HIDUP YANG MENGANDALKAN TUHAN

KHOTBAH MINGGU 13 SEPTEMBER 2009

Ev.: Kisah Para Rasul 28 : 1 – 10

Ep.: 1 Raja-raja 17 : 7 – 16

1. Allah berkarya di pulau Malta (ay.1-3). Pulau Malta adalah sebuah pulau yang berada di Laut Tengah. Sejak 218 seb. Mas. berada di bawah kekuasaan Romawi. Para penghuninya berbicara bahasa Fenesia yang menjadi bahasa ibu mereka. Tetapi mereka juga dapat berbicara bahasa Yunani dan bahasa Latin. Paulus kandas pada perjalanannya ke Roma di pulau Malta (Kis.28:1). Pulau Malta adalah juga sebuah tempat yang penting di jalan pelayaran kapal.

Pada waktu itu adalah perjalanan Paulus dari Kreta. Jarak antara Kreta dan Malta adalah 476 mil laut. Medan laut di Laut Tengah terlebih menuju Malta adalah medan yang sulit. Angin berhembus dengan kencangnya, maka tidak heran mereka menempuh jarak antara Kreta dengan pulau Malta dalam 14 hari.

Penduduk pulau (dalam bahasa Yunani disebut dengan ‘barbaroi’: semua orang yang tidak berbicara Yunani, dan tidak mengikuti kebudayaan Romawi-Yunani) itu sangatlah ramah. Itu disebabkan oleh seringnya kapal karam di sana dirampas dan dirampok harta bendanya ataupun dibunuh. Seperti dikatakan di atas, penduduk pulau berbicara bahasa Fenisia dan memang mereka adalah penduduk asli. Bahasa Fenisia serumpun dengan bahasa Ibrani dan Aram, sehingga dapat dimengerti bahwa Paulus dapat saling mengerti bahasanya, walaupun sedikit ada perbedaan (baca ay.4b).

Bukti dari keramahan penduduk pulau adalah kesediaan mereka menyalakan api yang besar karena mereka (Paulus) kedinginan, dan juga saat itu hujan sedang turun dan tentu hawa juga dingin. Inilah yang membuktikan kepedulian penduduk pulau kepada mereka. Dan ini bagian dari karya penyertaan Tuhan kepada hambanya Paulus dalam pemberitaan Injil. Campur tangan Allah terlihat melalui sikap dan tindakan penduduk pulau. Hal ini menjadi bagian penting bagi setiap orang yang bekerja untuk menyebarkan Injil, bahwa bagaimanapun keadaan dalam pelayaran yang sulit, menghadapi angin yang keras di perjalanan, dan seringnya kapal karam dan kandas, ditambah lagi dengan seringnya orang dirampas, dirampok dan dibunuh, namun pemeliharaan Tuhan dapat menyelamatkan hambanya. Dan tentu ini juga bagian dari rencana Allah untuk mengutus hambanya berkarya di pulau Malta.

2. Ancaman bahaya dan bukti pemeliharaan Tuhan. Ketika Paulus ikut serta memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Segera setelah itu, kita mengetahui bagaimana pemahaman penduduk pulau atas peristiwa yang menimpa Paulus. Pikiran yang umum terdapat di mana-mana, juga di zaman kuno, bahwa dosa dan hukuman ada sangkut pautnya satu sama lain, membuat para penduduk pulau itu segera juga menarik kesimpulan, bahwa orang ini pastilah seorang pembunuh, yang tidak akan luput dari dari nasibnya.

Pemahaman penduduk pulau, sesuai dengan keyakinan mereka adalah bahwa Paulus tidak akan lolos akibat dosa (yang dalam pemahaman mereka telah dilakukan oleh Paulus) dari Dewi keadilan. Itu artinya, kalaupun Paulus lolos dari ancaman laut, namun nasib tetap akan berlaku bagi Paulus, dia akan mati karena digigit ular. Meskipun Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, Paulus tetap diamat-amati orang.

Allah kembali menyatakan campur tangan-Nya. Paulus yang terkena gigitan ular beludak, ternyata tetap hidup dan sehat seperti sediakala. Mungkin bagi pengikut Kristus hal ini tidak mengherankan, karena Yesus pernah berjanji: “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: …, mereka akan memegang ular, dan sekali pun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka …” (Mrk.16:17-18). Di dalam Injil Lukas, Yesus berjanji: “… Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking …” (Luk.10:19). Namun lepasnya Paulus dari maut mengejutkan penduduk pulau Malta, hingga mereka menyimpulkan bahwa Paulus adalah dewa (5-6). Padahal sebelumnya mereka mengira Paulus adalah penjahat yang tidak akan lolos dari kejaran Dewi Keadilan (4).

