PEMELIHARAAN TUHAN ATAS ORANG PERCAYA

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU, 13 September 2009

Ep.: 1 Raja-raja 17 : 7 – 16

1. Israel, Raja dan Hukuman. Kemungkinan besar kita semua sudah mengetahui bahwa Kerajaan Israel Raya terpecah dua pada tahun 931 BC, setelah Raja Salomo meninggal menjadi Kerajaan Israel Utara dengan ibukotanya di Samaria dan Kerajaan Israel Selatan dengan ibukotanya tetap Yerusalem.

Peristiwa nas, 1 Raja-raja 17:7-16 ini terjadi di Kerajaan Utara, ketika itu Raja Ahab memimpin kerajaan tersebut selama 22 tahun. Dibandingkan dengan raja-raja terdahulu, raja yang paling jahat di hadapan Tuhan adalah Raja Ahab. Dia berselingkuh bukan hanya dalam hubungan suami isteri juga dalam iman. Di samping menyembah Tuhan, Ahab juga menyembah dewa Baal. Dan karena pengaruh isterinya, Izebel, puteri Raja Etbal dari Sidon, kepercayaan kepada dewa Baal semakin bertumbuh subur di Israel. Bahkan Raja Ahab mendirikan mezbah persembahan kepada dewa Baal, dan bangsa Israel diarahkan menyembah di mezbah tersebut.

Sebenarnya kehidupan sehari-hari bangsa itu semakin baik, karena raja Ahab adalah orang yang piawai menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Punisia. Namun, yang menikmati pertumbuhan ekonomi itu hanya saudagar, hartawan dan kalangan pejabat. Sementara kaum ekonomi lemah dan masyarakat biasa semakin tertindas. Bukan itu saja, krisis kehidupan keagamaan dan moralitas juga semakin membahayakan.

2. Nabi Elia. Pada zaman yang ‘gelap’ inilah Tuhan membangkitkan nabi Elia untuk melawan kejahatan yang sudah merajalela itu, lih. juga 18:16-40). Maka Tuhan murka terhadap tindakan raja Ahab. Tuhan menghukum daerah itu sehingga di mana mereka tinggal mengalami kekeringan, termasuk juga sarfat sebagaimana nama salah satu daerah yang disebutkan dalam nas ini. Semua itu merupakan tindakan Allah untuk mengingatkan kejahatan Ahab dan isterinya (lih.17:1).

Walaupun raja Ahab dan bangsa itu yang dihukum Allah karena dosa-dosa dan pelanggaran yang mereka perbuat, namun Elia juga ikut terkena imbas dari peristiwa itu.

Memang, penyertaan Tuhan selalu memelihara kehidupan nabi Elia yang penuh dengan penderitaan. Nabi Elia juga bersembunyi di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan (17:3), ini juga bagian dari pemeliharaan Tuhan kepada kehidupannya. Sungai Kerit (para ahli berpendapat bahwa namanya kini adalah Wadi Qelt) adalah sungai kecil yang mengalir menuju sungai Yordan, dekat Tisbi, tempat kelahiran Elia. Tempat ini dulunya adalah tembok-tembok dan banyak gua-gua persembunyian. Tidak ada orang yang bertempat tinggal di sana dan orang jarang sekali melewati tempat ini. Itu sebabnya Tuhan memberi makan nabi Elia melalui burung-burung gagak yang telah diperintahkan Tuhan.

3. Memahami Nas.

a. Ketaatan kepada kehendak Allah dalam masa-masa sulit (ay. 7-9). Nabi Elia disuruh oleh Tuhan untuk pergi ke Sarfat (termasuk wilayah Sidon, sekarang Sayda di Libanon, kampung halaman Izebel isteri Ahab) untuk berdiam di sana. Kala itu, masa-masa sulit sudah terasa, sungai sudah menjadi kering sebab hujan tiada turun di negeri itu. Elia hanya diberitahu bahwa dia akan diberi makan oleh seorang janda. Namanya tidak diberitahu, keadaannya juga, hanya dikatakan untuk menjumpai seorang janda. Nabi Elia pergi dan akhirnya dia berjumpa dengan seorang janda. Ketaatan dan ketundukan nabi Elia patut untuk diteladani. Betapa tidak, Tuhan tidak menyuruh nabi Elia menjumpai seorang kaya, tetapi seorang janda miskin dan dari janda miskin itu nabi Elia akan diberi makan.

