MEMBERI DENGAN SUKARELA

SERMON EPISTEL 8 NOVEMBER 2009

Ep.: 2 Korintus 9 : 6 – 15

1. Memahami surat 2 Korintus. Paulus menulis surat kiriman ini kepada jemaat di Korintus dan kepada orang percaya di seluruh Akhaya (2 Kor.1:1), dengan menyebut namanya sendiri sebanyak dua kali (2 Kor.1:1; 10:1). Setelah mendirikan jemaat di Korintus selama perjalanan misinya yang kedua, Paulus dan jemaat itu sering berhubungan karena masalah dalam jemaat. Urutan hubungan ini dan latar belakang penulisan 2 Korintus adalah sebagai berikut: Pertama, setelah beberapa kali berhubungan dan surat-menyurat yang awal di antara Paulus dengan jemaat itu (misalnya: 1 Kor.1:11; 5:9; 7:1), maka Paulus menulis surat 1 Korintus dari Efesus (awal tahun 55/56). Kedua, setelah itu Paulus menyeberangi Laut Aegea menuju Korintus untuk menangani masalah yang berkembang dalam jemaat. Kunjungan ini di antara 1 dan 2 Korintus (bnd. 2 Kor.13:1-2) merupakan suatu kunjungan yang tak menyenangkan, baik bagi Paulus maupun bagi jemaat itu (2 Kor.2:1-2). Ketiga, setelah kunjungan ini, ada laporan disampaikan kepada Paulus di Efesus bahwa para penentang di Korintus itu masih menyerang pribadinya dan wewenang rasulinya, dengan harapan agar mereka dapat membujuk sebagian jemaat itu untuk menolak Paulus. Keempat, sebagai tanggapan terhadap laporan ini, Paulus menulis surat 2 Korintus dari Makedonia (akhir tahun 55/56). Kelima, segera sesudah itu, Paulus mengadakan perjalanan ke Korintus lagi (2 Kor. 13:1, dan tinggal di situ selama lebih kurang tiga bulan (bnd. Kis.20:1-3a). Dari situ ia menulis kitab Roma.

Tujuan surat 2 Korintus . Paulus menulis surat ini kepada tiga golongan orang di Korintus. Pertama, ia menulis untuk mendorong mayoritas dalam jemaat di Korintus yang tetap setia kepadanya sebagai bapa rohani mereka. Kedua, ia menulis untuk menantang dan menyingkapkan rasul-rasul palsu yang terus-menerus berbicara menentang dia secara pribadi dengan harapan dapat meruntuhkan wibawa dan kerasulannya dan untuk memutarbalikkan beritanya. Ketiga, ia juga menulis untuk menegur minoritas dalam jemaat yang sedang dipengaruhi oleh para lawan Paulus dan yang terus-menerus menolak wewenang dan tegurannya. Paulus meneguhkan kembali integritas dan wewenang rasulinya, menjelaskan motivasinya dan memperingatkan mereka terhadap pemberontakan yang lebih lanjut. Kitab 2 Korintus berfungsi untuk mempersiapkan jemaat secara keseluruhan untuk kunjungannya yang akan datang.

