KREDIBILITAS SEORANG PEMIMPIN KRISTEN

KHOTBAH MINGGU ESTOMIHI

MINGGU, 14 PEBRUARI 2010

Evangelium: 1 Timotius 3 : 1 – 7

Epistel: Keluaran 18 : 17 – 23

KREDIBILITAS SEORANG PEMIMPIN KRISTEN

1. Saudara-saudara, nas khotbah Minggu Estomihi (Mzm. 31:3b “Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!”) ini diambil dari 1 Timotius 3 : 1 – 7. Rasul Paulus dalam suratnya ini telah menetapkan beberapa persyaratan untuk menjadi penilik jemaat (episkopos). Penilik Jemaat (episkopos) pada waktu itu adalah tuan rumah dari jemaat yang beribadah di rumahnya, dan karena itu menjadi pengawas/penilik atas pertemuan jemaat di sana (jabatan ini berkembang menjadi penatua seperti yang ada pada gereja masa kini). Kenapa Paulus perlu menetapkan persyaratan untuk menjadi penilik/pengawas? Bukankankah setiap yang telah dipilih Tuhan tidak perlu untuk dipertanyakan ulang? Pertanyaan ini sangatlah penting karena rasul Paulus melihat jabatan penilik/pengawas itu sebagai pekerjaan yang indah (KJV “good work”, Bibel “Ulaon na denggan” ay.1). Kata “pekerjaan yang indah” menunjukkan kualitas dari pekerjaan itu. Sehingga untuk melakukan pekerjaan yang berkualitas dibutuhkan juga seseorang yang mempunyai kualitas untuk melaksanakan tugas tersebut. Kualitas yang dimaksud bukan hanya sekedar kualitas dalam arti banyak tahu tentang sesuatu, tetapi kualitas dalam karakter. Ya, penilik/pengawas yang berkarakter baik, itu yang diinginkan oleh nas ini. Apa sebab harus berkarakter baik? Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan, yaitu:

a.    Orang-orang di zaman ketika Paulus menulis surat ini kepada Timotius melihat kecenderungan untuk berpikir materialistis (1 Tim. 6:9, 10, 17), bahkan guru-guru jemaat pun dipengaruhi oleh cara berpikir itu (1 Tim.6:5). Pekerjaan penilik jemaat yang “pro deo” dianggap tidak menguntungkan. Tidak menguntungkan, sehingga banyak anggap remeh dengan tugas penilik jemaat. Paulus dengan tegas melawan pendapat itu dan menandaskan, bahwa orang yang menghendaki jabatan sebagai penilik jemaat, tidak menginginkan sesuatu hal yang rendah, melainkan mulia. Bahwa Paulus memandang tinggi jabatan penilik jemaat, nyata dari penghormatan yang ia tuntut dari jemaat bagi penilik jemaatnya (1 Tim. 5:17). Itulah sebabnya Paulus menetapkan syarat-syarat yang sepadan dengan kemuliaan itu bagi orang yang ingin menjadi penilik jemaat (1 Tim. 3:2-4). Mereka inilah yang mengurus jemaat Allah (1 Tim.3:5), yang merupakan tiang penopang dan dasar kebenaran di dunia (1 Tim. 3:14).

b.    Keadaan waktu ketika Paulus menuliskan surat ini memang sangatlah berbeda dengan waktu kita saat ini. Pada masa kini kedudukan sebagai pemimpin Kristen dianggap sebagai suatu kedudukan yang berprestise tinggi, namun pada zaman Paulus jabatan tersebut sekali-kali bukanlah jabatan yang diingini oleh banyak orang, melainkan suatu jabatan yang mengandung resiko bahaya yang besar dan tanggung jawab yang berat karena ketika itu kekristenan sedang mengalami penganiayaan dan pengucilan dari masyarakat sekitar. Tak sedikit jemaat dan pemimpin Kristen menghadapi hinaan, penolakan dan kesukaran.

Dalam keadaan sulit seperti itulah Paulus merasa perlu memberikan penghiburan dan dorongan kepada para pemimpin rohani yang sungguh-sungguh ingin melayani Tuhan bahwa apa yang mereka kehendaki itu adalah suatu pekerjaan yang indah. Dan harus diingat, bahwa jabatan ini adalah jabatan yang diangkat/dipilih. Rasul Paulus menasihatkan Timotius dan jemaat agar tugas ini tidak diberikan kepada sembarang orang. Memang melayani Tuhan adalah suatu panggilan terhormat dan juga indah. Maka, harus ada syarat atau kriteria yang khusus untuk orang yang dipilih ke dalam pelayanan ini.

