JAGALAH ALAM, KARENA MEREKA JUGA BERHAK ADA

KHOTBAH MINGGU 12 JULI 2009

EV.: Imamat 25: 1 – 7

EP.: Mazmur 148: 3 – 14

1. Apa yang biasa mewakili sekaligus kehidupan sosial dan pekerjaan Anda, yang tanpanya hidup ini akan menjadi sangat sulit? Sebagian penduduk kota besar mungkin akan berkata dengan tegas” “handphone!” Yang lain mungkin akan menjawab: komputer, atau kendaraan/transportasi, dan lain sebagainyan. Bagi penduduk Israel zaman itu, dan seharusnya juga bagi kita semua di masa kini, tanahlah yang punya peranan sangat penting dalam kehidupan sosial dan pekerjaan, yang tanpanya hidup bahkan tidak dapat berlangsung. Karena itu, tidak heran jika Taurat Tuhan juga mengatur tentang tanah, bahkan melalui pelaksanaan tahun Sabat dan Yobel.

Tanah air Indonesia dikenal sebagai Nusantara yang indah, subur, dan permai. Alam Indonesia adalah pemberian Tuhan untuk semua manusia Indonesia. Dari semula, itulah cita-cita para pendiri bangsa ini dengan tujuan agar semaksimal mungkin kekayaan alam dapat dinikmati untuk kepentingan seluruh rakyat. Namun, dapatkah sekarang ini kita sungguh-sungguh bersyukur? Ketika kerusakan alam terjadi di mana-mana dan bencana alam akibat ulah manusia melanda negeri ini silih berganti, tanah dan air tidak lagi ramah. Negeri ini kehilangan keindahannya terutama bagi banyak orang yang menjadi korban. Melalui nas khotbah ini orang Kristen diajak untuk melihat kenyataan tentang kerusakan alam dan menemukan kehendak Tuhan dalam memperjuangkan pemulihan seluruh ciptaan-Nya.

2. Penjelasan Teks: konteks nas Imamat 25. Setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir, masyarakat Israel mengalami ketimpangan dalam hal sosial ekonomi. Sebagian orang memang dapat bertahan hidup. Sebagian yang lain terpaksa harus menggadaikan tanah dan menjual tanahnya demi keberlangsungan hidup mereka. Keadaan yang demikian sungguh sangat memprihatinkan dan dapat menimbulkan malapetaka dalam kehidupan bersama bangsa Israel. Itulah sebabnya kehidupan bangsa Israel harus ditata kembali dan dipulihkan. Pemulihan tersebut dilakukan dengan prinsip tahun Yobel atau tahun ke 50. Di tahun itu, hutang-hutang dinyatakan lunas dan orang Ibrani yang menjadi budak akibat hutang juga dibebaskan. Itulah saat pengucapan syukur atas pemeliharaan Allah. Melalui hal ini orang Israel juga diingatkan tentang statusnya. Bahwa pada awalnya mereka adalah budak dan tidak memiliki apa-apa, semua yang dimiliki adalah anugerah dan pemberian Allah. Itulah sebabnya mereka juga harus mengingat keberadaan saudara-saudaranya yang masih kekurangan. Dengan kata lain bahwa prinsip tahun Yobel (dari kata ini kita mengenal kata jubile) mengajarkan umat Israel untuk hidup dalam pengucapan syukur dan tidak serakah.

Ayat 1-7: Sabat bagi tanah. Hari raya Yobel diadakan setiap lima puluh tahun dan berawal sejak hari raya Pendamaian (Im. 25: 8-10). Itu dinamakan “Tahun Kebebasan,” “Tahun Rahmat Tuhan,” “Tahun Penuntutan Bela” (Yeh. 46:7; Yes.61:2; 63:4). Itu merupakan tahun kudus. Untuk menghormatinya maka diberlakukan undang-undang ini: penghentian semua pekerjaan di ladang, hasil bumi menjadi milik umum, penebusan harta yang telah dijual, pemulihan semua harta pusaka dan pembebasan semua orang Ibrani yang menjadi hamba (Im. 25:12; 11, 23-27, 10, 13, 28; 27:24; 25:40, 41, 54).