Kitab 2 Korintus mempunyai tiga bagian utama. Pertama, (pasal 1-7; 2 Kor.1:1-7:16), Paulus mulai dengan mengucap syukur kepada Allah atas penghiburan yang dikaruniakan-Nya di tengah-tengah penderitaan untuk Injil, memuji jemaat Korintus karena mendisiplinkan orang yang berbuat dosa serius sambil mempertahankan integritas Paulus dalam kaitan dengan perubahan rencana perjalanannya. Dalam 2 Kor.3:1-6:10 Paulus menyumbangkan pengertian yang paling luas dalam PB mengenai sifat yang benar dari pelayanan Kristen. Ia menekankan pentingnya pemisahan dari dunia ini (2 Kor.6:11-7:1) dan mengungkapkan sukacitanya ketika mendengar dari Titus tentang pertobatan banyak anggota jemaat di Korintus yang sebelumnya telah menentang wewenangnya (7:1-16). Kedua, di pasal 8, 9; (2 Kor.8:1-24 & 2 Kor.9:1-15), Paulus menasihati jemaat Korintus untuk menandingi kemurahan hati orang Makedonia yang dengan sepenuh hati telah menyumbangkan persembahan yang telah dikumpulkannya untuk orang Kristen yang menderita di Yerusalem. Ketiga, pada pasal 10, 13; (2 Kor.10:1-13:13), nada surat berubah. Di sini Paulus mempertahankan kerasulannya dengan menguraikan panggilannya, kualifikasi, dan penderitaannya sebagai seorang rasul yang benar. Dengan ini Paulus mengharapkan jemaat Korintus akan mengenal rasul-rasul palsu di antara mereka dan dengan demikian mereka dapat luput dari disiplin yang lebih lanjut ketika ia sendiri datang lagi. Paulus mengakhiri kitab 2 Korintus dengan satu-satunya ucapan berkat yang menyinggung Trinitas dalam PB (2 Kor.13:14).

Ada empat ciri-ciri utama yang menandai surat ini: pertama, kitab ini merupakan surat yang paling banyak memberitahukan riwayat hidup Paulus. Banyak petunjuk pada dirinya ini, dibuatnya dengan rendah hati, minta maaf dan bahkan dengan malu, tetapi karena terpaksa mengingat situasi yang ada di Korintus. Kedua, kitab ini melampaui semua surat kiriman lain dari Paulus dalam hal menyatakan kuatnya dan dalamnya kasih serta keprihatinan bagi anak rohaninya. Ketiga, kitab ini berisi teologi yang paling lengkap dalam PB mengenai penderitaan Kristen (2 Kor.1:3-11; 4:7-18; 6:3-10; 11:23-30; 12:1-10) dan mengenai hal memberi secara kristiani (pasal 8-9; 2 Kor.8:1-9:15). Keempat, istilah-istilah kunci, seperti: kelemahan, dukacita, air mata, bahaya, kesukaran, penderitaan, penghiburan, kemegahan, kebenaran, pelayanan, dan kemuliaan, menggarisbawahi sifat unik dari surat ini.

2. Latar belakang Pengumpulan Persembahan untuk Jemaat di Yerusalem. Kemiskinan adalah masalah yang selalu dihadapi gereja di se­pan­jang sejarah. Masalah kemiskinan bukanlah sesuatu yang ha­nya dihadapi oleh gereja-gereja Indonesia sekarang ini, terlebih karena krisis ekonomi yang berkepanjangan, melainkan juga sudah di­alami oleh gereja mula-mula di Perjanjian Baru.

Sidang Para Rasul. Pengumpulan persembahan (dana) untuk jemaat di Yerusalem merupakan aktivitas pelayanan yang penting bagi Rasul Paulus dan jemaat-jemaatnya yang non-Yahudi. Ini terbukti dengan banyaknya data yang kita temui dalam surat-surat Paulus berkaitan dengan proyek pengumpulan dana itu (Rm. 15:25-27; 1 Kor. 16:1-4; 2 Kor. 8-9; Gal. 2:10). Kemudian Lukas juga menyinggung beberapa peristiwa yang berhubungan dengan proyek dana ini (Kis. 20:16,22; 24:17).