3. Dengan kejadian itu, Tuhan membuka jalan bagi pekabaran Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Ini akan merupakan kesaksian bagi mereka yang melihat kuasa Allah yang bekerja di dalam diri Paulus. Tantangan pelayanan pasti ada di hadapan mata, tetapi pemeliharaan dan penyertaan Tuhan jauh lebih besar dari segala sesuatu. Dengan kesungguhan Paulus, membuka jalan untuk meyakinkan orang lain masuk menjadi bagian dari karya keselamatan Tuhan.

Terlebih setelah Tuhan menyatakan kuasa-Nya melalui Paulus dalam peristiwa penyembuhan ayah Publius, gubernur pulau Malta (8). Peristiwa ini kemudian berlanjut pada penyembuhan orang-orang sakit di pulau itu (9). Penduduk Malta tentu sangat bersukacita atas kehadiran Paulus (10). Mereka yang semula berdatangan ke pantai untuk menolong Paulus dan penumpang kapal lainnya, kemudian mendatangi Paulus karena ingin meminta pertolongannya.

Kepedulian Allah ini merupakan kesaksian yang berkuasa. Allah pun sangat peduli kepada kesehatan penduduk setempat yang belum mengenal Kristus. Ketika ayah Publius menderita demam dan disentri, melalui Paulus Allah menyembuhkannya. Bahkan akhirnya penduduk setempat juga merasakan kepedulian Allah melalui pelayanan Paulus. Pelayanan Allah melalui Paulus ini menghasilkan hubungan antar manusia yang saling menghormati, menghargai, dan membantu dengan sangat tulus walaupun mereka baru saling mengenal selama 3 hari (10). Hubungan yang demikian merupakan kesempatan yang indah untuk menaburkan benih Injil.

Betapa ajaib karya Allah! Ia yang berdaulat berkarya juga di pulau Malta. Orang-orang sakit yang kemudian sembuh oleh mukjizat penyembuhan yang Allah lakukan melalui Paulus, adalah bukti nyata. Allah memang selalu berkarya bagi kebaikan manusia dan terlebih penting lagi bagi pengembangan Injil dan penggenapan maksud Allah. Kita yang percaya kepada Allah seharusnya terlibat dalam karya itu sehingga Injil dapat disebarluaskan dan maksud Allah dinyatakan.

4. Ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan dari nas perikop ini, yaitu:

a. Pemeliharaan Tuhan mengubah paradigma sekitar. Betapa tidak, dari narasi itu terbangun kesan kuat bagi orang-orang yang ada di sekitar Paulus; bahwa awalnya Paulus dianggap sebagai “biang kerok”, penyebab malapetaka terjadi, mulai dari ancaman badai dalam pelayaran dengan rombongannya, tiba di daratan langsung digigit ular berbisa (hukuman dewa keadilan). Wibawa hamba Tuhan membawa kehormatan kepadanya sehingga dia menjadi tamu terhormat pejabat tertinggi di pulau itu selama tiga hari. Kehadirannya “membawa berkat” bagi penduduk pulau, menyembuhkan ayah Gubernur Publius dan penduduk yang sakit.

b. Pemeliharaan Tuhan memberikan kekuatan. Dalam amanat pengutusan Yesus kepada murid-muridNya dalam Markus 16:14-18, disebutkan agar mereka pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk. Disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang percaya kepadaNya adalah: “mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka meminum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh”. Bukankah itu inti dari semuanya ini menyatakan bahwa wibawa hamba Tuhan bukanlah terletak kepada kekuatan, kepintaran, kekayaan, kehebatan dirinya sendiri sebagai manusia, tetapi terletak pada Dia yang mengutus. Dalam Matius 28:18-20, dasar pengutusan murid ditegaskan, “KepadaKu telah diberikan kuasa di sorga dan di bumi…Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

c. Wibawa hamba Tuhan terlihat dari kehidupannya. Dewasa ini terjadi krisis kewibawaan hamba Tuhan. Wibawa hamba Tuhan sering terkait dengan institusi dan bahkan hierarkhi institusi. Wibawa ilahi semakin menepis dalam diri hamba Tuhan, apakah itu Pendeta atau Sintua. Istilah “hamba Tuhan”, juga sering berkonotasi sempit, yaitu “pengkhotbah”, atau “pembawa Firman Tuhan”, seolah-olah siapa yang “pandai berkhotbah” adalah hamba Tuhan. Namun wibawa hamba Tuhan terlihat dalam seluruh aspek kehidupannya yang secara total mengandalkan hidupnya kepada kuasa Tuhan saja. Dan itulah kesaksian bagi lingkungannya bahwa Tuhan menyalurkan kasih dan berkatNya kepada dunia ini melalui hidup dan pelayanan sang hamba Tuhan. Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s