PANGGILAN TUHAN DAN RESPON MANUSIA

KHOTBAH MINGGU 18 OKTOBER 2009

EV.: Keluaran 4 : 10 – 17

EP.: 2 Timotius 4 : 1 – 5

1. Panggilan Musa. Pola kisah dalam Kel 3:1-4:31 menonjolkan kombinasi

a. perutusan bagi pihak yang dipanggil oleh pihak yang lebih tinggi,

b. keberatan pada perutusan tersebut oleh pihak yang dipanggil,

c. penghiburan dan jaminan keberhasilan dari pihak yang lebih tinggi, dan

d. beberapa petunjuk penerimaan dan keberhasilan perutusan itu.

Unsur-unsur ini muncul dengan beberapa variasi. Meski demikian, fokus strukturalnya tetap jelas: seorang tokoh menerima panggilan, dan meskipun ia keberatan, ia menerimanya dengan jaminan dari pihak yang lebih tinggi yang membawa harapan akan keberhasilan perutusan. Pola panggilan macam ini juga muncul dalam Kej 24:1-67; Hak 6:11-24; Yes 6:1-13; Yer 1:1-10.

Musa yang mengasingkan diri di gurun Sinai dipanggil ketika sedang menggembalakan domba. Padang gurun umumnya dilihat sebagai tempat pengujian karena di sanalah seseorang berada dalam kesendirian ditemani oleh binatang-binatang buas. Inilah tempat di mana Allah memanggil orang yang dipilihnya (bnd. Hosea). Musa yang sedang menggembalakan sekawanan domba mencari padang rumput yang lebih hijau dan sampailah ia di Horeb – nama tradisional yang diberikan pada Sinai. Sejauh ini, tidak ada yang istimewa tentang lingkungan ini. Kemudian, Allah menampakkan diri pada Musa dalam wujud api yang menyala-nyala dalam semak belukar (Kej 3:2).

Hampir semua narasi panggilan bertujuan untuk membuktikan bahwa orang tersebut memang dipanggil sebagai utusan Tuhan. Dalam kisah panggilan Musa sendiri, Musa menjadi seorang pemimpin karena ditunjuk oleh Allah. Dengan demikian, jelas bahwa kisah panggilan Musa bertujuan untuk menegaskan bahwa Musa adalah pilihan Allah yang mengemban suatu tugas besar, yaitu memimpin Israel keluar dari Mesir. Dan, sebagai nabi, ia punya otoritas untuk menafsirkan dan menyampaikan firman Allah pada bangsa Israel. Dalam kisah ini, karakter Musa memang dilukiskan dalam warna-warni yang kabur namun tetap menampakkan kualitas dan integritas pribadi yang cocok bagi tugas besar ini. Mari kita lihat warna-warni karakter tersebut:

2. Respon Musa menunjukkan karakter dirinya sendiri.

Musa berkeberatan atas penunjukkannya. Tema protes dari Musa ini akan terus berlanjut. Ketika perutusan Musa makin  menjadi konkret, keberatan Musa makin menjadi lebih picik, sehingga akhirnya Musa dengan terus terang mengatakan pada Allah untuk mengutus orang lain saja (3:13; 4:1,10,13). Jaminan dari Allah mematahkan setiap argumen keberatan Musa.

Dari sudut manusia sendiri, akan ada 4 sikap yang berbeda sehubungan dengan panggilan Allah yang unik dalam hidup mereka:

a. Ada yang merasa yakin dengan panggilan Allah yang kemudian menjadi visi mereka

b. Ada yang sedang bergumul ketika menerima panggilan Allah

c. Ada yang sedang mencari apa sebenarnya yang menjadi kehendak Allah

d. Ada yang tidak terlalu peduli dengan apa yang jadi kehendak Allah, dan memilih untuk hidup bagi dirinya sendiri

Renungan ini dikhususkan kepada sikap yang kedua, ketika ada orang yang sedang bergumul dalam menyikapi panggilan Allah. Mereka mungkin merasa Allah telah menyatakan kehendak-Nya secara khusus bagi mereka, namun sedang mempertimbangkannya. Ada juga yang sedang ingin menguji kehendak Allah tersebut. Dalam renungan ini kita akan melihat bagaimana Musa memberi tanggapan ketika Allah memberi tugas dan panggilan yang spesifik baginya. Tanggapan yang diberikan Musa merupakan cerminan dari banyak orang percaya ketika menerima panggilan Allah.

