BERSATU KARENA KRISTUS

KHOTBAH MINGGU 6 SEPTEMBER 2009

Ev.: Yohanes 17 : 14 – 23

Ep.: Roma 15 : 5 – 9

1. Doa Kristus. Doa adalah ungkapan terjelas dari kondisi hati orang terdalam. Hal ini dapat kita lihat di dalam perumpamaan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (Luk.18:9-13). Dalam doa-Nya ini terpampang jelas siapa Yesus dalam kesadaran diriNya, apa sikapNya terhadap Bapa, terhadap para murid-Nya, dan terhadap semua orang yang percaya kepada-Nya.

Oleh karena itu, kita tidak boleh memisahkan doa ini dari ayat-ayat yang mendahuluinya. Karena Yesus akan mengalahkan dunia ini, segala permohonanNya bernafaskan keyakinan, sementara Dia bicarakan karyaNya yang akan dikerjakanNya. Dan karena para muridNya harus menghadapi penganiayaan di dalam dunia yang segera akan ditinggalkanNya, mereka benar-benar memerlukan doa syafaat dari Yesus.

Doa ini berbeda dari doa yang terdapat dalam Matius 6:9-13, yang diucapkanNya sebagai pelajaran tentang cara berdoa. Namun doa ini merupakan kesaksian kepada para murid Yesus, dan pengungkapan tentang isi pikiranNya. Setelah melihat beban hati Yesus ketika Dia berdoa kepada Bapa Sorgawi, maka para muridNya dapat lebih memahami kewajiban mereka. Selama pelayananNya di dunia, Yesus menyatakan adanya hubungan erat yang unik antara Dia dan Allah Bapa (Mat.11:27). Doa ini membenarkan kesaksianNya.

Doa Kristus dalam Yohanes pasal 17 dapat kita bagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:

a. Kemuliaan Allah (17:1-5). Bagian pertama doa yang sering disebut sebagai “Doa Imam Besar Agung” ini berisi permohonan untuk diri-Nya kepada Bapa. Betapa akrab dan uniknya hubungan Yesus dengan Bapa tampak dalam beberapa hal. Pertama, Dia menengadah ke surga, menandakan hubungan-Nya yang akrab dengan Allah Bapa. Kedua, Dia menyapa Allah sebagai “Bapa” dan menyebut diri-Nya sebagai “Putra-Mu.” Bila kedua hal ini kita gabungkan dengan pernyataan-Nya bahwa Ia sudah memiliki kemuliaan kekal yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum Ia menjadi manusia (ay. 5), kita dapat menyimpulkan bahwa Ia sedang berbicara tentang hubungan yang sangat unik antara diri-Nya dengan Allah Bapa.

Bahwa dalam bagian ini Tuhan Yesus memohon kemuliaan bagi diri-Nya, tidak dapat kita samakan dengan keinginan manusia yang cenderung mencari kehormatan, kemuliaan, atau penghargaan untuk dirinya sendiri. Kemuliaan yang Yesus minta dari Bapa ada dalam hubungan dengan beberapa kenyataan. Pertama, karena Ia sudah memenuhi rencana Bapa untuk memberi hidup kekal. Hidup kekal adalah mengalami hidup Allah. Kita tahu bahwa itu dapat terjadi karena Ia kelak menyerahkan nyawa-Nya dan membuat pengampunan dari Allah dan kasih Allah untuk orang-orang pilihan Allah menjadi kenyataan. Itu diwujudkan-Nya bukan saja melalui ajaran-Nya, tetapi juga melalui sikap hidup-Nya dan bahkan di dalam kematian- Nya. Semua itu karya Yesus yang memuliakan dan menyukakan hati Bapa. Kedua, yang diminta-Nya adalah sesuatu yang memang merupakan hak-Nya. Ia adalah Putra Allah yang rela meninggalkan surga menjadi manusia. Maka, yang diminta-Nya ini adalah pengokohan Bapa bahwa semua yang Yesus lakukan berkenan kepada Bapa.

b. Pemeliharaan Bapa (17:6-13). Pokok doa kedua dari doa syafaat Yesus kepada Bapa adalah permohonan kepada Bapa untuk para murid. Yesus memohon agar Bapa memelihara mereka karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa (ay.11b).

