KRISTUS ADALAH SUMBER KERUKUNAN DAN KESATUAN JEMAAT

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU, 6 SEPTEMBER 2009

EPISTEL: Roma 15 : 5 – 9

Pendahuluan. Surat Roma terdiri dari 2 bagian, yaitu:

1. Pasal 1-11 yang disebut bagian doktrinal, yaitu bagian pengajaran yang membicarakan secara theologis bagaimana seorang yang berdosa tidak ada harapan untuk bisa diselamatkan kecuali mendapatkan penebusan Kristus di dalam anugerahNya lalu menjadi anak Tuhan yang setia yang hidupnya memuliakan Tuhan. Roma 11:36 menjadi penutup dari seluruh rangkaian pengajaran doktrinal ini yaitu: sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Hidup adalah berasal dari Tuhan, diproses di dalam Tuhan, dan berakhir untuk Tuhan. Itulah hidup yang sejati.

a. Mengerti doktrin/ ajaran merupakan satu aspek.

Efesus 4:13 mengatakan bahwa tujuan dari internal gereja/ tujuan ke dalam gereja adalah sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Aspek doktrinal adalah sangat penting dan merupakan hal yang utama dan yang pertama, yaitu mengetahui kebenaran dan Kristus. Setiap kita sebagai anak Tuhan seharusnya terus menghafal dan mengingat ayat ini. Kenapa kita menjadi orang Kristen, mau apa kita menjadi orang Kristen, seharusnya sesuai dengan ayat di atas. Seorang Kristen sejati harus berjuang keras untuk mencapai seperti yang dikatakan ayat di atas.

b. Aspek kedua adalah aspek kedewasaaan hidup.

Karakter dewasa adalah kemampuan hidup yang ditandai dengan kemampuan kita menanggalkan egoisitas untuk mulai bisa berbagi, mulai bisa mengerti orang lain, mulai bisa menopang orang lain. Seorang bayi menangis hanya mau semua orang memperhatikan dia. Dia tidak pernah mau tahu apakah orang lain capek atau tidak, dia mau semua keinginannya terpenuhi. Kalau bayi 2 bulan melakukan hal di atas, kita masih bisa memaklumi, tetapi kalau orang berumur 20 tahun melakukan hal tersebut, itu suatu ketidakwajaran. Hidup kekristenan bukan hanya sekedar mengerti doktrin tetapi juga harus terimplikasi dalam hidupnya. Orang yang dewasa tahu bagaimana mengatasi kesulitan hidupnya, juga mampu berbagi dengan orang lain, bisa memperhatikan kebutuhan orang lain, perasaan orang lain, pikiran orang lain. Karena itu hanya orang dewasa yang layak untuk menikah.

2. Pasal 12-16 berbicara aspek praktis kita mengikut Tuhan.

Dalam Roma 15:1-6 Paulus menekankan tentang bagaimana hidup bergereja. Hidup bergereja adalah hidup berkomunitas, bukan hidup seorang diri. Walaupun diri adalah juga merupakan gereja, namun yang dimaksud gereja sebagai tubuh Kristus adalah gabungan semua umat yang ada dalam gereja. Dalam satu tubuh, ada yang menjadi kaki, tangan, mata, dll, yang mana semuanya mempunyai bagian masing-masing di dalam tubuh tersebut.

Satu tubuh ini terdiri dari berbagai pribadi yang tergabung di dalamnya, maka sikap yang seharusnya dijalankan agar tubuh tersebut merupakan satu kesatuan adalah:

a. yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri; setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya (Roma 15:1-2).

Hal ini adalah point yang utama yang harus dijalankan. Kesatuan tubuh dapat terjadi kalau jemaat mengalami kedewasaan. Persekutuan di dalam gereja akan berjalan dengan baik kalau orang-orang yang ada di dalamnya mau bertumbuh untuk menjadi dewasa. Pendeta yang beres akan mendidik jemaatnya agar dapat mandiri, mendidik jemaat supaya menjadi kuat dan bahkan bisa menguatkan orang lain, bukan hanya sendiri benar tetapi juga bisa mendorong orang lain untuk kembali kepada kebenaran, bukan sendiri dewasa tetapi juga bisa membantu mendewasakan orang lain.

