HIDUP YANG BERPAUT KEPADA ALLAH

SERMON EPISTEL MINGGU 1 NOVEMBER 2009

Ep.: Yosua 24 : 14 – 24

1.    Siapakah Yosua? Yosua adalah pemimpin suku Efraim dan menjadi salah seorang dari 12 pengintai yang di pilih Musa untuk mengintai tanah Kanaan (baca Bilangan 13). Sebelumnya Yosua bernama Hosea Bin Nun, tetapi oleh Musa dinamai Yosua. Dalam bahasa Ibrani, Yosua berarti “Allah menyelamatkan” (yehoshua‛ – Jehovah-saved). Dan ternyata benar Yosua adalah salah satu orang yakin bahwa Tuhan akan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian (Bilangan 14:6-8). Dan Yosua sendiri di pilih Tuhan untuk menggantikan Musa. ̂̂

Yosua sanggup menjadi pemimpin karena dia telah dipersiapkan. Persiapan tersebut dimulai dengan menjadi abdi Musa (Bilangan 11:28). Kitab Keluaran, Bilangan, dan Ulangan menguraikan pengalaman Yosua yang mempersiapkan dia menjadi pemimpin bangsa Israel.

Pertama, dalam peperangan melawan orang Amalek di Rafidim, Musa langsung menunjuk Yosua sebagai panglima perang (Keluaran 17:8-16). Mengingat pasukan Mesir merekrut orang asing juga, kemungkinan Yosua pernah menjadi prajurit di sana sebelum saat masih di Tanah Mesir.

Kedua, ketika bertemu Allah di puncak Gunung Sinai, Musa hanya mengajak Yosua (Keluaran 24:13). Walaupun tidak sampai di puncak, Yosua ikut dan menunggu di dekat puncak gunung (Keluaran 32:7-17).

Ketiga, Yosua hadir saat Allah berbicara berhadapan muka dengan Musa (Keluaran 33:11). Pengalaman ini dan berbagai pengalaman menyaksikan keteladanan Musa ikut membentuk kepribadian Yosua.

Keempat, Yosua ikut diutus untuk mengintai tanah Kanaan (Bilangan 13-14). Pengalaman ini membuat Yosua mengenal kondisi Tanah Kanaan dan keadaan penduduknya. Di samping itu, pengalaman ini menantangnya untuk tetap beriman walaupun bertentangan dengan pendapat mayoritas (14:6). Imannya membuat dia bersama Kaleb mendapat anugerah untuk memasuki tanah Kanaan (14:30,38; 26:65; Ulangan 32:11-12).

Kelima, penumpangan tangan atas Yosua mengungkapkan bahwa Yosua-lah calon pemimpin bangsa Israel (Bilangan 27:18-23). Musa harus memberi semangat kepada Yosua (Ulangan 1:38; 3:21-22). Musa mengumumkan bahwa Yosua-lah calon penggantinya dalam memimpin bangsa Israel (Ulangan 31:3,7-8). Secara pribadi, Musa memberi dorongan kepada Yosua (Ulangan 31:23).

2. Kitab Yosua adalah kelanjutan dari lima kitab Musa. Kitab Yosua berisikan kisah-kisah penyerbuan dan penaklukkan Tanah Kanaan oleh umat Israel dan dilanjutkan dengan kisah suku-suku Israel menduduki wilayah masing-masing yang ditentukan oleh Tuhan melalui undian.

