SALING MERENDAHKAN DIRI DAN MELAYANI SEPERTI KRISTUS

KHOTBAH MINGGU 11 OKTOBER 2009

EV.: YOHANES 13 : 12 – 17

EP.: KEJADIAN 39 : 1 – 10

Saudara-saudara, selamat berjumpa kembali. Nas Firman Tuhan hari ini menyapa kita untuk melakukan kehendak Sang Guru, yaitu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, Dia adalah teladan kita. Bila ada Guru, tentu ada murid, ada kurikulum, ada ujian (persyaratan untuk naik ke kelas berikutnya). Semuanya itu adalah bagian yang kita kenal dengan proses belajar mengajar. Nas ini adalah salah satu mata pelajaran dari Sang Guru, Yesus Kristus, bagaimana kita mau saling mengasihi dengan merendahkan diri dan mau saling melayani. Mari kita lihat beberapa hal penting di dalamnya.

1. “Mengertikah kamu….” (ay.12). Kata ini sangatlah penting, kata yang sering diucapkan oleh seorang guru kepada murid-muridnya, “mengertikah kamu”. Kata “mengertikah kamu” adalah pertanyaan setelah melakukan tindakan/pelajaran yang diajarkan kepada murid lalu selanjutnya untuk direfleksikan atau dilakukan. Maka setelah diajarkan, muncullah pertanyaan, “mengertikah kamu”. Apa yang telah diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridNya? Ternyata Yesus memberi mata pelajaran tentang “pembasuhan kaki”. Pembasuhan kaki yang dimaksud sarat dengan makna.

Kaki atau telapak kaki adalah bagian anggota tubuh yang paling bawah dan pada umumnya kotor. Di telapak kaki dan jari kaki terpusatlah aneka jaringan syaraf, maka sering ada penyembuhan orang sakit dengan ‘pijat refleksi’, yang tidak lain adalah memijat jari-jari telapak kaki atau seluruh telapak kaki. Derap-langkah tubuh kita juga tergantung dari kesehatan dan kebugaran kaki/telapak kaki, di atas telapak kaki berdiri seluruh tubuh. Membasuh kaki berarti membersihkan atau menyehatkan, namun tugas membasuh kaki pada umumnya dilakukan oleh para pelayan.

Dalam Yoh. 13:4-5 menyaksikan bagaimana sikap dan tindakan Tuhan Yesus,  “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu“. Pada saat Tuhan Yesus mengalami situasi yang sangat kritis, Dia justru menunjukkan sikap yang merendahkan diri bagaikan seorang budak yang membasuh kaki para tuannya. Dalam hal ini Tuhan Yesus bukan mencuci tangan dari para muridNya, tetapi kaki para muridNya sendiri. Untuk mencapai tujuan itu Dia harus membungkukkan diriNya serendah mungkin, lalu Dia menyeka kaki mereka dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu. Bukankah pada saat kita mengalami kesusahan dan penderitaan, kita lebih sulit untuk peduli dan mengasihi orang lain? Apalagi pada saat kita sedang menderita, sangatlah sulit bagi kita untuk merendahkan diri di hadapan orang lain. Hal ini terjadi karena kita terdorong untuk marah dan kesal kepada orang-orang di sekitar kita. Kita merasa diri kita bernasib sangat buruk dan malang, sedang mereka yang saat itu tidak menderita kita anggap memiliki nasib yang lebih baik atau beruntung. Timbul perasaan bahwa kehidupan ini tidak adil. Kita juga merasa bahwa Allah tidak adil terhadap diri kita. Dalam situasi demikian, tidaklah mungkin bagi kita untuk merendahkan diri dan memberi kepedulian kasih kepada orang lain. Bahkan kita akan lebih cenderung untuk menuntut perhatian dan kepedulian dari orang-orang lain ketika kita sedang menderita. Pada saat kita sedang mengalami kesusahan, kita akan lebih cenderung mengharapkan orang-orang di sekitar kita untuk memberi penghiburan, dukungan, pengertian, dan belas-kasihan. Tetapi ketika mereka tidak peduli, maka kita menjadi lebih marah dengan kehidupan ini.

