HIKMAT TUHAN MENJAUHKAN ORANG PERCAYA DARI KEJAHATAN

BAHAN SERMON

Ev.:  1 Raja-raja 21: 1 – 16

Ep.: Amsal 16: 16 – 20

1.   Kitab Amsal, Ayub, Pengkhotbah, merupakan bagian dari tulisan-tulisan hikmat pada Perjanjian Lama. Kitab Amsal berisi bahan pendidikan tradisional yang digunakan umat Israel sejak masa sebelum Kerajaan dan sesudah Pembuangan. Bahan pendidikan Israel ini bersifat teologis. Kadangkala, bahan pendidikan yang terdiri dari pengajaran hikmat itu, merupakan bahasan teologis yang sistematis, kerap pula berisi ulasan etis, dan yang paling sering mengenai perilaku yang amat praktis. Ketiganya, secara langsung atau tidak, tentu didasarkan kepada agama Israel. Pengajaran hikmat yang teologis, maupun yang etis dan praktis ini mengandung penyataan Allah. Melalui pengajaran itu Allah berbicara bukan hanya kepada orang Israel tetapi juga kepada orang Kristen. Karenanya, kedua jenis pengajaran ini berguna sebagai pedoman, terutama dalam kehidupan sehari-hari umat Israel, dan juga bagi orang Kristen.

2. Ada dua gaya dalam bahan Kitab Amsal. Pertama adalah amsal, dan kedua adalah nasihat. Bentuk-bentuk itu misalnya teka-teki, seruan kenabian, peringatan atau petunjuk, sejumlah metafora atau cerita teladan. Kitab sebagai amsal mempunyai ciri-ciri, singkat, padat, mudah diingat, berpijak pada pengalaman, kebenaran universal, untuk tujuan praktis dan lama digunakan (asalnya dari tradisi). Amsal sebagai nasihat umumnya menggambarkan hak seorang ayah terhadap anaknya, termasuk perintah dan larangan bersama alasan mengapa harus ditaati (motivasi taat). Biasanya dimulai dengan sapaan “Dengarkanlah, hai anakku…. “ Ciri menonjol dari jenis hikmat yang khusus ini adalah otoritas mutlak dari ayah atau guru dan keyakinan bahwa hikmat demikian dapat dipelajari dengan mendengarkan dan melakukannya. Sehingga sangatlah jelas bahwa kitab Amsal terutama menekankan pengertian dan ketaatan.

3. Pemahaman umum. Nas Amsal 16: 16-20 ini berhubungan erat dengan ayat sebelumnya Amsal 16: 1-15 dan ayat sesudahnya Amsal 16: 20-33, bahkan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Inti dari keseluruhan ayat Amsal 16: 1-33 adalah pada ayat 1 “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN” dan sama dengan ayat 33 “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN”. Artinya, Amsal ini hendak menyatakan bahwa Allah adalah penentu tunggal bagi segala sesuatu. Maka nas ini dimasukkan dalam kelompok “Amsal yang mendorong hidup benar”.

Penjelasan nas, ayat 16: “Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak”.

Dalam rangka mendorong seseorang melakukan hidup dengan benar, ayat ini menasihatkan bahwa memperoleh hikmat dan pengertian jauh lebih penting daripada emas dan perak. Hikmat dalam bahasa Ibrani adalah “hokmah” dari akar kata yang berarti teguh dan berpengalaman. Hikmat adalah pengetahuan untuk menjalani kehidupan (Am.1:5). Tempat hikmat adalah di dalam hati, yang menjadi pusat pengambilan keputusan yang bermoral dan berakal (bnd. 1 Raja 3:9, 12). Begitu pentingnya hikmat, sehingga penulis Amsal mengatakan “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk” (Am. 3:21-23). Orang Israel percaya bahwa hikmat berasal dari Allah, “tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (Ayb. 12:13). Segala hikmat dan kekuatan berasal dari Allah (lih. Daniel 2:20-23). Karena bumi dan segala isinya berasal dari tangan-Nya, maka semua harus memperlihatkan hikmat ini, “dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi” (Am.3:19), dan semua proses alam memperlihatkan hikmat-Nya yang luar biasa (Yes. 28: 23-29; Mzm. 104:24 dan Ayb. 28).

Oleh karena itu memperoleh hikmat dan pengertian jauh melebihi emas dan perak. Karena hikmat adalah dasar, fondasi, jalan (bhs. Ibrani, derek), sedangkan emas dan perak tidak dapat dijadikan sebagai jalan dan dasar. Melalui hikmat dan pengertian, manusia dapat memahami jalan Tuhan. Marhite hapistaran dohot hapantason i, i do bohal laho mangantusi dohot mananda dalan lomo ni roha ni Debata. Itulah yang paling berharga.

Ayat 17: “menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya”. Kejahatan adalah jalan orang yang tidak jujur. Ini juga adalah persoalan hikmat. Hikmat mengajarkan bahwa setiap orang percaya membiasakan diri untuk menyesuaikan perkataan dengan perbuatan. Orang yang jujur (“halak partigor”) adalah orang yang senantiasa menjauhkan diri dari kejahatan dan berlaku di segala sudut/sisi/lini kehidupan manusia. Dengan demikian, Allah dengan segala kemahakuasaan-Nya mengatur dan mengarahkan hidup manusia demi kebaikan hidup manusia itu sendiri.

