INTEGRITAS PELAYAN TUHAN

KHOTBAH MINGGU 20 September 2009

Ev.: 2 Korintus 11 : 7 – 16

Ep.: Yeremia 26 : 7 – 14

1. Paulus dan lawan-lawannya. Salah satu tantangan dalam upaya Pekabaran Injil yang dilakukan oleh rasul Paulus adalah adanya “rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus” (2 Kor.11:13). Setidaknya mereka adalah orang-orang bodoh (11:19), atau yang paling parah adalah pelayan-pelayan iblis yang menyamar (11:14). Paulus menyebut mereka “rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (11:5). Para rasul palsu ini telah menyelinap masuk ke jemaat Korintus. Siapakah mereka? Ada beberapa kesan tentang mereka:

a. bahwa mereka adalah orang-orang yang membanggakan keyahudian mereka. Hal itu didapatkan dari pembelaan Paulus sendiri terhadap kemurnian darah Yahudinya (lih. 11:22).

b. adalah agen-agen dari Yerusalem yang diutus untuk memeriksa kewibawaan Paulus.

c. penginjil-penginjil karismatik keliling, yang berkelana dari satu jemaat ke jemaat lainnya sambil membawa surat-surat pengantar dan rekomendasi. Mereka menawarkan “bukti” bahwa mereka mempunyai Roh melalui mujijat-mujijat mereka, dan melalui pengalaman-pengalaman ekstatik serta kecakapan retorika. Mereka memandang diri sebagai pengemban wahyu ilahi yang sejati. Mereka berbicara dan bertindak dengan “kuasa”.

Maka untuk itu, Paulus merasa perlu untuk memberi jawab atas segala sesuatu yang sedang terjadi di tengah-tengah jemaat Korintus itu. Dan memang surat 2 Korintus mempunyai satu tema yang dominan: pembelaan terhadap kerasulan Paulus. Dan dalam perikope ini, perselisihan itu mencapai puncaknya (ps. 10-13). Paulus sama sekali tidak tampak bangga terhadap orang-orang Korintus. Ia pun tidak yakin akan kesetiaan mereka kepadanya dan kepada Injil. Mereka sama sekali tidak taat (10:6). Ikatan-ikatan kasih di antara mereka tampaknya telah rusak (11:11; 12:15). Ia kuatir bahwa ada kekacauan di kalangan jemaat itu (12:20), sehingga orang-orang Korintus akan gagal dalam ujian iman mereka (13:5).

2. Tantangan Iman: berbagai sorotan sebagai pengikut Kristus sejati. Rasul Paulus pernah meminta jemaat Korintus agar membantu jemaat yang menderita di Yerusalem (2 Kor.8:1-15). Namun di kemudian hari timbul kecurigaan jemaat Korintus bahwa sumbangan tersebut tidak semuanya diserahkan oleh Paulus ke jemaat Yerusalem, tetapi dipakai oleh Paulus dan temannya, Titus, untuk kepentingan diri sendiri. Rasul Paulus mengatakan bahwa tuduhan itu tidak benar, melainkan fitnah. Semua sumbangan itu telah diserahkan ke alamatnya.

Sorotan demi sorotan kini menghantam Paulus. Ada perdebatan antara dirinya dengan orang-orang Korintus. Perdebatan soal penolakannya untuk menerima dukungan keuangan dari mereka sementara menerimanya dari orang lain. Bagi Paulus, panggilannya untuk memberitakan Injil yang cuma-cuma lebih diutamakan daripada haknya untuk menerima uang dari mereka. Paulus memang tidak bergantung secara finansial kepada mereka. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya selama melayani di Korintus. Apa sebab Paulus berkata demikian?

a. Paulus berusaha sekuat tenaga untuk hidup tak bercela. Dalam ay. 7, Paulus mengatakan kepada orang-orang percaya bahwa ia “memberitakan Injil Allah [kepada mereka] dengan cuma-cuma.” Walaupun yang dimaksud Paulus dalam ayat ini adalah pemberitaan Firman Tuhan, prinsip melayani dengan motivasi yang murni berlaku untuk segala bentuk pelayanan.

