KESERAKAHAN AWAL MALAPETAKA

KHOTBAH MINGGU, 2 AGUSTUS 2009

Ev.: 1 Raja-raja 21 : 1 – 16

Ep.: Amsal 16 : 16 – 20

1. Ahab: Penguasa yang dikuasai. Tentunya kita masih ingat dalam zaman Orba dahulu, Sang Penguasa atau Anak Sang Penguasa atau bahkan teman Sang Penguasa begitu berkuasa. Apa pun yang mereka inginkan harus dapat dimiliki dengan cara apa pun, walau harus menabrak batas-batas moral, nilai-nilai agama, atau bahkan mengorbankan nyawa orang lain. Namun kekuasaan itu ternyata tidak pernah memberikan kepuasan kepada mereka. Setelah mereka berhasil menguasai bisnis-bisnis besar, mereka masih menginginkan bisnis-bisnis kecil seperti tata niaga jeruk, lahan perparkiran, dan pemasok sepatu seragam untuk sekolah tertentu. Siapa pun tidak berani menentang atau menghalangi keinginan mereka karena risikonya sangat berat.

Namun jika kita amati kehidupan para penguasa itu, nyatalah bahwa mereka bukan penguasa, sebaliknya mereka adalah budak- budak yang sama sekali tidak mempunyai hak dan suara apalagi kuasa atas hidup mereka. Itu merupakan suatu paradoks. Kisah kebun anggur Nabot memanifestasikan paradoks itu dengan tepat.

Ahab, sebagai raja Israel, mempunyai kekuasaan, kekayaan, dan kemegahan yang pasti jauh di atas Nabot. Namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak dapat menguasai nafsu untuk mengingini dan memiliki sesuatu, walaupun ia tahu bahwa firman Tuhan memang melarang Nabot untuk menjual kebunnya. Nafsu yang tidak dapat dikuasai itu akhirnya berbuahkan tindakan dosa yaitu melanggar firman Tuhan secara sadar dan sengaja. Atas bujukan istrinya, ia menyetujui untuk melenyapkan Nabot secara licik dan sadis. Dengan demikian, keinginan Ahab terpuaskan.

Jelas tergambar bahwa walaupun Ahab sebagai penguasa Israel, namun ia sendiri hanyalah seorang budak nafsu. Oleh karena itu Allah mendatangkan hukuman yang setimpal kepadanya. Walaupun Allah menangguhkan hukuman-Nya, tidak berarti bahwa Allah membatalkannya.

Paradoks ini dapat menjadi cermin bagi Kristen masa kini. Hati-hatilah terhadap setiap keinginan yang timbul dalam hati. Kita harus dapat menguasai dan mengontrolnya dengan cara belajar puas dan merasa cukup terhadap apa pun yang kita miliki sekarang. Karena keinginan yang tidak terkontrol akan berbuahkan dosa yang dibenci oleh Allah. Kuasailah nafsu sebelum nafsu menguasai kita.

2. Ahab, si anak manja. Kisah Ahab adalah kisah seorang yang memiliki jabatan tertinggi di dalam pemerintahan, namun bertingkah bagaikan anak kecil yang manja karena terbiasa mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya. Kisah ini menarik untuk dikaji secara kejiwaan. Namun dalam renungan kita hari ini, mari kita mengkaji kisah ini secara teologis.

Pertama, Ahab serakah. Ia tidak mengendalikan hawa nafsu keserakahannya. Ia tidak mau menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan hak dan “berkat” kepada setiap orang sesuai dengan kasih karunia-Nya. Keinginan yang serakah adalah dosa di mata Tuhan (ay. 1-4).

Kedua, Izebel licik. Ratu jahat ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Jelas ini bukan sikap iman! Orang yang merasa bahwa ia bisa dan harus mendapatkan apapun dengan memakai cara apapun, bukan anak Tuhan (ay. 5-10)!

Ketiga, para tua-tua dan pemuka Kota Samaria adalah masyarakat kelas atas yang memiliki moral rusak dan hati nurani yang busuk. Buktinya mereka mau saja mengikuti perintah Izebel yang jelas-jelas bermotivasikan kejahatan. Masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang sakit (ay. 11-12)!