Beberapa hal penting tentang para murid-Nya, Yesus nyatakan dalam doa-Nya. Pertama, Yesus telah memberitahukan nama Allah kepada mereka. Berarti para pengikut-Nya mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan itu melalui hidup-Nya, ucapan-ucapan-Nya, dan salib-Nya. Kedua, mereka percaya karena diberikan Bapa kepada Yesus (ay.6-10). Ketiga, menjadi percaya berarti menaati firman Kristus (ay.6b-8). Mereka percaya bahwa Ia berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya untuk keselamatan mereka. Keempat, Yesus telah memelihara para pengikut-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa (ay. 12). Sekarang Ia akan kembali kepada Bapa, tetapi para pengikut-Nya masih tinggal dalam dunia karena ada misi yang harus mereka laksanakan. Maka Yesus berdoa bagi pemeliharaan Bapa atas mereka.

Yesus tidak berdoa bagi dunia, tetapi hanya bagi milik-Nya. Mengapa? Karena Dia ingin agar mereka terjamin pasti dalam hubungan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh sukacita (ay. 13, bnd. 16:22), juga agar mereka dapat disiapkan untuk menruskan misi-Nya bagi dunia ini. Doa ini membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi orang beriman.

Doa Yesus menunjukkan perhatian dan peduli-Nya bagi kita, murid-murid-Nya pada masa kini yang percaya pada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pemberita Injil bagi dunia ini maka kita perlu pemeliharaan dan perlindungan Bapa senantiasa. Oleh karena itu, kita harus berdoa tak putus-putusnya memohonkan hal tersebut agar tergenapi.

c. Bersatu karena Injil (17:14-26). Permohonan doa yang ketiga dari doa syafaat Yesus terbagi dua. Pertama, meneruskan doa agar Bapa memelihara para pengikut Yesus dalam firman-Nya yang benar dan kudus (ay. 14-19). Kedua, memohon kesatuan di antara orang percaya sehingga dunia melihat kesaksian mereka dan menjadi percaya bahwa Allah yang mengutus-Nya (ay. 20-26).

2. Ada beberapa hal yang menjadi sorotan utama nas ini, yaitu:

a. Doa untuk memberi peringatan (ay.14a), “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka”. Yesus menyatakan bahwa mereka lain dari dunia, dan bahwa mereka tidak dapat mengharapkan sesuatu yang lain daripadanya kecuali kebencian. Kenapa? Karena memang nilai-nilai dan standar-standar mereka berbeda daripada yang dipakai oleh dunia.

b. Tidak melarikan diri. Doa Yesus juga tidak mendoakan agar murid-muridNya diambil dari dunia ini atau lari dari dunia ini. Kebencian yang dialamatkan kepada mereka justru menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun dari dirinya sendiri, murid-murid tidak akan mampu dan kuat untuk melakukannya. Itu sebabnya Yesus berdoa agar Bapa melindungi para murid. Dan memang Kekristenan tidak menawarkan kepada kita sesuatu kehidupan yang lepas dari segala kesulitan, melainkan kehidupan yang dapat menghadapi dan mengalahkan kesulitan-kesulitan itu.

c. Kesatuan murid-murid. Mari kita simak baik-baik perkataan apa yang diulangi dalam doa syafaat Yesus! “Aku berdoa . . . supaya mereka menjadi satu,” demikianlah perkataan yang diulangi dalam doa syafaat-Nya. Empat kali kata-kata tersebut terucapkan (ay. 11, 21,22,23). Tidak biasanya Yesus mengulangi kata-kata dalam pengajaran-Nya. Pasti ada sebuah maksud penting yang tidak boleh kita lewatkan. Jadi, ada apa gerangan?

Pengulangan tersebut menunjukkan keprihatinan Yesus kalau-kalau para murid tidak menjadi satu. Rupanya, Yesus sudah mencium akan tanda-tanda yang kurang baik dari para murid-Nya. Sewaktu dalam perjalanan ke Kapernaum, para murid bertikai. Karena apa? Karena mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk. 9:33-37). Setelah itu mereka masih belum juga kapok. Tidak lama kemudian terjadi lagi pertikaian untuk memperebutkan posisi untuk duduk di sebelah Yesus (Mrk. 10:35-45). Inilah alasan keprihatinan Yesus yang terungkap dalam doa syafaat-Nya.