Latar belakang. Narasi kitab Yosua menyambung langsung akhir kitab Ulangan (Ul. 31:1-8, 34:9), dengan mengedepankan tokoh Yosua sebagai pengganti Musa. Yosua mendapatkan peneguhan Tuhan dengan janji yang sama yang Tuhan berikan kepada Musa. Juga tentunya dengan perintah yang sama untuk taat, tidak menyimpang dari Taurat Tuhan. Kitab Yosua bisa dibagi tiga bagian besar. Pertama, pasal 1-12, penyerbuan dan penaklukkan Tanah Kanaan. Tuhan menyerahkan seluruh Kanaan kepada Israel. Dalam rencana Allah seluruh Tanah Perjanjian telah menjadi milik Israel. Yang memiliki andil utama hanya Tuhan sebab Israel terkontaminasi dosa Akhan (Yos.7) yang menyembunyikan jarahan yang seharusnya dimusnahkan demi Tuhan. Juga Israel tertipu oleh bangsa Gibeon. Tanpa Tuhan, Israel tidak mungkin menaklukkan Tanah Kanaan. Kedua, pasal 13-22. Setelah Tanah Kanaan ditaklukkan, setiap suku mendapat wilayah masing-masing untuk diduduki. Mereka wajib membersihkan seluruh wilayah itu dari penduduk aslinya. Terlihat jelas benih-benih kegagalan karena banyak suku yang tidak mau berjuang keras untuk membersihkan wilayah mereka dan lebih memilih berkompromi memakai penduduk Kanaan sebagai tenaga rodi. Ketiga, pasal 23-24. Pidato perpisahan Yosua dan upacara pembaruan Perjanjian Sinai menutup kitab Yosua ini dengan menantang umat Israel untuk memilih menyembah Tuhan bukan berpaling pada dewa dewi nenek moyang mereka di Mesopotamia, atau menyembah dewa dewi Kanaan.

Kontribusi teologis. Tuhan menggenapi janji-Nya pada Abraham melalui memberikan Tanah Perjanjian kepada keturunannya, Israel. Dengan kekuatan sendiri, Israel gampang dikalahkan dan diperdaya musuh. Ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan menjadi syarat Israel dipelihara dan diberkati sehingga mereka bisa menikmati Tanah Perjanjian. Ketidaktuntasan mengerjakan perintah Tuhan mengakibatkan kegagalan, dan berkat Tuhan ditarik (Yosua 24:20).

3. Konteks Nas (Yosua 24:1-28). Nas ini adalah bagian akhir dari pidato Yosua yang kaya dengan banyak pelajaran hidup sebagai orang-orang  beriman. Di bagian awal dari pidato Yosua, umat pilihan diajak untuk meyakini kehadiran Allah dalam sejarah hidup bangsa Israel. Kemudian melalui seruan Yosua agar umat beribadah dan hidup takut akan Tuhan, kita diajak untuk merenungkan hubungan yang erat antara tingkat kepercayaan seseorang kepada Tuhan dengan kesediaan orang tersebut untuk takut akan Tuhan dan beribadah kepadaNya, maka di bagian penutup ini kita diajak untuk memiliki komitmen yang berkualitas di hadapan Tuhan dan terus membangunnya sebagai wujud respon kita akan kuasa dan kasih setia Tuhan dalam sepanjang perjalanan hidup kita.

Latar Belakang Kultural. Berangkat dari waktu penulisan dan peredaksional-nya maka dapat dikatakan bahwa kitab ini hadir pada masa bangsa Israel hidup dalam suasana sinkretisme di dalam keagamaan mereka (khususnya pasal 24). Di mana praktek keagamaan mereka telah bercampur dengan penyembahan kepada dewa-dewa bangsa kanaan di kuil yang didirikan oleh Rehabeam di Sikhem, pada saat bangsa Israel mengalami perpecahan, dan Israel bagian Utara diperintah oleh Rehabeam. Sehingga kitab ini seakan mau mengatakan bahwa kehancuran yang dialami oleh Israel Utara dan pembuangan ke Babilonia yang terjadi atas Israel Selatan sebagai akibat hidup keagamaan mereka yang sinkretis. Karena itu TUHAN menuntut kesetiaan mereka di Sikhem sebagai tempat pertama kali Abraham mendirikan mezbah bagi TUHAN setelah dia dipanggil keluar dari tanah Ur. Di Sikhem juga untuk pertama kalinya TUHAN menampakkan diri pada Abraham dan menjanjikan untuk memberikan tanah Kanaan bagi Abraham dan keturunannya.

