PANGGILAN UNTUK ANAK-ANAK PERJANJIAN

KHOTBAH MINGGU, 30 AGUSTUS 2009

Ev.: Kejadian 17 : 15 – 27

Ep.: Galatia 4 : 22 – 28

Anda pasti mengenal Ishak dan Ismael. Dua kakak beradik berlainan ibu tetapi satu bapak yaitu Abraham. Anak yang pertama, Ismael lahir dari ibu yang bernama Hagar, merupakan budak Sara isteri Abraham. Sedangkan Sara, melahirkan Ishak anak perjanjian antara Tuhan dengan Abraham, sebagaimana terdapat kitab Kejadian 16 : 1- 4; “Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu”.

Ada banyak sikap yang ditunjukkan oleh nas khotbah kita minggu ini, baik dari sisi Hagar yang menganggap rendah Sarai yang mandul, ketidakyakinan Sarai akan janji Allah dan juga Abraham, kelihatan tidak percaya karena mengandalkan logika (umur yang tidak memungkin lagi untuk mendapatkan anak), namun akhirnya ia menyerahkan sepenuhnya dirinya kepada Allah yang mengadakan perjanjian tersebut.

1. Usia dan kemustahilan tidak dapat menghentikan kuasa dan kehendak Allah (ay.15-16). Abraham sudah ditetapkan Allah menjadi bapa sejumlah besar bangsa, yang pengukuhannya ada pada saat pemanggilannya untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya serta rumah bapanya (baca Kej. 12:1-3, bnd. 17:6-7). Apakah yang mendasari pemanggilan tersebut? Jelas sekali bahwa motivasi yang melatar belakangi pemanggilan tersebut adalah supaya Allah menjadi Allahnya Abraham dan Allah keturunannya. Tetapi apakah mungkin? Inilah yang menjadi persoalan sebab Abraham tidak mempunyai keturunan karena Sarai mandul. Memang, Abraham mempunyai anak dari budak perempuannya, Hagar, yang diberi nama Ismael. Pertanyaan sekitar logika di satu sisi dapat dibenarkan, yah… memang karena umur. Namun apakah bijak, bila orang percaya mengandalkan logika/akal bila Tuhan sudah justru “berkunjung” dan menyatakannya kepada manusia. Apakah baik, membuat logika menjadi tolak ukur bila berhadapan dengan Allah, pemilik semesta alam? Theophany, kunjungan Allah menyatakan sesuatu yang mustahil menjadi realita, yang kabur menjadi jelas, yang tidak mungkin menjadi mungkin (bnd. Luk.1:37). Karena kuasa Allah mengatasi kemampuan logika manusia. Ternyata pemanggilan Allah bukanlah isapan jempol belaka, Dia tidak pernah berdusta. Allah berkenan memberitahukan bahwa Sarai menjadi Sara (“Ibu bangsa-bangsa yang melahirkan raja bangsa-bangsa”) sama seperti Abram menjadi Abraham (“bapak segala orang yang beriman”) yang menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tuhan akan mewujudkan apa telah dikatakan-Nya, Sara akan melahirkan seorang anak. Pertanyaan yang terus berulang adalah “apakah mungkin?”

2. Abraham tertawa. Kenapa tertawa? Alasannya jelas “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” (ay. 17). Apakah makna ketertawaan Abraham itu? Apakah tertawanya Abraham adalah tertawa ketidakpercayaan, sikap mencemooh janji Allah? Ataukah sikap kebingungan akan bagaimana mungkin dua orang uzur bisa menghasilkan keturunan? Yang jelas, Allah tidak menegur Abraham. Allah hanya mempertegas bahwa garis keturunan Abraham adalah melalui Sara (ay. 19-21). Benar, Allah mempertegas, itu berarti Dia tidak berbohong, Dia tidak main-main dengan apa yang diucapkan-Nya. Sara yang sudah tua dan Abraham akan mendapat anak laki-laki yang akan diberi nama Ishak. Artinya, perjanjian kekal Allah disempurnakan. Arti nama yang berubah tersebut menjadi tanda merebaknya dan tersebarnya bangsa-bangsa di mana mereka hidup berkenan di hadapan Allah. Bahkan berkat yang Allah sudah berikan bagi nama mereka merupakan pertambahan hidup dalam pelbagai macam arti, terutama pertambahan keturunan.

3. Penawaran lain Abraham (ay.18). Lagi-lagi hal ini adalah soal kekhawatiran, soal kengganan untuk percaya. Ya, demikianlah sikap kita manusia. Bila sudah tertanam sesuatu di dalam hati, hal itu yang akan mewarnai cara pandang dan sikap kita. Kenapa harus memikirkan sesuatu yang belum pasti, sedang yang di depan mata sudah jelas ada? Ismael, anak Abraham yang dilahirkan dari Hagar, kemudian ditawarkan oleh Abraham sebagai penggenap janji Allah tersebut. Abraham berkata, “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” (ay.18). Bagaimana kalau Ismael? Itulah bukti keresahan, kekalutan, kekhawatiran dan banyak hal lain yang mengganggu kehidupan umat percaya. Memang, keengganan untuk percaya dapat membawa orang tidak fokus, bahkan tidak dapat menetapkan langkah. Tetapi luar biasa, Allah juga merespon suasana hati Abraham. Yang jelas, sikap Allah terhadap Abraham tidak menjadi berubah. Allah tahu pergumulan Abraham sebagai manusia biasa yang terus menerus berharap, namun tak kunjung menerima. Ada saat-saat iman itu goyah. Allah mengerti kelemahan Abraham, sebab itu Ia datang untuk menguatkan dan menghibur. Perjanjian antara Allah dengan Abraham sampai keturunannya (ay.9-10) menjadi sentral adanya hubungan dan kehidupan yang rukun dan baik. Perjanjian kekal tersebut ditandai dengan suatu hidup di hadapan Tuhan dengan tidak bercela (lih. ay. 1). Namun, di pihak lain kita dapat juga melihat kebijaksanaan dan jalan keluar yang hendak ditawarkan oleh Abraham. Abraham mencintai Ismael, anaknya yang sulung itu (bnd. Kej.21:11) dan mengusulkan kepada Allah supaya Ismael diangkat menjadi pengganti Ishak. Ismael, direkomendasi oleh Abraham menjadi ahli waris dan pemegang berkat dan janji Allah.

