PEMIMPIN YANG BERPEGANG TEGUH KEPADA FIRMAN TUHAN

KHOTBAH MINGGU 25 OKTOBER 2009

Ev.: Yosua 1 : 6 – 9

Ep.: Yohanes 21 : 20 – 25

Siapakah Yosua?

Sebelum merenungkan nas khotbah Minggu ini, perlu kita mengenal siapakah Yosua. Dia adalah pemimpin suku Efraim dan menjadi salah seorang dari 12 pengintai yang di pilih Musa untuk mengintai tanah Kanaan (baca Bilangan 13). Sebelumnya Yosua bernama Hosea Bin Nun, tetapi oleh Musa dinamai Yosua. Dalam bahasa Ibrani, Yosua berarti “Allah Menyelamatkan” (yehôshûa‛ – Jehovah-saved). Dan ternyata benar Yosua adalah salah satu orang yakin bahwa Tuhan akan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian (Bilangan 14:6-8). Dan Yosua sendiri di pilih Tuhan untuk menggantikan Musa.

Yosua sanggup menjadi pemimpin karena dia telah dipersiapkan. Persiapan tersebut dimulai dengan menjadi abdi Musa (Bilangan 11:28). Kitab Keluaran, Bilangan, dan Ulangan menguraikan pengalaman Yosua yang mempersiapkan dia menjadi pemimpin bangsa Israel.

Pertama, dalam peperangan melawan orang Amalek di Rafidim, Musa langsung menunjuk Yosua sebagai panglima perang (Keluaran 17:8-16). Mengingat pasukan Mesir merekrut orang asing juga, kemungkinan Yosua pernah menjadi prajurit di sana sebelum saat masih di Tanah Mesir.

Kedua, ketika bertemu Allah di puncak Gunung Sinai, Musa hanya mengajak Yosua (Keluaran 24:13). Walaupun tidak sampai di puncak, Yosua ikut dan menunggu di dekat puncak gunung (Keluaran 32:7-17).

Ketiga, Yosua hadir saat Allah berbicara berhadapan muka dengan Musa (Keluaran 33:11). Pengalaman ini dan berbagai pengalaman menyaksikan keteladanan Musa ikut membentuk kepribadian Yosua.

Keempat, Yosua ikut diutus untuk mengintai tanah Kanaan (Bilangan 13-14). Pengalaman ini membuat Yosua mengenal kondisi Tanah Kanaan dan keadaan penduduknya. Di samping itu, pengalaman ini menantangnya untuk tetap beriman walaupun bertentangan dengan pendapat mayoritas (14:6). Imannya membuat dia bersama Kaleb mendapat anugerah untuk memasuki tanah Kanaan (14:30,38; 26:65; Ulangan 32:11-12).

Kelima, penumpangan tangan atas Yosua mengungkapkan bahwa Yosua-lah calon pemimpin bangsa Israel (Bilangan 27:18-23). Musa harus memberi semangat kepada Yosua (Ulangan 1:38; 3:21-22). Musa mengumumkan bahwa Yosualah calon penggantinya dalam memimpin bangsa Israel (Ulangan 31:3,7-8). Secara pribadi, Musa memberi dorongan kepada Yosua (Ulangan 31:23).

Di minggu yang lalu kita telah menyaksikan bagaimana Allah meneguhkan Musa. Kali ini, kita melihat kembali bagaimana Allah juga meneguhkan pemimpin Israel lainnya. Kepemimpinan Musa harus segera digantikan karena ia telah meninggal (Yosua 1:2). Janji Allah kepada nenek moyang Israel untuk membawa Israel ke Tanah Perjanjian harus tetap digenapi. Sungguh, ini suatu tanda bahwa Allah bertindak di dalam sejarah. Ia tetap memimpin umatNya dan tidak membiarkan domba-dombaNya tercerai-berai.

Rencana Allah tidak boleh gagal.

