DIPILIH UNTUK BERBUAH

Yohanes 15: 9-17 (16)

Oleh: Pdt. Tumpal H. Simamora, STh

Yoh 15:9-17 memberi prinsip dan kekuatan panggilan Allah. Ketika boleh diangkat jadi anak-Nya, itu merupakan anugerah-Nya yang sangat besar. Perikop tersebut dimulai dengan pernyataan-Nya, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu.” (ayat 9). Lalu diakhiri dengan perintah­Nya, “Kasihilah seorang akan yang lain.” (ayat 17). Inilah inti iman Kristen.

Panggilan Kristen merupakan ikatan kasih sangat erat karena Tuhan menganggap orang percaya sebagai sahabat maka diceritakan-Nya semua. Sebenarnya status orang Kristen hanyalah hamba atau budak karena telah dibeli lunas maka tak boleh tahu yang dikerjakan oleh tuannya (ayat 15). Selain itu, ia seharusnya binasa karena berada dalam cengkeraman setan. Lalu Kristus menyerahkan nyawa dan mati baginya. Padahal ia tak lebih baik, layak, pandai dan talented di tengah seluruh umat manusia hingga sangat dibutuhkan sedangkan yang lain tak boleh dekat dengan-Nya. Seharusnya ia mengerti dan menyadari bahwa Tuhan ingin membangun relasi yang sangat intim dengannya hingga boleh memanggil Bapa kepada Allah.

Maksud perlakuan Tuhan semacam itu jangan dipikirkan memakai konsep dunia yang bisa salah di mana sahabat harus saling mengerti dan dealing karena keduanya punya hak sama. Sahabat dalam konteks Yoh 15:9-17 bukanlah yang berdialog dengan posisi sejajar tapi justru tak boleh melupakan sejarah yaitu status hamba. Jadi, ordonya vertikal namun Allah yang berdaulat bukan malah harus mengikuti keinginan manusia berdosa. Kristus memberi syarat atau patokan penting, “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (ayat 14). Itulah keselamatan. Maka orang Kristen harus kembali ke posisi yang benar dan tak boleh bersikap kurang ajar terhadap-Nya. Bagian tersebut menunjukkan nuansa paradoxical.

Banyak orang Kristen berpikir, Allah memilihnya supaya masuk ke Surga. Pemikiran seperti itu egois. Alkitab tak pernah mencatat janji semacam itu. Bahkan baptisan pun belum menjamin. Surga hanyalah fasilitas sekunder yang diberikan setelah ia menjalankan kehendak­Nya sebaik mungkin.

Di ayat 16 Tuhan membicarakan tujuan panggilan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (kekal),…” Ayat tersebut sangat keras menekankan prinsip predestinasi di mana inisiatif pertobatan bukan dari manusia melainkan selalu Allah menyentuh hatinya lalu ia berespon. Tak seorang pun sanggup memilih Dia. Di Roma 8:29 juga dicatat, “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula…” Di Efesus 2:8-10 Paulus menegaskan lagi, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Seharusnya orang Kristen berterimakasih atas penebusan-Nya.

Ironisnya, kebanyakan lebih ingat bagian terakhir Yoh 15:16, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu.” Padahal sesungguhnya Allah tak perlu diklaim. Sebelum manusia sadar, Ia telah mengetahui kebutuhannya karena jauh lebih bijaksana.

Allah tak pernah memberi janji tanpa tuntutan tugas. Contoh, di Matius 28:19-20 dikatakan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (JanjiNya) Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (The God of Immanuel/providensia Allah) Tuhan memberikan hak tersebut hanya pada orang Kristen yang dipanggil untuk melayaniNya dan memberitakan Injil.

