ANAK-ANAK PERJANJIAN

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU 30 AGUSTUS 2009

Epistel: Galatia 4 : 22 – 28

1. Pendahuluan:

Surat Galatia ditulis Paulus karena alasan tertentu. Tidak terlalu lama, sejak ia meninggalkan jemaat-jemaat di Galatia yang baru didirikannya itu, Paulus diberitahu bahwa jemaat-jemaat itu dikacaukan oleh pengajaran yang justru merupakan kebalikan dari Injil.

Memang, ketika Paulus mulai mengabarkan Injil pada saat itu di sana juga telah tumbuh tradisi-tradisi tertentu dalam golongan-golongan jemaat Kristen. Dan saat itu Paulus tidak men-inkulturasi (menyesuaikan) kepada semua tradisi itu dan akibatnya ialah bahwa ia menggelisahkan gereja.

Jemaat itu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, ada yang berasal dari Yahudi, Yunani, dan dari kekafiran. Jemaat yang berasal dari kekafiran kembali lagi pada kebiasaan-kebiasaan lama mereka yaitu hidup dalam hedonisme. Sedangkan jemaat yang berasal dari agama Yahudi selalu berusaha untuk menjahudikan jemaat itu, dan mengajarkan pemahaman mereka bahwa keselamatan itu hanya diperoleh dengan melaksanakan sunat dan Hukum Taurat. Maka Paulus menentang usaha mereka dengan sekuat tenaganya. Surat Galatia ditulis justru di tengah hangatnya pergumulan ini.

Dan surat Galatia ini ditulis oleh Paulus kepada mereka untuk memberikan ajaran yang benar bahwa keselamatan bukan dari manusia itu tetapi hanya karena iman kepada Yesus Kristus (1:1).

2. Pemahaman Nas:

Dalam upaya meyakinkan orang-orang Galatia untuk memahami dan membuktikan ajarannya tentang Hukum Taurat dari sudut yang baru, Paulus mencoba memusatkan perhatian mereka tentang Hagar dan Sara, atau tentang Ismael dan Ishak. Paulus melakukan hal itu sebagai kiasan (ay.24), sebagai lambang (bnd. 1 Kor.10_1-13).

Memang tak dapat disangkal bahwa orang-orang Galatia sangat suka sekali mendengarkan orang-orang Yahudi yang suka berbicara tentang Hukum Taurat. Yang menjadi persoalan adalah, apakah mereka memang mendengarkan baik-baik? Paulus ingin Hukum Taurat dapat dibaca dengan cara yang baru.

Garis besar cerita itu adalah sebagai berikut: Abraham dan Sara sudah lanjut usia dan mereka belum dikaruniai anak. Kemudian Sara melakukan sesuatu dengan menyarankan Abraham mengambil Hagar untuk menjadi isterinya, agar ada keturunan (sesuai dengan paham garis keturunan patriarkhat). Dan memang Hagar kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamainya Ismael. Sementara itu Allah datang dengan janji-Nya, bahwa Sara juga akan melahirkan seorang anak laki-laki. Berita itu sungguh suatu berita yang sukar untuk dapat dipercaya; dan Abraham serta Sara menganggapnya sebagai suatu berita yang tidak akan mungkin terjadi. Namun pada saat yang ditentukan lahirlah Ishak. Cerita ini menunjukkan bahwa Ismael diperanakkan secara wajar menurut daging; sedangkan Ishak diperanakkan menurut janji Allah.

Anak hamba itu diperanakkan menurut daging, anak dari perempuan merdeka diperanakkan oleh karena janji. Dalam Rm.9:6-9, Paulus membentangkan maksudnya ini lebih luas. Manakah Israel yang sebenarnya? Jawabnya tentulah anak-anak janji bukan anak-anak daging. Dengan perkataan lain: yang menentukan ialah janji rohani, bukan keturunan insani. Yang hendak disoroti adalah pertentangan antara hidup di bawah Hukum Taurat dengan hidup “di bawah” kemerdekaan. Pertentangan ini digantungkan kepada Hagar dan Sara. Tetapi karena bagi orang-orang Galatia itu kurang jelas apa hubungan antara keadaan mereka sendiri dengan cerita tentang Hagar dan Sara, maka haruslah Paulus menjelaskan juga bahwa mereka tergolong keturunan Sara, yakni keturunan menurut janji (3:7, 14).