Paulus siap menolak keuntungan finansial agar mereka dapat ditinggikan. Ia menyangkal jaminan materi agar jaminan rohani mereka dapat dipastikan. Karena kasih karunia Allah itu cuma-cuma, pelayanannya pun cuma-cuma. Injil harus diberikan dengan cuma-cuma. Itulah sebabnya ia puas untuk tetap ‘sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang’ (2 Kor.6:10), mengikuti teladan Kristus yang menjadi miskin untuk membuat banyak orang kaya (2 Kor.8:9). Inilah tanda bahwa Paulus adalah rasul sejati Kristus.

b. Tak lain adalah keinginannya untuk menghindari segala hubungan dengan para filsuf dan pengkhotbah profesional, yang menerima uang untuk pelayanan mereka. Ia tidak mau memperdagangkan kabar baik untuk kepentingannya sendiri. Ia tidak ingin menyusahkan orang-orang Korintus dengan kebutuhannya, bahkan ketika ia mengalami kekurangan finansial besar. Kebutuhan-kebutuhan ini dipenuhi dengan usahanya membuat tenda, dan dengan pemberian-pemberian yang dikirimkan kepadanya dari Makedonia (ay.9), setelah ia meninggalkan tempat itu.

c. Demi kebenaran Kristus di dalam diriku (ay. 10). Kalimat ini juga dapat berarti “aku mengatakan kebenaran di dalam Kristus (lih. Rm.9:1). Kebijakan rasul Paulus untuk tidak menerima bayaran memberikan ia alasan untuk memiliki kemegahan. Jangan seorang pun berusaha merampas alasannya untuk berbangga, bahwa ia menawarkan Injil yang cuma-cuma. Itu adalah kebanggaan yang bergema di daerah-daerah Akhaya, artinya, di seluruh provinsi Romawi.

Sangat memprihatinkan sekali, jemaat Korintus tampaknya memandang rasul hanya dari segi tampilan lahiriahnya saja, tanpa memperhatikan pengajaran atau motivasinya. Godaan untuk mementingkan tampilan lalu mengabaikan hal-hal sentral kekristenan seperti ajaran, kesucian hidup, dan lain-lain, makin menggila di zaman kita ini.

Ingatlah bahwa tampilan sering kali menipu. Hanya Kristus yang harus menerima iman, harap dan kasih kita.

3. Mewaspadai rasul-rasul palsu (ay. 12-16). Apa jadinya bila pengajaran palsu lebih disukai daripada pengajaran benar? Apa jadinya bila kebenaran dianggap sebagai kebodohan dan kebodohan dianggap sebagai kebenaran?

Jemaat Korintus telah terjebak ke dalam kondisi-kondisi yang terbalik dan Paulus pun telah dianggap sebagai orang bodoh (ay. 16, lih. juga ay. 19). Semua ini diakibatkan oleh pengaruh sekelompok orang yang Paulus sebut sebagai rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus (ay. 13). Orang-orang tersebut telah begitu dalam menancapkan pengaruhnya kepada jemaat Korintus, sehingga mereka tetap sabar meski diperhamba, dihisap, dikuasai, diperlakukan secara angkuh, dan bahkan ditampar oleh rasul-rasul palsu tersebut. Sebenarnya Paulus sangat heran sekaligus sangat prihatin terhadap kondisi jemaat Korintus. Karena itu Paulus menyindir dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang begitu bijaksana (lih. ay. 19). Padahal maksud Paulus, mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang begitu bodoh.

Kita pun bisa saja terjebak ke dalam berbagai kebodohan. Mungkin saja kita, secara tidak sadar, telah menganggap diri kita sebagai orang-orang yang lebih berhikmat dari orang lain, dan merasa bahwa ajaran yang kita terima lebih benar dari orang lain. Masa kini pun, banyak orang Kristen yang disesatkan oleh ajaran-ajaran dari sekelompok pekerja curang. Akibatnya, mereka jadi kagum dan tunduk kepada “hamba Tuhan”, melebihi kekaguman dan ketundukan mereka pada ajaran Alkitab. Solusi terbaik agar kita dapat terhindar dari kondisi-kondisi terbalik di atas adalah kembali kepada Alkitab. Alkitab harus menjadi sumber pengajaran tertinggi. Semua ajaran serta kesaksian pengalaman rohani harus tunduk ke bawahnya.