Jangan-jangan keprihatinan Yesus tetap terjadi hingga saat ini. Betapa tidak. Di gereja masih terdapat jemaat yang memecah-belah kesatuan gereja, entah disengaja atau tidak. Contohnya, bila ia sakit hati dengan anggota jemaat lain, maka ia mengajak seluruh geng keluarganya untuk bersama-sama memusuhinya. Bisa jadi, ia akan mengajak rekan-rekan lain untuk berpihak padanya. Lalu, sambil mencari teman yang dapat berpihak padanya, ia akan terus mengedarkan gosip. Bukankah ini merupakan usaha untuk memecah-belah kesatuan gereja? Sebab itu, renungkanlah, apakah saat ini kita sedang menambah keprihatinan Yesus? Yesus menyatukan jemaat dengan kematian-Nya. Jangan kita membubarkannya!

Yesus tidak berdoa supaya para pengikut-Nya “menjadi satu” (terjemahan bahasa Indonesia), tetapi agar mereka satu adanya” (εν ωσιν – hen ôsin), menggunakan kata kerja ‘to be’ (“adalah”), bukan kata kerja γινομαι – ginomai (“menjadi”). Seperti yang telah dijelaskan di atas, bentuk yang dipakai dalam bahasa Yunani menunjuk pada suatu tindakan yang berkesinambungan: “terus-menerus bersatu”, kesatuan yang berlandaskan kesamaan hubungan kepada Bapa dan Anak, dan karena memiliki sikap yang sama terhadap dunia, firman Allah dan perlunya menjangkau mereka yang hilang (1 Yohanes 1:7).

3. Cara menciptakan kerukunan/kesatuan. Menurut Nas Epistel Rom.15: 7 dikatakan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”. Cara menciptakan kerukunan dalam ay. 7 merupakan cara bertindak yang diharapkan dapat dilakukan oleh jemaat, yaitu: terimalah satu akan yang lain. Kedua golongan, yang kuat dan yang lemah dianjurkan untuk saling menerima. Dasarnya adalah karena Kristus juga telah menerima kita. Tidak justru memunculkan egoisitas yang merusak tatanan masyarakat. Mau saling menerima berarti mengakui kelemahan masing-masing, dan mengakui kelebihan masing-masing. Ingatlah bagaimana Kristus menerima kita, bukan karena kemampuan manusia, tetapi justru karena keberdosaan, kenajisan manusia itu sendiri.

4. Mari kita simpulkan. Dua pokok doa yang disebutkan dalam 1c berkaitan satu sama lain. Tujuan utama penyelamatan Yesus bagi dunia ini adalah dunia menjadi percaya dan memperoleh keselamatan sehingga dunia dipersatukan kembali dengan Bapa, Sang Pemilik dunia ini. Para murid diberi misi untuk memberitakan Injil dan mempraktikkan akibat Injil itu dalam persekutuan orang percaya. Persatuan dan persekutuan ini akan menjadi kesaksian bagi dunia sehingga menuntun dunia untuk percaya pada Bapa dan menjadi milik-Nya (ay. 21). Persatuan dan persekutuan orang percaya itu dimulai dari persekutuan Allah Tritunggal (ay. 23). Inilah tujuan akhir misi Yesus, yang diteruskan oleh para murid-Nya, sehingga semua orang percaya akan dipersatukan dan dipersekutukan dengan Bapa. Kerinduan Yesus supaya di mana pun anak-anak Tuhan berada, mereka dapat merasakan kehadiran diri-Nya (ay. 24) dan menikmati kasih kekal Bapa. Dua hal inilah yang akan mempersatukan dan mempersekutukan mereka dengan Kristus (ay. 26). Ini menjadi kekuatan bagi orang percaya untuk bertahan dalam dunia yang jahat sehingga orang percaya mampu setia memberitakan Injil keselamatan-Nya.

Doa Yesus bisa terwujud dalam dunia jika kita melihat kesatuan orang percaya sebagai anugerah Allah yang menjadi kekuatan dahsyat untuk memenangkan dunia ini. Sebaliknya, ketika kita hanya memedulikan kepentingan kelompok, gereja, dan diri sendiri maka kekuatan penginjilan menjadi lumpuh, dan dunia akan makin jauh dari Allah.

Camkanlah ini: Lepas dari persekutuan dengan Bapa dan sesama orang percaya maka kesaksian anak Tuhan akan menjadi lemah dan lumpuh! Amin.

About these ads

6 responses to “BERSATU KARENA KRISTUS

  1. Haleluya.. u/ terusmenerus bersatu kita hrs BERMURAHHATI.. Amin

  2. bapak theofani

    Mauliate di jamitamuna oppung. sangat menyentuh…

  3. mamolus alaman ni abang on jo au da? :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s