Riwayat mengenai Hagar dan Ishak menyingkapkan rencana Allah. Dalam rencana itu ada dua ketetapan atau perjanjian. Dalam 2 Korintus 3, Paulus mempertentangkan perjanjian lama dengan perjanjian baru. Dalam ay.24, pertentangan-pertentangan ini dipertalikan dengan Hagar dan Sara. Hagar menunjuk kepada gunung Sinai di mana Musa menerima Hukum Taurat (Kel.20), yang mengurung manusia di bawah dosa (3:22). Sebab manusia menyalahgunakan Hukum Taurat itu untuk menyelamatkan dirinya, dan dengan demikian memperhambakan dirinya kepada Hukum Taurat. Begitulah Hagar melahirkan anak-anak perhambaan. Sebaliknya, Sara menjadi kiasan untuk perjanjian baru dalam Kristus Yesus. Perjanjian baru itu adalah cara baru yang dipakai oleh Allah untuk bersekutu dengan manusia. Cara baru itu tidak melalui Hukum Taurat, melainkan melalui anugerah. Anak Sara dilahirkan sebagai anak merdeka, sesuai dengan janji Allah.

Maka, orang yang membuat Hukum Taurat sebagai pegangan hidupnya, adalah orang yang ada dalam martabat sebagai hamba; sebaliknya orang yang berpegang teguh pada anugerah Allah, ia akan merdeka.

3. Kesimpulan:

Tak seorang pun yang bangga menjadi hamba karena seorang hamba tidak memiliki hak apa pun untuk hidupnya sendiri. Semua orang ingin merdeka. Orang Yahudi membanggakan kemerdekaan mereka sebagai keturunan lahiriah Abraham. Namun, Paulus justru menunjukkan bahwa tidak semua anak-anak lahiriah Abraham adalah orang-orang merdeka sejati!

Paulus memakai ilustrasi Hagar dan Sara untuk menunjukkan dua macam kehidupan (ay. 22-26). Keduanya memang melahirkan anak-anak bagi Abraham, namun status mereka berbeda. Hagar melambangkan hidup perhambaan. Memang ia melahirkan anak pertama bagi Abraham menurut urutan waktu. Namun, Hagar tetap seorang hamba yang statusnya tidak pernah diubah menjadi istri. Jadi, keturunannya pun tidak akan mewarisi janji Allah bagi Abraham. Hagar melambangkan gunung Sinai, yaitu orang-orang yang hidup di luar anugerah keselamatan, yaitu mereka yang hidupnya menggantungkan diri pada usaha sendiri (=melakukan Taurat). Hagar melambangkan Yerusalem duniawi (ay. 25). Sara melambangkan hidup oleh kasih karunia. Ia mandul, namun oleh anugerah Allah ia menjadi ibu bagi anak-anak perjanjian. Sara melambangkan Yerusalem surgawi, yaitu tempat anugerah Allah dicurahkan (ay.26-27). Jadi, anak-anak yang lahir dari Sara adalah ahli waris janji-janji Allah semata-mata oleh karena anugerah-Nya (ay.28).

Mengandalkan apa pun yang disejajar dengan karya penyelamatan Kristus berakibat pada perhambaan. Orang Kristen menjalankan perintah-perintah Allah bukan sebagai hamba, melainkan sebagai orang merdeka. Ketaatan hamba terpaksa, ketaatan orang merdeka adalah ucapan syukur.

Maka perlu untuk kita renungkan: Orang yang sudah dimerdekakan dalam Kristus, namun berpaling lagi kepada perhambaan dosa, menginjak-injak dan menghina Kristus yang telah menebusnya.

One response to “ANAK-ANAK PERJANJIAN

  1. sabda wahyudi

    trims buat renungannya.sangat membantu buat pemahaman alkitab kami.GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s