¤ Berpusat pada diri sendiri

Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (3:11).

Ini adalah jawaban orang yang berpusat pada diri sendiri. Ketika ada panggilan, atau mungkin masalah, maka yang pertama muncul dalam pikiran orang ini adalah siapakah dirinya, tentu lewat perspektif manusia. Kita bisa memaklumi mengapa Musa menjawab seperti itu. Empat puluh tahun yang lalu, ketika Musa masih muda dan masih menjadi seorang pangeran di Mesir, ia sudah mengetahui atau merasakan bahwa panggilannya adalah membebaskan bangsa Israel dari kungkungan Mesir. Dan ia mencoba menerapkan visi tersebut dengan cara membunuh orang Mesir yang melakukan kekerasan, dan mendamaikan dua orang Israel yang sedang berkelahi. Namun karena Musa melakukannya dengan cara dan dalam waktunya sendiri, yang ia dapat hanyalah kegagalan. Musa pergi meninggalkan Mesir, dan menjadi seorang gembala domba, saat Tuhan merasa sudah saatnya Musa berkarya sebagai utusan-Nya membebaskan orang Israel. Persis seperti visi Musa. Namun Musa yang saat ini adalah seseorang yang sudah kalah, dan bertanya “Siapakah aku ini…”.

Ketika seseorang berpusat pada diri sendiri, yang akan ia lakukan adalah bersifat minder ketika melihat apa yang tidak ia miliki. Atau ia juga akan menjadi sombong dan menepuk dada untuk hal-hal yang ia miliki. Ia akan berkata “Lihatlah aku ini…” dengan nada yang congkak karena merasa benar dan memiliki sesuatu untuk ditunjukkan. Namun jawaban Tuhan untuk kedua hal ini adalah:

Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” (Kej 3:12)

Allah justru mengatakan jangan pandang dirimu. Pandanglah Aku, Allah yang akan menyertai kita dan memberikantanda-tandanya. Ini adalah sikap berpusat pada Allah yang Imanuel, hadir di tengah-tengah kita dan bersama kita.

¤ Berpusat pada dukungan manusia

Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Kel 3:13)

Jawaban Musa yang kedua berkata “Siapa yang mengutus aku”, atau siapa yang mendukung aku, siapa yang menjadi backing-ku. Ini adalah kecenderungan orang yang sering diperlihatkan ketika menghadapi tugas, panggilan, masalah dll. Yang sering muncul di pikirannya pertama kali adalah – siapa saja yang akan mendukung diriku. Bagi kita dukungan itu bisa berupa dukungan moral dan finansial dari orang tua (yang mungkin adalah orang yang sukses dan berlimpah materi). Mungkin ada dukungan politik dari keluarga besar yang memiliki jabatan atau status tertentu. Mungkin ada harapan untuk mendapatkan dukungan dari suku tertentu. Yang pasti, jika kita tahu ada orang yang mendukung, maka kepercayaan diri pun meningkat. Namun jika kita tidak memiliki pendukung atau massa tertentu, kita pun akan merasa minder dan cenderung merasa gagal. Inilah yang disebut berpusat pada dukungan manusia.

Bagaimana Tuhan menjawab? Lagi-lagi Tuhan menarik perspektif Musa untuk melihat bahwa yang menjadi pemberi mandat padanya adalah “Akulah Aku” (3:14), yaitu Allah yang hidup dan kekal, yang ada dari awal sampai tak berkesudahan. Ini adalah sikap hidup yang berpusat pada Allah yang hidup dan kekal.