Sehubungan dengan itu muncul pertanyaan: Apakah yang mendorong Paulus untuk melaksanakan proyek pengumpulkan dana bagi orang miskin di Gereja Yerusalem? Cara yang tepat untuk menemukan jawabannya adalah membaca perkataan Paulus sendiri dalam suratnya kepada Jemaat Galatia, khususnya Galatia 2:10. Di ayat ini kita menemukan bahwa ketika Paulus bersidang dengan para rasul yang lain di Yerusalem dia setuju untuk mengingat orang-orang miskin, suatu aspek pelayanan yang memang sunguh-sungguh dilakukannya. Dalam sidang itu juga Paulus ditetapkan menjadi rasul bagi orang-orang yang tidak bersunat (orang-orang bukan Yahudi), sedangkan Petrus bagi orang-orang yang bersunat (orang-orang Yahu­di, Gal. 2:7,9). Selanjutnya Paulus mulai melaksanakan kampanye pengumpulan dana ini dengan serius. Suatu pelayanan yang meminta waktu cukup lama dan melibatkan wilayah yang luas: Galatia, Make­donia, dan Akhaya (1 Kor. 16:1; 2 Kor. 9:1-5).

Tujuan Pengumpulan Dana. Dalam surat 2 Korintus 8-9 memberikan suatu arti yang khusus. Tujuan itu berfokus pada dua tujuan yaitu pertolongan untuk orang miskin dan usaha menampakkan kesatuan gereja. Adalah sesuatu yang cukup jelas bahwa Paulus bertujuan menolong orang-orang miskin di Yerusalem (Gal. 2:10; Rm. 15:26). Pertolongan ini dimaksudkan untuk menampakkan kasih Allah yang telah diterima jemaat Paulus di dalam Kristus (2 Kor. 8:8-9,19; 9:12-15). Mereka yang telah merasakan kasih Allah terpanggil untuk mengasihi Allah melalui ucapan syukur dan ketaatan (Rm. 8:28; 1 Kor. 8:3; Gal. 5:6) Ini berarti pengumpulan dana tidak hanya sebatas ungkapan kasih kepada saudara seiman tetapi juga sebagai ungkapan syukur kepada Allah (2 Kor. 9:12). Pelaksanaan pengumpulan dana ini bagi Paulus benar-benar suatu kepedulian untuk mereka yang membutuhkannya. Faktor utama dari kepedulian ini adalah kasih (Rm. 12:9; 1 Kor. 13). Paulus meminta jemaatnya agar tidak memberikan bantuannya dengan terpaksa tetapi dengan sukacita (2 Kor. 9:7). Kasih, menurut Paulus tidak hanya sekedar sikap baik kepada orang lain tetapi juga mencakup itikad untuk bertindak.

Perhatian pada orang miskin adalah suatu ungkapan persekutuan di dalam Kristus, suatu sikap yang esensial dalam kehidupan tiap pribadi dalam jemaat dan juga antar jemaat. Pemahaman demikian dapat kita lihat melalui istilah-istilah yang Paulus gunakan. Sebagai contoh, ungkapan en aplotēti (”di dalam kemurahan”) digunakan untuk menunjuk pada motivasi kepedulian kepada saudara seiman (2 Kor. 8:2; 9:11,13). Paulus juga menggunakan kata koinônia (”persekutuan”; Rm. 15:26-27; 2 Kor. 8:4; 9:13). Kata tersebut disukai Paulus dalam menggambarkan kehidupan persekutuan orang percaya. Di samping itu, untuk penggunaannya dalam perjamuan kasih dan Perjamuan Kudus, di mana kepedulian pada orang miskin menjadi hal yang utama, kata tersebut mempunyai tempat khusus (1 Kor. 10:16; Kis. 2:42). Pelayanan pada orang miskin adalah bagian dari persekutuan orang Kristen.

