CINTAILAH TUHAN, LAKUKANLAH FIRMAN-NYA SETIAP HARI

KHOTBAH MINGGU III SETELAH EPIPHANIAS

MINGGU, 24 JANUARI 2010

Evangelium: Ulangan 6: 4 – 9

Epistel: Matius 7: 24 – 27

CINTAILAH TUHAN, LAKUKANLAH FIRMAN-NYA SETIAP HARI

“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

(Ulangan 6 : 7)

1. Iman tidak bisa diturunkan secara biologis. Di satu pihak, orang tua yang kelihatan baik dan mengasihi Tuhan, rajin beribadah dan melayani, bukan jaminan bahwa anak-anak mereka di kemudian hari akan seperti mereka. Di lain pihak, anak-anak dalam keluarga Kristen yang kelihatan baik saat masih kecil belum tentu beriman setelah dewasa.

Di setiap gereja hampir selalu ditemukan pertumbuhan berbentuk segitiga: Semakin ke atas (semakin dewasa), semakin sedikit yang setia ke gereja. Bila anggota jemaat dewasa jumlahnya cukup banyak, kemungkinan besar mereka adalah orang-orang yang menjadi percaya setelah dewasa. Kondisi di atas membuat banyak orang tua bertanya-tanya, “Mengapa Tuhan membiarkan anak-anak kami menjadi orang-orang yang tidak beriman?”

Sebenarnya, pusat keprihatinan kita adalah masalah keselamatan kekal anak cucu kita. Apakah kita yang telah memiliki kepastian ke surga (karena percaya Tuhan Yesus) rela melihat anak cucu kita mengalami hukuman kekal di neraka? Bagaimana membuat anak cucu kita memiliki iman kepada Tuhan Yesus? Ulangan 6:4-9 memberikan nasihat-nasihat penting.

2. Tuhan Allah itu Esa. Orang Israel menyebut Ulangan 6:4-9 sebagai syema. Syema merupakan perintah penting yang harus sungguh-sungguh diperhatikan. Kata syema berarti “mendengar dengan sungguh-sungguh dan menaatinya”. Syema ini begitu penting, sehingga mereka menuliskannya dalam potongan-potongan kecil perkamen, lalu dimasukan ke dalam kotak kulit kecil yang disebut filakteria. Filakteria ini diikatkan di lengan kanan dan dahi saat seorang pria Israel berdoa pada pagi hari dan ditempelkan di tiang pintu rumah. Pada masa Perjanjian Baru, orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat selalu memakai filakteria. Tuhan Yesus sendiri menyebut syema sebagai hukum yang terutama dan pertama dalam hukum Taurat (Markus 12:28-30; Matius 22:36-38).

Alkitab merumuskan pengakuan iman umat Allah tentang Tuhan Allah, rumusan diungkapkan demikian: “Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” – “SYEMA’ YISRA’EL YEHOVAH ‘ELOHEYNU YEHOVAH ‘EKHAD” (Ulangan 6:4-5).

Kata-kata ini diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel, ketika Musa akan meninggalkan Israel karena mati. Ucapan ini sebenarnya mewujudkan suatu pengakuan iman yang ditekankan kepada Israel pada waktu itu, agar supaya Israel jangan melupakannya. Pengakuan iman ini bukanlah rumusan Musa sebagai hasil pemikiran akalnya, yang diperolehnya dengan memandang kepada gejala-gejala alam semesta, atau disimpulkan dari hukum akal, melainkan didasarkan atas pengalaman-pengalaman Musa dan pengalaman-pengalaman umat Israel sendiri, sejak Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dengan melepaskan Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Di sepanjang sejarah dari Mesir hingga di dataran Moab itu, yang kira-kira 40 tahun lamanya, Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dan telah membuktikan kepada mereka dengan firman dan karya-Nya siapa Tuhan Allah itu.

