedas “menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur” menunjukkan betapa bodohnya perbuatan mereka yang menggunakan simbol kesedihan palsu untuk menjangkau Allah (ayat 5).

Umat Israel mementingkan aturan agamawi dalam menunaikan puasa, tetapi melalaikan hakikat berpuasa yang diinginkan Allah yaitu, menegakkan keadilan (ayat 6) dan membagikan berkat kepada orang lain (ayat 7, 10) serta mematuhi hukum hari Sabat (ayat 13). Perilaku munafik itu membatalkan tercurahnya berkat Allah bagi mereka dan menghalangi kuasa Allah menjawab doa mereka (ayat 8-9, 12, 14). Jadi, berbuat baik bagi orang lain dan menaati peraturan Allah adalah perwujudan puasa yang sejati. Inilah perbuatan yang ingin Allah temukan hadir dalam diri umat-Nya.

4. Puasa: memberlakukan kasih dan keadilan. Setelah Allah menghukum umat Israel dengan menyerahkannya kepada kekuasaan Babel, maka disebutkan umat Israel menyatakan sikap dengan cara:  “Duduklah tertegun di tanah para tua-tua puteri Sion; mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah” (Rat. 2:10). Dasar teologis umat Israel menabur abu di atas kepala sebenarnya untuk mengingatkan mereka yang telah diciptakan oleh Allah dari debu tanah. Makna manusia diciptakan oleh Allah dari “debu tanah” menunjuk kepada kefanaan, terbatas, lemah dan berdosa. Mereka diingatkan akan hakikat hidupnya yang hanya bersumber kepada kasih dan anugerah Allah, sehingga tidak memiliki dasar sedikitpun untuk bermegah. Apalagi saat mereka menghadapi penderitaan, malapetaka dan kesedihan. Mereka terdorong oleh sikap iman untuk merendahkan diri,  mohon pengampunan akan dosa-dosa yang telah diperbuat dan pernyataan pertobatan kepada Allah melalui puasa. Dengan demikian hakikat puasa sebenarnya untuk mengembalikan kesadaran umat kepada tujuan dan makna hidup yang sesungguhnya. Sehingga dengan kesadaran diri yang dinyatakan melalui pertobatan tersebut diharapkan dapat terjalin kembali komunikasi dengan Allah. Kesadaran diri tersebut dilandasi oleh sikap iman, yaitu bahwa pada hakikatnya Allah adalah pengasih, penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (bnd. Yun. 4:2b); maka pastilah Allah berkenan mengasihi dan mengampuni orang yang merendahkan diri di hadapanNya.  Karena itu ibadah puasa kemudian dijadikan bagian liturgi yang dilaksanakan secara khusus dan berkala setiap tahun agar umat dapat secara teratur menghayati keberadaannya yang membutuhkan pengampunan Allah, sehingga mereka tidak lalai merendahkan diri dan  senantiasa hidup dalam pertobatan.

Tetapi melaksanakan suatu ibadah puasa secara teratur dan berkala juga dapat mendorong kita untuk melaksanakan sekedar  suatu formalitas belaka. Kita dapat terjebak dalam rutinitas ibadah puasa yang terlepas dari proses pembaharuan hidup, sehingga kita tidak sungguh-sungguh merendahkan diri dan bertobat di hadapan Allah. Artinya melalui ibadah puasa yang rutin kita lakukan dapat membuat kita makin membenarkan diri dan menganggap diri lebih baik dari pada sesama yang tidak berpuasa. Akibatnya dengan spiritualitas yang demikian,  ibadah puasa bukan lagi menjadi media pembebasan yang mendorong diri kita untuk memberlakukan kasih dan keadilan, tetapi sebaliknya menjadi kristalisasi sikap egoistis dan perasaan superiotas diri. Sehingga selama berpuasa, kita memberlakukan sikap yang sewenang-wenang, berlaku kejam, mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri, dan tidak peka dengan penderitaan sesama. Kita dapat melihat praktek orang-orang berpuasa di sekeliling kita, yang dengan mudah berubah menjadi beringas dan gemar menghakimi sesama yang dianggap sebagai “penggoda iman”. Mereka menuntut orang lain untuk tidak bekerja menjual makanan dan minuman pada saat mereka berpuasa agar mereka tidak terganggu dan dapat dengan selamat dan lancer menjalankan ibadah puasanya. Padahal hakikat puasa sebenarnya bertujuan agar kita makin mampu  mengendalikan hawa-nafsu dan keinginan-keinginan duniawi. Sehingga seandainya kita mampu menyingkirkan semua hal yang dianggap menggoda dan membatalkan puasa,  maka sebenarnya kita gagal untuk melatih dan mengendalikan nafsu dalam diri kita. Puasa yang demikian hanya sedikit melatih fisik seseorang untuk sementara tidak makan atau minum, tetapi hati dan jiwanya tetap gagal dalam memberlakukan kasih dan keadilan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.

Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan umat Israel yang disaksikan oleh kitab Yesaya. Di Yes. 58:2 disebutkan: “Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah”. Tampaknya umat Israel begitu gigih mencari Allah, sehingga setiap hari mereka berusaha untuk terus menghadap Allah dan mengenal jalan kebenaranNya. Suatu religiusitas yang sangat menyentuh hati. Secara hukum keagamaan, sikap mereka tidak bercela. Begitu sempurna dan sangat khidmat. Tetapi tak lama kemudian mereka berubah sikap, yaitu: “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes. 58:4).

Umat Israel di Yes. 58:4 disebutkan bahwa mereka mampu berpuasa sekaligus berbantah, berkelahi dan memukul sesama dengan tinju dengan tidak semena-mena. Ini suatu perkawinan karakter yang sangat paradoks, ganjil, dan mustahil namun sekaligus sesuatu yang begitu riel dalam kehidupan sehari-hari. Disebut sebagai suatu paradoks dan mustahil karena memang sebenarnya tidak mungkin mampu disatukan dalam suatu sikap kepribadian seseorang, tetapi nyatanya telah menjadi suatu realitas kehidupan. Makna “keterpecahan batin” ternyata bukan hanya suatu persoalan dari ilmu yang dipelajari oleh psikologi klinis, tetapi juga lebih dalam lagi karena “keterpecahan batin” tersebut seringkali berkembang menjadi “keterpecahan spiritualitas”. Akibatnya kita gigih untuk melakukan sesuatu yang serba bertentangan: tampak hidup saleh sekaligus jahat, beragama sekaligus amoral. Sehingga puasa yang  dia lakukan sama sekali tidak berhasil membawa kepada pembaharuan hidup dan penguatan integritas diri. Walaupun dia gemar berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan menorehkan abu di dahi atau kepala, namun sama sekali tidak membawa efek perubahan yang berarti dalam kehidupan kita. Ritualitas tetap jalan tapi spiritualitas mandeg. Betapa mengerikan. Dengan demikian “keterpecahan spiritualitas” sesungguhnya merupakan musuh yang paling berbahaya sebab nilai-nilai kehidupan yang mulia dan benar menjadi terancam serta disia-siakan. Musuh kita adalah tidak sejalannya kegiatan keagamaan dengan moral (tindakan) yang menyebabkan  jalan kebenaran Allah sering diperdaya, dibengkokkan dan dimanipulasi untuk menutupi topeng kepalsuan diri, yaitu kemunafikan.