Selanjutnya, digunakan juga kata diakonia. Kata ini pada dasarnya berarti ”menunggu di meja”. Kemudian di Perjanjian Baru kata tersebut berkembang maknanya  menjadi  ”menyediakan kebutuhan hidup” dan ”pelayanan” (Luk. 12: 37; Mat. 25: 42). Yesus mengatakan bahwa siapa yang melayani saudara kecil dan hina adalah melayani diri-Nya (Mat. 25:44-45). Gereja mula-mula tidak terlalu membedakan antara pelayanan ibadah dan pelayanan hidup sehari-hari. Hal ini terlihat dari perayaan Perjamuan Kudus di mana kebutuhan orang miskin mendapat perhatian yang utama (Kis. 2:42; 6:1; 1 Kor. 11:22). Jadi, dapat dipahami bila Paulus menggunakan berbagai bentuk dari kata diakonia di dalam tulisan mengenai proyek pengumpulan dana ini. Hal ini berarti, dia sedang berbicara tentang tindakan esensial persekutuan orang Kristen yang diwarnai pelayanan pada Tuhan (Rm. 15:25; 2 Kor. 8:4,19; 9:1,12,13). Penekanan akan pentingnya kepedulian terhadap saudara Kristen juga ditunjukkan oleh penggunaan kata charis (”grace”). Ada beberapa makna yang terkandung ketika kata tersebut diaplikasikan Paulus dalam pengumpulan dananya. Kata ”grace” memberi arti: pertama, pemberian ilahi yang membuat partisipasi murni kristiani menjadi mungkin (2 Kor. 8:1; 9:8,14); kedua, tindakan partisipasi dalam pengumpulan dana (2 Kor. 8:6). Ketiga, hasil dari partisipasi itu sendiri (1 Kor. 16:3). Keempat, sebagai ungkapan langsung persaudaraan dalam perseku­tuan kristiani (2 Kor. 8:4,7). Kelima, sebagai bagian integral dari pelayanan Paulus (2 Kor. 8:19) yang didorong dan dibenarkan oleh anugerah Kristus (2 Kor. 8-9).

Perlu dicatat bahwa perhatian kepada kaum miskin adalah ciri khas hukum dan tradisi Yahudi (Ul. 24:10-22; Mzm. 10:2; 12:5; 16:6; Yes. 3:14-15; 10:1-2; 58:6-7). Di dalam Perjanjian Lama Allah dipahami sebagai Go’el (”pelindung”) dari kaum papa seperti anak yatim-piatu, para janda, dan orang miskin (Ams. 23:11; Yer. 50:34; Mzm. 149:9). Dalam Yudaisme pemberian derma dipahami sebagai ungkapan yang penting akan perjanjian kebenaran (Dan. 4:27). Derma dimengerti sebagai aspek terpenting dalam memenuhi hukum Taurat. Seorang yang melakukan pemberian derma berarti melakukan pekerjaan Allah.  Para pemberi derma dijanjikan akan mendapat hidup yang baik sedangkan yang sebalik­nya akan mendapat hukuman.

Akan tetapi, motivasi dalam pelaksanaan derma di Yudaisme berbeda dari proyek dana Paulus. Kepedulian untuk orang miskin dalam usaha Paulus tidak didasarkan pada etika Yahudi tetapi dida­sarkan pada pengajaran dan pelayanan Yesus sendiri (Mat. 5:3; 5:47; 11:5; 25:34; Luk. 4:18; 19:2; Mrk. 12:41; 10:21; Yoh. 13:29). Dalam hidupnya Yesus tidak hanya peduli kepada kaum miskin tetapi dia juga secara sukarela hidup dalam kemiskinan (Mat. 8:20). Mengingat bahwa Paulus mengklaim dirinya sebagai peniru Kristus di segenap cara Kristus hidup (1 Kor. 4:10-13; 4:17), di mana dia juga mempersembahkan segenap hidupnya melayani Tuhan (1 Kor. 2:2;  Flp. 1:21-24), maka cukup logis beranggapan bahwa kehidupan Paulus sebagai pemberita Firman yang merana juga didasarkan pada kehidupan Kristus yang miskin secara sukarela (1 Kor. 4:11-13).

Kesatuan Gereja. Pengumpulan dana Paulus dimaksudkan untuk menampakkan kesatuan antara orang Kristen Yahudi dan Yunani. Galatia 2:1-14 menginformasikan bahwa ada dua kubu gereja pada waktu itu. Surat 2 Korintus 2:8-9 dan Roma 15: 25-32 memaparkan bahwa Paulus memahami bantuan ini sebagai sarana untuk mempromosikan kesatuan dari dua kubu gereja yang ada. Konsep pengakuan Paulus terhadap satu Tuhan, satu tubuh, dan satu keluarga dengan jelas berada di belakang gagasan kesatuan gereja ini (Ef. 4:1-6).