Di sini diakui, bahwa Allah Israel adalah TUHAN atau YHVH. Arti nama ini yaitu bahwa dengan nama ini Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel. Sebagai sekutu Israel Tuhan Allah adalah Allah yang setia, yang memenuhi segala janji-Nya. Dengan mengingatkan kepada nama itu Musa bermaksud menekankan, bahwa TUHAN adalah setia, yang benar-benar telah memegang teguh kepada apa yang telah difirmankan dan diperbuat. Bahwa TUHAN adalah Allah yang setia, bukanlah suatu teori bagi Musa dan bagi bangsa Israel di dalam Firman dan karya Tuhan Allah di sepanjang sejarah Israel hingga kini dan akan diteruskan di dalam kelanjutan sejarah itu. Nama TUHAN atau YHVH adalah sama dengan nama yang disebutkan di Yesaya 44:6 dan Wahyu 1:8, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian.

3. Makna Dan Tujuan Syema. Tuhan itu Esa ini merupakan bentuk tunggal yang fungsinya adalah sebagai kata-kata pendahuluan, oleh sebab isi Theologisnya sangat berbobot, sehingga menuntut keseriusan yang penuh dan pendengar yang bersungguh-sungguh untuk memperhatikan. “Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Ayat ini merupakan suatu pengakuan iman yang wajib dilakukan setiap pagi dan malam, pengakuan ini merupakan suatu tradisi yudism (Ulangan 6:4). Pengakuan-pengakuan inilah yang dinamakan dengan Syema yang dalam bahasa ibrani berarti ”mendengar”.

Di dalam Ulangan 6:5 dikatakan bahwa ”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Kata “Kasihilah Tuhan Allahmu”, berarti menuruti segala perintah-Nya dengan tekad yang bulat, bahwa kasih juga berarti menaruh perhatiannya penuh kepada kepentingan-kepentingan Tuhan, dengan mengutamakan apa yang Tuhan kehendaki. Kata “dengan segenap hati” (kata hati dalam bahasa Ibraninya adalah Lebhabh), berarti menyerahkan segala proses pemikiran kita, perasaan, keputusan kepada Tuhan untuk dituntun dan dimanfaatkan demi tercapainya kehendak Tuhan. “Dengan segenap jiwamu” (dalam bahasa Ibrani: Nefesy) berarti menundukkan serta mengabdikan segala perkara nafsu keinginan kepada kehendak Tuhan sehingga segenap potensi serta perasaan yang ada di dalam diri kita menjadi sarana kehendak Tuhan. “Dengan segenap kekuatanmu” berarti bertindak sekuat tenaga untuk menegakkan hal-hal yang dituntut oleh tora (Hukum Taurat). Serta membatasi hal-hal yang dilarang olehNya.

Namun dalam hal ini Kristus menambahkan ungkapan-ungkapan dengan segenap akal budimu dan hal ini disebutkan sebagai ayat atau hukum yang terutama dan yang utama seperti ditulis di dalam perjanjian baru (Mat. 22:23-38; Mrk. 12:29-30; Luk. 10-27). Dari hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa Israel ini disuruh Tuhan untuk mengasihi, melayani, dan menaati Tuhan dengan segenap hati dan jiwa mereka. Orang-orang yang sepenuhnya taat kepada Tuhan diperlihatkan oleh sikap dan tindakan mereka yang menyatakan bahwa Tuhan itu Esa (Ulangan 6:4).

Melalui syema Israel diajar untuk memilih persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai prioritas utama. Seluruh aspek kehidupan Israel didasari oleh hubungan cintanya dengan Tuhan. Di dalam cinta ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh dan total. Syema ini:

a. harus tertanam dalam hati orang Israel (ay. 6);

b. harus tertanam dalam hati anak-anak Israel (ay. 7);

c. harus menjadi bagian hidup sehari-hari mereka (ay. 7);

d. harus menjadi identitas pribadi mereka (ay. 8); dan

e. menjadi identitas keluarga serta masyarakat Israel (ay. 9).