Dalam pengalaman nyata, sering timbul kesan bahwa rencana Allah dalam hidup kita dapat tidak terwujud oleh berbagai rintangan, yang membuat kita putus asa. Itu pula yang mungkin dirasakan Yosua. Pemimpin besar Israel, Musa sudah mati, sementara umat Israel yang sekarang Yosua pimpin, pernah mengalami luka akibat ketidakpercayaan orang tua mereka akan janji dan rencana Allah memberikan Tanah Kanaan sebagai warisan mereka.

Sesungguhnya tidak ada hal apa pun yang bisa menghalangi rencana Allah. Dia yang Maha Kuasa dan berdaulat penuh bisa memakai siapa saja untuk menggenapi rencana-Nya itu. Yosua pun bisa dipakai-Nya. Tentu harus ada kriteria yang dipenuhi Yosua.

Pertama, kepemimpinan Yosua harus berasal dari inisiatif Allah sendiri: Allah yang memiliki rencana, maka Allah pula yang berhak menetapkan siapa dan bagaimana penggenapannya. Tentu yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Yosua perlu penguatan dan penetapan dari Allah? Bangsa Israel sudah mulai ragu akan ketetapan janji Allah. Maka Yosua perlu penguatan (strengthen) atau dorongan semangat (the need for encouragement). Dan penguatan itu tidak berasal dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Itu sebabnya pada ay. 6 dikatakan “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka”. Kata “Kuatkan dan teguhkan hatimu” (bnd. 1:7a, 9) merupakan perintah Allah yang kedua dalam keseluruhan perikop (Yosua 1:1-18). Perintah ini sangat diperlukan seorang panglima pasukan yang akan maju berperang. Dalam LXX (Septuaginta) dapat diterjemahkan dengan, “Bertindaklah jantan seperti layaknya laki-laki”.

Ada beberapa alasan kenapa Yosua memerlukan penguatan dan dorongan semangat, yaitu:

a. Tugas Yosua adalah tugas yang amat besar. Ia memimpin bangsa yang amat besar. Bukan hanya besar dalam jumlah, tetapi juga kaya dengan pelbagai pengalaman besar bersama Tuhan. Bangsa yang juga merupakan keturunan bapa-bapa leluhur (Abraham, Ishak, Yakub).

b. Tugas Yosua adalah tugas yang mulia. Urgensi kebutuhan ‘encouragement’ bagi Yosua makin meningkat sebab ia mengemban tugas yang besar, berat, dan sekaligus mulia. Yosua menerima tugas ini bukan dari manusia (seperti Musa, Harun, atau Firaun), melainkan dari Tuhan Allah sendiri. Jadi tugas itu adalah suatu kehormatan (honor) dan hak istimewa (previlege) karena diberikan langsung kepada Yosua secara personal oleh Allah. Allah pun tidak menunjuk orang lain (misalnya Kaleb) untuk memimpin bersama Yosua. Maka Yosua harus melaksanakan tugas ini dengan seksama, penuh perhatian, dan tidak bisa sembarangan karena ia bertanggungjawab sendiri secara pribadi kepada Allah.

Kalimat “Sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan…” merupakan perintah Allah yang ketiga kepada Yosua. Kanaan dijanjikan oleh Allah di dalam perjanjian dengan Abraham (lih. Kej.15:16-21).

Kedua, Yosua harus merespons panggilan kepemimpinan itu secara konkret dan proaktif: ia harus melangkahkan kaki sejauh wilayah yang Allah berikan kepada Israel. Jadilah kuat dan berani, adalah respon nyata yang harus tampak dalam diri Yosua. Dalam melangkah untuk merebut tanah perjanjian, banyak hal yang pasti akan dihadapi dan kebenarannya adalah untuk merebut tanah perjanjian tersebut bukannya hal yang mudah. Tetapi yang pasti Tuhan menyertainya, “Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5). Tuhan mau kita menjadi kuat dan berani karena Dia yang menyertai dan menuntun kita untuk sampai di tempat yang di janjikanNya. Kuat dan berani lebih mengarah ke respon hati kepada Tuhan dan juga seberapa besar iman kita terhadap janji-janji yang Tuhan berikan. Maka, ingatlah “Faith is keep believing when there is no sign for you to believe. Keep praying when everything seems impossible. Keep hoping until it come true”.

