TANTANGAN PELAYANAN DAN PEMELIHARAAN TUHAN

KHOTBAH MINGGU, 26 JULI 2009

EV.: Kisah Para Rasul 18: 1 – 5

EP.: 1 Timotius 6: 2b – 10

Pelayanan sebagai tanggung jawab dan kewajiban. Korintus adalah kota perdagangan, kota dagang yang kaya, di mana juga dosa sangat subur di kota ini. Di kota ini juga terkenal rumah berhala Aphrodite, yaitu dewi cinta kasih. Sebagai kota yang begitu banyak diingini oleh orang yang ingin berbisnis menjadikan kota ini menjadi kota yang ramai. Alkitab mencatat hanya ada satu kota yang membuat Paulus begitu takut dan gentar untuk memberitakan Injil yakni Korintus (1 Kor. 2:3). Mengapa? Karena Korintus adalah sebuah kota kosmopolitan pada abad pertama berpenduduk 200.000 jiwa, yang terdiri dari orang Yunani, Itali, veteran tentara Roma, pengusaha, pejabat-pejabat tinggi, dan orang-orang Asia termasuk di dalamnya orang Yahudi. Di samping sebagai ibu kota propinsi Akhaya, Korintus juga merupakan pusat bisnis yang sangat kaya. Namun seks bebas dan berbagai kejahatan pun sangat mewarnai kehidupan kota ini. Dalam kota yang penuh tantangan ini, Paulus meninggalkan Athena dan berangkat memasuki Korintus demi pewartaan Injil. Paulus akan memulai suatu masa kerja yang amat penting dan baru bagi tugas pelayanannya. Tidak ada yang dapat diandalkan oleh Paulus dalam tugas ini selain Tuhan yang mengutusnya. Karena bila berangkat dari dirinya sendiri, ia mengakui bahwa “sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar” (1 Kor. 2:2-3). Paulus mengatakan ‘datang dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar, menunjukkan keadaan diri, yang tidak memiliki kemampuan apa-apa dan tidak mengandalkan apa-apa selain mengandalkan Yesus Kristus, Dia yang disalibkan itu. Itulah tugas dan tanggung jawab yang selalu menjadi ciri khas dari rasul Paulus, tugas yang dilakukan dengan tanggung jawab dan merupakan kewajiban baginya sehingga dia berkata, “celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor. 9:16b).

Pemeliharaan Allah atas tugas Pekabaran Injil. Dalam banyak hal, memang kita sadari bahwa pengabaran Injil bisa dihalangi dengan keras. Pengabar Injil bisa ditentang dan ditolak. Akan tetapi, rencana Allah tidak bisa gagal. Ia akan memakai berbagai cara untuk memelihara misi penyelamatan tak terhenti.

Allah memelihara misi pekabaran Injil yang dilakukan Paulus melalui beberapa cara,

Pertama, Allah memberikan Paulus kepekaan untuk mengetahui kebutuhan orang-orang di sekelilingnya. Kepekaan Paulus juga terlihat saat ia sendiri yang menanggung biaya pelayanannya. Ia tidak membebankannya kepada orang-orang percaya yang pernah ia layani. Sungguh teladan yang luar biasa! Untuk itu, ia bekerja sebagai tukang kemah yang juga dilakukan oleh Akwila dan Priskila (ayat 2-3).

Kedua, Roh Kudus menguatkan Paulus dengan visi adanya umat pilihan yang harus diselamatkan di kota Korintus. Visi ini membuat ia tidak meninggalkan kota tersebut, walaupun Injil Kristus ditentang oleh orang-orang Yahudi yang ada di Korintus (ayat 6-8,12-17).

Ketiga, Allah melindungi Paulus dari ancaman para musuhnya sehingga ia dapat tinggal delapan belas bulan lamanya untuk mengajar umat dan melayani pekerjaan Tuhan (ayat 10-11).

