KESATUAN ORANG KRISTEN

KHOTBAH MINGGU II SETELAH EPIPANIAS

MINGGU, 17 JANUARI 2010

Evangelium: Yohanes 17:20-23

Epistel: Roma 15:1-6

KESATUAN ORANG KRISTEN

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

(Yohanes 17:21)

1. Saudara-saudara yang terkasih di dalam Kristus Yesus Tuhan kita, selamat berjumpa kembali. Nas khotbah kita diambil dari Yohanes 17:20-23. Nas ini adalah salah satu bagian dari Doa Syafaat Tuhan Yesus ketika hendak menghadapi peristiwa penderitaan yang berakhir pada penyaliban Tuhan Yesus. Doa ini sering disebut dengan DOA KEIMAMAN (Tangiang Hamalimon) Tuhan Yesus. Doa ini membuktikan bahwa betapa Tuhan Yesus hendak menyerahkan diriNya sepenuhnya dan juga apa yang dialamiNya, digumuliNya, dan yang kepunyaanNya kepada Bapa yang mengutusNya. Penyerahan diri ini membuktikan betapa Tuhan Yesus Kristus tunduk kepada Bapa. Ketaatan ini menjadi haruslah menjadi model dan teladan bagi umat percaya di mana pun berada. Ketaatan mutlak Tuhan Yesus menjadikan bentuk baru kehidupan spiritualitas umat percaya. Bukti umat Kristen percaya dan mengasihiNya adalah dengan kepatuhan, ketaatan dan ketundukan kepada Allah.

Sehubungan dengan itu, doa Tuhan Yesus ini juga memberikan harapan baru menapaki kehidupan iman percaya di dunia ini. Kesatuan orang Kristen sejak awal telah mendapatkan perhatian serius dari semua orang Kristen, baik secara pribadi maupun institusional. Kesatuan umat Kristen mendapatkan perhatian yang khusus. Ada yang mengatakan bahwa kesatuan umat Kristen itu ditandai dengan adanya Gereja yang satu, esa, tidak terpecah-pecah. Itu artinya memahami kesatuan umat Kristen dengan adanya Gereja dengan satu nama di dalam satu organisasi, dan tentunya juga dengan “hierarki” yang mencerminkan keesaan. Di pihak lain, memahami bahwa keesaan itu bukanlah ditunjukkan dengan organisasi yang satu dengan satu nama, tetapi kesatuan atau keesaan di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan tindakan kasih yang bertitik tolak dari iman itu sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita melihat apa yang terkandung di dalam nas khotbah ini.

2. Kesatuan orang Kristen menjadi saksi kepada dunia sekitar (ay. 20).

Dalam ayat 20 dikatakan, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka”. Mari kita perhatikan kata “pemberitaan”. Kata “pemberitaan” adalah bentuk dari pewartaan akan sesuatu yang kita percaya. Murid-murid mendapatkan tugas menjadi “pemberita”, menjadi saksi atas segala sesuatu yang mereka lihat dan rasakan bersama dengan Yesus.

Menurut hemat saya, kesatuan orang Kristen harus dilihat pertama sekali dalam kesatuannya memberitakan tentang Kristus. Karena ternyata saat ini, telah ada (dan memang sejak gereja awal hal ini telah terjadi) orang-orang yang sebenarnya tidaklah memberitakan Kristus secara benar. Dan memang saat itu, kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus dan para murid menghadapi tantangan yang besar di tengah-tengah masyarakat, di antaranya adalah:

Pertama, ada penolakan tentang ke-Tuhan-an Yesus Kristus di tengah-tengah para pemimpin Yahudi. Walaupun sebenarnya mereka mengetahui dan melihat secara langsung sikap dan perbuatan Tuhan Yesus, bahkan tanda-tanda mujizat yang dilakukanNya. Waktu Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka, sangatlah banyak waktu yang mereka punyai untuk mengenal dan untuk merasakan kuasa ke-Tuhan-an Yesus Kristus melalui tanda-tanda mujizat tersebut. Tetapi karena paradigma berfikir yang tidak dapat diubah, dan ketidakmampuan juga ketidakmauan mereka melihat kuasa ke-Tuhan-an Yesus, mereka menolak untuk percaya. Bahkan tidak sampai di situ saja, bukan hanya menolak untuk percaya, tetapi juga tindakan Tuhan Yesus, oleh para pemimpin Yahudi, dianggap menghina Allah karena Tuhan Yesus menyamakan diriNya dengan Allah (lih. Yoh. 10:33, 36).