Latar Belakang Nas. Sebagai bagian dari kesaksian Iman terkemudian, maka bagian nas dari pasal 24 kitab Yosua ini diyakini ditulis pada masa kehancuran akibat penaklukan yang dialami oleh Israel bagian Utara maupun pembuangan ke Babel yang dialami oleh Israel bagian selatan. Karena itu pasal 24 ini menegaskan kembali tentang kemahakuasaan dan kemutlakan TUHAN dalam kehidupan bangsa Israel. Bahwa sepanjang sejarah bangsa Israel, mulai dari nenek moyang mereka, TUHAN-lah yang memelihara kehidupan mereka. karena itu satu hal yang dituntut TUHAN dari mereka adalah KESETIAAN mereka yang mutlak hanya kepada TUHAN. Sikhem sendiri dipilih sebagai tempat untuk menjadi latar belakang nas ini, karena Sikhem merupakan tempat beribadah kuno bangsa Israel yang dimulai oleh nenek moyang mereka yaitu Abraham. Sikhem juga melambangkan sinkretisme agama karena Sikhem dulunya merupakan tempat kuil-kuil penyembahan kepada dewa-dewa bangsa kanaan, namun oleh kemahakuasaan TUHAN lewat perantaraan Abraham, tempat itu menjadi tempat penyembahan hanya bagi TUHAN.

4. Pemahaman Nas (Yosua 24 : 14 – 24).

a. “Takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepadaNya” (ay. 14-15).

Di dunia Timur Tengah Kuno ada tradisi mencantumkan, dalam sebuah naskah perjanjian antar bangsa, alasan mengapa aturan-aturan yang uraikan pada bagian berikut harus ditaati. Biasanya kalimat-kalimat itu bernada negatif seperti misalnya: “Karena dikalahkan dalam peperangan dan menyatakan tahkluk maka ….. akan mentaati aturan-aturan …..”. Namun lain halnya dengan Yosua, Yosua secara “merdeka” memilih keyakinannya sebagaimana Allah telah bertindak kepada bangsa Israel. Yosua memilih untuk tetap melakukan perjanjian Allah dengan umatNya.

Kata “takutlah” adalah peringatan kepada umat Israel sekaligus ajakan untuk mengingat kembali tindakan-tindakan Tuhan yang terkait erat dengan umatNya. Yosua melihat Tuhan begitu jelas di dalam sejarah Israel sehingga ia mampu memberi respons yang sungguh tepat. Yosua memilih untuk tetap beribadah kepada Tuhan bahkan jika seluruh umat Israel memilih meninggalkan Tuhan (14-15).

Di sini Yosua mempersilahkan umat untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri sesudah banyak mengungkap fakta kebaikan Tuhan. Hal itu menunjukkan bahwa Yosua berlaku adil terhadap Tuhan, dan mengasihi umat-Nya. Lalu Yosua menyatakan ketegasannya, bahwa ia dan seisi rumahnya hanya akan beribadah kepada Tuhan. Pasti bukan hanya baru kali ini saja Yosua bersikap tegas, kita ingat ketegasannya ketika melapor sebagai pengintai tanah Kanaan (Bilangan 14:6-9). Seluruh kesaksian hidup Yosua  berdampak positip dan  memberkati segenap umat, sehingga ketika tiba saat yang sangat penting itu, tanpa ragu dan tanpa komando dengan serentak mereka menyatakan tekad bulat mereka untuk mengisi hidup dengan beribadah kepada Tuhan, dan itu adalah pilihan yang utama. Tetap pada pilihan, ketika banyak yang mundur.

b. “Pemimpin yang tegas terhadap pilihannya mempengaruhi yang dipimpinnya” (ay.16-24).