Tidak ada satu bagian pun dalam kehidupan orang Israel yang terlepas dari relasi mereka yang penuh kasih kepada Tuhan.

Apa yang diminta Tuhan bagi umat-Nya dan hamba-Nya bukanlah kecakapan untuk memimpin, berorganisasi, berkhotbah, bernyanyi, atau apapun yang lain, melainkan hati yang mengasihi Tuhan (Yoh. 21:15-19). Tanpa kasih kita kepada Tuhan, pelayanan dapat menjadi jerat bagi kita. Hal itu menyedihkan hati Tuhan. Seluruh pelayanan kita, tanpa dilandasi oleh kasih kepada Tuhan, tidak akan berarti apa-apa di hadapan Tuhan (Why. 2:1-5).

4. Era modern mengubah cara pandang para pendidik Kristen dalam mendidik anak. Bagi orang Israel, pendidikan — khususnya pendidikan rohani — merupakan bagian integral dari perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Itulah sebabnya Ulangan 6:4 memuat “Shema” ini adalah bagian yang sentral dalam kehidupan orang Israel. Shema ini menjadi cara bagi orangtua untuk mendidik anak-anaknya. Namun, perkembangan zaman merubah model dan metode serta pemahaman dalam mendidik anak-anak. Toleransi tinggi dan keleluasaan tidak terbatas cenderung menjadi gaya pendidikan saat ini. Sebenarnya justru dalam era modern sekarang, pendidik Kristen harus menerapkan beberapa prinsip dalam Perjanjian Lama yang lebih disiplin dalam hal pendidikan anak.

Pertama, tanggung jawab pendidikan Kristen pertama-tama dan terutama terletak pada orang tua, yaitu ayah dan ibu (Amsal 1:8). Banyak keluarga Kristen masa kini yang menyerahkan pendidikan rohani anak mereka sepenuhnya pada gereja atau sekolah minggu. Mereka beranggapan bahwa gereja atau sekolah minggu tentunya memiliki “staf profesional” yang lebih handal dalam menangani pendidikan rohani anak mereka. Namun, mereka lupa bahwa lama waktu perjumpaan antara anak mereka dengan pendeta, pastor, gembala, guru sekolah minggu, atau pembimbing rohani anak yang hanya beberapa jam dalam seminggu, yang tentunya terlalu singkat untuk mengajarkan betapa luas dan dalamnya pengetahuan tentang Allah. Satu hal lain yang terpenting adalah Allah sendiri telah meletakkan tugas untuk merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anak ke dalam tangan orang tua. Merekalah yang harus mempersiapkan anak-anak mereka agar hidup berkenan kepada Allah. Gereja dan sekolah minggu hanya membantu dalam proses pendidikan tersebut.

Kedua, tujuan utama pendidikan Kristen adalah untuk mengajar anak-anak takut akan Tuhan, hidup menurut jalan-Nya, mengasihi-Nya, dan melayani-Nya dengan segenap hati dan jiwa mereka (Ulangan 10:12). Berlainan dengan pendidikan oleh dunia yang bertujuan untuk menciptakan generasi muda yang penuh ambisi untuk sukses, mandiri, dan percaya pada kekuatan diri sendiri, pendidikan Kristen mendidik anak-anak untuk memiliki sikap mementingkan Tuhan di atas segala-galanya, taat pada Tuhan, dan bergantung pada kekuatan Tuhan untuk terus berkarya. Nilai-nilai yang penting dalam pendidikan Kristen adalah kasih, ketaatan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk ditegur.

Ketiga, Orang tua yang baik mendidik anaknya dengan teguran dan hajaran dalam kasih (Amsal 6:23). Ada teori pendidikan modern yang menyarankan agar orang tua jangan pernah menyakiti anak-anak mereka, baik secara fisik maupun secara verbal, atau melalui kata-kata karena hal tersebut dapat menimbulkan kebencian dan dendam pada orang tua dalam diri anak-anak. Teori ini menganjurkan orang tua untuk membangun anak-anaknya hanya melalui pujian dan dorongan. Hal ini bertentangan dengan kebenaran Alkitab yang mengatakan bahwa teguran dan hajaran juga dapat mendidik anak sama efektifnya dengan pujian dan dorongan, selama semuanya dilakukan dalam kasih.