Pelaksanaan Tahun Yobel diawali dengan pelestarian alam. Tanah di Israel tidak boleh diolah terus menerus tanpa mendapat perhentian. Sesudah enam tahun diolah dan masyarakat mendapat hasilnya, tanah harus diberi kesempatan untuk mengalami sabat. Sabat atau perhentian bukan hanya untuk manusia tetapi juga untuk tanah, untuk alam. Bahkan ditegaskan, sabat bagi tanah itu adalah sabat bagi TUHAN dan sabat itu adalah suatu perhentian yang penuh. Tanah dibiarkan dan tidak boleh ditanami apapun. Bila dari tanah itu tumbuh sendiri dan kebun-kebun anggur menghasilkan buah walau tidak diolah, semua hasilnya harus dinikmati banyak orang. Bagi pemiliknya sendiri, budak-budak, orang upahan, orang asing, dan juga binatang ternak serta binatang liar. Dengan cara ini, tanah atau alam ciptaan dan milik Tuhan dapat beristirahat, mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga baru. Ketiga kata: “istirahat”, “mengambil nafas” dan “mengumpulkan tenaga baru” menunjukkan  pengertian kata sabat (dalam bahasa Ibrani syabat). Melalui penerapan Tahun Yobel dan khususnya aturan sabat bagi tanah, umat Israel diajar untuk melawan keserakahan dalam kehidupan sosial dan pengelolaan alam. Hanya dengan demikian kehidupan yang timpang menjadi pulih dan kesejahteraan dapat mengalir dan dinikmati seluruh umat Israel.

3. Hal ini nyata dari perintah Tuhan untuk mengistirahatkan tanah yang dikerjakan oleh umat pada tahun ketujuh (tahun Sabat, ay. 2-7) dan tahun ke-50 (tahun Yobel, ay. 8-17). Perintah ini menyatakan bagaimana umat Tuhan harus bersikap terhadap alam: alam, dalam hal ini tanah, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang dan diperas sampai batas terakhir kemampuannya, demi keuntungan manusia. Alasan dari hal ini adalah sederhana; walaupun Allah telah memberikan mandat kepada manusia untuk berkuasa atas bumi dan isinya sebagai wakil Allah (Kej.1:27-28), tetapi tanah tetap saja adalah milik Allah (Im. 25:23). Bagaimana umat memperlakukan tanah menunjukkan sikap umat terhadap Sang Pemilik Tanah (bnd. ay.17). Bahkan dalam hal jual beli tanah pun (ay. 14-17), umat dituntut untuk bertindak adil kepada orang lain, semata karena Tuhan adalah Allah mereka.

4. Ajakan agar langit dengan isinya memuji Allah. Dalam nas epistel, pemazmur mengajak langit dan seisinya termasuk malaikat untuk memuji Tuhan (ay. 1-6). Pemazmur menolak kepercayaan bangsa-bangsa non Israel yang menjadikan makhluk dan benda di langit sebagai alllah mereka. Bagi pemazmur tidak ada satu pun di antara mahkluk dan benda-benda langit yang dijadikan allah, sebab satu-satunya Pencipta langit bumi serta segala isinya adalah Allah Israel.

Bumi dan segala isinya patut memuji Tuhan. Ay. 7-13 merupakan ajakan pemazmur terhadap bumi dan segala isinya untuk memuji Tuhan. Ada dua bagian yang dapat kita pahami dari nas epistel (Mazmur 148: 3-14).

a. Bagian pertama merupakan ajakan kepada semua makhluk yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan bahkan termasuk segala alam yang ada di bumi untuk memuji Tuhan (ay. 7-10).

b. Sedangkan bagian kedua adalah ajakan kepada manusia dalam segala kedudukannya dan pada semua tingkat usia untuk memuji Tuhan (ay. 11-13). Dengan demikian lengkaplah ajakan pemazmur yang melibatkan langit dan bumi dalam hal memuji dan menyembah Tuhan. Itu berarti tidak ada satu makhluk pun atau benda yang dapat dijadikan allah kecuali Allah Israel.

Bumi tempat kita berpijak dan diami haruslah kita jaga. Biarlah saya, saudara dan seluruh alam memuji Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

5. Terakhir, Allah memberikan jawaban terhadap pertanyaan dasar yang harus dijawab ajaran etika sosial-lingkungan hidup manapun: Jika saya melakukan ini, apa saya dapat hidup dan makan? Jawaban Allah jelas, berkat Allah akan mencukupi hidup mereka yang taat kepada perintah-Nya untuk tidak sewenang-wenang terhadap alam.

Saudara-saudara, kerohanian yang alkitabiah seharusnya membuat kita membenci tindakan membuang sampah sembarangan, malu mempunyai kendaraan dengan knalpot berasap hitam tebal karena tak terurus, dll., semata karena tindakan itu mencemari alam milik Allah.