Keempat, dua orang dursila adalah orang-orang yang mau melakukan apa saja demi sedikit keuntungan. Ini adalah produk dari masyarakat yang sakit (ay. 13-14).

Betapa mengerikannya kalau keserakahan Ahab, kelicikan Izebel, dan kerusakan moral dan hati nurani masyarakat Samaria adalah gambaran kehidupan pemimpin-pemimpin dan kelompok elit negeri ini. Pastilah produk yang muncul adalah orang-orang dursila. Siapa yang bisa mengatasi semua ini? Syukur kepada Allah. Allah sendiri, melalui anak-anak-Nya yang mau dipakai-Nya untuk menyuarakan kebenaran dan menegakkan keadilan.

3. Lalu, apa yang harus kita perbuat, agar kita hidup benar dan tidak serakah? Dalam nas epistel (Amsal 16 : 16 – 20) menghantar kita untuk memahaminya. Pada, ayat 16 dikatakan, “memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak”.

Dalam rangka mendorong seseorang melakukan hidup dengan benar, ayat ini menasihatkan bahwa memperoleh hikmat dan pengertian jauh lebih penting daripada emas dan perak. Hikmat dalam bahasa Ibrani adalah “hokmah” dari akar kata yang berarti teguh dan berpengalaman. Hikmat adalah pengetahuan untuk menjalani kehidupan (Am.1:5). Tempat hikmat adalah di dalam hati, yang menjadi pusat pengambilan keputusan yang bermoral dan berakal (bnd. 1 Raja 3:9, 12). Begitu pentingnya hikmat, sehingga penulis Amsal mengatakan “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk” (Am. 3:21-23). Orang Israel percaya bahwa hikmat berasal dari Allah, “tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (Ayb. 12:13). Segala hikmat dan kekuatan berasal dari Allah (lih. Daniel 2:20-23). Karena bumi dan segala isinya berasal dari tangan-Nya, maka semua harus memperlihatkan hikmat ini, “dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi” (Am.3:19), dan semua proses alam memperlihatkan hikmat-Nya yang luar biasa (Yes. 28: 23-29; Mzm. 104:24 dan Ayb. 28).

Oleh karena itu memperoleh hikmat dan pengertian jauh melebihi emas dan perak. Karena hikmat adalah dasar, fondasi, jalan (bhs. Ibrani, derek), sedangkan emas dan perak tidak dapat dijadikan sebagai jalan dan dasar. Melalui hikmat dan pengertian, manusia dapat memahami jalan Tuhan. Marhite hapistaran dohot hapantason i, i do bohal laho mangantusi dohot mananda dalan lomo ni roha ni Debata. Itulah yang paling berharga.

Ayat 17: “menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya”. Kejahatan adalah jalan orang yang tidak jujur. Ini juga adalah persoalan hikmat. Hikmat mengajarkan bahwa setiap orang percaya membiasakan diri untuk menyesuaikan perkataan dengan perbuatan. Orang yang jujur (“halak partigor”) adalah orang yang senantiasa menjauhkan diri dari kejahatan dan berlaku di segala sudut/sisi/lini kehidupan manusia. Dengan demikian, Allah dengan segala kemahakuasaan-Nya mengatur dan mengarahkan hidup manusia demi kebaikan hidup manusia itu sendiri.

Ayat 18-19: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak”. Kecongkakan dan tinggi hati akan membawa orang kepada kehancuran dan kejatuhan, perlahan tetapi pasti, menuju kepada kebinasaan. Kecongkakan dan kesombongan adalah persoalan hati (roha), yang merupakan pusat dari manusia. Songon na nidok ni BE.  249 ayat 4 ”Dungo, jaga rohami, unang dililuhon / Hisap ni dagingmu i, jala di taluhon / Ginjang ni roha i do jumotjot ala, pangalapan sala. Menjaga hati supaya jangan congkak dan tinggi hati, itu berarti menjaga kehidupan, ”jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Am.23: 4).