Keempat, Pendidikan Kristen harus dilakukan secara terus-menerus melalui kata-kata, sikap, dan perbuatan (Ulangan 6:7). Kata bahasa Ibrani yang dipakai dalam ayat ini adalah “shinnantam”, yang berasal dari akar kata “shanan” yang berarti mengasah atau menajamkan, biasanya pedang atau anak panah. Kata ini dipakai sebagai simbol untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang seperti orang mengasah sesuatu dengan tujuan untuk menajamkannya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan khotbah atau pelajaran Alkitab setiap hari Minggu untuk memberi “makanan rohani” bagi anak-anak mereka. Orang tua harus secara rutin dan dalam segala kesempatan menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Lebih jauh lagi, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, bukan hanya melalui perkataan, tapi juga perbuatan.

Tanggung jawab pendidikan Kristen memang bukan tugas yang mudah, baik bagi bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama maupun bagi kita pada zaman sekarang. Setiap zaman memiliki kesulitan dan pergumulan masing-masing, namun prinsip-prinsip dasar pendidikan Kristen yang Alkitabiah tetap bertahan di tengah berbagai teori pendidikan baru yang muncul. Jika orang Israel menafsirkan Keluaran 13:9 atau Ulangan 6:8 secara harafiah dengan mengikatkan tali sembahyang pada lengan dan dahi mereka, “Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu;” (Keluaran 13:9a) maka saat ini kita yang sudah mengerti makna sesungguhnya dari perintah ini harus senantiasa merenungkannya dalam pemikiran kita, mengatakannya setiap hari, dan melakukannya dengan segenap kemampuan tangan kita.

5. Di dalam Ulangan 6:4-9 terdapat beberapa prinsip penting yang bisa diterapkan dalam mendidik anak:

a. Mendidik anak merupakan tanggung jawab orang tua. Dalam tradisi Yahudi, tanggung jawab mendidik anak terutama merupakan tanggung jawab seorang ayah. Seorang ayah yang melempar tanggung jawab dalam mendidik anak kepada isteri, guru, guru sekolah minggu, apalagi pembantu rumah tangga, merupakan kepala rumah tangga yang tidak bertanggung jawab.

b. Orang tua harus memiliki kesaksian hidup yang baik agar bisa menjadi teladan bagi anak. Ingatlah bahwa anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi juga (terutama) dari apa yang mereka lihat dan yang mereka alami.

c. Tujuan mendidik anak bukan hanya agar anak mengerti tentang kasih Allah, tetapi agar anak memberikan respons terhadap kasih Allah tersebut dengan mengasihi Allah.

d. Orang tua harus harus mengajar anak berulang-ulang, bukan hanya sekali saja (6:7), sehingga orang tua harus bersedia menyediakan waktu yang memadai.

e. Orang tua harus bersedia bergaul dengan anak agar bisa mengajarkan penerapan mengasihi Tuhan dalam berbagai situasi kehidupan secara konkret (6:7).

f. Simbol-simbol yang bisa dilihat (termasuk hiasan dinding) merupakan salah satu sarana yang efektif bila dipakai untuk mendidik anak (6:8-9).

Masa depan dunia ada pada anak-anak kita. Maukah Anda mengambil bagian dalam membangun generasi yang mengasihi Tuhan, yang akan dipakai Tuhan pada waktu-Nya untuk membentuk zaman?

6. Respon yang tepat. Dalam Nas Epistel Minggu III Setelah Epiphanias ini, Matius 7: 24-29, kita diajak merespon dengan benar firman Tuhan. Mengapa kita harus merespons pengajaran Tuhan Yesus dengan menerima dan melakukannya? Pertama, karena Dia berotoritas untuk menuntut hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Kedua, adalah sikap yang bodoh kalau kita mengabaikan firman-Nya, entah karena kita menganggap diri kita lebih pintar daripada Dia, atau ada alternatif pengajaran yang lebih kita percayai.