Komunikasi Paulus dalam surat Roma bisa memperlihatkan gagasan tentang kesatuan tersebut. Disamping bukan pendiri jemaat Roma, dia juga tidak pernah berkunjung ke kota tersebut. Tetapi, meskipun demikian, Paulus membicarakan juga perihal proyek dana ini pada jemaat Roma dan memohon dukungan doa mereka (Rm. 15:25-32). Ini berarti bahwa Paulus mau agar jemaat Roma yang sebagian besar non-Yahudi ikut terlibat di dalam proyek dana tersebut.

Dengan gamblang Paulus mengatakan, ”Sebab jika bangsa-bang­sa yang lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka” (Rm. 15:27). Dengan kata lain, karena bangsa lain telah menerima keselamatan melalui orang Yahudi Kristen yang di Yerusalem maka bangsa lain ini berhutang kepada mereka. Ini tidak berarti bahwa Paulus memahami proyek dana sebagai pajak yang dibebankan atas bangsa lain, tetapi memang demikianlah cara bangsa lain membayar pada Jemaat Yerusalem atas apa yang telah mereka terima. Bila Paulus menggunakan kata ”hutang” maka itu mengacu kepada tanggungjawab sukarela, suatu ungkapan saling melayani di dalam persekutuan Kristen (bnd. Rm. 13:8;).

Usaha pengumpulan dana bagi Paulus mempunyai arti yang oikumenis. Dia membandingkan partisipasi jemaatnya di dalam proyek tersebut de­ngan pengorbanan Kristus bagi umat manusia (2 Kor. 8-9). Yang utama bukanlah uangnya dan bukan pula jumlahnya, tetapi penampakkan kesatuan Gereja. Cukup menarik melihat konsep Paulus sendiri tentang gereja. Kata ekklēsia berkaitan dengan konsep pertemuan umat Allah dalam Perjanjian Lama. Siapa yang dipanggil oleh Allah maka masuk ke dalam persekutuan dengan Kristus. Orang Kristen adalah umat Israel (Gal. 6:16). Kesatuan mereka adalah solidaritas yang organik: satu tubuh di dalam Kristus (Rm. 12:1; 1 Kor. 10:17; 12:12; Gal. 3:28) atau tubuh Kristus sendiri (1 Kor. 12:27).

3. Memahami Nas (2 Kor.9:1-15), “memberi dengan sepenuh hati”. Jemaat Korintus pernah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu jemaat miskin di Yerusalem (ay. 2b). Kesiapan mereka malah merangsang orang lain untuk melakukan hal yang sama (ay. 2c). Sikap jemaat Korintus membuat Paulus membanggakan mereka di hadapan jemaat Makedonia. Namun seiring perjalanan waktu, mereka tidak melaksanakan janji tersebut. Berarti, mereka tidak sepenuh hati ingin membantu jemaat miskin itu. Itu sebabnya Paulus mendesak agar mereka mewujudkan komitmen mereka. Kini Paulus membalik posisi jemaat Korintus, dengan menyebut-nyebut jemaat Makedonia untuk membangkitkan rasa malu mereka (ay. 4). Karena itu Paulus meminta Titus dan saudara-saudara yang lain untuk pergi mendahuluinya ke Korintus, dengan harapan agar jemaat Korintus memenuhi janji mereka untuk mengumpulkan bantuan bagi jemaat Yerusalem (ay. 5).