Sekelumit tentang “Bumi dan Lingkungan kita”:

1. Keadaan bumi kita kini. Tanggal 8 Mei 1984 adalah hal yang penting dan semarak bagi kota London. Hari yang diperingati secara istimewa dengan upacara kenegaraan yang membuat jalan raya sepanjang sungai Thames dan Westminster ke Woolwich Reach tampak megah semarak. Namun, terutama hari itu adalah hari bersejarah, sebab pada hari itu diselenggarakan upacara pembukaan secara resmi tanggul penahan banjir terbesar di dunia. Hal itu merupakan pengakuan diam-diam atas kekuatan hebat geologi yang menjadi ancaman tersembunyi dan membahayakan bagi penghuni London, yang tengah tenggelam ke lapisan tanah liat dengan kecepatan lebih dari satu kaki seabad.

Pada tahun 2007 yang lalu, gerakan penyadaran tentang pemanasan global mulai gencar dilakukan oleh banyak pihak. Salah satu upaya signifikan yang ada adalah pembuatan film dokumenter berjudul “An Inconvenient Truth” yang diinspirasi oleh perjuangan Albert Gore, Jr. (mantan wakil presiden Amerika Serikat) dalam mengingatkan dunia akan dampak pemanasan global. Diberi judul demikian, karena film dokumenter itu berisi fakta-fakta kebenaran yang menggelisahkan tentang “nasib” bumi di masa yang akan datang.

Dunia boleh menganggap terorisme sebagai musuh terbesar saat ini. Tapi sesungguhnya, musuh terbesar dunia – menurut film tersebut – adalah berbagai bencana yang ditimbulkan oleh pemanasan global. Gejala-gejala ke arah tersebut sudah mulai tampak beberapa tahun terakhir ini:

– Salju di pegunungan Kilimanjaro (Afrika) dan berbagai gletser di sejumlah negara (seperti: Grinnel, Boulder, dan Columbia di Amerika Serikat; AX010 di Kilimanjaro, Nepal; Adamello Mandron di Italia; Tschierva dan Rhone di Swiss; serta beberapa gletser lainnya di Peru dan Argentina) sudah menipis.

– Naiknya temperatur air laut telah menimbulkan sejumlah badai topan: topan Jeanne dan Ivan di Florida serta topan Frances di Laut Atlantik (September 2004), sejumlah topan di perairan Jepang (2004), topan Emily di Karibia-Brasil dan topan Dennis di Florida (Juli 2005), serta topan Katrina di California (Agustus 2005).

– Sementara di beberapa bagian dunia terjadi badai topan dan banjir, di beberapa bagian dunia lainnya justru terjadi kekeringan, seperti: Darfur – Sudan dan Nigeria. Situasi seperti ini juga terjadi di Indonesia.- Bulan Juli tahun 2007 yang lalu, hujan masih mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi, tetapi kekeringan mulai terjadi di beberapa wilayah Pulau Jawa.

Atau, harian Kompas, pernah melaporkan berbagai dampak pemanasan global pada anomali iklim yang tengah terjadi, sbb.:

– Cuaca ekstrem telah melahirkan berbagai bencana (seperti: badai, banjir, dan tanah longsor) di China, Jepang, India, Banglades, Nepal, Filipina dan Indochina. Hal ini perlu disikapi secara serius, sebab sebagian besar dari negara-negara tersebut, selama ini telah menjadi sentra produksi beras.

– Banjir besar juga terjadi di sejumlah wilayah Inggris, Swiss dan Sudan.

– Gelombang udara panas kembali terjadi di beberapa wilayah Eropa. Situasi yang sama pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di Argentina dan Amerika Serikat.

– Air sejumlah waduk di Indonesia mulai menyusut dan sumber-sumber air bersih pun mulai mengering.

2. Siapa pelakunya? Terjadinya krisis lingkungan hidup saat ini tentunya tidak terlepas dari bagaimana manusia berelasi dengan lingkungannya. Relasi ini pun ternyata mengalami perkembangan sejak keberadaan manusia.

Pada awalnya, ketika agama-agama primitif masih berkembang, manusia memandang segala sesuatu yang ada di sekitarnya secara religius. Ada proses pensakralan terhadap lingkungan hidup, sehingga pola yang dikembangkan adalah subjek-subjek. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat yang masih tradisional, di mana masih ada tabu-tabu yang dikembangkan. Selain itu pandangan hidup dan sikap religius yang dikembangkan berdasarkan pengalaman eksistensial mereka, turut menumbuhkan kesadaran ekologis mereka. Akan tetapi ketika terjadi proses desakralisasi yang ditunjang dengan tumbuh-berkembangnya agama monoteis, maka lingkungan hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral atau sebagai subjek, tetapi objek. Saat itulah manusia mulai menjadi penguasa atas lingkungan hidup dan kini kita diperhadapkan pada krisis lingkungan hidup yang parah.