¤ Berpusat pada penerimaan orang

Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Kel 4:1)

Musa memberi alasan bahwa ia takut orang-orang tidak akan menerima dan mempercayainya. Mengalami kegagalan sekali membuat Musa memiliki trauma untuk mencoba lagi. Belum bekerja, ia sudah merasa akan gagal dan ditolak oleh orang-orang. Betapa banyak kita melihat orang-orang, termasuk juga orang yang percaya, yang menjadikan takut ditolak sebagai motivasi dalam hidup ini. Mungkin karena mereka sudah terluka, sama seperti Musa terluka. Namun kemudian ketakutan ini menjadi motivasi terbesar dalam hidup seseorang. Dan kadang orang bisa melakukan apa saja kasih dan penerimaan orang lain. Inilah hidup yang berpusat pada penerimaan orang. Hidup dalam sikap seperti ini sebenarnya mencerminkan ketakutan kita yang terdalam: Apakah kita lebih takut pada manusia, atau kepada Tuhan? Ketika kita takut pada sesuatu yang bukan Allah, kita sedang tidak takut pada Allah. Apa atau siapakah yang paling engkau takuti saat ini?

Bagaimana Tuhan menjawab? Sama seperti sebelumnya, Allah menarik perspektif Musa kepada sifat-Nya. Allah menyuruh Musa menggunakan tongkat dan tangannya, dan melakukan mujizat. Allah bisa menggunakan apapun yang kita miliki untuk kepentingannya. Ini adalah hidup yang berpusat pada Allah bekerja lewat apapun yang kita miliki.

¤ Berpusat pada kelemahan diri

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (Kel 4:10)

Alasan Musa yang keempat adalah bahwa ia tidak pandai bicara. Mungkin karena itulah ia gagal dalam perjuangannya yang pertama, karena ia tidak mampu bernegoisasi dan menjadi mediator yang baik. Namun kegagalan itu juga membuat Musa merasa bahwa ia tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang Allah berikan. Betapa banyak orang percaya yang hidup seperti Musa: memandang kegagalan diri, kelemahan-kelemahan, berfantasi untuk hal-hal yang tidak dimiliki. Ini adalah hidup yang berpusat pada kelemahan diri - dan saya percaya, kelemahan anda dan saya sangatlah banyak. Jelas kita harus membereskan kelemahan ini. Allah sudah menerima kita apa adanya, namun Ia tidak membiarkan kita hidup seadanya. Ia mau kita bertumbuh dalam kekudusan. Namun kelemahan bukan alasan untuk menolak panggilan Allah, karena Ia tahu dan memahami diri kita lebih dari siapapun. Ketika Ia memberi tugas, Ia bisa gunakan kelemahan diri sebagai alat untuk menyatakan kekuatannya. Kekuatan dalam kelemahan – strength in weakness! Bagaimana Allah menjawab Musa – lagi-lagi dan menarik perhatian Musa pada pribadi-Nya. Ia mengatakan bahwa Ialah Allah yang menciptakan dan menghidupkan. Ia adalah Allah yang berkuasa. Ini adalah hidup yang berpusat pada kuasa Allah yang memampukan kita.

¤ Berpusat pada kemauan sendiri

Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” (Kel 4:13)

Dengan begitu banyaknya alasan, yang telah dipatahkan oleh Allah, apa kiranya yang menjadi excuses Musa? Ia serta merta menolak tugas Allah dan meminta agar Allah mengutus orang lain saja. Sebenarnya semua alasan yang diberikan oleh Musa adalah pembenaran untuk ketidakmauannya menaati perintah Allah! Ia menolak panggilan Allah karena ia memiliki kehendaknya sendiri. Sama dengan begitu banyak orang percaya, yang hidup dalam kemauannya sendiri, dan menolak hidup dalam ketaatan kepada Allah. Ini adalah hidup yang berpusat pada kemauan sendiri.

Dan Allah murka. Ia murka karena semua alasan Musa hanyalah pembenaran semata. Ia murka karena dengan menolak panggilan Allah, Musa sebenarnya sedang menolak Allah. Dan Allah menjawab, bahwa ia sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan Musa: saudara, sebagai penyambung lidah, kata-kata yang akan dibagikan, tongkat sebagai alat manifestasi kuasa Allah. Semua sudah dipersiapkan, bahkan sebelum Allah bertemu dengan Musa, karena Allah sudah mempersiapkan Harun sebagai pendamping Musa. Ini adalah hidup yang berpusat pada kehendak Allah, dan bahwa Allah sendiri yang akan menyediakan apa yang kita butuhkan untuk menyelesaikan panggilan-Nya dalam hidup kita.