Kedua, pada saat itu ada satu ajaran faham gnostik dari filsafat Docetisme yang mengatakan bahwa Kristus itu tidak benar menjelma menjadi manusia. Sesuai dengan namanya “docetisme” yang berasal dari bahasa Yunani, “dokeo” yang berarti “rupanya”, “kelihatan”. Mereka beranggapan bahwa Kristus itu bukan menjelma menjadi manusia tetapi “kelihatannya” menjelma menjadi manusia.

Saudara-saudara yang kekasih, hal-hal tersebut di atas menjadi tantangan yang besar yang harus dihadapi oleh murid-murid. Maka kesatuan orang Kristen haruslah ditunjukkan dengan melawan segala sesuatu ajaran yang menolak Kristus itu Mesias, Anak Allah. Kuasa ke-Tuhan-an Yesus Kristus yang nyata ditampakkan dalam kehidupanNya menjadi ‘starting point’ (titik berangkat) seluruh umat percaya untuk memberitakan, mempropagandakan, memproklamasikan Yesuslah Mesias dan Anak Allah. Yang hendak dinyatakan adalah keberhasilan misi umat percaya di dunia ini ditunjukkan dengan kesatuan umat percaya dalam pemberitaannya. Artinya, gereja baik secara pribadi maupun institusi haruslah bagian dari penyataan Kerajaan Allah dalam pemberitaan. Kesatuan dalam pemberitaan itu akan menguatkan umat percaya di dalam pemberitaannya. Maka, saat ini kita dipanggil untuk bersatu di dalam iman kita, memberitakan Tuhan Yesus Kristus agar orang menjadi percaya.

Saatnya sekarang untuk merenung ulang doa Tuhan Yesus ini. Kondisi kita saat ini sudahlah sangat memprihatinkan. Kalau ada pertanyaan, apa beda sikap orang Kristen dengan yang bukan Kristen? Tentu, ada-ada saja yang mengatakan, hampir tidak ada bedanya. Apa sebab? Mungkin saja pemberitaan kita bukan lagi pemberitaan yang berkarakter Kristen. Pemberitaan tidaklah melulu soal berkhotbah, tetapi juga pemberitaan adalah soal sikap, perilaku, karakter diri, komitmen yang semuanya berasal dari Kristus dan untuk kemuliaan namaNya.

Mengasihi Kristus akan dibuktikan dengan apakah seseorang itu mau menuruti segala perintahNya, sebagaimana dikatakan dalam Yoh. 14:15, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku”. Maka jadilah saksi yang punya karakter dalam iman, yang menghidupi Kristus dalam kehidupan ini. Dan kita juga harus mengingat, bahwa segala pemberitaan orang Kristen mempunyai konsekwensi kepada yang menerimanya. Siapa orang yang menerima, mendengar dan melakukan pemberitaan Kristen, perkataan Tuhan itu menjadi roh dan hidup (lih.Yoh.6:63). Tetapi siapa orang yang menolak pemberitaan itu, perkataan itu menjadi hukuman (Yoh.12:48 “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman”).

3. Dasar/fondasi dari kesatuan orang Kristen adalah kesatuan Tuhan Yesus dengan Bapa (ay.21, 23). Saudara-saudara, ay. 21 yang berbunyi “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”, sering sekali dipakai untuk pertemuan-pertemuan ekumenis, baik dalam rapat-rapat maupun sidang, bahkan sampai diambil sebagai suatu tema. Dalam bahasa Latin sering disebut dengan “Ut omnest unum sint” (supaya mereka semua menjadi satu).  Namun baiklah kita menyelidikinya, kata “supaya satu” mengindikasikan harapan atau cita-cita (pengharapan di masa depan). Itu berarti Tuhan Yesus berdoa untuk kelanjutan masa depan para murid. Kata “semua” mengindikasikan bahwa ada kelompok di dalam doaNya, yaitu “orang yang telah percaya” dan “orang yang akan percaya”. Dan memang tidak begitu lama, doa ini terwujud, ketika turunnya Rohul Kudus (Pentakosta) di mana orang-orang percaya sehati, sepikir (lih.Kis.2:44, 46; 4:24, 32) dan semakin bertambahnya jumlah orang yang percaya kepada Kristus.