Th. van den End memberikan argumentasi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh mengenai dari mana datangnya krisis yang sedang kita alami ini dikaitkan dengan kekristenan, yaitu:

a. Menurut Lynn White, kekristenan dipersalahkan karena menempatkan manusia pada pusat dunia, karena sifat anthroposentrisnya. Kekristenan membuat manusia percaya bahwa dirinya merupakan pusat alam semesta, dan bahwa seluruh alam hanya diciptakan untuk melayani dia.12

b. Menurut Ritchie Lowrie, Calvinisme harus dipersalahkan karena mengajak manusia untuk bekerja keras dan untuk hidup sederhana. Akibatnya tak bisa tidak adalah pertumbuhan ekonomi yang besar. Timbullah dunia perindustrian modern dan terjadilah krisis lingkungan.

c. Theodore Roszak, bertolak dari pengertian “teknokrasi”. Teknokrasi berarti bahwa kehidupan manusia dan seluruh lingkungannya mau diatur oleh teknik dan ilmu-ilmu pengetahuan. Tidak boleh ada proses-proses spontan, karena yang bersifat spontan tidak bisa diperhitungkan sebelumnya, dan membahayakan tujuan yang besar, yaitu menaklukkan dunia kepada manusia dan menghasilkan produksi barang-barang yang sebesar mungkin. Dengan adanya sikap ini, manusia memandang segala sesuatu di sekitarnya, termasuk sesamanya manusia, sebagai obyek semata-mata; ia tidak berpartisipasi di dalam kehidupan di sekitar dirinya, ia menjadi terasing daripadanya. Roszak juga mempermasalahkan agama Kristen yang menempatkan manusia dalam relasi subjek-objek dengan alam, dan menganggap alam sebagai kurang sempurna dan perlu diperbaiki.

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa seolah-olah kekristenan turut bersalah atas kerusakan lingkungan hidup. Hal ini tentunya harus dikritisi lebih lanjut. Karena jangan-jangan, “kekristenan” telah salah dalam menafsirkan Alkitab ataupun telah dipengaruhi oleh tujuan-tujuan politis dan ekonomis, sehingga dikatakan turut merusak lingkungan hidup. Selain itu, di bagian dunia yang minoritas Kristen, toh terjadi juga krisis lingkungan hidup. Artinya, ada berbagai faktor penyebab dari krisis yang terjadi.

Lagipula, jika kita memahami secara utuh berita Alkitab tentang lingkungan hidup, maka sebenarnya kekristenan memiliki sumbangsih yang besar dalam pelestarian lingkungan hidup.

3. Apa yang harus kita lakukan? Majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibarengi dengan ketimpangan sosial dan pengrusakan alam, menjadi pergumulan gereja-gereja sedunia dalam Sidang Raya WCC (World Council of Churches) tahun 1968 di Upsala, Swedia. Pergumulan ini adalah cikal bakal disepakatinya tema dan program Justice, Peace, and Integrity of Creation (Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Cipataan) menjadi pergumulan dan perjuangan gereja-gereja seluruh dunia, memperhatikan masalah ketidakadilan, perang, dan penghancuran lingkungan hidup sebagai akibat dari kerakusan umat manusia. Tema ini diputuskan dalam Sidang Raya WCC/DGD VI tahun 1983 di Vancouver, Canada. Puncak program JPIC pada Konferensi Internasional yang diadakan DGD/WCC tahun 1990 di Seoul, Korea Selatan. JPIC bukan diartikan sebagai tiga isu yang terpisah, namun tiga aspek dalam satu kenyataan. Di satu sisi ini adalah visi pelayanan gereja, dan di sisi lain menjadi pergumulan dan perjuangan dari seluruh pelayanan gereja. Program JPIC akhirnya menjadi agenda utama DGD dalam SR VII tahun 1991 di Canberra, Australia yang mengambil tema: “Come, Holy Spirit-Renew the Whole Creation”. Dalam SR ini telah dilakukan berbagai pengkajian teologi mengenai tanggung jawab gereja.