Oleh karena itu, melalui nas ini, para Pekabar Injil diajak untuk mampu melihat potensi dan kesempatan bahkan faktor-faktor yang dapat mendukung tugas pelayanan tersebut. Di Korintus, contohnya, sebagai kota kosmopolitan, ada beberapa faktor pendukung bagi pelayanan di kota ini, yaitu tempat yang strategis dan tidak kaku merupakan faktor pendukung pertama. Walaupun Paulus mula-mula memberitakan firman di rumah ibadat, ketika diusir oleh orang-orang Yahudi ia memilih rumah pribadi sebagai tempat memberitakan firman (lih. ay. 6-8), agar dapat dilakukan pembicaraan dan pengajaran secara lebih intensif. Konsentrasi penuh dari pelayan Tuhan merupakan faktor pendukung yang kedua. Artinya seorang pelayan Tuhan jangan sampai dipusingkan dengan kondisi ekonominya. Memang dikatakan bahwa Paulus pun bekerja membuat tenda, namun setelah Timotius dan Silas datang membawa bantuan dari orang-orang Makedonia, Paulus berhenti bekerja dan memberitakan firman penuh waktu, tidak hanya pada hari Sabat (ay. 4-5). Untuk mengadakan faktor ini maka perlu dibangun jaringan-jaringan kerja kristen yang memperhatikan, mengusahakan, dan mendistribusikan dana-dana kepada mereka (lih. ay. 5). Faktor pendukung ketiga adalah metode yang tepat bagi penduduk kosmopolitan. Paulus membicarakan (dalam NIV: reasoned) dan meyakinkan orang-orang Korintus (4, 13), kedua kegiatan itu disebut sebagai apologetika. Selain itu Paulus juga memberikan kesaksian (ay. 5). Faktor pendukung terakhir adalah peran pemerintah. Paulus tidak melakukan aktifitas pelayanannya secara ilegal. Galio mengakui hal itu dan ini sangat membantu pelayanannya (lih. ay. 14). Jika pemerintah lepas tangan dalam masalah agama, maka ada kemungkinan pintu penyiksaan bagi Kristen terbuka lebar seperti yang dialami Sostenes (1 Kor. 1:1).

Dengan demikian, ada dua teladan Paulus yang dapat kita ikuti sesuai dengan nas khotbah Minggu ini.

Pertama, bergantung penuh kepada pemeliharaan Tuhan untuk mencukupi kebutuhan pelayanan, bukan kepada manusia. Akibatnya, pelayanan kita tidak dikendalikan orang lain.

Paulus dalam nas Epistel, 1 Timotius 6: 2b-10, mengingatkan hal tersebut. Ada dua tanda/gejala yang didapatkan di sana yaitu: munculnya ajaran sesat dan timbulnya keinginan-keinginan yang dimotivasi oleh cinta akan uang. Kembali Paulus mengingatkan Timotius untuk berhati-hati terhadap orang yang membawa ajaran yang “lain” (ayat 3). Di sini Paulus menggarisbawahi karakter lainnya dari para pengajar sesat ini. Selain ajaran mereka yang bertentangan dengan perkataan Tuhan Yesus (ayat 3), mereka juga sok tahu, senang dengan “mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, … (ayat 4) serta percekcokan (ayat 5). Mereka “tidak lagi berpikiran sehat dan kehilangan kebenaran” (ayat 5). Terakhir, mereka mempunyai motivasi yang sangat materialistis (ayat 5b-10). Mereka menganggap ibadah sebagai sumber keuntungan (ayat 5b).

Sebagai kontras, Paulus memberikan gambaran tentang arti ibadah yang benar. Ibadah, yang artinya lebih menunjuk pada cara hidup Kristen yang berdasarkan perkataan Tuhan Yesus dan ajaran yang benar (ayat 3), memberi keuntungan yang besar bila disertai dengan rasa cukup, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (ayat 8). Keuntungan ini sempat disinggung Paulus pada 4:7-8. Tidak seperti mereka yang terpengaruh oleh ajaran sesat itu sehingga menjadi sangat bersemangat dalam mencari kekayaan sehingga terjatuh ke dalam pencobaan dan “berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (ayat 9). Tidak hanya kebinasaan dalam kekekalan yang menjadi akibatnya, tetapi pada kehidupan kini dan di sini. Orang-orang yang cinta uang telah “menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ayat 10b). Hal yang paling menyedihkan adalah bila para pengajar seperti ini telah membuat anggota jemaat menyeleweng dan menyimpang dari iman dan ibadah yang sejati (bdk. 10c). Semuanya karena “cinta uang adalah akar dari segala kejahatan” (ayat 10a).

Kedua, kita perlu belajar peka akan kebutuhan orang lain. Jangan sampai pelayanan kita dikendalikan oleh rasa suka atau tidak suka terhadap sikap atau jenis orang tertentu.

Hal yang paling penting adalah senantiasa meminta pimpinan Tuhan yang jelas melalui firman dan doa untuk visi pelayanan. Kalau Tuhan sudah menetapkan pimpinan-Nya, kita boleh meyakini bahwa rintangan apa pun akan dapat kita atasi.

Hati yang tulus untuk dipakai Tuhan, kepekaan akan kebutuhan di sekitar kita, dan ketaatan pada pimpinan Roh Kudus adalah kunci kesuksesan pelayanan kita.

3 responses to “TANTANGAN PELAYANAN DAN PEMELIHARAAN TUHAN

  1. pdt sigit widodo

    amin, kami lebih dikuatkan di kota luwuk utk lebih militan dalam PIP, terutama dalam melawan seteru2 injil yang cukup keras, amin

  2. terima kasih atas pemahaman tentang pelyanan yang luar biasa dalam Tuhan. saya dikuatkan dan menjadi lebih semangat dalam melyani Tuhan…
    haleluya..
    Tuhan Yesus memberkati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s