Ketiga, Yosua harus mengembangkan karakter mental baja dalam merespons janji Tuhan ini: pemimpin yang bimbang sama saja tidak percaya kepada Tuhan (lihat penguatan kepada Yosua sampai tiga kali, ay. 6, 7a, 9).

Yosua memiliki alasan kuat untuk merasa takut. Bangsa Ibrani bukanlah bangsa yang mudah dipimpin. Bangsa Israel telah terbukti tidak setia dan suka memberontak. Mereka memiliki kereta tempur dan pasukan berkuda yang terampil. Kota-kota mereka terlindung oleh dinding-dinding yang kuat. Empat puluh tahun sebelumnya, bangsa Israel telah berusaha memasuki Tanah Perjanjian di bawah kepemimpinan Musa. Upaya itu berakhir dengan tangisan, ketakutan, serta kegagalan. Sekarang, setelah empat dekade mengembara di padang gurun, apakah mereka siap berperang dengan pasukan musuh yang berpengalaman itu? Jika Musa saja tidak berhasil, memangnya Yosua bisa lebih baik?

Lalu Allah berbicara kepada Yosua. Jika ia ingin menang, Yosua harus melakukan dua hal. Yang pertama adalah bersikap berani. Ini bukanlah suatu pilihan; ini adalah perintah. Allah tahu bahwa Yosua akan menghadapi situasi yang dapat menakutkannya setengah mati, namun ia tidak perlu takut kepada apapun karena Allah akan menyertainya. Itu adalah masalah iman. Allah memberitahu Yosua untuk benar-benar mempercayai-Nya. Rasa takut akan menjadi tanda bahwa Yosua meragukan Allah, jadi tak ada yang perlu diragukan. Kedua, Allah memperingatkan Yosua agar tetap setia terhadap Kitab Suci. Ini menuntutnya untuk mengetahui Firman Allah dan merenungkannya siang malam. Dengan begini, Yoasa tidak akan terombang-ambing oleh pemikiran manusia, melainkan akan tetap berada di tengah-tengah kehendak Allah. Dengan kata lain, Allah menuntut ketaatan yang sungguh-sungguh. Iman dan ketaatan, inilah dua hal yang Allah tuntut dari Yosua.

Keempat, Yosua harus berpegang penuh pada janji firman Tuhan dan taat total pada perintah-Nya: pemimpin harus kenal dan bergaul dengan firman-Nya dan melakukan firman itu dengan segenap hati (7b-8).

Dalam ay. 8renungkanlah itu siang dan malam”. Kata Ibrani Hàgâ, berarti “mengulang-ulang dengan suara pelan.” LXX memakai kata meletâó, yang menunjukkan tindakan merenungkan sambil bermeditasi dan latihan yang bisa didengar dari para orator. Keberanian, harapan akan kemenangan dan hikmat Yosua yang diperlukan untuk memperoleh keberhasilan tergantung pada perhatian yang terus-menerus serta ketaatan yang keras terhadap hukum yang tertulis itu (tôrã, “perintah, pengajaran”).

Saudara-saudara, situasi dan kesulitan apa pun tidak boleh membuat gereja putus asa karena rencana Allah bagi dan melalui gereja tidak pernah bisa digagalkan! Allah bisa membangkitkan orang-orang berkaliber pemimpin, asal seperti Yosua mereka mau bersandar penuh kepada Allah, taat persis firman-Nya, dan dengan proaktif mengerjakan bagian kepemimpinan yang dipercayakan Allah bagi mereka. Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s