HIDUP KEKAL DAN KEPEDULIAN

BAHAN SERMON EPISTEL

Minggu, 23 Agustus 2009

Epistel: Lukas 10 : 25 – 37

1. Penulis Injil Lukas yang umumnya terkenal dengan sebutan dokter Lukas, bukanlah seorang Yahudi. Latar belakang non-Yahudi ini tercermin dari pengkisahannya tentang kehidupan Yesus dengan menonjolkan sifat universal berita keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Lukas secara khusus memperlihatkan sisi kehidupan pelayanan Yesus kepada masyarakat kalangan bawah di Yudea, yaitu orang-orang miskin, kaum perempuan, anak-anak dan orang-orang yang paling berdosa, yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, khususnya masyarakat Yahudi. Lukas juga menyatakan bahwa Injil itu mencakupi juga bangsa-bangsa lain, dan khususnya orang Samaria yang dipandang rendah oleh orang Yahudi pada masa itu.

2. Perikop tentang orang Samaria yang baik hati tentu sudah tidak asing lagi bagi kita demikian juga dengan kisah tentang Maria dan Marta. Sekilas kalau kita membaca maka kita melihat kedua kisah ini tidak saling berkait karena dari perumpamaan Tuhan Yesus yang berbicara tentang sesama manusia kemudian kisah langsung berganti ke Marta yang “mengomel“ pada Tuhan Yesus karena saudaranya, Maria tidak membantunya melayani. Namun kalau diperhatikan, pertanyaan ahli Taurat berkenaan dengan hukum kedua dari hukum Taurat, yaitu tentang siapakah sesama manusia dijelaskan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan sedang hukum pertama dari hukum taurat dijelaskan dalam perikop Maria dan Marta. Struktur a b b’ a’ dimana b dan b’, a dan a’ saling berhubungan. Struktur demikian disebut kiastik. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas hubungan antara b dan b’, tentang siapakah sesama manusia.

3. Pemahaman Nas: Diawali dari motivasi yang tidak baik. Kisah tentang orang Samaria yang murah hati ini sangatlah unik karena kali pertama ada seorang ahli Taurat yang berani datang untuk mencobai (bhs Yunani: ekpeirazon, ay.25) Tuhan Yesus. Ahli Taurat itu mengajukan pertanyaan yang luar biasa penting kepada Yesus tentang bagaimana orang dapat mewarisi hidup kekal. Sayang ia bertanya dengan motivasi salah dan praanggapan keliru. Ia bertanya bukan karena ia sungguh sedang menggumuli pertanyaan itu tetapi karena ia ingin mencobai Yesus. Ia tidak sedang mencari jawaban sebab ia sudah punya pranggapan bahwa orang dapat mewarisi hidup kekal melalui perbuatan membenarkan diri (ay. 25, 29).

Lukas mencatat sebelumnya memang ada pertentangan antara Tuhan Yesus dan ahli Taurat atau para murid dan ahli Taurat namun pertentangan ini tidak berkenaan dengan pengajaran Tuhan Yesus secara langsung. Para ahli Taurat biasanya mempertentangkan tentang praktek atau sikap atau tindakan Tuhan Yesus dan para murid yang mereka anggap tidak sesuai dengan tradisi Yahudi. Sebagai contoh, menyembuhkan pada hari Sabat, para murid yang tidak mencuci tangan terlebih dahulu ketika hendak makan, dan masih banyak lagi. Maka sangatlah mengherankan kalau ada ahli Taurat yang datang dan memang sengaja hendak mencobai Tuhan Yesus.

Pertanyaan yang ia lontarkan pada Tuhan Yesus sangatlah “rohani“ namun di balik pertanyaan indah tersebut tersimpan motivasi buruk; ia ingin mencobai Tuhan Yesus. Jadi, berhati-hatilah pada orang yang bertanya karena sebenarnya pertanyaan tersebut bukan dipicu oleh rasa keingintahuan dan ingin memperoleh jawab. Tidak! Tetapi ada motivasi lain di balik pertanyaan tersebut karena tidak setiap pertanyaan membutuhkan jawaban. Lalu apa yang menjadi motivasi dan tujuan dari ahli Taurat di balik pertanyaan yang ia lontarkan? Tuhan Yesus pada saat itu sudah sangat terkenal karena Alkitab mencatat dimanapun Tuhan Yesus berada maka di situ banyak orang berkerumun dan kemanapun Ia pergi orang selalu berbondong-bondong datang pada-Nya. Murid-murid Yesus pun pada saat itu juga sudah sangat terkenal karena banyak melakukan mujizat seperti mengusir setan (Luk. 10:17-20). Hal inilah yang membuat penasaran ahli Taurat, ajaran Tuhan Yesus yang manakah dan seperti apakah sehingga banyak orang yang mengikut Dia dan melakukan mujizat?

