PENYERTAAN TUHAN ADALAH KEKUATAN KITA

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU 11 OKTOBER 2009

Ep.: Kejadian 39 : 1 – 10

Memperhatikan kehidupan Yusuf, maka kita kembali diingatkan tentang kisah anak kesayangan. Menjadi anak kesayangan tidaklah selalu menyenangkan. Ada saja beban yang didapatkan sebagai anak kesayangan, mulai dari kecemburuan sampai dengan keinginan untuk membunuhnya. Stigma Yusuf sebagai “anak kesayangan” menjadi salah satu persoalan di tengah-tengah keluarga Yakub, ada yang diistimewakan dan ada yang merasa dipinggirkan. Kenapa? Karena di situ tumbuhlah rasa cemburu, iri hati dan berbagai emosi negatif mewarnai interaksi sesama saudara (lih. Yak.3:16).

Kisah tentang Yusuf yang dicintai ayahnya melebihi anak-anaknya yang lain telah mewarnai sebuah kehidupan umat Israel Perjanjian Lama. Alasan yang disampaikan Yakub (Israel) adalah karena “Yusuf lahir ketika Yakub telah berusia lanjut” (ayat 3). Tanda cinta yang dilambangkan dengan pemberian jubah yang indah telah menimbulkan kecemburuan. Pengistimewaan ini telah menimbulkan keterpecahan dalam keluarga Yakub yang ditandai dengan sikap “pengasingan” terhadap Yusuf melalui tindakan kebencian dan sapaan yang tidak ramah (ayat 4). Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, sikap demikian dinamai “tidak ada syalom”, yang mengindikasikan pada realitas kehilangan tanda damai atau tanda kasih dalam diri saudara-saudara Yusuf. Mengapa hal ini harus muncul dalam diri saudara-saudara Yusuf? Tampaknya kecemburuan telah mengatasi akal sehat mereka sehingga nilai keluarga menjadi luntur.

Tindakan kejahatan menjadi nyata dengan adanya konspirasi bagi yang se-perasaan agar mereka yang terpinggirkan itu dapat “eksis”. Menjauhkan “saingan” dengan bermaksud untuk membunuh, itulah yang muncul dalam konspirasi itu. Itulah akibat buruk dari kecemburuan, dan tentu menjadi peringatan bagi setiap orang, agar benar-benar menjauhkan diri dari rasa kecemburuan, dengki, iri hati.

Namun, kisah itu tidak sampai di situ saja, dari tengah-tengah mereka yang bersaudara itu ada juga yang tidak tega, yaitu Ruben (Kej.37:21) dan perubahan kesepakatan dari membunuh menjadi menjual, sesuai dengan usul Yehuda (lih. Kej.37:26).  Sampailah cerita ini pada tahap di mana Yusuf berada di rumah Potifar, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, yang menebus Yusuf dari tangan orang Ismael.

1. Tuhan menyertai Yusuf (ay. 2). Penyertaan Tuhan dalam diri Yusuf adalah bagian yang sangat penting untuk diperhatikan dan itu mewarnai perjalanan kehidupannya. Kenapa? Karena penyertaan Tuhan inilah yang menjadikan Yusuf dapat berhasil dan mendapat perhatian orang di sekelilingnya. Segala bentuk kekerasan yang telah didapatkan, dibuang dari antara saudara-saudara sebagai orang yang tidak berdaya, bahaya yang mengancam silih berganti dalam kehidupan namun selamat, bukankah itu bukti dari penyertaan Tuhan? Saudara-saudaranya yang tidak menginginkan Yusuf hadir di antara mereka namun di pihak lain Tuhan justru memakainya hadir dan berkarya di tempat asing, jauh dari kebiasaan hidup, jauh dari sanak saudara, jauh dari ‘kemanjaan’ sebagai anak yang disayangi. Tuhan benar-benar hadir dalam kehidupan Yusuf, tidak meninggalkan sang anak yang ‘dibuang’.

Penyertaan dalam kisah ini mendapat penekanan khusus. Konsep “TUHAN yang menyertai atau memberkati Yusuf” muncul berkali-kali (ayat 2, 3, 21, 23). Konsep ini juga muncul di awal dan akhir kisah (inclusio), seakan-akan menyiratkan bahwa penyertaan TUHAN-lah yang berperan penting dari awal sampai akhir (ayat 2, 23). Di akhir cerita secara keseluruhan Yusuf pun mengakui bahwa kedatangan dan keberhasilannya di negara Mesir adalah karena TUHAN yang menyuruh dia ke sana (45:5-8). Walaupun saudara-saudaranya mereka-rekakan yang jahat, tetapi Yusuf mengetahui bahwa TUHAN menggunakan semua itu untuk kebaikannya (50:20).