3. Apa yang kita dapat renungkan dari kisah ini?

a. Alur hidup kita. Iman Kristen mengatakan bahwa dalam setiap setting (alur) hidup, yang menjadi pencipta utama adalah Tuhan dan Ia membawa serta menempatkan orang-orang kepada penggenapan rencanaNya. Demikian juga dengan Musa, di masa ia akan lahir, keadaan bangsanya sangat mengerikan oleh karena Raja Mesir pada saat itu memerintahkan semua bayi laki-laki yang dilahirkan harus dibunuh. Sehingga ibunya menyembunyikan dan akhirnya mengalirkannya di sungai Nil. Hingga suatu ketika putri Firaun melihat dan mengangkatnya sebagai anak, dan alur kehidupan Musa di mulai dengan sesuatu yang baru. Dalam istana tersebut Musa mendapatkan segala kemewahan dan kekuasaan, dan ada masa yang cukup di mana Musa dapat menikmati masa hidupnya. Namun ketika Musa telah dewasa (40 ta­hun), ia menyaksikan saudara-saudaranya mengalami kerja paksa dan akhirnya ia membunuh dan melarikan diri ke tanah Midian. Maka Musa kembali memulai alur hidupnya yang baru, dan di situlah ia bertemu dengan jodohnya, Rehuellah Zipora serta mendapatkan seorang anak yang diberi nama Gersom. Dan selanjutnya, Musa memasuki alur kehidupan yang lebih sempit lagi ketika ia bekerja mengembalakan kambing domba milik mertuanya, sampai ke gunung Horeb, dan akhirnya mendapatkan pengalaman bertemu dengan Tuhan melalui “burning bushes” (semak terbakar yang tidak hangus).

Sepertinya itu merupakan suatu keadaan yang makin lama makin menurun, namun kalau kita memperhatikan itu merupakan langkah awal alur kehidupan musa di mana ia harus benar-benar memberikan tanggung jawab yang lebih serius lagi kepada Tuhan. Satu problem mulai muncul ketika Tuhan berkata, “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umatKu, orang Israel, keluar dari Mesir.” Dan Musa mulai memaparkan lima argumentasinya untuk menolak apa yang diperintah­kan Tuhan kepadanya. Pertemuan dengan Tuhan di tempat semak yang terbakar tetapi tidak hangus ini merupakan satu goncangan hebat yang menggoncang sendi-sendi hidup Musa.

b. Menghadapi goncangan hebat. Kita dapat membayangkan goncangan hebat yang Musa alami karena ia bukan sekedar berpindah dari kehidupan yang mapan kepada hidup yang sederhana tetapi ia juga harus berhadapan dengan berbagai resiko, dan seakan-akan tombak orang mesir berada di hadapannya. Di dalam setiap alur kehidupan, masing-masing kita pasti mempunyai semak terbakar sendiri dan pada saat-saat seperti itu Tuhan mau kita mengerti apa yang diinginkanNya dalam hidup kita. Di gunung Horeb tersebut, Musa dibawa oleh Tuhan untuk mengkaitkan dengan kekekalan. Saya percaya bahwa hidup Kristen kita harus menjadi hidup Kristen yang progresif, makin lama makin maju dan penuh dengan dinamika pengalaman bersama dengan Tuhan. Tuhan memang tidak panggil kita mengerti segala sesuatu, namun bukan berarti Ia tidak menolong kita untuk mengerti hal detail yang terjadi dalam alur hidup kita masing-masing. Allah tidak pernah membiarkan diriNya tanpa kesaksian (dicatat dalam Kisah Para Rasul).