Program JPIC tidak hanya menjadi program di tingkat elit gereja. Gereja-gereja di Indonesia yang tergabung dalam PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) juga menyerap program ini dalam beberapa Sidang Raya yang dilakukan sejak tahun 1984. HKBP yang menjadi bagian integral dalam PGI dan DGD/WCC juga menyerap program ini untuk diimplementasikan di jemaat, sebab ini dilihat sebagai isu yang sangat urgen di tengah kondisi ketidakadilan yang semakin merajalela, tercerabutnya hak asasi manusia, dan terancamnya ekologis akibat kerakusan manusia.

4. Perlunya pemahaman bersama. Gereja selaku persekutuan orang percaya tidak hanya bertanggung jawab untuk mewujudkan persekutuan di antara sesama manusia, tetapi juga dengan lingkungan. Selama ini ekumene hanya dimengerti sebagai hubungan interdenominasi gereja, padahal arti kata oikos menunjuk pada bumi sebagai tempat tinggal (habitat). Habitat adalah inti makna dari semua kata eko; ekonomi, ekologi, dan ekumenesitas.

Oleh karena itu, tujuan ekumene tidak bisa lagi terbatas pada usaha pembentukan Gereja Kristen yang Esa atau menciptakan hubungan yang harmonis di antara orang Kristen, tetapi harus menjangkau wawasan yang lebih luas, sesuai dengan arti dan makna yang terkandung dalam kata ekumene, yaitu dunia atau kosmos ini secara keseluruhan, khususnya hubungan dengan seluruh ciptaan. Ted Peters membedakan antara kata ecumenical dan kata ecumenic, yang akar katanya sama yaitu oikos, tetapi maknanya berbeda. Kalau ecumenical berbicara tentang kesatuan iman, maka ecumenic berbicara tentang kesatuan manusia dengan segala sesuatu yaitu dengan semua realitas ciptaan Allah. Akan tetapi, keduanya mempunyai hubungan sebab kesatuan iman harus mempunyai implikasi terhadap kesatuan dengan seluruh ciptaan.

Banyak tradisi keagamaan, termasuk Yudaisme dan Kekristenan, memahami inti penciptaan sebagai tempat tinggal Allah di dalamnya. Ciptaan adalah tempat kehadiran Allah. Jadi, kata oikos menunjuk pada rumah tempat kehadiran dan kediaman Allah. Allah ada “rumah” di sini, sebagaimana kita. Jadi dalam mengelola alam, maka kita harus sejalan dengan Ekonomi Allah. Kita adalah rekan sekerja Allah (householders) dalam menatalayani (oikodomeo) dunia. Di sinilah peran gereja mendapat tempat, karena gereja karena gereja merupakan bagian dari earth habitat. Sebagai bagian darinya, maka gereja terpanggil untuk terlibat aktif dalam kesatuan dengan bagian-bagian lain dari earth habitat.

Jika keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dipahami sebagai keselamatan untuk seluruh ciptaan, maka gereja terpanggil tidak hanya untuk menyatakan koinonia dengan sesamanya manusia, tetapi juga dengan sesama ciptaan. Ted Peters juga mengingatkan bahwa gereja harus melaksanakan pendamaian dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah. Dan sejalan dengan hal ini, Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) memahami pendamaian dan pembaruan ciptaan sebagai tujuan dari misi gereja.

Bagi gereja-gereja di Indonesia, terdapat suatu permasalahan tersendiri dalam usahanya untuk menjadi penatalayan dunia. Pertama, gereja-gereja di Indonesia masih terkotak-kotakan dalam berbagai denominasi, di mana masing-masing denominasi memiliki concern tersendiri. Kedua, konsep ecumenic sendiri belum begitu populer di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk lebih menggugah kesadaran gereja-gereja di Indonesia akan perannya menjadi penatalayan dunia melalui berbagai cara, mis: diskusi teologis, proyek kerjasama mengenai pelestarian lingkungan hidup.

Sementara itu tantangan lain yang dihadapi oleh gereja-gereja di Indonesia adalah pluralisme agama. Seharusnya kenyataan ini bukanlah penghambat bagi gereja untuk menjadi penatalayan dunia, tetapi malah merupakan sebuah peluang bagi gereja-gereja di Indonesia untuk membina kerjasama dengan para pemeluk agama lain untuk bersama-sama menjadi penatalayan dunia, karena mereka pun adalah bagian dari earth habitat. Memang hal ini tidak mudah, karena harus ada kesamaan visi di antara kita. Oleh karena itu, perlu diusahakan pula “proyek penyadaran bersama” di antara para pemeluk agama.

One response to “JAGALAH ALAM, KARENA MEREKA JUGA BERHAK ADA

  1. Nuch Sabunga

    sangat membantu dalam pemahaman Alkitab bagi penatua dan diaken

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s