Dengan memberikan persembahan secara benar, jemaat Tuhan belajar prinsip anugerah dan keajaiban pemeliharaan Allah. Pertama, dengan bersikap murah hati dalam memberi, jemaat akan beroleh kemurahan hati Allah (ay. 6). Kedua, orang Kristen harus memberi dengan sukarela bukan terpaksa (ay. 7). Ketiga, Allah tahu pengorbanan orang yang memberikan persembahan. Ia memelihara mereka (ay. 8-11). Keempat, memberi sebagai wujud perhatian dan kasih kepada jemaat yang perlu, dan sebagai ungkapan syukur kepada Allah (ay. 12-14).

4. Sifat Pengumpulan Dana. Dalam membahas ”sifat” proyek pengumpulan dana kita berupaya menentukan sikap yang dikehendaki Paulus dari jemaatnya dalam berpartisipasi di dalam proyek tersebut, yakni sukarela dan keseimbangan. Pertama, sukarela. Usaha pengumpulan dana adalah perihal sukarela (2 Kor. 8:11-12; 9:5-7). Paulus meminta jemaat Korintus untuk memberi dari apa yang mereka miliki, bukan dari apa yang tidak mereka miliki. Pemberian itu bukan masalah jumlahnya tetapi sukarelanya. Penerimaan pemberian mereka tidak terletak pada besarnya tetapi pada kesukarelaan. Pemberian kristiani bukan masalah paksaan sebab Allah hanya mengasihi mereka yang memberi dengan sukacita (2 Kor. 9:7). Sikap bermurah hati kepada orang-orang yang membutuhkan merupakan ajaran yang populer dalam tradisi hikmat (Ams. 3:27-28). Adalah sesuatu yang mungkin bila pemikiran tersebut ada dalam diri Paulus ketika dia berbicara tentang bantuan dana ini kepada Jemaat Korintus. Perlu dicatat bahwa Markus 12:43-44 tidak persis sama dengan isi perkataan Paulus dalam 2 Korintus 8:11-12. Dalam Injil Markus seorang janda miskin memberikan semua dari apa yang dia miliki sedangkan orang yang kaya memberikan dari kelimpah­an­nya. Di sini penekanannya bukan pada kesukarelaan.

Dengan mengingat konsep sukarela inilah Paulus mengutus beberapa temannya untuk mendahuluinya ke Korintus. Dengan demikian, orang Korintus disiapkan untuk menyediakan pemberian mereka sehingga pemberian itu siap sebagai ”berkat” dan jauh dari kesan sebagai kerakusan Paulus (pleonexia ”greed”; 2 Kor. 9:5). Kata ”rakus” berkaitan dengan keinginan untuk memiliki lebih banyak. Suatu dosa sosial yang menyebabkan ketidak­harmonisan di masyarakat. Paulus tidak mau pemberian jemaat Korintus dilihat sebagai sikap kerakusannya. Maka pemberian tersebut harus menjadi persembahan sukarela bukan sesuatu yang dipaksakan.

Pada saat itu, ada budaya tukar-menukar di belakang konsep sukarela. Menurut pemikiran populer saat itu, kemakmuran dilihat sebagai hasil kemurahan ilahi sedangkan kekayaan dipahami sebagai sesuatu yang didapat melalui ketidakadilan, kekerasan, kerakusan, dan sifat mementingkan diri sendiri. Ini berarti Paulus mengingatkan Jemaat Korintus perihal sikap terhadap harta. Pemberian yang bersifat berkat adalah jawaban terhadap berkat yang diterima, sedangkan kerakusan menandakan kegagalan menjawab berkat yang diterima (bnd. 1 Kor. 4:7).

Paulus juga menyatakan bahwa orang Korintus tidak perlu takut kehilangan harta bila mereka berpartisipasi dalam proyek dana itu. Allah akan memberkati mereka yang bermurah hati dan mereka akan berkelimpahan dalam segala sesuatu (2 Kor. 9:6,8,11). Dengan demiki­an, pemberian pada proyek dana akan membawa berkat pada orang percaya di Yerusalem dan juga pada jemaat Korintus sendiri. Selanjut­nya lagi, dana itu tidak hanya untuk menolong kebutuhan orang mis­kin di Yerusalem tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (2 Kor. 9:12). Orang percaya di Yerusalem akan memuji Allah atas apa yang mereka terima melalui proyek dana ini sebab mereka sadar bahwa Allah adalah sumber berkat yang memampukan bangsa non-Yahudi memberi melalui proyek dana tersebut. Perlu untuk digarisbawahi bahwa semua ucapan syukur di dalam perkataan Paulus adalah suatu res­pon, pemberian kurban pada Allah atas semua kebaikan yang diteri­ma dari Allah sendiri.