Kesatuan yang ditampakkan dengan kesatuan hati, sepikir (baca Filipi 2:1-2), merupakan cara bagaimana kita hidup di dalam Kristus. Begitu banyak pencobaan, tantangan yang orang Kristen hadapi di dunia ini, di mana orang Kristen saling mencerca, memburuk-burukkan, saling menghina dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang Kristen dipanggil untuk menyatukan hati dan pikiran dalam tugas pelayanan di tengah dunia ini.

Dasar atau fondasi dari kesatuan itu adalah kesatuan Tuhan Yesus dengan Allah Bapa. Kesatuan Tuhan Yesus dan Allah Bapa, yaitu kasih yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dengan kepatuhan dan ketundukanNya kepada tugas yang diembanNya. Kepatuhan tanpa pamrih, kepatuhan yang murni untuk melakukan perintah Bapa yang mengutusNya.

Saudara-saudara, kesatuan ditampakkan dalam kasih dan kepatuhan kepada Allah yang memberikan tugas kepada gereja di dunia ini, sebagaimana kepatuhan Tuhan Yesus kepada Bapa. Tuhan Yesus pernah mengingatkan hal ini, dalam Yoh.14:15 dikatakan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku”.

Tujuan dari kesatuan itu, agar dunia percaya bahwa Bapa yang menyuruh AnakNya, Yesus Kristus ke dunia ini.

Saudara-saudara yang terkasih, memperbesar jurang perbedaan biasanya lebih mudah daripada mencari kesamaan. Ini sudah menjadi hal yang lumrah di jaman sekarang. Perpecahan demi perpecahan terus saja terjadi. Tidak saja terhadap orang-orang duniawi, tapi di kalangan anak Tuhan pun demikian. Tidak jarang kita menjumpai perpecahan di tubuh gereja bahkan adapula yang sampai menyebabkan permusuhan antar gereja. Tidak jarang kita mendengar orang berkata bahwa gerejanya lah yang benar dan menganggap gereja lainnya sesat. Saling mengejek, merendahkan, memojokkan, menganggap hanya dirinya yang benar sedangkan yang lainnya salah. Ini adalah hal yang menyedihkan. Bagaimana kita mau menjadi berkat jika di antara kita saja sudah saling menyalahkan? Apa kata dunia? Bukannya mencari titik persamaan tapi malah semakin sibuk menggali jurang perbedaan. Bukannya semakin dekat, tapi malah semakin jauh. Dimana letak kasih jika itu yang terjadi? Jangan mimpi dulu untuk bisa mengasihi orang lain jika kepada saudara seiman saja kita tidak mampu mengaplikasikannya. Jangan mimpi dulu untuk mengubah dunia menjadi lebih baik jika yang sudah baik saja terus kita gerogoti. Tata cara peribadatan pun akhirnya menjadi celah bagi iblis untuk mengobok-obok kita, dan ironisnya kita mengijinkannya.