Khotbah di bukit adalah ajaran Yesus yang menyarikan hakikat kehidupan anak Tuhan sejati. Dasar pengajaran Yesus adalah karakter dan sifat Allah yang sudah dinyatakan lewat Taurat dan seluruh Perjanjian Lama. Di dalam Injil Yohanes, Yesus menyatakan bahwa pengajaran-Nya berasal dari Allah Bapa (Yoh. 7:16). Oleh karena itu, pengajaran Yesus memiliki otoritas tertinggi untuk diterima dan dilakukan oleh setiap anak Tuhan. Otoritas Yesus pun diteguhkan melalui tindakan-Nya yang selaras dengan ajaran-Nya. Hal ini tidak dimiliki oleh pengajar-pengajar lain.

Karena ajaran Yesus bersumber pada Allah, maka pasti benar langgeng. Bodohlah kita kalau menolak taat dan melakukannya. Ilustrasi Yesus yang sangat gamblang. Ajaran Yesus bagaikan fondasi bagi rumah rohani yang akan kita bangun. Dengan tekanan serius Yesus mengingatkan mereka bahwa hidup tiap orang suatu saat kelak akan diterpa badai. Badai itu akan sedemikian dahsyat dan pasti berakibat kekal. Badai itu akan membongkar kenyataan fondasi hidup macam apakah yang telah seseorang pakai untuk membangun kehidupannya.

Hanya ada dua macam fondasi hidup. Fondasi batu karang teguh adalah sikap dan praktik hidup saat demi saat mematutkan hidup sesuai firman. Orang sedemikian disebut Tuhan bijaksana sebab kehidupan taat firman membuatnya tahan terpaan badai. Maka orang yang bijaksana sangat penting untuk membangun di atas landasan yang benar. Orang yang rumahnya roboh, bersalah bukan karena kurang giat bekerja, tetapi karena tidak memanfaatkan batu karang. Fondasi pasir adalah sikap dan praktik hidup yang mendengar firman dan ajaran Yesus, tetapi tidak melakukannya. Orang seperti itu bodoh sebab rumah kehidupannya pasti akan tersapu bersih oleh terpaan badai dan banjir dahsyat. Apakah badai dan banjir itu? Mengacu ke konteks sebelum ini, pastilah yang Tuhan maksudkan dengan badai itu adalah hari penghakiman akhir. Dengan ucapan-Nya yang penuh kuasa itu, Yesus mendesak para pendengar-Nya untuk merespons Dia dengan ketaatan dan kesetiaan agar luput dari penghukuman itu.

Beranikah kita mempertaruhkan bangunan hidup kita pada fondasi yang bukan hanya belum teruji, tetapi yang fana karena buatan manusia semata, atau yang akan dihancurkan karena buatan kuasa lain yang bukan Tuhan? Jangan konyol menyerahkan masa depan hidup Anda pada sesuatu yang bukan dari Tuhan, yang tidak pasti, yang suatu saat akan dimusnahkan bersama dengan dunia ini.

Mereka yang merespons Firman Tuhan dan menaatiNya adalah orang-orang bijaksana yang berdiri kokoh. Ingatlah hidup yang singkat ini hanya awal dari hidup kelak. Bagaimana keadaan hidup kita kelak dalam kekekalan tergantung pada pilihan kita di hadapan Yesus.

Tidak boleh ada fondasi apa pun yang menjadi dasar bangunan rohani kita selain Yesus dan firman-Nya. Mungkin selama ini saudara hidup mengandalkan kata-kata bijak orang dunia, pengalaman orang lain yang terlihat arif, bahkan teknologi super canggih. Berhenti bersandar pada semuanya itu. Baca firman Tuhan dan terapkan dalam hidup saudara, mulai sekarang! Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s