Ahli Taurat merupakan salah satu bagian dari sekelompok golongan yang ada pada jaman itu selain golongan Farisi, golongan Saduki, golongan Zelot, dan lain-lain. Orang Farisi meskipun kelihatan saleh namun mereka bukanlah orang yang bergelut di bidang keagamaan tapi mereka bergerak di bidang sosial politik. Ahli Taurat adalah orang yang bergaul erat dengan Alkitab, mereka menyalin teks kitab Perjanjian Lama dari generasi ke generasi. Kita juga patut bersyukur akan hal ini karena tanpa ahli Taurat maka tidak ada kitab Perjanjian Lama dalam Alkitab. Semua ini tidak lepas dari rencana Tuhan. Karena kedekatannya dengan teks Alkitab sehingga para ahli Taurat berotoritas menafsirkan Alkitab, seperti hukum-hukum dan aturan-aturan Yudaisme yang berlaku pada jaman itu. Jadi dari peranan mereka maka kita tahu apa yang menjadi motivasi dari pertanyaan mereka, yaitu mereka ingin menguji Tuhan Yesus, apakah Ia sudah cukup mengerti dengan hukum-hukum Taurat ataukah Tuhan Yesus merupakan salah seorang penyesat yang melawan pemikiran Yudaisme.

Ahli Taurat sebenarnya bukan ingin mendapatkan hidup yang kekal tapi ia memang berniat hendak mencobai dengan menghadapkan Tuhan Yesus pada hukum Taurat dengan demikian ahli Taurat berharap mendapati kesalahan pada diri Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi keinginan si ahli Taurat, itulah sebabnya Tuhan Yesus membenarkan jawabannya dan berkata, “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup“ (ay. 28). Dari jawaban Tuhan Yesus itu sebenarnya Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa sebagai ahli Taurat seharusnya ia tidak perlu menanyakan pertanyaan tersebut, bukankah sehari-hari ia mengajarkan pada jemaat tentang hukum Taurat? Kalau kita perhatikan, tidak setiap Firman yang tertulis dalam Alkitab memerlukan penafsiran. Pengajaran Tuhan Yesus sangat sederhana dan jelas sehingga mudah dimengerti oleh manusia bahkan oleh orang yang tidak mengenal Tuhan sekalipun. Manusia justru gagal ketika dihadapkan pada hal yang paling sederhana. Manusia cenderung meremehkan dan mengabaikan kebenaran Firman. Hal ini juga dialami oleh ahli Taurat sehingga untuk membenarkan dirinya orang itu berkata, “Siapakah sesamaku manusia?“

Dari pertanyaan ahli Taurat ini maka kita tahu kalau sebenarnya ia enggan berhadapan dengan kebenaran sejati karena kebenaran sejati menuntut orang untuk melakukannya. Apakah hal ini juga menjadi pengalaman kita? Kita tahu kebenaran tapi kebenaran tersebut hanya sekedar menjadi pengetahuan belaka tanpa kita mau melakukannya. Ahli Taurat itu berharap dari jawaban Tuhan Yesus akan mendapatkan definisi tentang siapa sesama manusia. Sungguh di luar dugaan ahli Taurat, ternyata jawaban Tuhan Yesus tentang sesama manusia berbeda dengan yang ia harapkan; Tuhan Yesus menjawabnya dengan memberikan sebuah perumpamaan. Perumpamaan yang Tuhan Yesus sampaikan merupakan hal yang lazimnya untuk dimengerti oleh orang Yahudi tapi yang berbeda adalah makna rohani yang terkandung di dalamnya yang memang Tuhan maksudkan untuk anak-anak-Nya lakukan.