Dalam kaitan ini perlu mengamati kata leitourgia (”pelayanan”; 1Kor. 9:12; Rm. 15:27) yang digunakan Paulus. Kata tersebut berarti suatu perbuatan untuk pelayanan umum, baik itu yang dilakukan oleh dermawan, pegawai negara, atau imam. Paulus menggunakan kata tersebut dalam kaitannya dengan perbuatan warga yang kaya dengan sukarela memberi bantuan untuk keperluan masyarakat umum di dunia Yunani. Dalam Filipi 2:30 di mana Paulus sendiri menggu­nakan kata tersebut di dalam bantuan uang yang jemaat Filipi usahakan untuk sang rasul. Jika salah satu makna diaplikasikan maka Paulus tidak akan berbicara tentang suatu leitourgia pada dirinya sendiri.

Namun konteks menunjukkan bahwa kata tersebut memiliki makna religius atau kultus. Dalam 1 Korintus 9:12, kata leitourgia dipakai untuk menerangkan ucapan syukur pada Allah. Ini berarti bahwa proyek dana tidak sekedar bantuan untuk orang miskin di Yerusalem, tetapi lebih dari itu, ia akan membuat orang percaya di Yerusalem memuji Allah (2 Kor. 9:11-12). Di ayat sebelumnya Paulus menyebutkan bahwa proyek dana akan menjadi berkat (2Kor. 9:5). Pujian dan ucapan syukur adalah respon terhadap berkat Allah, dan ini berarti proyek dana tersebut berhubungan dengan aktivitas kultus. Paulus menggunakan kata kerja leitourgeô (Rm. 15:27) dalam makna kultus, bahkan di Roma 15:16 Paulus menggunakan kata terse­but untuk membicarakan pelayanannya sebagai pelayan Yesus Kris­tus. Ayat tersebut menggambarkan nuansa ke-imam-an dan pekerjaan kultus di mana Paulus membicarakan pelayanan keimaman­nya da­lam hubungannya dengan Injil. Sekarang jelas bahwa ketika Paulus menggunakan istilah leitourgia dalam proyek dana (2 Kor. 9:12; Rm. 15:27), kata tersebut memiliki makna religius. Dengan demikian, proyek pengumpulan dana memiliki nuansa pelayanan yang suci. Di sini Paulus melihat pelayanan ilahi sebagai bagian integral dari kepedulian terhadap orang miskin. Di dalam Septuginta kata leitourgeô dan kata-kata jadiannya digunakan untuk menggambarkan pelayanan iman dan kaum Lewi di Bait Suci. Kata tersebut menggam­barkan baik fungsi imam dan pelaksanaan ritual (Kel. 28-39; Yeh. 40-46)

Kedua, keseimbangan. Usaha pengumpulan dana Paulus adalah juga masalah keseimbangan. Ketika Paulus mengajak jemaatnya untuk memberikan kontribusi mereka, dia tidak bermaksud memberikan beban finansial bagi si pemberi(2 Kor. 8:13). Pengumpulan dana tersebut bukan untuk menjadi beban tetapi justru untuk menjaga keseimbangan. Keseimbangan antara kelebihan jemaat Yunani dan kekurangan jemaat di Yerusalem. Kata yang digunakan untuk menyebut konsep keseimbangan adalah isotēs, biasanya diterjemahkan dengan ”equality” (”persamaan”).  Kata tersebut cukup populer penggunaannya di bidang retorika, politik, dan moral di dunia Yunani. Aristoteles misalnya mengatakan bahwa isotēs adalah fondasi dari suatu kota atau masyarakat, yang menjadi basis untuk kerukunan dan damai. Sedangkan lawannya adalah pleonexia (”kerakusan”).