Tanpa ragu bangsa Israel langsung menanggapi pidato Yosua dan seruannya dengan berkata, “Jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain! …” (ay.16). Jika kita ada di antara bangsa Israel pada waktu itu, kita pasti juga akan menjadi salah satu orang yang meneriakkan jawaban tersebut dengan lantang sebagai tanda keyakinan kita akan keputusan atau komitmen yang kita ambil. Namun Yosua ternyata menyikapi berbeda. Ia bukan bertepuk tangan atau memuji apa yang dikatakan umat Israel menanggapi seruannya, tetapi Yosua justru berkata, “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada Tuhan…” (ay.19). Sebuah jawaban yang sepertinya mematahkan semangat dan komitmen bangsa Israel. Tetapi jika membaca sampai ke ayat-ayat berikutnya, kita akan mendapati bahwa bukan seperti itu yang dimaksudkan Yosua. Sama sekali ia tidak bermaksud mengecilkan komitmen bangsanya, sebab Yosua menantang bangsa itu untuk menjadi saksi atas keputusan mereka sendiri, dengan kata lain Yosua mengingatkan bahwa tanggung jawab atas komitmen mereka ada pada diri mereka, bukan pada orang lain. Bukan mengambil keputusan karena mayoritas orang meneriakkan hal yang sama alias asbun (baca: ‘asal bunyi’) atau sekadar ikut-ikutan. Komitmen harus dibuat secara sadar dan mandiri oleh tiap orang, karena pertanggungjawabannya ada pada diri yang bersangkutan. Maka, tidak dapat disangkal bahwa Yosua sebagai pemimpin telah mempengaruhi yang dipimpinnya.

Allah dan setia beribadah kepada-Nya adalah hal penting menurut Yosua. Setia pada Allah adalah penentu keberlangsungan umat. Yosua peka akan kondisi umat Israel yang lemah dalam hal kesetiaan mereka kepada Tuhan. Hal fatal karena ketidaktaatan umat bisa menyebabkan Tuhan memusnahkan umat (19-21). Kepekaan dan kekuatiran Yosua menuntunnya mengambil langkah-langkah kebangunan umat secara konkret. Kesetiaan dan ketetapan hati umat untuk memilih setia beribadah pada Allah (16-18), harus diwujudnyatakan aturannya dalam tindakan dan ketetapan membuang semua ilah lain (22-25).

Selain itu, di ay. 23 Yosua menggunakan dua kata kerja aktif yang berlawanan satu sama lain, yaitu ‘jauhkanlah’ dan ‘condongkanlah’. Hal ini menekankan bahwa tidak cukup hanya sebuah komitmen yang bagus tetapi minim usaha. Perlu ada usaha merealisasikan apa yang menjadi komitmen kita. Apalah arti komitmen jika tidak ada perubahan (bnd. nas Evangelium, Rom.12:2 “…tetapi berubahlah…”) hidup yang dihasilkan olehnya.

5. Hubungan nas dengan nas Evangelium (Roma 12 : 1 -3):

Nas Evangelium Minggu ini adalah Roma 12 :1-3, oleh LAI diberi judul “Persembahan yang benar”. Apa sebab Paulus menuliskan Roma 12 ini? Secara gamblang, Paulus telah mengingatkan bagaimana kegagalan umat pilihan itu untuk setia dan taat kepada Tuhan di pasal 9, 10 dan 11. Maka pasal 12 ini adalah nasihat agar mempersembahkan tubuh berangkat dari perubahan (lih. ay. 2). Kata berubahlah (bhs. Yun, “metamorphouste”) menuntut perubahan dari diri sendiri, dari dalam (renewal bukan reformasi) bukan perubahan karena dari luar dirinya. Kata “metamorphosis” (sebagaimana perubahan dari ulat menjadi kepompong kemudian kupu-kupu) berarti perubahan yang meninggalkan keadaan (tempat) lama (maninggalhon inganan na leleng, ndang mulak be tu inganan parjolo).   

Yosua menuntut perubahan (terutama dalam ay. 23) agar “menjauhkan” diri dari allah asing dan “mencondongkan” hatinya kepada Tuhan juga menjadi panggilan kepada kita saat ini. Apa dasar perubahan itu? Menurut Yosua, karena Allah telah menuntun nenek moyang mereka dari tanah Mesir (Yosua 24:17). Menurut Paulus perubahan itu didasarkan pada kemurahan Allah (Rom.12:1). Iman menuntut perubahan, menuntut pilihan, oleh karena itu pilihlah sekarang! Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s