Alkitab mencatat ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho maka kalau kita perhatikan secara geografis letak Yerusalem memang lebih tinggi dari Yerikho dan jarak kedua kota ini 17 mil. Pada jaman itu jarak tersebut bukanlah jarak yang dekat dan mudah untuk ditempuh mengingat jalannya yang berbatu dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari gurun pasir dan di sepanjang perjalanan Yerusalem-Yerikho sering terjadi perampokan. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa orang yang lewat jalan tersebut bukan untuk sekedar jalan-jalan tetapi karena memang ada kepentingan. Dan di tengah jalan orang ini dirampok bahkan dilukai dan dikatakan ia hampir mati namun kebetulan ada seorang imam yang juga turun dari Yerusalem melewatinya dari seberang jalan.

Ada kesan sepertinya ia memang sengaja menghindari orang itu. Ada beberapa kemungkinan penyebab imam tersebut tidak mau menolong, yaitu: pertama, ia takut mengalami nasib yang sama seperti orang itu, yakni dirampok, kedua, seorang imam mempunyai tugas khusus, yakni mempersembahkan korban. Untuk melakukan tugas khusus ini maka ia harus menguduskan dirinya dan salah satunya ia tidak boleh bersentuhan dengan mayat. Namun alasan ini tidaklah tepat karena Alkitab mencatat imam tersebut turun melalui jalan itu (ay. 31), berarti ia sama seperti orang itu, yakni dari Yerusalem ke Yerikho. Maka jelaslah bahwa imam tersebut sudah selesai melakukan tugasnya namun ia memang sengaja tidak mau menolong orang yang sedang dalam kesusahan tersebut.

Kemudian datanglah orang Lewi, melewati jalan yang sama dan ia pun hanya melewatkan orang itu begitu saja. Orang Lewi tidak sama dengan imam, orang Lewi hanya bertugas mengurus perabotan Bait Allah saja. Jadi sebenarnya bukan alasan baginya untuk tidak menolong orang itu. Bukankah ini menjadi gambaran setiap manusia dimana jabatan/kedudukan terkadang menghalangi kita untuk menolong sesama. Orang akan berpikir dua kali ketika hendak menolong sesama, mereka berpikir tentang akibat dan bagaimana cara yang tepat untuk  menolong sesama. Akibatnya karena terlalu banyak pertimbangan maka tidak ada tindakan nyata yang dilakukan. Berbeda halnya kalau seseorang tidak mempunyai jabatan di masyarakat akan lebih mudah baginya untuk menolong sesama tanpa perlu memikirkan akibatnya. Kedua tokoh yang ditampilkan oleh Tuhan Yesus, kedua-duanya adalah orang terpandang namun kedua-duanya gagal. Melihat hal ini maka pastilah si ahli taurat ini mengharapkan kehadiran tokoh ketiga adalah seorang yang dari keturunan Yahudi namun sungguh di luar dugaan ternyata tokoh yang ditampilkan Tuhan Yesus adalah orang yang paling ia benci dan tidak layak disebut sebagai sesama, yaitu orang Samaria. Begitu bencinya orang Yahudi pada orang Samaria sehingga menerima kebaikan dari orang Samaria merupakan suatu kehinaan bagi orang Yahudi. Tuhan Yesus justru memunculkan tokoh orang Samaria. Kalau imam dan orang Lewi tidak mau menolong karena pertimbangan takut dirampok maka pastilah orang Samaria pun seharusnya punya alasan yang sama karena orang Samaria pun mempunyai hukum yang sama seperti orang Yahudi, yaitu menyentuh mayat berarti menajiskan diri. Namun Tuhan Yesus justru memberikan perumpamaan ini dengan unik dan Alkitab mencatat bahwa orang Samaria ini digerakkan oleh belas kasihan (ay. 33) dan tidak berhenti di belas kasihan, orang Samaria ini merawat dan menaikkannya ke atas keledai tunggangannya bahkan membawanya ke tempat penginapan; ia juga menjamin bahwa ia akan kembali dan mengganti semua biaya yang dikeluarkan pemilik penginapan tersebut. Apakah kita mempunyai hati seperti orang Samaria ini? Just show your compassion and do it!

