TUHANLAH YANG MENYELAMATKAN

SERMON EPISTEL

MINGGU 4 OKTOBER 2009

EP.: YESAYA 46 : 3 – 4

1. Kitab Yesaya terbagi atas tiga bagian, yaitu:

a. Pasal 1 – 39             : proto Yesaya

b. Pasal 40 – 55         : deutro Yesaya

c. Pasal 56 – 66          : trito Yesaya

Nas epistel ini, tentu, adalah bagian dari deutro Yesaya. Yesaya (deutro) hidup pada masa pembuangan di Babel kira-kira tahun 540 seb.M. Siapakah orang-orang buangan itu? Menurut suatu catatan pada penutup kitab Yeremia (52:28-30), 4.600 orang Yehuda dibawa ke Babel dalam tiga gelombang antara tahun 598 dan 582 seb.M. Mungkin hanya kaum pria yang terhitung dalam angka itu, sehingga jumlah jiwa seluruhnya mencapai 15 sampai 20 ribu orang, mengingat bahwa anggota-anggota keluarga ikut dipindahkan. Orang-orang buangan ini berasal dari golongan atas di Yerusalem dan negeri-negeri sekitarnya dan terdiri atas kaum bangsawan, imam dan pegawai tinggi, ditambah dengan beberapa ratus ahli dan tukang serta tuan-tuan tanah di daerah sekitar kota. Mereka dibolehkan tinggal bersama-sama dan menetap dekat Babel; di situ mereka diijinkan mendirikan rumah-rumah, bertani dan berdagang, memelihara agama dan budaya sendiri, namun mereka diharuskan bekerja rodi pada saat tertentu dan selalu menurut perintah-perintah penguasa Babel.

Bagaimana terjadinya sampai orang-orang Yehuda terbuang? Sejak abad kedelapan, kerajaan-kerajaan kecil di daerah Palestina dan Siria terjepit antara negara besar yang berganti-ganti meluaskan daerah pengaruh dan kekuasaannya. Demikianlah Israel Utara jatuh ke tangan Asyur, dan kaum atasannya dibuang pada tahun 722.

Bait Allah di Yerusalem, yang merupakan simbol persekutuan Yehuda di bidang nasional dan agama, dihancurkan oleh Nebukadnezar. Orang-orang yang telah mempercayai nubuat-nubuat nabi Yeremia, kembali ragu. Sementara yang lainnya kembali jatuh kekafiran ke Kanaan, sebab mereka mengira bahwa Allah tidak cukup kuat untuk mengalahkan Nebukadnezar.

Dalam masa pembuangan di Babel itu, Yesaya dipanggil untuk menghiburkan bangsa Israel dan untuk memberitakan bahwa Allah akan menyelamatkan umatNya.

2. Umat-Nya telah patah semangat. Mereka telah putus asa di perbudakan/pembuangan Babel. Ada semacam keputusasaan kolektif yang memenjarakan harapan mereka untuk bisa kembali lagi ke Yerusalem. Karena itu TUHAN mengutus nabi-Nya membesarkan hati umat-Nya. Yesaya menubuatkan bahwa bangsa itu akan kembali ke tanah air mereka. Kembali ke Yerusalem. Perhambaan sudah berakhir (40:1). Itu digambarkan dengan penggambaran seolah-olah akan ada kisah keluaran/exodus yang baru (43:16-21). Tetapi apa respons mereka? Mereka sama sekali tidak bergeming dan tidak percaya atas apa yang telah disampaikannya.

Allah adalah Yang Maha Kuasa, khalik langit dan bumi, dan Allah seluruh bumi. Karena itu Dia berkuasa untuk memakai bangsa-bangsa lain sebagai alatNya untuk menghukum bangsa Israel. Tetapi Dia juga berkuasa untuk melepaskan bangsaNya dari pembuangan itu. Yesaya telah melihat dengan jelas bahwa kerajaan Babel makin hari makin lemah dan kerajaan Persia, di bawah pemerintahan raja Koresy, tumbuh menjadi suatu kekuatan baru dan merupakan ancaman yang besar bagi Babel.

Oleh sebab itu Yesaya menubuatkan jatuhnya Babel dan kelepasan bagi bangsa Israel oleh raja Koresy. Dan memang hal ini ternyata benar, sebab sesudah jatuhnya Babel ke tangan Persia, Koresy mengijinkan bangsa Israel pulang kembali ke Yehuda. Tetapi orang Israel sendiri tidak mau mempercayai nubuat-nubuat Yesaya, sehingga dia terpaksa berdebat dengan mereka.

