TUHAN SATU-SATUNYA SUMBER SUKACITA KITA

KHOTBAH MINGGU 4 OKTOBER 2009

EV.: MAZMUR 28 : 6 – 9

EP.: YESAYA 46 : 3 – 4

1. HKBP patut bersyukur pada Minggu ini mengingat Ulang Tahun kelahiran yang ke-148 tahun. 148 tahun adalah umur yang panjang dan patut disyukuri. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa sebagai Gereja yang dinamis dalam gerak pelayanannya, HKBP mempunyai persoalan, tantangan dan ancaman. Namun sungguh luar biasa pemeliharaan dan penyertaan Tuhan untuk HKBP. Itulah dasar bagi kita untuk mengenal perbuatan tangan Tuhan yang setia senantiasa bersama-sama dengan HKBP.

Tepatnya, tanggal 7 Oktober 1861, berawal dari empat orang Pendeta yang diutus RMG (suatu badan zending di Jerman) berkumpul di Sipirok untuk berbagi tugas pelayanan di Tapanuli. Mereka adalah Pdt. Heine, Pdt. Klammer Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt. Pembagian tugas pelayanan itu, ditetapkan HKBP sebagai hari kelahirannya.

Yang menjadi pertanyaan pada saat ini adalah bagaimana HKBP melihat pelayanannya ke depan, menuntun dan membimbing warga jemaat semakin mampu memahami iman percayanya kepada Tuhan. Itu tidak terlepas dari tantangan zaman ini, yang sering disebut dengan zaman postmodernisme. Kita tahu dengan jelas bahwa ciri kehidupan postmodernisme yang menyukai hidup dalam lingkaran materialistik, hedonisme dan cenderung sinkritisme bahkan kecintaan anak-anak muda dengan kehidupan okultisme baru. Apalagi ditambah dengan zaman baru itu ditandai dengan semakin maraknya orang yang mencoba untuk menggali ‘energi’ yang terdapat dalam diri manusia, yang menjadikan manusia sebagai pusat (‘man centered’) bukan lagi Tuhan, misalnya adanya kegiatan-kegiatan menambah energi positif agar terbentuk aura yang positif, berpikir positif dan lain-lain. Singkatnya, HKBP perlu mengevaluasi diri sebagai Gereja yang dinamis untuk meningkatkan kekuatan dalam menjalankan misinya di dalam dunia ini.

2. Apa pesan yang dapat kita tangkap dari nas khotbah Minggu ini (Mazmur 28:6-9)? Mari kita lihat bersama:

a. Ketika Allah nampaknya tak peduli. Pernahkah saudara merasakan doa saudara nampaknya membentur dinding baja atau sepertinya hanya mendarat di surga yang bisu? Allah nampaknya tidak peduli lagi dan membiarkan kita bergelut sendiri dengan persoalan yang semakin membelit. Keadaan demikian membuat kita berada dalam kegelapan, putus asa, dan tidak tahu lagi arah kehidupan.

Dalam Mazmur 28 ini, doa Daud itu ditujukan kepada Allah karena adanya musuh-musuh yang memasang jerat/perangkap terhadap pemazmur (bnd.140:6); mereka mengancamnya seperti binatang-binatang buas (17:11-12); mereka menyerangnya bagaikan prajurit-prajurit (7:13-14). Sifat mereka adalah menghina dan mengolok-olok (mis.42:11). Mereka bersukacita dan bersorak-sorak karena kecelakaan sang penderita (22:18; 35:21). Demikian juga doa dan permohonan umat percaya, kiranya jangan Tuhan berdiam diri, tidak mendengar, jangan bisu, tidak menyahut permintaanku (kata kerja Ibrani kharasy). Jika Tuhan membisu atau tinggal diam, tidak menjawab dan tidak bertindak (bnd. Yes. 62:1, 6; 64:12), tidak ada lagi harapan; kita menjadi seorang yang turun dalam liang kubur (Mzm. 30:4; 88:5, 7; 143:7; Ams. 1:12; 28:27).

Pengalaman seperti di atas nampaknya bukan merupakan pengalaman yang mengejutkan bagi seorang kristen sebab Daud sendiri sebagai salah seorang yang sangat dikasihi Allah mengalaminya juga. Allah membisu terhadapnya dan nampaknya akan tetap membisu (lih. ay. 1). Bahkan Allah seakan-akan membiarkan dirinya diseret bersama-sama dengan orang fasik (ay.3). Apakah akibatnya bila hal seperti ini dibiarkan berlarut-larut? Kemungkinan akan terjadi keputusasaan sebagaimana umat Yehuda yang patah semangat di pembuangan Babel, berteriak tetapi sepertinya Tuhan tidak mendengar.