4. Aplikasi. Perumpamaan Tuhan Yesus ini kemudian diakhiri dengan pertanyaan-Nya kepada ahli Taurat, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?“ Kalau kita dihadapkan pada situasi demikian pastilah kita juga akan dibingungkan, kita berharap mendapat jawaban dari bertanya tetapi malah ditanya balik tentang siapakah sesama manusia itu? Kalau kita perhatikan maka pertanyaan yang Tuhan Yesus lontarkan pada si ahli Taurat sangat signifikan karena pertanyaan tersebut sekaligus mengkoreksi paradigma si ahli Taurat tentang “siapakah sesama manusia“, yaitu:

a. “Sesama manusia“ merupakan subyek. Perhatikan sesama manusia yang ditanyakan oleh ahli Taurat ini mempunyai kedudukan sebagai obyek karena kalimat ini seolah-olah bertanya, “Kepada siapa aku harus menunjukkan belas kasihan?“ Namun pernyataan Tuhan Yesus sungguh amat bijaksana, Ia balik bertanya sekaligus membalikkan posisi sesama manusia bukan lagi sebagai obyek melainkan subyek (ay. 36).

b. Menjadi “sesama manusia“ merupakan tindakan nyata. Dengan bertanya siapakah sesamaku manusia, si ahi Taurat berharap memperoleh sebuah jawaban berupa definisi atau teori, yaitu manusia adalah… Si ahli Taurat hanya berbicara dibatas wilayah pemikiran namun jawaban tersebut ternyata berbeda dengan yang ia harapkan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa sesama manusia bukan sekedar teori atau definisi tetapi sesama manusia lebih menunjuk pada praktek nyata yang kita lakukan pada orang lain. Sesama manusia bukanlah berbicara hal teoritis tapi hal praktis dalam tindakan riil yang nyata.

c. “Sesama manusia“ bukan identitas. Ahli Taurat berharap mendapatkan jawaban dimana jawaban tersebut mengacu pada identitas manusia. Seperti kita ketahui, orang Yahudi sangat bangga dengan status dirinya dan menganggap bangsa lain sebagai kafir. Selesai mendengar perumpamaan dan si ahli Taurat kembali ditanya oleh Tuhan Yesus dan ia tidak berani menyebut identitas orang tersebut yang adalah orang Samaria, si ahli Taurat hanya menyebutkan tindakannya bahwa sesama manusia adalah orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya (ay. 37). Tuhan Yesus ingin mengubah paradigma kita bahwa sesama manusia bukanlah sekelompok orang atau status tapi kasih berupa tindakan nyata.

d. “Sesama manusia“ merupakan penyataan kasih. Sesama manusia berbicara tentang kasih bukan manipulasi, berbuat baik demi untuk mendapat keuntungan. Hati yang digerakkan oleh belas kasihan itulah yang    membuat kita menjadi sesama bagi orang lain. Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya jadi, Allah yang adalah kasih maka hendaklah kasih itupun   terpancar keluar dari diri kita. Satu hal kebutuhan manusia yang paling esensial adalah keselamatan. Dan menjadi tugas setiap orang Kristen untuk mengabarkan Injil keselamatan.

5. Kesimpulan. Terasakah bagi kita betapa mengejutkan jawaban Yesus? Dengan mengacu kepada sari Taurat (Ul.6:5), Yesus ingin menyadarkan dia bahwa hidup kekal bukan masalah warisan tetapi masalah hubungan. Faktor intinya bukan perbuatan tetapi kondisi hati. Kasih Allah yang telah mengaruniakan hidup dengan menciptakan manusia dan memberikan hukum-hukum-Nya, patut disambut dengan hati penuh syukur dan kasih di pihak manusia.

Mungkinkah orang mengalami kasih Allah dan hidup dalam kasih yang riil kepada-Nya namun hatinya tertutup terhadap rintih tangis sesamanya? Tidak, sebab kasih kepada Allah pasti akan mengalir dalam kasih kepada sesama. Namun, siapakah sesama yang harus kita kasihi itu? Lalu, lahirlah jawab menakjubkan dari Yesus tentang perumpamaan orang Samaria yang baik. Pertama, orang-orang yang dalam praanggapan si ahli Taurat pasti akan berbuat benar, ternyata tidak. Kedua, orang yang dalam praanggapan si ahli Taurat pasti salah, ternyata berbuat benar sebab memiliki kasih. Ketiga, ahli Taurat itu seharusnya tidak bertanya siapakah sesamanya tetapi bertanya apakah ia sedang menjadi sesama bagi orang lain.

Maka patutlah untuk kita renungkan dan untuk dilakukan: Orang yang mempraktikkan kasih seluas kasih Allah menunjukkan bahwa ia memiliki hubungan dengan Allah dan hidup kekal. Sikap dan tindakan apa yang harus kutumbuhkan agar aku menjadi sesama bagi orang-orang di sekitarku? Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s