Yesus sangat merindukan kesatuan di antara semua gereja Tuhan di atas permukaan bumi ini. Sudah jelas bahwa setiap gereja yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat merupakan bagian dari tubuh Kristus. Maka dimanapun kita berjemaat, kita pun merupakan anggota dari tubuh Kristus. Jika Dia mengasihi semua anak-anakNya, mengapa kita sendiri malah saling menyalahkan dan menjatuhkan? Mari kita lihat bagian dari doa dari Yesus untuk murid-muridNya. “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:20-21). Ada beberapa bagian penting dari petikan doa Yesus ini yang bisa kita ambil. Pertama, kita bisa melihat bahwa Yesus tidak hanya berdoa bagi murid-muridNya, tapi juga kepada semua orang yang percaya kepadaNya. Kemudian Yesus juga mendoakan agar semua kita yang percaya kepadaNya bisa bersatu. Sama seperti Bapa di dalam Yesus, dan Yesus di dalam Bapa, demikian pula kita semua di dalam Bapa dan di dalam Yesus. Ini bentuk kesatuan yang utuh. Dan Yesus pun menyatakan bahwa hanya dengan kesatuan seperti inilah kita bisa membuat perbedaan nyata bagi dunia. Tidak akan ada yang percaya kepadaNya jika kita sebagai umatNya di muka bumi ini justru menunjukkan kelakuan yang buruk. Jika kita sendiri pecah dan saling benci, sementara kita mengajarkan soal kasih, siapa yang bakal mau mendengar? Bukannya menjadi berkat, kita malah menjadi batu sandungan. Bukannya memuliakan Tuhan, tapi kita malah menjatuhkan namaNya.

Mengenai kesatuan ini kita bisa meneladani sikap gereja mula-mula. Lihatlah bagaimana kebersatuan mereka yang begitu indah. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” (Kisah Para Rasul 2:42). Dalam kebersatuan dan ketaatan pun mereka kemudian diberkati Tuhan dengan hadirnya banyak mukjizat dan tanda. (ay 43). Lalu dikatakan bahwa menyaksikan kemuliaan Tuhan turun atas mereka, semuanya terus bersatu, bahkan kepunyaan mereka masing-masing pun menjadi milik bersama. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,” (ay 44). Dan lihatlah bahwa dengan kebersatuan yang mereka tunjukkan, dunia bisa melihat dan percaya. Maka Tuhan pun menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (ay 47). Lihatlah bahwa tidak ada perbedaan antara jemaat mula-mula. Orang Yahudi atau tidak, kaya atau miskin, pria atau wanita, tua atau muda, mereka semua bersatu dan sama-sama bertekun untuk belajar kebenaran firman Tuhan. Mereka memberi diri dibaptis, memecahkan roti, berdoa, mendalami firman Tuhan, bersatu di dalam rumah Tuhan, dan yang paling penting, melakukan segala yang difirmankan Tuhan pula lewat perilaku mereka. Dan dunia pun bisa melihat bentuk kesatuan ini secara nyata.

Kembali kepada Yohanes 17:20-21 di atas, kita bisa melihat bahwa ketika Yesus berbicara mengenai satu kesatuan, hal itu bukanlah hanya mengacu kepada kesatuan rohani semata tapi juga mengacu kepada sebuah kesatuan yang secara nyata dapat dilihat oleh dunia. Tidak soal dimana anda dan saya berjemaat, kita semua adalah satu, sama-sama anggota tubuh Kristus. Kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus dimana Kristus sendiri bertindak sebagai kepala.“Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” (Efesus 1:22). Ingatlah bahwa “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (ay 23). Selanjutnya Paulus pun mengingatkan “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” (2:20-21).

Hendaklah kita selalu ingat bahwa dimanapun kita berjemaat, kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus, yang seharusnya saling mengisi. Alangkah indahnya jika kita bisa menyampingkan berbagai perbedaan yang berpotensi menjadi celah bagi iblis untuk memecah belah kita, lalu saling dukung untuk bertumbuh bersama-sama. Tidak boleh ada toleransi terhadap perpecahan, apapun alasannya di antara sesama tubuh gereja sendiri. Bentuk tata cara peribadatan boleh saja berbeda, yang penting semuanya berdasar pada iman yang sama akan  Kristus. Perbedaan denominasi boleh saja, tapi semuanya tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bait Allah yang kudus. Di atas segala perbedaan ada satu kesamaan, dan mulailah dari sana. Kita diajarkan untuk saling mengasihi, seperti halnya Tuhan mengasihi kita. Maka terapkanlah hal itu mulai dari yang kecil, yaitu diantara sesama jemaat Kristus. Jangan bermimpi untuk bisa menyelamatkan dunia jika kepada saudara sendiri saja kita masih saling curiga. Jika itu yang masih kita pertontonkan, apa kata dunia? Yesus menginginkan kita untuk bersatu, sedang iblis ingin kita terpecah belah dan saling benci. Mana yang akan kita pilih? Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s