Dalam tradisi Yahudi yang menjadi pemimpin pesta perjamuan Paskah adalah kepala rumah tangga, dan rasanya sebagai pemimin pesta ia juga tidak pernah melakukan tugas pekerjaan yang kotor dan kasar. Yesus bersama dengan para murid mengadakan pesta Paskah dan yang menjadi pemimpin pesta adalah Yesus sendiri. Sangat menarik dan mengesan bahwa sebagai pemimpin pesta Ia melayani dan memberi teladan dengan mencuci kaki para murid. “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:12-15), demikian sabdaNya kepada para murid, setelah Ia membasuh kaki mereka.

Peristiwa pembasuhan kaki ini memang mengejutkan para murid. Oleh karena itu pembasuhan kaki itu dapat menjadi sia-sia bila artinya tidak dijelaskan oleh Yesus sendiri. Karena itu, Yesus bertanya sejauh mana mereka mengetahui makna perbuatan-Nya itu. Istilah tahu yang dipakai di sini bukan sekadar pemahaman akali. Yesus menginginkan pengetahuan yang diiringi oleh tindakan sesuai dengan pengetahuan tersebut. Penjelasan Yesus dimulai dengan penegasan kembali bahwa diri-Nya adalah Guru dan Tuhan. Karena itulah Ia kembali mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya, “kembali” ke status-Nya semula sebagai Guru dan Tuhan. Ia ingin para murid memahami bahwa dari status-Nya itulah Ia telah merendahkan diri demi memungkinkan mereka beroleh bagian di dalam-Nya. Kini mereka diajar untuk mewujudkan keikutsertaan mereka dalam Tuhan itu dengan jalan mengikuti teladan-Nya, saling mengasihi dan melayani di dalam kerendahan hati.

2. “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (ay.15). Dengan tindakan Tuhan Yesus yang merendahkan diri tersebut sebagai wujud dari kasihNya, Dia juga bermaksud untuk mengajar kepada murid-muridNya ketika Dia kelak tidak lagi bersama-sama dengan mereka. Dalam hal ini Tuhan Yesus mau mengajar kepada para muridNya agar mereka kelak senantiasa saling mengasihi dan saling merendahkan diiri. Itu sebabnya di Yoh. 13:12 Tuhan Yesus berkata: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?” Gelar yang diberikan para murid bahwa Dia adalah Guru dan Tuhan dimaknai secara baru oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini gelar diri  Yesus sebagai Guru dan Tuhan bukanlah suatu gelar untuk menunjukkan suatu kekuasaan duniawi yang dipakai untuk memerintah dan merasa berhak memperoleh perhatian atau pujian dari orang lain.  Tetapi gelar diri Yesus sebagai Guru dan Tuhan dimaknai sebagai suatu gelar untuk mengungkapkan tindakan perendahkan diri yang bersedia untuk melayani orang lain, walaupun yang dilayani ternyata tidak memberi penghargaan sebagaimana yang diharapkan bahkan mereka kemudian justru mengkhianati gurunya.

3. “…Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya…” (ay.16). Dalam bagian ini, Yesus menggunakan frasa “Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu ….” Kalimat sesudah frasa tersebut, di ayat 16, harus diperhatikan dengan cermat. Di situ Yesus membandingkan antara hamba dan tuan, antara utusan dan pengutus. Semestinya para murid sudah mengetahui tentang hierarki dari hubungan-hubungan ini, hamba pasti lebih rendah daripada tuannya. Lalu mengapa Yesus mengatakannya lagi? Konteks di sini adalah mengenai kasih Kristus melalui penderitaan-Nya. Yesus ingin mengatakan bahwa penderitaan yang akan dialami para murid ketika mengasihi tidak akan sebesar penderitaan-Nya. Jadi, tak ada alasan untuk tidak mengasihi. Di dalam mengasihi, para murid akan mengalami kebahagiaan, suatu istilah yang menunjuk pada kebahagiaan meski keadaan sulit (“…berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” ay.17). Kristus akan meninggalkan para murid. Mereka harus belajar untuk mengasihi, itulah misi Kristus ke dunia, mewujudnyatakan kasih.