Penyertaan di atas diungkapkan dalam beberapa cara yang berbeda. Penyertaan TUHAN selalu ada di setiap fase kehidupan Yusuf. Frase “tetapi TUHAN menyertai Yusuf” (ayat 2) menyiratkan bahwa sekalipun Yusuf mengalami perubahan situasi (dari tangan pedagang Midian ke Potifar, ayat 1), namun penyertaan Allah tidak pernah berubah. Frase yang sama persis muncul lagi di ayat 21 ketika Yusuf mengalami perubahan situasi dari rumah Potifar ke penjara. Pengulangan frase pada setiap kali perubahan hidup Yusuf ini jelas menunjukkan bahwa penyertaan TUHAN selalu ada di setiap babak kehidupan Yusuf.

2. Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakan Yusuf (ay. 3-5). Ayat ini nyata sekali menunjukkan dampak dari penyertaan Tuhan dalam ay. 2. Penyertaan Tuhan membawa berkat bagi Yusuf. Pada gilirannya, kehadiran Yusuf “menularkan” berkat bagi tuannya. Di sana jelas dikatakan “TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf” (ay.5). Sekali lagi, ini karena penyertaan Tuhan, kehadiranNya di dalam kehidupan Yusuf.

Penyertaan TUHAN juga dipaparkan sebagai sumber keberhasilan Yusuf (ayat 2-3, 23). Dalam bagian ini ide tentang penyertaan berkali-kali dikaitkan dengan keberhasilan. Ayat 2 “tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya”. Ayat 3 “Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya”. Ayat 23 “TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil”. Penyertaan TUHAN membuat dia menjadi kesukaan Potifar (ayat 4) maupun kepala penjara (ayat 21).

Penyertaan TUHAN bukan hanya mendatangkan kebaikan bagi Yusuf tetapi juga orang di sekeliling dia. Berkat penyertaan TUHAN Yusuf mampu membantu semua pekerjaan dari tuannya (ayat 4, 22-23a). Kehadiran Yusuf bahkan menjadi alasan mengapa TUHAN memberkati tuannya (ayat 5). Di akhir Kitab Kejadian kita selanjutnya mengetahui bahwa Yusuf telah menyelamatkan banyak bangsa dari kelaparan (Kej 41-45). Dengan kata yang lebih sederhana, Yusuf telah menjadi berkat untuk orang lain. Semua ini harus dilihat sebagai penggenapan dari janji Allah kepada Abraham bahwa dia akan menjadi berkat bagi semua bangsa (Kej 12:2b-3). Di tempat lain TUHAN mengingatkan Ishak tentang janji-Nya kepada Abraham dengan ungkapan, “oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat” (Kej 26:4). Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa tema utama Kejadian 39 bukanlah tentang kesuksesan Yusuf tetapi kesetiaan Allah terhadap janji-Nya.

3. Kekudusan hidup Yusuf. Walaupun TUHAN adalah penentu keberhasilan Yusuf, tetapi bukan berarti Allah tidak melibatkan aspek manusia. Kegagalan manusia memang tidak dapat mengubah rencana Allah (Abraham, Ishak dan Yakub beberapa kali gagal), namun Allah tetap menyertakan tindakan manusia dalam realisasi rencana-Nya. Allah tetap memperhitungkan ketaatan umat-Nya. Dalam Kejadian 26:2-4 Allah meneguhkan kembali janji-Nya kepada Ishak dengan alasan “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku” (26:5). Demikian pula dengan kasus keberhasilan Yusuf di Kejadian 39.

Yusuf menunjukkan sikap moral yang tepat ketika menghadapi masalah. Berbeda dengan para pendahulunya yang melakukan kesalahan (kebohongan) untuk mengatasi masalah, Yusuf justru berpegang teguh pada kebenaran. Dia memiliki konsep yang tepat terhadap kekudusan hidup.