b. Permintaan nabi Elia adalah ujian berat bagi janda itu (ay.10-12). Jelas sekali bahwa permintaan nabi Elia merupakan ujian yang sangat berat bagi janda tersebut. Apakah memberi makanan (roti) kepada Elia? Sementara yang ada tinggal segenggam tepung dan sedikit minyak. Secara logika dari sisi janda, tidak mungkin memberi Elia makan karena tidak ada lagi persediaan makanan. Bahkan, setelah persediaan itu dimakan, mereka sudah tahu bencana yang akan mengancam, yaitu kematian (ay.12). Keadaan itulah yang mempertanyakan ulang permintaan nabi Elia. Sebagaimana kita sering mempertanyakan tuntutan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita setiap hari, sementara yang kita punya ‘sedikit’. Tidak mungkin lagi memperdulikan (‘manarihon’) orang lain karena kemiskinan yang menerpa kehidupan kita, demikian logika berpikir manusia (dan memang masuk akal). Itu sebabnya, janda itu seperti mempertanyakan kembali permintaan nabi Elia, permintaan yang berat untuk dipenuhi, apakah mungkin?

c. Peneguhan nabi Elia kepada janda itu bukti percayanya kepada Tuhan (ay.13-14). Sepintas bila kita membaca ay. 13 ini, kita dapat berpikir bahwa nabi Elia ini benar-benar orang yang tak punya perasaan. Jelas-jelas janda itu sudah mengatakan bahwa tidak ada roti, yang ada hanya tepung segenggam dan minyak sedikit, eh.. nabi Elia justru mengatakan “…buatlah dahulu kepadaku”. Betapa egoisnya nabi Elia. Namun, patut kita bertanya, apa yang membuat nabi meminta seperti itu? Apa benar nabi itu egois? Serta merta kita akan berubah pandangan, ketika kita membaca apa Firman Tuhan kepada Elia pada ay. 14, dan bukti dari janji Firman Tuhan itu di ay.16.  Elia berkata, “Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.” Elia tidak akan seyakin itu meminta kepada janda kalau dia sendiri tidak percaya kepada Firman Tuhan. Elia benar-benar percaya dan itulah yang menggerakkan dia untuk mengatakannya kepada janda. Pada hal ini, kita diajarkan untuk kembali melihat kekuatan bila benar-benar percaya. Nabi tahu, karena TUHAN sudah berfirman, maka tidak ada lagi yang mustahil. Mukjizat pun menjadi hal yang sehari-hari dan biasa. Itu sungguh ia alami di tepi sungai Kerit dan rumah sang janda tersebut. Keluarga sang janda itu juga mengalaminya pada saat bekal hidup mereka sudah krisis. Dan memang janji Firman Tuhan sangatlah terbukti “tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia” (ay.16). Elia benar-benar hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan mempercayakan diri secara utuh kepadaNya. Maka kata “janganlah takut” adalah kata yang tepat disampaikannya kepada janda itu. Itulah juga yang menyapa kita semua “janganlah takut”. Kita berangkat dari keyakinan penuh atas pemeliharaan Tuhan kepada kehidupan umat percaya.

d. Percaya yang membuahkan mukjizat (ay.15-16). Tidak masuk akal manusia, perbuatan dan kepatuhan janda kepada apa yang dikatakan oleh nabi Elia. Dia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak yang cukup untuk sekali makan saja. Bahkan harus memberi dulu nabi Elia yang tidak dikenalnya itu makan. Apa yang menyebabkan hal tersebut? Dia benar-benar percaya atas apa yang dikatakan oleh nabi Elia (lih. ay. 14). Janda itu tidak ragu-ragu untuk melakukan Firman Tuhan seperti yang disampaikan oleh nabi Elia. Iman itulah yang menjadikannya hidup. Percaya kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Memberi walaupun secara logika tidak masuk akal, menjauhkan diri dari keraguan akan pemeliharaan Tuhan dan menyandarkan kehidupan hanya kepada janji Firman Tuhan, menjadikan janda itu dapat menikmati hidup.

4. Mari kita simpulkan:

a. Segala dosa pelanggaran, bentuk pemberontakan kepada Allah akan menerima hukuman sebagaimana Israel dan juga raja melakukannya. Rusaknya hubungan Allah dengan manusia mengakibatkan derita yang cukup panjang sebagaimana Israel menerimanya. Mereka menderita akibat kekeringan selama tiga tahun enam bulan (baca Yak. 5:17).

b. Nabi Elia tidak bersungut-sungut walaupun harus menderita karena hukuman Allah atas dosa Israel. Berangkat dari iman percaya, dia menundukkan (meniadakan) dirinya atas kuasa Allah. Patutlah kita meneladani sikap nabi Elia, menyerahkan diri dalam kehendakNya. Bentuk dari ketundukan itu adalah kerelaan untuk melakukan kehendak Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh nabi Elia.

c. Orang yang percaya akan menerima pemeliharaan Tuhan, tidak hanya sebentar, tetapi sampai penderitaan itu sirna. Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s