2. Dalam nas 1 Timotius 3: 1-7, kita akan mengelompokkan persyaratan itu dalam tiga hal, yaitu:

a.    Persyaratan Moral

Saudara-saudara, baiklah setiap penetapan persyaratan dalam pemilihan seseorang yang melayani di tengah-tengah gereja lebih menitikberatkan persyaratan moral/rohani. Kenapa? Karena memang pelayanan di dalam gereja ditentukan apakah seseorang itu mempunyai karakter hidup sebagai orang yang mengusahakan diri untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Tidak terbayangkan kalau seseorang pelayan justru tidak mempunyai moral/rohani yang baik, akan kemanakah gereja dibawa?

Paulus memaparkan beberapa hal yang menyangkut moral, di antaranya: “seorang yang tak bercacat” (ay. 2). Kita harus hati-hati untuk memahami kata “tidak bercacat”. Kata itu tidaklah memaksudkan seseorang yang dipilih itu sebagai orang yang tidak berdosa. Tetapi mempunyai karakter diri yang terjaga, sehingga tidak ada peluang bagi orang lain untuk mempersalahkannya. “Tidak bercacat” mengindikasikan seseorang yang hidup dalam karakter diri yang dapat dipercaya (“haposan”), yang dengan setia hidup sesuai dengan firman Tuhan di dalam ketulusan. Sehingga ketika dia berbuat sesuatu maka semuanya dilakukan dalam kerangka mengasihi Allah.

“Ia harus suami dari satu istri” (ay. 2). Ada tiga pencobaan dalam kehidupan kerohanian yang sering membuat orang jatuh dalam dosa, yaitu 3 TA: harTA, waniTA, dan takhTA. Dan kesetiaan dalam keluarga adalah gambaran seseorang tampil sebagai orang yang juga setia dalam kehidupan di luar rumah. Orang yang menghargai istri dan keluarga menjadi persyaratan penting dalam memilih seseorang yang menjadi penilik jemaat. “Suami dari satu satu istri” menghunjuk kepada kekudusan kehidupan rumah tangga, orang yang memegang teguh komitmen, walaupun begitu banyak pencobaan di tengah-tengah kehidupannya. Dan itulah yang membedakannya dengan orang lain.

“Dapat menahan diri”. Menahan diri menghunjuk kepada kestabilan dan keseimbangan jiwa. Orang yang tidak dapat menahan diri pasti akan kebablasan, tidak mampu menguasai dirinya karena sesuatu yang membuat ia marah. Maka, orang yang dapat menahan diri, setiap perkataan, tingkah lakunya adalah hasil dari usaha pengendalian egoisme. Dia akan hidup dengan disiplin dan bertanggungjawab.

Bukan peminum, pemarah, apalagi hamba uang”. Seorang peminum yang tidak dapat melepaskan diri dari kecanduannya, tidak dimungkinkan untuk dapat menjadi seorang pemimpin.

Pemarah, bukan berarti tidak boleh marah, tetapi orang yang suka marah. Orang yang suka marah pastilah mencerminkan hati. Bila seseorang suka marah, itu yang kita sebut dalam bahasa Batak “sibolison”.

“Hamba uang”. Namanya saja sudah hamba uang, maka yang menjadi tuan adalah uang, dan dirinya adalah hamba. Ini menjadi sorotan rasul Paulus dalam surat ini. Dia mengatakan, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim.6:10). Dalam PL dan juga PB, orang yang mengabdikan diri kepada uang, itu adalah ciri-ciri dari nabi palsu, pengajar-pengajar palsu, guru-guru palsu (lih. 1 Tim.6:5 “percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan”). Apa yang membedakan pelayanan (panggilan) dan pekerjaan? Panggilan dilakukan sebagai tugas yang tidak mendasarkan pada uang, tetapi pekerjaan biasanya dihubungkan dengan uang. Bekerja bila ada uang, bila tidak ada uang maka tidak bekerja.

Dan yang terakhir dalam poin ini adalah kehidupannya pun harus telah menjadi kesaksian yang baik di luar jemaat supaya pelayanan keseluruhan jemaat tidak tercemar karena reputasi penilik jemaat yang cacat (ay. 7). Syarat yang dituntut adalah ia harus mempunyai nama baik di luar jemaat. Melalui syarat ini, Paulus mengingat bahwa dunia sedang memperhatikan kehidupan orang Kristen. Rasul Paulus berharap agar dalam kehidupan sehari-hari mereka bersikap bijaksana sehingga keberadaan mereka sebagai umat Allah dapat dihargai dan dihormati, tidak digugat orang dan tidak jatuh dalam jebakan Iblis. Jadi, baik di dalam maupun di luar gereja, mereka harus hidup tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

b.    Memiliki sifat-sifat positif

“Bijaksana”. Sifat bijaksana ini menggambarkan seseorang yang dapat dipercaya (haposan) dan dapat memberikan pertimbangan yang tepat, tidak skeptis. Kemampuan seorang pemimpin dapat dilihat dari langkah-langkah yang diambil saat menghadapi situasi genting atau di luar kendali. Dari sanalah teruji kapasitas yang sesungguhnya dari pemimpin tersebut.