Banyak orang mungkin sudah mengetahui bahwa Yusuf menjaga kekudusan hidup, tetapi tidak semua mereka menyadari seperti apa konsep kekudusan yang dipegangnya. Kekudusan hidup Yusuf bersifat teosentris (berpusat pada Allah). Ketika istri Potifar menggoda dia, Yusuf menegaskan bahwa dia tidak memiliki wewenang atas istri tuannya itu (ayat 8-9a). Banyak orang gagal memahami ucapan ini dalam kaitan dengan ayat 4-6a padahal terlihat dengan jelas bahwa ucapan Yusuf di ayat 8-9a merujuk balik pada ayat 4-6a. Jika kaitan ini antara dua bagian ini dipahami, maka kekudusan hidup Yusuf yang teosentris akan terlihat jelas. Penyertaan dan berkat TUHAN telah membuat Yusuf dipercaya Potifar dalam segala sesuatu di rumahnya (ayat 4, 6a). Ketika istri Potifar menawarkan sesuatu yang di luar berkat TUHAN tersebut (ayat 8-9a), maka Yusuf tidak mau mengambilnya. Kekudusan hidup Yusuf didasarkan pada rasa puas terhadap berkat TUHAN. Seandainya semua orang Kristen merasa puas dengan hidup yang sudah diatur Allah baginya, maka mereka akan mampu menghindarkan diri dari banyak dosa, misalnya mencuri (tidak puas dengan harta), selingkuh (tidak puas dengan istri), dsb.

Konsep kekudusan hidup Yusuf yang teosentris juga terlihat dari pernyataannya di ayat 9b “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Pada jaman kuno perselingkuhan antara bawahan dan istri penguasa bukanlah sesuatu yang asing. Dalam beberapa tradisi bahkan dikisahkan bahwa para bawahan pria diharuskan untuk dikebiri (dipotong alat kelaminnya) dengan tujuan menghindari perselingkuhan dengan para istri penguasa. Walaupun hal ini mungkin tampak biasa dari kacamata budaya waktu itu, namun Yusuf tetap memandang ini sebagai kejahatan yang besar.

Lebih jauh Yusuf menyebut hal tersebut sebagai dosa terhadap Allah. Penyebutan nama “Allah” di sini merupakan sesuatu yang penting. Yusuf tidak mengatakan bahwa dia berdosa terhadap istri Potifar atau kepada Potifar. Dia berdosa kepada Allah! Dia tidak mengatakan bahwa dia menyalahi aturan budaya atau norma etika pada waktu itu. Dia berdosa terhadap Allah!

Bagian selanjutnya dari kisah ini menceritakan bagaimana kuatnya godaan yang dihadapi Yusuf dan bagaimana dia tetap menjaga kekudusannya. Pemakaian sebutan “istri tuannya” di bagian awal dari kisah ini (ayat 7-8a) pasti memiliki maksud tertentu, karena di bagian sesudahnya hanya dipakai sebutan “perempuan itu” (ayat 10, 12-13). Yusuf pun menegaskan status perempuan itu sebagai istri tuannya (bdk. ayat 9a). Tekanan dari orang lain yang memiliki wewenang atas kita bukanlah suatu godaan yang mudah. Orang cenderung untuk memenuhi keinginan pimpinan.

Ayat 11a menunjukkan bahwa godaan ini tidak hanya terjadi satu kali saja. Istri Potifar membujuk Yusuf hari demi hari. Berbeda dengan Yehuda yang sekali saja diperdaya Tamar lalu jatuh ke dalam perzinahan, Yusuf tetap konsisten menolak ajakan istri Potifar (ayat 11b).

Dalam Theology of Suffering musuh utama sesungguhnya bukan orang lain melainkan diri sendiri. Menurut Martin H., seharusnya manusia mampu mengontrol pribadinya. Bukan sebaliknya. Menurut Plato, orang pintar ialah yang rasionya mengontrol perasaan lalu perasaan mengontrol kemauan dan kebebasannya. Bagaimana dengan saudara?

Di jaman modern maupun postmodern, penderitaan tak lebih ringan. Semua orang tak pernah puas akan kebutuhan jasmani dan rohani. Mereka terus mendambakan konsep kebenaran tapi tak mampu menemukannya. Ada 4 tipe orang: pertama, Orang yang penuh hikmat bijaksana berjalan melebihi waktu. Ia selalu siap dan waspada bukan karena kemampuannya melainkan kekuatan Firman. Maka ia berani mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan sesama. Kedua, orang yang biasa saja. Ia hidup dengan waktu dan berjalan sesuai perubahan jaman. Ketiga, orang bodoh berjalan di belakang waktu. Keempat, orang yang paling bodoh tak tahu waktu.