4. Ishak sebagai anak perjanjian yang kekal dan keturunannya (ay.19-22). Akhirnya Allah meninggalkan Abraham (ay. 22) dengan penjelasan yang telah diungkapkan-Nya tentang Ishak dan Isamel. Bukan jalan keluar Abraham itu yang merupakan janji Allah, melainkan jalan yang telah ditentukan oleh Allah sendiri: Ishak akan menjadi ahli waris dan pemegang janji. Janji Allah mengandung pilihan Allah, yang bebas sama sekali dari cita-cita dan hasrat manusia.

Allah juga mendengar permohonan Abraham namun rencanaNya tidak diganggu oleh permohonan tersebut. Ismaelpun akan diberkati, akan menerima keturunan besar, nama besar dengan orang terkemuka: 12 raja akan timbul di dalam keturunan Ismael. Pemberian berkat jasmani (keturunan, keternamaan, kekayaan, pendek kata: suatu masa depan yang gemilang) dijamin kepada Ismael dengan rumusan praktis yang serupa dengan rumusan-jaminan-berkat kepada Ishak, terkecuali dalam satu hal yang berikut: tiada sepatah kata pun juga tentang suatu janji (berkat rohani dan penugasan sebagai pengantara berkat kepada segala bangsa) kepada Ismael.

Tetapi perjanjianKu akan Kuadakan dengan Ishak: Ishak sudah ditetapkan oleh Allah sebagai ahli waris, bukan karena kesulungan, tetapi karena janji. Janji Allah akan tetap berjalan sebagaimana hal itu sudah diputuskanNya.

5. Respon Abraham; respon iman dan ketaatan (ay.23-27). Akibat dari dorongan dan peneguhan Allah, Abraham bangkit dari kelemahannya dan dengan taat mengumpulkan semua anggota keluarganya untuk disunatkan. Bukan hanya seluruh anggota keluarga, tetapi juga seisi rumah tangga Abraham (ay. 23-27). Respons Abraham adalah iman dan ketaatan. Dengan luar biasa, nas khotbah minggu ini memberi kesaksian kepada kita bahwa kesetiaan yang tidak berobah dari Allah menuntut dan menciptakan di dalam manusia itu kesetiaan yang tidak berobah, yaitu suatu sikap yang merangkum, memeluk dan menganut perjanjian itu dengan segenap hati. Kesetiaan yang dituntut dari manusia itu bukanlah pertama-tama kesempurnaan tingkah laku. Sama sekali dalam nas ini tidak dituntut soal sopan santun atau perintah kelakuan baik atau buruk. Kesetiaan manusia dituntut oleh kesetiaan Allah adalah penyerahan hati yang sempurna yang memperhatikan, menginsyafi, mengenali dan mengandalkan kehadiran Allah Israel.

6. Apa yang dapat kita petik sebagai pedoman dari firman hari ini, dapat dijelaskan dari beberapa hal:

a. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Keterbatasan manusia janganlah dijadikan sebagai dasar untuk menembus ketidakterbatasan Allah. Logika, itu baik, namun kekuasaan Allah justru dapat mengatasinya. Maka biarlah akal, pikiran manusia menyandarkan diri kepada kekuasaan Allah.

b. Janji Allah akan tetap berjalan. Tidak ada satupun yang dapat menggagalkan janji Allah, oleh siapa dan karena apapun. Maka jauhkanlah keraguan-raguan bila sudah bersama/berjalan dengan Allah, karena di dalamNya ada jaminan berkat.

c. Kita dipanggil untuk hidup berdampingan dengan orang lain. Kemauan untuk berdampingan itu adalah perwujudan dari penerimaan akan janji berkat Allah. Setiap orang percaya telah dipanggil Allah untuk menjadi berkat bagi sesama dan lingkungannya. Kita adalah alat Tuhan.

d. Allah juga mengerti kelemahan-kelemahan kita di dalam mempercayakan diri kepada Dia. Kadang iman kita menjadi tawar oleh karena penantian yang tak kunjung selesai. Kita sudah mulai menyerah. Namun, Dia cukup sabar untuk mendorong dan menguatkan kita melalui firman-Nya, sehingga kita tetap secara aktif dapat mengerjakan bagian kita. Puji Tuhan! Sekarang waktunya kita bangkit dan mengerjakan panggilan kita dengan semangat, karena Allah percaya kepada ketulusan kita untuk mempercayai Dia. Amin.

2 responses to “PANGGILAN UNTUK ANAK-ANAK PERJANJIAN

  1. Thx be to God.

    Aku Ara, sekarang melayani di HKBP simpang Padang.
    Tulisannya cukup banyak membantuku untuk menemukan kata-kata kunci untuk menambah kekayaan pemahamanku tentang teks ini. walaupun sedikit terlambat menemukannya tapi itu cukup berharga.

    • tumpalhasiholansimamora

      Salam Mahkota Kehidupan,
      Selamat datang, mudah-mudahan bermanfaat untuk kemuliaan Nama Tuhan.
      Sering-seringlah berkunjung dan memberi komment agar tulisan dan pemikiran di dalamnya semakin kaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s