4. Mari kita simpulkan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan (sebagaimana juga ini disarankan dalam tulisan tentang Bahan sermon Epistel), yaitu:

Pertama, mengarahkan pandangan mata kita hanya kepada kehendak Tuhan. Pada umumnya, saat masalah datang, manusia selalu memandang ke bawah akibatnya kita selalu melihat dan merasakan kesulitannya saja sebab kita telah terjepit oleh kondisi. Berbeda halnya kalau kita memandang pada Tuhan maka percayalah, bersama Tuhan, segala kesulitan tersebut dapat kita lewati sebab kita tahu bahwa semuanya itu adalah kehendak Tuhan dan demi untuk kemuliaan nama-Nya.

Kedua, menguji hati apakah kita mempunyai motivasi yang bersih. Itu telah dibuktikan oleh Paulus (juga Yeremia dalam nas epistel, Yer. 26:7-14), dengan tidak memikirkan upah untuk menjadi rohani, tetapi melakukannya sebagai kewajiban. Orang lain tidak tahu apa motivasi kita sebab ada kemungkinan sepertinya kita mempunyai motivasi rohani namun sesungguhnya di balik motivasi yang “rohani“ itu ada motivasi duniawi yang mengikut di belakangnya.

Ketiga, mempersiapkan hati untuk segala kemungkinan yang terburuk yang mungkin terjadi, prepare for the worst. Kalau kita tidak mempunyai kesiapan hati maka saat kesulitan itu datang, kita akan pergi dan meninggalkan Tuhan. Mengikut yang dimaksud oleh Tuhan adalah mengikut yang selama-lamanya bukan sekedar mengikut ketika keadaan menyenangkan saja.

Bagaimana menjadi seorang pengikut Tuhan sejati? Ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan:

– Total Service. Adanya sikap yang sepenuh hati, total service. Tuhan menuntut suatu total comitment, jangan mengharapkan keuntungan. Melakukan kehendak Tuhan berarti kita turut melakukan pekerjaan dahsyat dan mulia karena itu, Tuhan menuntut sikap pelayanan yang sepenuh hati.

Semangat materialisme (sebagaimana rasul-rasul palsu) telah mencengkeram pikiran kita, maka sesungguhnya, orang bukan total komitmen lagi, dan ada kecenderungan untuk melirik kepada allah lain (harta, uang, kehormatan dll).

– Single Authority. Seorang yang the true follower maka hatinya selalu terarah pada Tuhan. Mengikut Tuhan berarti kembalinya kita pada otoritas tunggal, yaitu Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Hendaklah kita sadar bahwa kita harus kembali kepada Tuhan sebagai single authority yang mengontrol hidup kita sebab tidak ada siapapun atau apapun di dunia ini yang dapat memimpin dan mengarahkan hidup kita. Hal ini seharusnya menyadarkan kita, kita tidak perlu kuatir dan cemas akan hidup kita. Mengikut Tuhan membutuhkan kesadaran bukan fanatisme tetapi ketaatan karena kita tahu siapa Tuhan yang kita ikuti tersebut, yaitu Kristus yang telah menebus dan membayar kita dengan harga yang mahal, yaitu dengan darah-Nya dan itu telah lunas di bayar.

– Kerelaan Hati. Tuhan menempatkan anak-anak-Nya di tengah-tengah kawanan serigala tapi ia haruslah tetap menjadi seekor domba dengan demikian ia menjadi terang dunia. Inilah gambaran Kekristenan tentang discipleship of Christ. Maka kerelaan hati untuk hidup dalam situasi yang bersifat kontras di tengah dunia menjadi bagian yang harus dilakukan oleh pengikut Tuhan.

Rasul Paulus melatih dirinya untuk memandang bahaya hidup sebagai kesempatan untuk menyatakan iman percayanya kepada Kristus. Dalam segala keadaan ia tetap dapat merasa “senang dan rela dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan, dan kesesakan oleh karena Kristus” (2 Kor. 12:10).  Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s