Itu sebabnya Yesaya dipanggil pada masa pembuangan di Babel untuk menghiburkan bangsa Israel dan untuk memberitakan bahwa Allah akan menyelamatkan umatNya. Namun umat-Nya telah patah semangat. Mereka telah putus asa di perbudakan/pembuangan Babel. Ada semacam keputusasaan kolektif yang memenjarakan harapan mereka untuk bisa kembali lagi ke Yerusalem. Karena itu TUHAN mengutus nabi-Nya membesarkan hati umat-Nya. Yesaya menubuatkan bahwa bangsa itu akan kembali ke tanah air mereka. Kembali ke Yerusalem. Perhambaan sudah berakhir (40:1). Itu digambarkan dengan penggambaran seolah-olah akan ada kisah keluaran/exodus yang baru (43:16-21). Tetapi apa respons mereka? Mereka sama sekali tidak bergeming dan tidak percaya atas apa yang telah disampaikannya.

Allah adalah Yang Maha Kuasa, khalik langit dan bumi, dan Allah seluruh bumi. Karena itu Dia berkuasa untuk memakai bangsa-bangsa lain sebagai alatNya untuk menghukum bangsa Israel. Tetapi Dia juga berkuasa untuk melepaskan bangsaNya dari pembuangan itu. Yesaya telah melihat dengan jelas bahwa kerajaan Babel makin hari makin lemah dan kerajaan Persia, di bawah pemerintahan raja Koresy, tumbuh menjadi suatu kekuatan baru dan merupakan ancaman yang besar bagi Babel.

Oleh sebab itu Yesaya menubuatkan jatuhnya Babel dan kelepasan bagi bangsa Israel oleh raja Koresy. Dan memang hal ini ternyata benar, sebab sesudah jatuhnya Babel ke tangan Persia, Koresy mengijinkan bangsa Israel pulang kembali ke Yehuda. Tetapi orang Israel sendiri tidak mau mempercayai nubuat-nubuat Yesaya, sehingga dia terpaksa berdebat dengan mereka.

Inilah bagian dari perenungan kita minggu ini. Adakalanya kita merasa seperti ditinggalkan, namun sebenarnya tidak. Mungkin kita merasa bahwa Tuhan tidak akan mampu melepaskan kita dari persoalan kehidupan, namun sebenarnya itu menunjukkan bahwa kita sama sekali kurang percaya kepada Firman-Nya. Maka, renungkanlah, apakah kita dalam kondisi menyangsikan kekuatan dan kemampuan Tuhan?

b. Tidak ada pertolongan selain dari Tuhan saja. Bagaimana Daud menghadapi situasi seperti ini? Apakah ia berpaling kepada allah lain? Tidak! Ia tetap berharap kepada Allah, bahkan ia menegaskannya dengan mengatakan ‘KepadaMu, ya Tuhan aku berseru’. Ia tetap yakin bahwa tidak ada lagi pertolongan selain dari Allah sebab hidup tanpa penyertaan Allah dan berinteraksi dengan-Nya sama dengan menuju kehancuran (ay. 1). Keyakinannya yang teguh terus mendorong dia untuk tetap memohon kepada Allah untuk mendengar dan menjawab doanya (ay. 2-3). Keyakinannya itu juga bukan hanya pengetahuan saja namun keyakinan yang dimanifestasikan dalam permohonannya agar Allah mau terlibat langsung dalam persoalan yang sedang terjadi (ay. 4-5). Permohonannya ini jangan dibaca sebagai usahanya untuk membalas dendam namun harus dibaca sebagai kepeduliaannya terhadap keadilan di dunia dan terlebih lagi terhadap Nama Allah di dunia. Dia tidak rela jika dunia melihat bahwa kehidupan orang yang mengikut Allah dan yang tidak ternyata sama.