4. Mari kita lihat beberapa hal penting dalam nas ini:

a. Iman tidak mungkin dapat dimanipulasi. Di dalam seluruh prinsip Alkitab, kita melihat bahwa iman orang Kristen seharusnya menjadi satu iman yang terus-menerus mempunyai dinamika di dalam usaha mengerti bagaimana rencana dan kehendak Tuhan digenapi di dalam dirinya. Waspadalah jika kita merasa bahwa iman kita baik-baik saja karena mungkin sekali itu merupakan satu tanda bahwa hidup iman kita sedang berjalan sangat lambat. Karena sebenarnya ketika seseorang mulai percaya maka hidup imannya tidak mungkin berhenti sebab Tuhan sedang menggarap suatu pekerjaan dalam diri orang tersebut (manakah yang menjadi kehendakNya, dsb.), sehingga orang tersebut dapat memahami jalan Tuhan. Kita tidak secara langsung dapat mengerti rencana dan pimpinan Tuhan tetapi secara bertahap Ia terus-menerus mengerjakannya di dalam hidup kita. Tuhan selalu sibuk dengan orang-orang yang menjadi umat tebusanNya karena Ia mau pengenapan rencanaNya sehingga mereka dapat menjadi umat yang serupa dengan diriNya.

b. Iman yang sejati tidak dapat diukur dengan kelas-kelas tertentu. Yusuf tidak pernah berpikir bahwa hidup imannya akan menjadi catatan dalam Alkitab, tetapi satu hal yang ia lihat adalah bahwa Tuhan mengijinkan catatan itu ada supaya kita boleh belajar darinya. Bagaimana dengan hidup iman kita? Iman bukan diukur dari hasil yang spektakuler yang terjadi tetapi dari seberapa berani orang melangkah, melihat bahwa janji Tuhan itu benar maka di sanalah kita melihat pengalaman hidup iman itu menjadi suatu hal yang riil terjadi. Iman yang sejati adalah iman yang bergantung sepenuhnya pada janji Tuhan di dalam firmanNya.

c. Dinamika iman yang sejati adalah dinamika iman yang mengenapkan rencana Allah dalam hidup kita masing-masing. Dimulai dari seorang anak yang dijual menjadi budak dan selanjutnya diangkat menjadi tuan atas seluruh rumah Potifar. Selanjutnya, karena ia tetap memilih mempertahankan kekudusannya maka ia harus membayar mahal dengan masuk dalam penjara. Mungkin banyak dari kita yang merasa sulit menangkap apa yang menjadi rencana Allah dalam diri kita sehingga kita lebih cepat protes terhadap Tuhan, namun sebelum kita marah, sebaiknya kita diam dan bertanya dalam hati kita, apakah kita layak marah karena tidak mengerti janji Tuhan. Rencana Tuhan tidak selalu membawa kita pada suasana yang bersinar terang dan harum semerbak bak bunga di padang. Tetapi rencana Tuhan terhadap Yusuf justru awan kelabu dan lembah bayang-bayang maut. Itulah sebabnya dalam 1 Petrus dikatakan bahwa apabila kita harus berdukacita oleh berbagai pencobaan, itu semua adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita (1 Petrus 1:6-7). Jikalau orang menolak hak menderita bagi Tuhan maka ia sedang menghina rencana Tuhan dalam hidupnya dan ia menggagalkan satu berkat besar yang mungkin terjadi dalam hidupnya, yaitu bagaimana melihat kekuatan Tuhan di dalam hidup orang itu. Amin.