Orang Yunani sangat menghormati konsep keseimbangan (isotēs) sebagai sarana untuk menopang kesatuan dan solidaritas negara. Kemudian kata tersebut juga mem­berikan prinsip persahabatan di masyarakat. Sebagai contoh para pengikut Pitagoras mengatakan bahwa persahabatan adalah enarmonios isotēs (”keseimbangan yang harmonis”) dari dua orang. Sedangkan Aristoteles mendefinisikan sahabat yang benar sebagai isos kai homoios (”sama dan setara”). Dapat dimengerti bahwa konsep keseimbangan ini ada di pikiran Paulus ketika dia menyurati jemaat Korintus.

Konsep keseimbangan dirumuskan Paulus sebagai berikut: “…tetapi supaya ada keseimbangan maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan” (2 Kor. 8:13b-14).

Paulus membandingkan ungkapan kasih dalam proyek dana dengan pengorbanan Kristus (2 Kor. 8:9). Partisipasi di dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus menghasilkan persekutuan yang mengasihi dan peduli (Flp. 3:10-11; 2 Kor. 1:5-7). Konsep yang sejajar dengan keseimbangan ini adalah konsep go’el (”penebus”, ”pelindung”) dalam Perjanjian Lama. Penebus dalam menjalankan tugasnya untuk menghadirkan keseimbangan di masyarakat atau keluarga tidak dimotivasi oleh keinginan untuk mendapat balasan tetapi karena dia memiliki rasa tanggungjawab dan solidaritas keluarga yang kuat (Im. 25; Bil. 35:31-34). Orang Israel melihat keluarganya sebagai tempat pertolongan dan perlindungan saat ada ancaman terhadap harta dan kelanjutan nama mereka. Jadi, ada perasaan solidaritas yang kuat di belakang konsep go’el ini. Istilah tersebut juga digunakan pada Allah di mana Allah dilihat sebagai pelindung atau penebus Israel (Yes. 44:24; 47:4; 51:10; 63:16; Kel. 6:6; 15:13).

Sekarang menjadi jelas bahwa konsep keseimbangan (2 Kor. 8:13b-14) tidak mengacu pada pertukaran antara berkat materi de­ngan berkat rohani. Pemikiran dalam teks tersebut berbeda dengan pemikiran di Roma 15:27. Apa yang Paulus inginkan dari konsep keseimbangan ini adalah bahwa Jemaat Korintus dengan kecukupannya dapat menolong kekurangan Jemaat Yerusalem. Ada waktunya nanti bila Jemaat Yerusalem akan berkecukupan dan mereka lalu dapat mengingat kebaikan Jemaat Korintus.

Prinsip keseimbangan merupakan ciri khas dalam memberi pertolongan baik di jemaat-jemaat Paulus maupun orang Kristen. Orang Kristen tidak mengikuti konsep komunisme dan tidak pula me­nerapkan prinsip siapa yang kuat yang bertahan hidup. Menjadi bagian dari keluarga Allah untuk mereka yang berkecukupan sebaiknya berbagi dengan yang berkekurangan sehingga keseimbagan terpelihara. Dalam bahasa yang sederhana: ”Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan” (2 Kor. 8:15).

Di Indonesia kini ada cukup banyak gereja yang mengalami kemiskinan rohani karena kesulitan finansial. Kita perlu peduli terhadap kesulitan mereka. Sebagai tubuh Kristus, satu menderita semua turut menderita. Kita perlu memikirkan dan mengusahakan agar sesama saudara seiman kita juga boleh mendapatkan berbagai sarana yang dapat membantu mereka bertumbuh dalam firman dan berkembang dalam aspek-aspek kehidupan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s