BETAPA DALAM KASIH TUHAN KEPADA MANUSIA

Oleh : Pdt. Tumpal H. Simamora

Renungan, Selasa 9 Juni 2009

Roma 11:33 “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”

Dalam nas ini, Paulus memuji-muji kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Dalam ketiga kata kunci ini, sama sekali berbeda bila diperhadapkan dengan kekayaan, hikmat dan pengetahuan manusia.

Kekayaan Allah bukanlah kekayaan yang dipegang erat-erat untuk dinikmati sendiri. Itulah yang sering dilakukan manusia; orang-orang kaya seakan-akan menggenggam kekayaan miliknya. Daripada membagi-bagi kepada mereka yang berkekurangan, manusia sering kali malah ingin mengumpulkan harta lebih banyak lagi. Kekayaan Allah itu melimpah; Ia membagikannya kepada manusia dan dunia ciptaan-Nya. Itulah keselamatan; bahwa kita boleh turut menikmati kekayaan Allah.

Demikian juga dengan memahami hikmat Allah yang justru berbeda jauh dengan hikmat manusia. Dalam 1 Kor.1:24, Kristus disebut ‘hikmat Allah’, karena kelemahan dan kematian Anak Allah tak dapat dipahami oleh hikmat manusia, yang cenderung memperhatikan dan mengagumi apa saja yang kuat dan mulia. Dalam nas ini, ‘hikmat Allah’ adalah hikmat-Nya yang menyelamatkan manusia yang menurut ukuran manusia sudah tak dapat diselamatkan lagi. Maka hikmat Allah adalah pembenaran orang-orang yang berdosa.

Pengetahuan Allah. Dalam dunia kita ada semboyan ‘pengetahuan itu kekuasaan’. Maka kalau seseorang memiliki pengetahuan di bidang ekonomi, IPTEK atau apa saja, pengetahuan itu menjamin kedudukannya sebagaimana yang dia mau. Maka kecenderungannya adalah merahasiakan pengetahuan yang dimilikinya. Namun, pengetahuan Allah adalah pengetahuan yang memberkati dan menyelamatkan. Pengetahuan itu adalah rangkulan kasih-Nya (Rm.8:29).

Ketiganya, kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah dipuji karena alangkah dalamnya. Kata ‘alangkah dalamnya” mengandung arti ‘tak terpahami oleh otak manusia’, karena sama sekali tidak cocok dengan nilai-nilai dan ukuran manusia. Namun Allah berkenan menyatakannya kepada orang-orang percaya melalui Roh.

Saudara-saudara, oleh karena itu kita pun tidak bisa lagi menyombongkan diri di hadapan keajaiban diri Allah, hikmat dan kasih karunia-Nya, karya-karya-Nya yang ajaib. Kita hanya dapat tunduk bersyukur, tengadah memuliakan Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s