Ayat 18-19: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak”. Kecongkakan dan tinggi hati akan membawa orang kepada kehancuran dan kejatuhan, perlahan tetapi pasti, menuju kepada kebinasaan. Kecongkakan dan kesombongan adalah persoalan hati (roha), yang merupakan pusat dari manusia. Songon na nidok ni BE.  249 ayat 4 ”Dungo, jaga rohami, unang dililuhon / Hisap ni dagingmu i, jala di taluhon / Ginjang ni roha i do jumotjot ala, pangalapan sala. Menjaga hati supaya jangan congkak dan tinggi hati, itu berarti menjaga kehidupan, ”jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Am.23: 4).

Maka, semangat kerendahan hati (toruk ni roha) di hadapan Tuhan dan tunduk terhadap semua pengharapan dan rencana manusia kepada kehendak Allah merupakan jalan menuju sukses. Ini juga adalah hikmat.

Ayat 20: “Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN”.

Ini adalah inti dari perikop ini, tujuan utama dari hikmat itu sendiri. Bahaya orang-orang yang tak berpengalaman ialah bahwa mereka bisa menjadi orang bodoh. Pada dasarnya ciri orang bebal ialah tidak mempunyai arah dan tujuan. Keadaan ini membawa mereka kepada perangkap, yang oleh kitab Amsal disebut sebagai kebodohan. Mereka mengulangi kebodohannya “seperti anjing kembali ke muntahnya” (lih. Am.26: 11). Karena mereka terjerat ke dalam kebodohan mereka (17:12), mereka tidak dapat memusatkan perhatian (17:24). Singkatnya, mereka tidak mempunyai kepekaan moral (14:7). Persoalan pokok mereka adalah karena mereka tidak mempunyai permulaan hikmat yaitu takut akan Tuhan.

Kalau orang-orang bebal mirip satu dengan yang lain dalam kebodohannya, maka mereka yang bijak memperlihatkan keanekaragaman yang mengagumkan; mereka adalah sang sahabat, tetangga yang baik, sesama manusia, istri yang berharga atau suami yang tenggang hati. Sikap mereka selalu wajar dan santai, karena jalan orang bijak ringan dan mudah, sedang jalan orang bebal berbatu-batu dan sulit. Tujuan orang bijak bukanlah hidup ini, tetapi melebihi daripada itu. Kehidupan orang bijak “tumbuh” (11:28); berseri-seri dengan tenaga hidup, seperti perhiasan bagi leher seseorang (3:22).

Firman Tuhan atau persekutuan dengan Tuhan (= takut akan Tuhan), itulah yang berharga di dalam kehidupan orang yang percaya, dan kepadanya akan diberikan kebahagiaan sejati.

4. Hubungan Nas Epistel dengan Nas Evangelium dan Topik Minggu. Nas Evangelium pada Minggu ini adalah dari 1 Raja-raja 21: 1-16. Dalam nas ini kita dapat melihat seorang raja yang bernama Ahab, mempunyai kuasa namun dikuasai. Ahab, sebagai raja Israel, mempunyai kekuasaan, kekayaan, dan kemegahan yang pasti jauh di atas Nabot. Namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak dapat menguasai nafsu untuk mengingini dan memiliki sesuatu, walaupun ia tahu bahwa firman Tuhan memang melarang Nabot untuk menjual kebunnya. Nafsu yang tidak dapat dikuasai itu akhirnya berbuahkan tindakan dosa yaitu melanggar firman Tuhan secara sadar dan sengaja. Atas bujukan istrinya, Izebel, ia menyetujui untuk melenyapkan Nabot secara licik dan sadis. Dengan demikian, keinginan Ahab terpuaskan.

Jelas tergambar bahwa walaupun Ahab sebagai penguasa Israel, namun ia sendiri hanyalah seorang budak nafsu.

Dan itulah yang diingatkan oleh Amsal 16:16-20 ini, hikmat yang merupakan pewujudan dari takut akan Tuhan menjaga setiap orang dari nafsu-nafsu jahat, dari keinginan daging. Hikmat itu lebih penting daripada emas dan perak, juga menjaga orang dari kecongkakan dan tinggi hati, seperti raja Ahab yang memakai kuasanya dengan salah menjadi orang yang congkak. Oleh karena itu, ingatlah Firman Tuhan dan menjadi Topik Minggu kita sesuai dengan Almanak HKBP “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman” (Roma 1:18).

Murka Allah dinyatakan kepada raja Ahab. Firman Tuhan melalui nabi Elia menyatakan akan hukuman Tuhan kepada raja Ahab dan keluarganya (baca, 1 Raja-raja 21: 17-29), bahwa dia akan mati dan darahnya akan dijilat anjing. Firman Tuhan terbukti, raja Ahab mati dalam peperangan, dan darahnya dijilat anjing (1 Raja-raja 22:38). Amin.

Pdt. Tumpal H. Simamora, STh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s