Sebagaimana juga nabi Yesaya menyerukan kepada umat Yehuda agar tetap yakin dan percaya bahwa keadilan dan keselamatan yang sejati hanya bersumber dari Tuhan. Mereka diminta untuk “mendengarkan” (ay.3, “dengarkanlah aku”, lih. juga ay.12), mengingat hal-hal yang dahulu (ay.9).  Sebagaimana keadilan dan keselamatan dijanjikan kepada orang-orang yang terluput dari antara bangsa-bangsa, demikian juga keadilan dan keselamatan dijanjikan kepada orang-orang yang tersisa dari keturunan Israel. Dalam hal ini, Yesaya mengingatkan mereka dalam dua hal, yaitu:

- Allah vs berhala (Yes.46:3). Berhala-berhala kafir tidak berdaya sama sekali jika dibandingkan dengan kemahakuasaan TUHAN. Dewa Bel (nama Baal dalam bahasa Babel), yaitu dewa atau allah yang dipercayai berkuasa di langit, yang lebih rendah dan di daratan kering, allah pelindung Babel. Namanya muncul pada nama Belsyazar, yang artinya Bel, melindungi raja! Nebo. Cucu laki-laki Bel (anak laki-laki Marduk), dewa tulisan dan pendidikan. Namanya muncul dalam nama Nebukadnezar, artinya Nebo, melindungi perbatasan! Patung-patung yang tak berdaya dari dewa-dewa ini harus dikemas seperti barang di atas binatang pengangkut para pengungsi Kasdim ketika mereka lari dari hadapan orang-orang Persia yang menyerang. Orang-orang kafir itu harus mengangkut allah-allah mereka, tetapi TUHAN menggendong dan memelihara umat-Nya (ay. 3, 4) sejak masa kanak-kanak mereka sebagai bangsa, dan telah memelihara mereka sampai penghujung perjalanan hidup mereka sebagai sebuah bangsa. Bagi Israel, Tuhan disamakan dengan seorang bapa, yang menanggung anaknya dari saat kelahirannya (lih. Mzm. 22:10-11).

Yesaya menyatakan ayat ini dalam rangka mengingatkan bangsa Israel akan ke-Mahakuasa-an Allah melebihi dewa-dewa yang dapat dipindah-pindahkan itu dan juga buatan manusia. Itu sebabnya, Yesaya mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan mengatakan “dengarkanlah aku, hai kaum keturunan Yakub” (ay.3). Kata “dengarkanlah” ada seruan untuk mengingatkan kembali akan kuasa Allah yang lebih kuat daripada dewa-dewa Babel.

Berbagai usaha dilakukan manusia: membuat patung sembahan, menempatkan patung tersebut pada posisi allah, merelakan emas dan perak sebagai bahan pembuatan patung, mengupah tukang emas untuk membuatnya, bahkan menyembah dan sujud kepadanya. Manusia menyembah dan menghargai patung itu lebih tinggi daripada dirinya. Mereka berseru namun tidak dijawab, mereka berteriak minta tolong, namun tak diselamatkan, sebaliknya mereka menyaksikan kehancuran patung-patung buatan; bahkan mereka sendiri harus pergi sebagai tawanan. Harapan manusia kandas, karena tak sedikit pun terkabulkan. Berharap pada benda mati buatan manusia akan sia-sia dan dipermalukan.

- Penyelamat Kekal yang sejati (Yes.46:4). Dia tidak diciptakan oleh siapa pun, tetapi Dialah Pencipta segala sesuatu; kuasa yang dimiliki-Nya tidak berasal dari siapa pun, tetapi Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu; Dia tidak diatur oleh siapa pun, tetapi Dialah Pengatur segala sesuatu; Dia tidak akan pernah digagalkan oleh siapa pun, karena Dialah yang memiliki kuasa untuk menggagalkan dan membinasakan pembuat kejahatan. Dia akan menggendong, menanggung, memikul dan menyelamatkan orang yang setia pada-Nya sampai masa tuanya.

Yesaya menyaksikan bahwa TUHAN berkuasa menyelamatkan umat-Nya. Bahkan Yesaya atas nama-Nya memproklamirkan bahwa hukuman sudah berakhir. Namun sang nabi memerlukan bukti-bukti untuk mendukung kesaksiannya. Bukti-bukti tersebut digali dari pengalaman masa lalu. Formulanya adalah “kalau dulu Dia sanggup membebaskan umat-Nya, maka sekarang dan pada masa depan Ia tetap sanggup menyelamatkan umat-Nya” (40:25-26; 43:1,7; 43:16-17).

c. Ratapan dan teriakan minta tolong Daud berubah menjadi pujian dan sukacita (6-9). Tidak ada penjelasan yang pasti mengapa Allah nampaknya membisu dan membiarkannya. Mungkin Daud tidak perlu tahu atau tidak boleh tahu, namun yang jelas Daud tahu dan perlu tahu bahwa hal itu tidak untuk selamanya. Allah pasti akan menolongnya.

“Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku” (ay.6). Dalam nas ini, kita seakan diberi kesan bahwa pemazmur memuji Tuhan karena permohonannya telah didengarkan. Namun bukan demikian sebenarnya, permohonannya didengarkan karena ia telah sungguh-sungguh mengenal dan mempercayai siapa Tuhan; Penolong satu-satunya yang dapat diandalkan di dalam kehidupannya. Itu sebabnya, Daud bersaksi dan berkata, “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya” (ay. 7).

d. Pengenalan yang benar tentang siapa Tuhan. Pengenalan yang benar tentang siapa Tuhan adalah tugas utama setiap orang percaya. Hal itu akan menolong orang percaya bagaimana dia menghadapi dan mengatasi setiap tantangan dan ancaman serta masalah-masalah yang menimpa. Itu juga akan menempatkan setiap orang percaya pada sikap memuji Allah. Itu membuktikan sikap hidup yang mempercayai dan mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu yang dihadapinya.

3. Pada Minggu HKBP merayakan PARNINGOTAN HATUTUBU NI HKBP, sesuai dengan catatan sejarah yang sangat penting bahwa pada tanggal 7 Oktober 2009 akan memperingati hari jadinya yang ke-148 tahun. Dalam perjalanan waktu 148 tahun, tidak dapat dipungkiri bahwa HKBP menghadapi banyak tantangan, ancaman dan masalah-masalah sebagai gereja Tuhan di dunia ini. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana HKBP mengatasi berbagai tantangan, ancaman dan masalah-masalah itu? Apakah kepercayaan kepada Allah menjadi Penolong satu-satunya dan ketaatan hanya kepada Allah tetap dipegang erat? Pertanyaan ini ditujukan kepada HKBP (sebagai institusi dan perorangan) untuk menjadi perenungan dan berangkat menjadi kesaksian sebagai wujud nyata dari ucapan syukur. Itu sebabnya, kita juga perlu memahami nas Khotbah Minggu ini, Mzm. 28:6-9, sebagai Mazmur permohonan kepada Tuhan. Ciri khas dari permohonan dalam Mazmur ini adalah perubahan. Perubahan yang diharapkan adalah bagaimana kita mengenal perbuatan tangan Tuhan, “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya” (Mzm.28:7). Pengenalan yang benar tentang siapa Allah hendaknya menjadi tugas utama bagi setiap orang percaya. Pengenalan yang benar tentang siapa Allah akan menolong orang percaya dalam menghadapi dan mengatasi setiap tantangan dan ancaman serta masalah-masalah yang dihadapi. Pengenalan yang benar tentang siapa Allah akan menempatkan setiap orang percaya pada sikap memuji Allah dengan segenap hati dan segenap kekuatan dan di dalam segala situasi dan kondisi.

Pengenalan yang benar tentang Allah juga menempatkan pemazmur (HKBP) dalam sikap hidup yang senantiasa bersukacita dan bersyukur, selalu mengandalkan Tuhan.

Maka tepatlah tema Minggu ini, sesuai dengan Almanak HKBP, dengan satu kesaksian “Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar” (Kis.26:22a).

4. Hari Minggu, 4 Oktober 2009 adalah juga bagian dari sukacita kita, HKBP Jl. Letjend. Suprapto, untuk menyelenggarakan Tahun Diakonia, sebagaimana telah ditetapkan HKBP. Kegiatan yang berangkat dari iman percaya dan pengenalan yang benar akan perbuatan tangan Tuhan, memicu dan memacu kita untuk solider kepada saudara-saudara sekitar kita. Ada tiga momen penting dalam kegiatan ini, yaitu: pelaksanaan Tahun Diakonia HKBP, Ulang Tahun HKBP Jl. Letjend. Suprapto yang ke-48, dan persiapan Natal. Baiklah itu semuanya dibungkus dalam satu poin, bahwa jemaat HKBP Jl. Letjend. Suprapto berusaha untuk mengenal Tuhan secara benar sehingga memotivasi semua elemen/unsur jemaat untuk bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan. Diakonia (ulaon parasinirohaon) adalah salah satu dari tiga tugas panggilan Gereja. Itu adalah panggilan bagi kita semua. Selamat ber-diakoni. Tuhan memberkati. Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s