c. Akar persoalan kita. Banyak orang yang tidak mengerti akar permasalahan yang timbul dalam hidup mereka, disebabkan oleh: 1). Lost of identity (kehilangan identitas akan siapa dirinya). Kita sebagai orang percaya harus sadar bahwa kita dipilih oleh Tuhan untuk mengenapi suatu tugas tertentu dalam hidup kita. Dan ini yang kemudian dimengerti oleh Paulus dalam Ef 2:10. Ada banyak bidang yang Tuhan percayakan pada kita, tetapi pernahkah terpikir oleh kita, sebagai saksi Tuhan kita harus berbuat apa di dalam bidang tersebut? Jika saudara tidak pernah berpikir sama sekali akan hal ini, mungkin saudara sudah menikmati kenyamanan dan kemapanan sehingga suatu kali Tuhan harus goncangkan diri kita dan mempertemukan kita dengan “Burning Bushes,” pengalaman yang bersifat pribadi dengan Tuhan. Orang tidak akan melihat setiap masalah yang terjadi di dalam setiap alur hidupnya dengan tepat kalau ia tidak dapat menjawab dua hal ini, yaitu: “Who am I?” (siapa diri saya dalam kaitannya dengan Tuhan), dan kedua, “What’s wrong with this world?” (Ada apa dengan dunia di masa hidup kita ini?)

2). Lack of identity. Kita tidak mengerti mengapa kita berada dalam alur hidup seperti yang kita alami sekarang.

3). Lost of understanding who God is and the power of God. Seringkali kita kehilangan pengertian mengapa berada dalam situasi semacam itu dan terlewat dari tanggung jawab di dalam setiap alur hidup yang Tuhan berikan. Hal itu disebabkan oleh kegagalan kita mengerti siapakah Tuhan dan kuasa seperti apakah yang dimiliki oleh Tuhan. Seringkali kita percaya kepada Tuhan dan percaya bahwa Allah Maha Kuasa tetapi ketika kita masuk di dalam peristiwa hidup di mana kita harus menjadi peran utama di sana, kita tidak siap. Dalam pengalaman Musa selanjutnya, Tuhan sudah membuktikan bahwa kuasa yang bekerja membakar semak yang tidak hangus juga adalah kuasa yang sama pula, yang menyertai Musa sepanjang perjalanan memimpin orang Israel keluar dari tanah Mesir. Allah yang sama yang memanggil saudara kepada pertobatan dengan kuasanya, adalah Allah yang sama pula dengan kuasanya, yang memimpin kita dalam perjalanan hidup iman kita. Rasul Paulus di dalam kitab Efesus mengatakan bahwa kuasa yang membangkitkan Kristus dari kematian, kuasa itu pulalah yang mengerjakan keselamatan di dalam diri saudara dan saya.

d. Hidup yang merespon rencana Tuhan. Kita dapat luput untuk melihat dan menganalisa aspek masalah yang terjadi di dalam setiap alur kehidupan kita oleh karena tidak rela untuk tunduk di dalam kehendak Tuhan. Jikalau kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, kita seringkali mempunyai banyak argumentasi kepada Tuhan di dalam ketidaksiapan kita untuk melangkah di dalam pimpinan Tuhan. Mengapa kita tidak melihat Kristus hadir dengan “burning bushes” dalam diri kita masing-masing? Setiap alur hidup kita semua menuntut pertanggung jawaban kepada Tuhan dan pasti menimbulkan berbagai macam pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur. Bersediakah kita berkata pada Tuhan, “Bawa saya ke dalam pengalaman secret place bersama dengan Tuhan dan tolong saya untuk memberikan respon yang tepat dalam setiap alur hidup yang Tuhan percayakan.” Sebab di sanalah kita dapat menemukan nilai diri kita dengan tepat. Bersediakah kita melakukan hal semacam itu? Tuhan memberkati saudara. Amin.

One response to “PANGGILAN TUHAN DAN RESPON MANUSIA

  1. Yap…Tuhan punya rencana yg Indah namun sering kali kita menolak sehingga terjerembab,jatuh,atau mengalami hal2 yg mengerikan dalam hidup kita bahkan Tuhan mengambil satu2 persatu apapun yg menghalangi cinta kasih kita kepada Tuhan karna Tuhan Allah kita adalah Allah pencemburu.Maka hendaknya kita janganlah pernah menolak panggilan Tuhan atau memakai seribu alasan.Namun KuasaNya beserta kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s