Ketika orang Kristen disebut sebagai sahabat sekaligus anak Tuhan, apa maksudnya? Pertama, membawa pengertian bahwa hidup penuh makna. Di dunia banyak orang kehilangan arah hidup. Ada yang kerja keras mencari nafkah tapi hidupnya lama kelamaan jadi kosong. Ada pula yang hidupnya sangat susah dan makin terjepit. Lalu mereka jadi stres, lelah dan jenuh. Padahal ketika mengerjakan proyek dan mengejar sasaran, semua itu tak mungkin terjadi. Sebaliknya, mereka akan excited. Setelah mencapai satu sasaran, muncul yang lain. Maka hidup jadi dinamis. Namun orang dunia tak punya pegangan atau purpose. Kalaupun ada, itu makna yang mereka berikan sendiri. Lama kelamaan kecewa juga karena makna tersebut tak sejati.

Pekerjaan di Efesus 2:10 bukan hanya pelayanan di Gereja hingga seluruh jemaat jadi pendeta. Tuhan memanggil orang Kristen di segala bidang. Maka mereka harus bergumul mengenai penempatan, tujuan dan pertimbangan sesuai kehendak-Nya sehingga makna tertinggi dapat dicapai. Di bawah pimpinanNya, etos kerja seharusnya berubah. Bahkan pindah kerja pun harus menurut rencanaNya. Dengan demikian makna hidup tak terkunci oleh situasi, uang atau segala sesuatu. Hidup semacam itu nyaman sekali. Allah juga takkan membiarkan jemaat­Nya menganggur. Pengangguran sebenarnya akibat ketidaktaatan manusia kepada-Nya. Di Kisah Para Rasul 20:24 Paulus dengan jelas mengatakan, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Kedua, hidup jadi dinamis (powerful life). Orang Kristen seharusnya mampu mengajak yang lain supaya giat, rajin dan semangat menjalankan pekerjaan Allah demi kemuliaan-Nya meskipun sulit. Selama pelayanan, jangan menggunakan standard yang sama dengan kafir. Walaupun tak secara materi, sesungguhnya para pelayan-Nya telah dibayar jauh lebih mahal yaitu dengan darah Tuhan yang mati menebus dosa manusia sehingga terbebas dari ikatan belenggu Iblis. Ironisnya, ada Gereja membayar jemaat supaya lebih giat pelayanan karena pikiran mereka terlanjur tercemar materialisme.

Ketiga, hidup jadi fruitful. Di Yohanes 15 dicatat, Kerajaan Allah seperti kebun anggur dengan Bapa sebagai pengusaha, Kristus pokok anggur dan semua pengikut ialah carangnya yang harus berbuah. Dalam ilustrasi tersebut meskipun tak bersifat alegori, tampak 2 aspek dari anggur:

(1) Buah itu mempunyai unsur banyak (kuantitas). Alkitab berulangkali menekankan ‘berbuah banyak’. Di ayat 2, Tuhan mengatakan, “Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotong­Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Kemudian di ayat 6 ditegaskan lagi, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Allah menghendaki jemaatNya tak sekedar kerja tapi harus strategis. Pohon anggur memang membutuhkan perawatan sangat teliti dan waktu yang lama.

(2) Anggur juga punya kualitas. Anggur asam meskipun dalam jumlah banyak, takkan terpakai. Tuhan menghendaki anggur manis. Artinya, struktur makanan harus tepat. Vitamin yang dibutuhkan cukup. Nutrisi ada. Jadi kalau ingin menghasilkan buah yang baik maka harus memperlengkapi diri. Jadi, kuantitas sekaligus kualitas harus baik. Tak ada yang boleh dikorbankan. Orang yang berpikir semacam itu mungkin tak banyak. Memang tak mudah mencapainya tapi harus melalui pelatihan jiwa yang sungguh bersedia dipakai oleh Tuhan. Mitos yang membatasi diri kadang perlu didobrak.

Sesungguhnya, hidup orang Kristen hendak dijadikan saluran sehingga buah yang dihasilkan manis dan bermutu tinggi. Maka carang harus mendapat makanan yang cukup dari pokoknya. Kalau Tuhan bersedia memakai, biarlah kemuliaan senantiasa bagi-Nya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s