3 responses to “PENYERTAAN TUHAN ADALAH KEKUATAN KITA

  1. Puji Tuhan Jesus ! hormat ,kemulian hanya bagi-Nya.Saya merasa di berkati membaca bahan sermon Epistel,yg diambil dari Nats Alkitab PL Kej:39 :1-10 renungan kedalaman hati dari Bpk gembala Tumpal H.S.
    -dari renungan dan rema pembahasan nats diatas,dpt kami tambahkan-Iman yg begitu tangguh dan kokoh yang dimiliki oleh Yusuf bin Jakub ini dimotifasi oleh rasa “Takut akan Tuhan”,yang menjadi pengontrol dan pengikat erat hubungan Ia dan Tuhan Israel, pastilah Yusuf tidak tahu sebelumnya ,yang akan Tuhan jawab terhadap Iman yang dimilikinya ,cukup mengimani dgn sepenuh hati dan ketaatan yg tinggi,perkara Tuhan mau merespons atau langsung memberikan jawaban, bagi Yusup hal ini bukan menjadi urusannya, cukup Lakukan yang terbaik! ,jaga keKUDUSAN!,Hormati TUHAN!,sudah ini lah bagian manusia-selebihnya itu urusan TUHAN-sangat Kontradiksi dengan kebanyakan Iman yang dimiliki oleh Orang-orang yang telah mengimani Jesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya- Kalau sudah ber Iman ,banyak berdoa, banyak baca Alkitab, dengan ini,sudah merasa memiliki klaim,akan Jawaban Tuhan akan permasalahan dalam hidupnya,dan malah ada yang berani bertanya Tuhan kok, belum KAU jawah Pinta dan permohonan dalam doa ku?.bahkan ada yang Imannya menjadi surut,dan berdoa pun semakin Jarang ,demikian juga intens membaca Aliokitab dan Renungan harian menjadi sangat berkurang bahkan perlahanp-lahan melupakannya- sangat tragis memang-Hari ini membaca Rema pembahasan Kej 39:1-10 ini sangat pas dengan kondisi keIMANAN yang dimiliki oleh kebanyakan orang-orang kristen dewasa ini,mari kita contoh Nabi Yusuf bin Yakup.yang akan menyaksikan jawaban jawaban yang pasti dan dahsyat dari Tuhan kita yang luar biasa itu..terima kasih -syalom-Tuhan Jesus memberkati-amen

  2. Puji Tuhan Jesus ! hormat ,kemulian hanya bagi-Nya.Saya merasa di berkati membaca bahan sermon Epistel,yg diambil dari Nats Alkitab PL Kej:39 :1-10 renungan kedalaman hati dari Bpk gembala Tumpal H.S.
    -dari renungan dan rema pembahasan nats diatas,dpt kami tambahkan-Iman yg begitu tangguh dan kokoh yang dimiliki oleh Yusuf bin Jakub ini dimotifasi oleh rasa “Takut akan Tuhan”,yang menjadi pengontrol dan pengikat erat hubungan Ia dan Tuhan Israel, pastilah Yusuf tidak tahu sebelumnya ,yang akan Tuhan jawab terhadap Iman yang dimilikinya ,cukup mengimani dgn sepenuh hati dan ketaatan yg tinggi,perkara Tuhan mau merespons atau langsung memberikan jawaban, bagi Yusup hal ini bukan menjadi urusannya, cukup Lakukan yang terbaik! ,jaga keKUDUSAN!,Hormati TUHAN!,sudah ini lah bagian manusia-selebihnya itu urusan TUHAN-sangat Kontradiksi dengan kebanyakan Iman yang dimiliki oleh Orang-orang yang telah mengimani Jesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya- Kalau sudah ber Iman ,banyak berdoa, banyak baca Alkitab, dengan ini,sudah merasa memiliki klaim,akan Jawaban Tuhan akan permasalahan dalam hidupnya,dan malah ada yang berani bertanya Tuhan kok, belum KAU jawah Pinta dan permohonan dalam doa ku?.bahkan ada yang Imannya menjadi surut,dan berdoa pun semakin Jarang ,demikian juga intens membaca Alikitab dan Renungan harian menjadi sangat berkurang bahkan perlahan-lahan melupakannya( Tuhan Jesus di Imaninya bukan untuk melepaskan kita dari beban Dosa tetapi berubah menjadi Melepaska dirinya dari beban Permasalahan( Utang piutang,masalah keuangan,kesehatan ,kekeluargaan dll,sbgnya)- sangat tragis memang-Hari ini kita umat Tuhan, membaca Rema dgn pembahasan Kej 39:1-10 ini sangat pas dengan kondisi keIMANAN yang dimiliki oleh kebanyakan orang-orang kristen dewasa ini,mari kita contoh Nabi Yusuf bin Yakup.pastilah kita kan menyaksikan jawaban jawaban yang pasti dan dahsyat dari Tuhan kita yang luar biasa itu..terima kasih -syalom-Tuhan Jesus memberkati-amen

  3. good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s