3. Umat-Nya telah mengalami penderitaan yang dalam. Seakan-akan mereka telah mati rasa. Karenanya TUHAN mengutus Yesaya menyemangati bangsa itu: “Hibur, hiburkanlah umat-Ku, demikianlah Allahmu bersabda” (40:1). Yesaya tahu untuk menemukan cara untuk meyakinkan bangsa itu. Ia bersaksi bahwa Allah telah menanggung umat-Nya di sepanjang sejarah. Keturunan Yakub dan Israel itu ditanggung oleh TUHAN sejak mereka menjadi umat-Nya. Ia dan umat-Nya diikat oleh perjanjian yang tidak pernah “luntur”, kendatipun bisa lentur.

Tetapi sisa-sisa ketidakpercayaan itu masih tetap ada di antara umat. Nampaknya mereka tidak yakin bahwa Allah berkenan mengampuni dosa mereka yang telah dihukum dua kali lipat itu. Ketidakpercayaan mereka digambarkan dengan ketulian atau tidak mau memperhatikan nubuat nabi. Karena itulah ada ungkapan : “Dengarkanlah Aku, …” pada ayat 3.

4. Keadilan dan Keselamatan dari Tuhan. Nas ini merupakan seruan kepada Israel. Mereka diminta untuk “mendengarkan” (ay.3, “dengarkanlah aku”, lih. juga ay.12), mengingat hal-hal yang dahulu (ay.9).  Sebagaimana keadilan dan keselamatan dijanjikan kepada orang-orang yang terluput dari antara bangsa-bangsa, demikian juga keadilan dan keselamatan dijanjikan kepada orang-orang yang tersisa dari keturunan Israel. Dalam hal ini, Yesaya mengingatkan mereka dalam dua hal, yaitu:

a. Allah vs berhala (ay.3). Berhala-berhala kafir tidak berdaya sama sekali jika dibandingkan dengan kemahakuasaan TUHAN. Dewa Bel (nama Baal dalam bahasa Babel), yaitu dewa atau allah yang dipercayai berkuasa di langit, yang lebih rendah dan di daratan kering, allah pelindung Babel. Namanya muncul pada nama Belsyazar, yang artinya Bel, melindungi raja! Nebo. Cucu laki-laki Bel (anak laki-laki Marduk), dewa tulisan dan pendidikan. Namanya muncul dalam nama Nebukadnezar, artinya Nebo, melindungi perbatasan! Patung-patung yang tak berdaya dari dewa-dewa ini harus dikemas seperti barang di atas binatang pengangkut para pengungsi Kasdim ketika mereka lari dari hadapan orang-orang Persia yang menyerang. Orang-orang kafir itu harus mengangkut allah-allah mereka, tetapi TUHAN menggendong dan memelihara umat-Nya (ay. 3, 4) sejak masa kanak-kanak mereka sebagai bangsa, dan telah memelihara mereka sampai penghujung perjalanan hidup mereka sebagai sebuah bangsa. Bagi Israel, Tuhan disamakan dengan seorang bapa, yang menanggung anaknya dari saat kelahirannya (lih. Mzm. 22:10-11).

Yesaya menyatakan ayat ini dalam rangka mengingatkan bangsa Israel akan ke-Mahakuasa-an Allah melebihi dewa-dewa yang dapat dipindah-pindahkan itu dan juga buatan manusia. Itu sebabnya, Yesaya mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan mengatakan “dengarkanlah aku, hai kaum keturunan Yakub” (ay.3). Kata “dengarkanlah” ada seruan untuk mengingatkan kembali akan kuasa Allah yang lebih kuat daripada dewa-dewa Babel.

Berbagai usaha dilakukan manusia: membuat patung sembahan, menempatkan patung tersebut pada posisi allah, merelakan emas dan perak sebagai bahan pembuatan patung, mengupah tukang emas untuk membuatnya, bahkan menyembah dan sujud kepadanya. Manusia menyembah dan menghargai patung itu lebih tinggi daripada dirinya. Mereka berseru namun tidak dijawab, mereka berteriak minta tolong, namun tak diselamatkan, sebaliknya mereka menyaksikan kehancuran patung-patung buatan; bahkan mereka sendiri harus pergi sebagai tawanan. Harapan manusia kandas, karena tak sedikit pun terkabulkan. Berharap pada benda mati buatan manusia akan sia-sia dan dipermalukan.

b. Penyelamat Kekal yang sejati (ay.4). Dia tidak diciptakan oleh siapa pun, tetapi Dialah Pencipta segala sesuatu; kuasa yang dimiliki-Nya tidak berasal dari siapa pun, tetapi Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu; Dia tidak diatur oleh siapa pun, tetapi Dialah Pengatur segala sesuatu; Dia tidak akan pernah digagalkan oleh siapa pun, karena Dialah yang memiliki kuasa untuk menggagalkan dan membinasakan pembuat kejahatan. Dia akan menggendong, menanggung, memikul dan menyelamatkan orang yang setia pada-Nya sampai masa tuanya.