Sikap dan perilaku melayani ini hendaknya pertama-tama dan terutama dilakukan oleh para pemimpin, atasan atau petinggi di dalam hidup dan kerja bersama. Dengan kata lain hendaknya seorang pemimpin menghayati kepemimpinan partisipatif: memberi contoh atau teladan melayani serta mendengarkan mereka yang harus dilayani atau dipimpin. Pemimpin hendaknya ‘turba’, turun ke bawah, dengan mendatangi mereka yang dipimpin dan seoptimal mungkin bersama dengan mereka, sesuai dengan kesempatan dan kemungkinan yang ada. Hendaknya juga memberi perhatian yang memadai bagi mereka yang miskin dan berkekurangan, entah dalam hal hati, jiwa, akal budi, tubuh atau harta benda. Perhatikan juga para pelayan, petugas kebersihan, satpam dan lain-lain yang sungguh membaktikan hidupnya demi kehidupan dan kerja bersama.

Kita semua dipanggil untuk saling melayani dan membersihkan atau membahagiakan. Maka marilah dengan rendah hati kita saling memperhatikan, kita perhatikan kekurangan dan kelemahan yang ada, bukan untuk disebarluaskan melainkan untuk disembuhkan dan dikuatkan. Apa-apa yang membuat kotor hidup seseorang hendaknya dengan rendah hati dibersihkan.  Agar kita dapat saling melayani dengan baik hendaknya meneladan Yesus, yang melepaskan ‘kebesaranNya’ untuk menjadi sama dengan kita, manusia: sikapi dan perlakukan sesama dan saudara-saudari kita sebagai sahabat. Tentu saja hal ini pertama-tama dan terutama harus dihayati oleh para orangtua/ayah- ibu terhadap anak-anaknya, sedangkan di kantor atau tempat kerja para pemimpin atau atasan hendaknya juga menyikapi anggota atau bawahan sebagai sahabat, dst.

Nas epistel, Kejadian 39:1-10, memberi makna yang sama dengan nas evangelium ini. Lihatlah bagaimana Yusuf bertindak sebagai orang yang diberi kuasa oleh Potifar, seorang pejabat dan pegawai istana di Mesir itu, dengan tidak menyelewengkan kekuasaannya. Kata kunci keberhasilannya adalah “kerendahan hati” dan “hidup yang selalu terarah kepada Tuhan” (theosentris). Itulah teladan dari Yusuf, walaupun menghadapi penderitaan.

Dalam Theology of Suffering musuh utama sesungguhnya bukan orang lain melainkan diri sendiri. Menurut Martin H., seharusnya manusia mampu mengontrol pribadinya. Bukan sebaliknya. Menurut Plato, orang pintar ialah yang rasionya mengontrol perasaan lalu perasaan mengontrol kemauan dan kebebasannya. Bagaimana dengan saudara?

Di jaman modern maupun postmodern, penderitaan tak lebih ringan. Semua orang tak pernah puas akan kebutuhan jasmani dan rohani. Mereka terus mendambakan konsep kebenaran tapi tak mampu menemukannya. Ada 4 tipe orang: pertama, Orang yang penuh hikmat bijaksana berjalan melebihi waktu. Ia selalu siap dan waspada bukan karena kemampuannya melainkan kekuatan Firman. Maka ia berani mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan sesama. Kedua, orang yang biasa saja. Ia hidup dengan waktu dan berjalan sesuai perubahan jaman. Ketiga, orang bodoh berjalan di belakang waktu. Keempat, orang yang paling bodoh tak tahu waktu.

Karena musuh utama kita adalah diri sendiri, maka yang perlu kita kendalikan dan kalahkan adalah keinginan atau kehendak diri sendiri. Agar kita mau keluar dari diri kita untuk memperhatikan orang lain.

Saudara-saudara, nas evangelium ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta hanya dapat dipahami jika aktif. Berbahagialah mereka yang hidup di dalam cinta Ilahi! Amin.

About these ads

2 responses to “SALING MERENDAHKAN DIRI DAN MELAYANI SEPERTI KRISTUS

  1. toto sugiarto

    bagus..sekali ..renungannya..betul..banyak manusia yg egois..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s