Ia juga harus bersikap sopan. Kata ini mengacu pada suatu sikap yang teratur dan menghargai diri sendiri. Kata ini menggambarkan seseorang yang menampilkan suatu sikap yang teratur sebagai refleksi dari kestabilan dalam jiwanya.

Ia juga harus seorang yang suka memberi tumpangan (Yunani “philoxenos”. Kata ini berasal dari dua kata, yaitu “philos” berarti “teman” dan “xenos” berarti “orang asing”). Secara bebas dapat diterjemahkan dengan “mengasihi orang asing”, “suka memberi tumpangan”. Pada masa itu, setiap orang yang memberitakan firman Tuhan biasanya menumpang di rumah-rumah dimana pemberitaan dilakukan. Maka, bantuan memberikan tumpangan sangat dibutuhkan (Bhs. Batak: “partamue”). Orang yang “partamue” adalah sarana di mana seseorang juga ikut ambil bagian dalam penyataan Kerajaan Allah.

Cakap mengajar orang. Kata ini menghunjuk kemampuan dalam mengajar (didaktik) dan tentu baik secara intelektual untuk menyampaikan firman Tuhan. Syarat ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin rohani membutuhkan kemampuan, baik untuk menjelaskan ajaran tentang iman maupun untuk mencegah atau menegur kesalahan. Peramah dan pendamai. Bukan suka berdebat, berselisih dan berkelahi. Dan terakhir adalah ia juga telah membuktikan kepemimpinannya di dalam keluarganya sendiri (ay. 4-5) supaya ia betul-betul dapat menjadi pemimpin jemaat, yaitu keluarga Allah.

c.    Memiliki kedewasaan rohani

Rasul Paulus menyebutkan dengan bukan seorang yang baru bertobat (ay. 6). Seorang penilik Jemaat bukanlah seorang yang baru bertobat. Janganlah seseorang yang baru mengenal jalan Tuhan langsung diangkat menjadi penilik untuk memimpin suatu jemaat, baiklah ia belajar dulu akan firman Tuhan yang sesungguhnya agar ia tidak menjadi angkuh maupun sombong, karena itu akan membawa dia lupa diri akan tugas yang diemban.

3. Saudara-saudara yang terkasih, keseluruhan dari persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin dalam jemaat Tuhan, semuanya bermuara kepada satu titik, yaitu: berperilaku yang baik. Maka, sungguh tepatlah yang dikatakan firman Tuhan, “siapa bersih kelakuannya, aman jalannya” (Amsal 10:9). Perilaku, itulah tuntutan utama dari firman Tuhan ini. Jadi, bukan seberapa hebat, memukaunya seseorang menyampaikan firman Tuhan tetapi adalah soal tindakan. “Tindakan berbicara lebih keras ketimbang kata-kata”, mungkin kalimat ini tepat untuk menyatakan hal di atas. Bukan “omdo” (omong doang), tetapi orang yang “integrated” (menyatu perkataan dengan perbuatan, tidak terpecah-pecah), bukan ‘NATO’ (“No actions, talk only”, “holan hata”), bukan pembual dan tuan atas sesama tetapi pelayan (bnd. Matius 23:11-12 “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”).

Kualitas yang paling penting yang dicari dan dikagumi dalam diri seorang pemimpin adalah kredibilitas diri. Jika orang tidak percaya dengan sang pembawa pesan, mereka tidak akan percaya kepada pesannya. Itu sebabnya, dalam nas epistel (Keluaran 18:17-23), pemimpin yang dianjurkan oleh mertua Musa, Yitro, untuk membantunya memimpin bangsa Israel, haruslah orang-orang yang mempunyai kredibilitas. Ada 4 (empat) karakteristik pemimpin menurut Yitro (ay. 21), yaitu:

a.    Orang-orang yang cakap.

b.    Takut akan Tuhan.

c.     Dapat dipercaya.

d.    Benci kepada pengejaran suap.

Bukankah semuanya itu mengacu kepada kredibiltas diri? Kepemimpinan yang bukan mengarahkan segala sesuatu untuk dirinya, tetapi kepada Kristus. Orang-orang yang bekerja dan melayani Kristus haruslah orang-orang yang teruji, mereka memiliki kerendahan hati dan tahan menderita.

Syarat penilik jemaat ini berasal dari Allah, karena Ia ingin yang terbaik bagi gereja-Nya, dan Roh-Nyalah yang akan mempersiapkan orang yang tepat. Bagi kita, Kristen dipanggil untuk menerapkan disiplin rohani yang murni dalam gereja kita, karena dasar kepemimpinan yang baik akan menghasilkan jemaat yang baik pula. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s