BERKAT DARI TUHAN ADALAH KEBAHAGIAAN

Renungan, Sabtu 20 Juni 2009

Ulangan 33:13b “Kiranya negerinya diberkati oleh TUHAN dengan yang terbaik dari langit, dengan air embun, dan dengan air samudera raya yang ada di bawah;

Segala sesuatu diukur dengan uang (materi/fisik), demikianlah banyak orang melihat kecenderungan hidup manusia di zaman ini. Ya, memang kita tidak perlu munafik bahwa uang juga punya peran di dalam kehidupan manusia. Namun, uang (materi) bukanlah segalanya. Uang hanyalah ‘alat’ untuk melakukan sesuatu dan pastilah bukan tujuan. Kebahagiaan hidup bukan ditentukan oleh uang tetapi sebenarnya adalah kedekatan kepada Penguasa langit dan bumi ini. Uang (materi) bagi sebagian orang adalah sesuatu yang dapat menciptakan kebahagiaan. Itu sebabnya di zaman yang materialistis, manusia mengejar kelimpahan materi karena adanya asumsi bahwa kelimpahan tersebut menentukan kebahagiaan hidup seseorang. Sebaliknya tanpa kecukupan secara materi maka kebahagiaan tidak mungkin diraih. Benarkah kecukupan materi menjadi sumber kebahagiaan yang sejati? Mari kita bersama mencermati apa yang diungkapkan bagian ini mengenai kebahagiaan.

Melanjutkan perikop sebelumnya, Musa memberkati suku-suku lainnya(lih. ay.13-25). Penutup dari berkat-berkat ini ditujukan kepada bangsa Israel keseluruhan(ay. 26-29). Pada bagian penutup ini, Musa menyebut bangsa Israel berbahagia. Ia menjelaskan alasan bangsa Israel berbahagia serta apa arti kebahagiaan itu.

Pertama, Musa abdi Allah itu menyebut mereka dengan sebutan “Yesyurun” yang berarti bangsa yang benar. Dengan demikian bangsa Israel adalah orang-orang yang dibenarkan, bukan hanya benar di hadapan manusia tapi terutama di hadapan Allah.

Kedua, mereka memiliki Allah yang tiada duanya. Allah Israel adalah Allah yang hidup, tidak seperti ilah-ilah yang disembah oleh bangsa lain yang ada di sekitar mereka. Dia juga Allah yang kehadiran-Nya nyata di tengah-tengah bangsa Israel sebagai penolong dan tempat perlindungan yang abadi terhadap musuh-musuh di sekeliling mereka (ay. 26-27).

Ketiga, yang paling membahagiakan adalah bahwa di atas muka bumi ini tidak ada bangsa seperti bangsa Israel, suatu bangsa yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi saluran datangnya keselamatan bagi dunia ini (ay. 29).

Dengan demikian kita belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya bergantung kepada materi atau hal-hal fisik saja, melainkan pada kehadiran Allah dalam hidup ini. Bagaimanakah saudara memberi arti bagi “kebahagiaan” dalam hidup saudara? Apakah yang menjadi tolok ukur dalam menyebut saudara berbahagia? Berdasarkan uraian di atas dapatkah saudara mengukur kebahagiaan hidup saudara saat ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s