Maka, semangat kerendahan hati (toruk ni roha) di hadapan Tuhan dan tunduk terhadap semua pengharapan dan rencana manusia kepada kehendak Allah merupakan jalan menuju sukses. Ini juga adalah hikmat.

Ayat 20: “Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN”.

Ini adalah inti dari perikop ini, tujuan utama dari hikmat itu sendiri. Bahaya orang-orang yang tak berpengalaman ialah bahwa mereka bisa menjadi orang bodoh. Pada dasarnya ciri orang bebal ialah tidak mempunyai arah dan tujuan. Keadaan ini membawa mereka kepada perangkap, yang oleh kitab Amsal disebut sebagai kebodohan. Mereka mengulangi kebodohannya “seperti anjing kembali ke muntahnya” (lih. Am.26: 11). Karena mereka terjerat ke dalam kebodohan mereka (17:12), mereka tidak dapat memusatkan perhatian (17:24). Singkatnya, mereka tidak mempunyai kepekaan moral (14:7). Persoalan pokok mereka adalah karena mereka tidak mempunyai permulaan hikmat yaitu takut akan Tuhan.

Kalau orang-orang bebal mirip satu dengan yang lain dalam kebodohannya, maka mereka yang bijak memperlihatkan keanekaragaman yang mengagumkan; mereka adalah sang sahabat, tetangga yang baik, sesama manusia, istri yang berharga atau suami yang tenggang hati. Sikap mereka selalu wajar dan santai, karena jalan orang bijak ringan dan mudah, sedang jalan orang bebal berbatu-batu dan sulit. Tujuan orang bijak bukanlah hidup ini, tetapi melebihi daripada itu. Kehidupan orang bijak “tumbuh” (11:28); berseri-seri dengan tenaga hidup, seperti perhiasan bagi leher seseorang (3:22).

Firman Tuhan atau persekutuan dengan Tuhan (= takut akan Tuhan), itulah yang berharga di dalam kehidupan orang yang percaya, dan kepadanya akan diberikan kebahagiaan sejati.

4. Hubungan Nas Epistel dengan Nas Evangelium dan Topik Minggu. Nas Evangelium pada Minggu ini adalah dari 1 Raja-raja 21: 1-16. Dalam nas ini kita dapat melihat seorang raja yang bernama Ahab, mempunyai kuasa namun dikuasai. Ahab, sebagai raja Israel, mempunyai kekuasaan, kekayaan, dan kemegahan yang pasti jauh di atas Nabot. Namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak dapat menguasai nafsu untuk mengingini dan memiliki sesuatu, walaupun ia tahu bahwa firman Tuhan memang melarang Nabot untuk menjual kebunnya. Nafsu yang tidak dapat dikuasai itu akhirnya berbuahkan tindakan dosa yaitu melanggar firman Tuhan secara sadar dan sengaja. Atas bujukan istrinya, Izebel, ia menyetujui untuk melenyapkan Nabot secara licik dan sadis. Dengan demikian, keinginan Ahab terpuaskan.

Jelas tergambar bahwa walaupun Ahab sebagai penguasa Israel, namun ia sendiri hanyalah seorang budak nafsu.

Dan itulah yang diingatkan oleh Amsal 16:16-20 ini, hikmat yang merupakan pewujudan dari takut akan Tuhan menjaga setiap orang dari nafsu-nafsu jahat, dari keinginan daging. Hikmat itu lebih penting daripada emas dan perak, juga menjaga orang dari kecongkakan dan tinggi hati, seperti raja Ahab yang memakai kuasanya dengan salah menjadi orang yang congkak. Oleh karena itu, ingatlah Firman Tuhan dan menjadi Topik Minggu kita sesuai dengan Almanak HKBP “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman” (Roma 1:18).

Murka Allah dinyatakan kepada raja Ahab. Firman Tuhan melalui nabi Elia menyatakan akan hukuman Tuhan kepada raja Ahab dan keluarganya (baca, 1 Raja-raja 21: 17-29), bahwa dia akan mati dan darahnya akan dijilat anjing. Firman Tuhan terbukti, raja Ahab mati dalam peperangan, dan darahnya dijilat anjing (1 Raja-raja 22:38). Amin.

Pdt. Tumpal H. Simamora, STh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s