5. Puasa Yang Membebaskan Belenggu. Allah memanggil umat untuk  memberlakukan puasa sebagai media transformasi yang sifatnya memerdekakan setiap sesama yang menderita. Allah berfirman: “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7). Jadi yang terpenting bukan segi formalitas ritualitasnya, tetapi bagaimanakah dampak atau efek dari ritualitas puasa yang telah kita laksanakan. Apakah puasa makin mendorong atau memotivasi diri kita untuk peduli dengan mereka yang lapar, miskin, putus-asa dan tak  punya rumah? Apakah kita mau membebaskan diri dari zona aman (comfort zone), sehingga kita sungguh-sungguh mampu bersikap konsisten untuk membela hak orang yang tertindas dan teraniaya?  Komitmen iman tersebut akan menjadi suatu kenyataan hidup ketika dalam hidup sehari-hari kita tidak pernah tergoda untuk mencari pujian bagi diri kita sendiri sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Farisi pada zaman Tuhan Yesus. Sebab orang-orang Farisi waktu itu sering mengubah air muka saat berpuasa agar dilihat dan dipuji oleh sesamanya (Mat. 6:16).  Jadi kita akan mampu berkorban dan menderita bagi sesama yang menderita manakala orientasi hidup kita bukan “money-oriented” atau penghimpun kekayaan; tetapi orientasi hidup kita yang utama adalah bersedia menjadi alat Allah untuk menyatakan kebenaran, keadilan dan pengampunanNya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19).

Itulah juga yang jelas menjadi panggilan bagi umat Kristen saat ini. Sesuai dengan nas epistel minggu ini, 2 Kor.9:6-15. Kemauan diri untuk membuang roh “kerakusan” dan memberi karena kasih adalah panggilan kita bersama. Nas epistel memanggil kita untuk “memberi dengan sepenuh hati”.

Dalam 2 Korintus 9:6-15, kita memahami banyak hal. Jemaat Korintus yang pernah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu jemaat miskin di Yerusalem (ay. 2b). Kesiapan mereka malah merangsang orang lain untuk melakukan hal yang sama (ay. 2c). Sikap jemaat Korintus membuat Paulus membanggakan mereka di hadapan jemaat Makedonia. Namun seiring perjalanan waktu, mereka tidak melaksanakan janji tersebut. Berarti, mereka tidak sepenuh hati ingin membantu jemaat miskin itu. Itu sebabnya Paulus mendesak agar mereka mewujudkan komitmen mereka. Paulus membalik posisi jemaat Korintus, dengan menyebut-nyebut jemaat Makedonia untuk membangkitkan rasa malu mereka (ay. 4). Karena itu Paulus meminta Titus dan saudara-saudara yang lain untuk pergi mendahuluinya ke Korintus, dengan harapan agar jemaat Korintus memenuhi janji mereka untuk mengumpulkan bantuan bagi jemaat Yerusalem (ay. 5).

Dengan memberikan persembahan secara benar, jemaat Tuhan belajar prinsip anugerah dan keajaiban pemeliharaan Allah. Pertama, dengan bersikap murah hati dalam memberi, jemaat akan beroleh kemurahan hati Allah (ay. 6). Kedua, orang Kristen harus memberi dengan sukarela bukan terpaksa (ay. 7). Ketiga, Allah tahu pengorbanan orang yang memberikan persembahan. Ia memelihara mereka (ay. 8-11). Keempat, memberi sebagai wujud perhatian dan kasih kepada jemaat yang perlu, dan sebagai ungkapan syukur kepada Allah (ay. 12-14).

Saudara-saudara, beribadah kepada Allah harus mewujud dalam sikap kita melayani sesama dengan kasih dan adil. Jangan menjadi orang Kristen yang munafik. Jangan menyangka bahwa rajin ke gereja, memberi persepuluhan dan persembahan, ikut satu dua bidang pelayanan merupakan tanda kesalehan yang diperkenan Tuhan. Kalau perbuatan pelayanan dan ibadah yang kita lakukan hanya dibuat-buat dan bukan keluar dari hati yang tulus mengasihi Tuhan, serta tidak diimbangi dengan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan, maka itulah ibadah palsu yang Tuhan benci. Hindarilah semua itu! Jadilah Kristen sejati, pengikut Kristus yang setia. Amin.

One response to “IBADAH YANG MEMBERLAKUKAN KASIH, KEADILAN DAN MEMBEBASKAN BELENGGU

  1. luar biasa, hindari kemunafikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s