KRISTUSLAH TELADAN KERUKUNAN

RENUNGAN, Kamis 27 Agustus 2009

Roma 15:5, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus”

Realisasi makna “kerukunan” dalam perjalanan waktu belakangan ini seakan sulit untuk ditemukan. Banyak berita kekerasan yang kita dengar dan lihat terjadi di tengah-tengah masyarakat, bangsa bahkan dalam hidup berjemaat kita. Berita kekerasan baik dalam rangka menegakkan pemerintahan (lihat saja berita terakhir di Venezuela, Myanmar, dll), dalam interaksi di tengah-tengah keluarga (KDRT), kekerasan dalam agama (karena pemahaman yang salah akan iman percayanya), dan lain-lain. Padahal, kita tahu semuanya, kekerasan dan kekacauan yang terjadi terus menerus akan menghambat pembangunan, solidaritas, persatuan dan kesatuan berbangsa dan bertanah air.

Dalam surat Roma ini, Paulus melanjutkan pengajarannya kepada jemaat di Roma mengenai kehidupan berjemaat. Sebelumnya ia telah mengingatkan jemaat di Roma untuk tidak saling menghakimi (14:1-13a) dan tidak menjadi batu sandungan bagi sesama (14:13b-23). Kini Paulus meminta jemaat Roma untuk aktif menciptakan kerukunan. Dasar dari pengajaran dan tuntutan kerukunan ini adalah hidup Kristus sendiri (15:3,7).

Apakah yang dapat dilakukan untuk mewujudkan kerukunan tersebut? Menurut Paulus, hal yang harus dilakukan adalah,

a. Pertama yang dapat dilakukan adalah menanggung beban sesama kita. Pepatah mengatakan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Golongan kuat kemungkinan besar adalah kaum berada, sebaliknya golongan lemah adalah kaum miskin. Saling menolong dan menanggung beban bahkan akan meruntuhkan batas-batas di antara umat manusia yang saling bermusuhan.

b. Kedua, orientasi hidup orang Kristen seharusnya tidak berpusat pada apa yang menguntungkan dirinya sendiri, tetapi apa yang membawa kebaikan dan membangun orang lain. Semakin dewasa iman kita, semakin kita memikirkan kebaikan dan kemajuan orang lain yang ada di sekitar kita.

c. Ketiga, kerukunan terjadi pada saat kita merelakan diri menerima orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya.

Kristuslah sumber iman Kristen yang memberikan contoh kepada kita. Dalam hidup-Nya, Kristus tidak untuk menyenangkan diri-Nya sendiri, Kristus bahkan menerima cercaan dan hinaan demi keselamatan kita semua. Ingatlah, Kristus menerima kita bukan karena kita hebat dan memiliki kelebihan, tetapi justru pada saat kita najis oleh dosa. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s