Yesaya menyaksikan bahwa TUHAN berkuasa menyelamatkan umat-Nya. Bahkan Yesaya atas nama-Nya memproklamirkan bahwa hukuman sudah berakhir. Namun sang nabi memerlukan bukti-bukti untuk mendukung kesaksiannya. Bukti-bukti tersebut digali dari pengalaman masa lalu. Formulanya adalah “kalau dulu Dia sanggup membebaskan umat-Nya, maka sekarang dan pada masa depan Ia tetap sanggup menyelamatkan umat-Nya” (40:25-26; 43:1,7; 43:16-17).

5. Nas epistel ini dirangkai dengan PARNINGOTAN HATUTUBU NI HKBP, sesuai dengan catatan sejarah yang sangat penting bahwa pada tanggal 7 Oktober 2009 akan memperingati hari jadinya yang ke-148 tahun. Dalam perjalanan waktu 148 tahun, tidak dapat dipungkiri bahwa HKBP menghadapi banyak tantangan, ancaman dan masalah-masalah sebagai gereja Tuhan di dunia ini. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana HKBP mengatasi berbagai tantangan, ancaman dan masalah-masalah itu? Apakah kepercayaan kepada Allah menjadi Penolong satu-satunya dan ketaatan hanya kepada Allah tetap dipegang erat? Pertanyaan ini ditujukan kepada HKBP (sebagai institusi dan perorangan) untuk menjadi perenungan dan berangkat menjadi kesaksian sebagai wujud nyata dari ucapan syukur. Itu sebabnya, kita juga perlu memahami nas Evangelium, Mzm. 28:6-9, sebagai Mazmur permohonan. Ciri khas dari permohonan dalam Mazmur ini adalah perubahan. Perubahan yang diharapkan adalah bagaimana kita mengenal perbuatan tangan Tuhan, “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya” (Mzm.28:7). Pengenalan yang benar tentang siapa Allah hendaknya menjadi tugas utama bagi setiap orang percaya. Pengenalan yang benar tentang siapa Allah akan menolong orang percaya dalam menghadapi dan mengatasi setiap tantangan dan ancaman serta masalah-masalah yang dihadapi. Pengenalan yang benar tentang siapa Allah akan menempatkan setiap orang percaya pada sikap memuji Allah dengan segenap hati dan segenap kekuatan dan di dalam segala situasi dan kondisi.

Pengenalan yang benar tentang Allah juga menempatkan pemazmur (HKBP) dalam sikap hidup yang senantiasa bersukacita dan bersyukur, selalu mengandalkan Tuhan.

Maka tepatlah tema Minggu ini, sesuai dengan Almanak HKBP, dengan satu kesaksian “Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar” (Kis.26:22a).

6. Hari Minggu, 4 Oktober 2009 adalah juga bagian dari sukacita kita, HKBP Jl. Letjend. Suprapto, untuk menyelenggarakan Tahun Diakonia, sebagaimana telah ditetapkan HKBP. Kegiatan yang berangkat dari iman percaya dan pengenalan yang benar akan perbuatan tangan Tuhan, memicu dan memacu kita untuk solider kepada saudara-saudara sekitar kita. Ada tiga momen penting dalam kegiatan ini, yaitu: pelaksanaan Tahun Diakonia HKBP, Ulang Tahun HKBP Jl. Letjend. Suprapto yang ke-48, dan persiapan Natal. Baiklah itu semuanya dibungkus dalam satu hal, bahwa jemaat HKBP Jl. Letjend. Suprapto berusaha untuk mengenal Tuhan secara benar sehingga memotivasi semua elemen/unsur jemaat untuk bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan. Diakonia (ulaon parasinirohaon) adalah salah satu dari tiga tugas panggilan Gereja. Itu adalah panggilan bagi kita semua. Selamat ber-diakoni. Tuhan memberkati. Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s