Konsep dalam ayat di atas sudah diketahui banyak orang tetapi justru dilawan oleh banyak orang karena manusia tidak suka orang lain yang diperhatikan, manusia suka semua orang memperhatikan dia. Semua manusia suka kalau egoisitas/ kesenangan dirinya yang digarap. Di sinilah terjadi ketegangan antara mau menyenangkan orang lain tetapi juga masih ingin menyenangkan diri. Akibatnya: manusia cenderung melawan ayat 1 tetapi mau menerima/ melakukan ayat 2. Pikiran yang ada adalah: saya mau menyenangkan orang lain sejauh saya juga disenangkan (“ro ho tu adathu asa ro au tu adatmu”, “bila dia baik maka aku lebih baik lagi”, dll). Inilah yang disebut dengan “win-win” teori. Konsep ini muncul sejak dikemukakan oleh filsuf besar abad 18 yaitu Immanuel Kant. Pemikiran Immanuel Kant dianggap oleh dunia memberikan terobosan yang positif, namun di sisi lain dapat merusak.

Makna ‘kerukunan’. Dalam ay. 5 “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus. Sumber ketekunan serta pengharapan itu ialah Allah. Sesungguhnya, naskah Yunani lebih tegas untuk menyatakan makna dari kerukunan itu. Kata “kerukunan” dalam bahasa Yunani, juga mengandung unsur ‘sehati-sejiwa’, dan ‘mempunyai tujuan yang sama’, dan juga ‘kesatuan dalam hubungan antar anggota jemaat’.

Apa yang terjadi sehingga ‘kerukunan’ menjadi tekanan khusus dari rasul Paulus? Ada 2 (dua) hal yang dapat kita catat, pertama, sesuai dengan ay. 4, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci”. Bagi Paulus pengharapan bukan (bukan hanya) soal orang percaya perorangan. Pengharapan ialah pertama-tama dan terutama pengharapan akan kedatangan Kerajaan Allah, di mana baik Israel maupun bangsa-bangsa kafir akan masuk. Cita-cita Kerajaan itulah yang menjadi pegangan bagi jemaat. Hukum yang berlaku dalam Kerajaan itu seharusnya sudah berlaku pula dalam jemaat. Hukum itu adalah: kesatuan dalam kasih. Itulah makna pengharapan di sini. Kedua, dalam bahasa Yunani, istilah ‘kerukunan’ sama bunyinya dengan ‘sehati-sepikir’ (lihat 14:12:16). ‘Sehati-sepikir’, bukanlah bermaksud untuk menghilangkan perbedaan pendapat dalam lingkungan jemaat. Yang rasul Paulus harapkan bukan agar perbedaan dihapuskan, melainkan agar perbedaan itu diatasi. Artinya, agar orang sanggup memandang perbedaan paham itu sebagai perkara yang nisbi, tidak memutlakkannya, sebab mereka melihatnya dari titik yang lebih tinggi, yang menjadi titik kesatuannya, yaitu Yesus Kristus.

Jadi, kita boleh berselisih pendapat, namun kita harus memelihara kesatuan persaudaraan, kerukunan. Maka diharapkan tidak boleh setiap orang, kelompok memaksakan pendapatnya kepada pihak lain.

Tujuan kerukunan. Dalam ay. 6 sangat jelas dikatakan bahwa “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus”. Bila diterjemahkan secara harfiah, kata ‘satu suara’ dapat disejajarkan dengan ‘satu mulut’. Orang/jemaat yang selalu bertikai, bertengkar tidak akan dapat sehati, dan suara itu akan diarahkan kepada hal-hal yang justru membawa mereka kepada kehancuran. Suara dipakai untuk menghakimi, menghina, mengancam, dan lain-lain. Hanya jemaat yang bersatu (satu hati) dapat sungguh-sungguh satu suara.

Kesatuan dalam doa, nyanyian, pemberitaan Firman, dan juga dalam pelayanan-pelayanan kasih lainnya adalah bukti orang/jemaat yang menghidupi kerukunan.

Cara menciptakan kerukunan. Dalam ay. 7 dikatakan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”. Cara menciptakan kerukunan dalam ay. 7 merupakan cara bertindak yang diharapkan dapat dilakukan oleh jemaat, yaitu: terimalah satu akan yang lain. Kedua golongan, yang kuat dan yang lemah dianjurkan untuk saling menerima. Dasarnya adalah karena Kristus juga telah menerima kita. Tidak justru memunculkan egoisitas yang merusak tatanan masyarakat. Mau saling menerima berarti mengakui kelemahan masing-masing, dan mengakui kelebihan masing-masing. Ingatlah bagaimana Kristus menerima kita, bukan karena kemampuan manusia, tetapi justru karena keberdosaan, kenajisan manusia itu sendiri.

Beberapa kesimpulan. Tidak selalu mudah bagi kita untuk menemukan realisasi makna “kerukunan”, bahkan dalam hidup berjemaat. Padahal gereja yang sehat adalah gereja yang jemaatnya hidup dalam kerukunan, yaitu situasi saat seluruh anggota bersatu hati dan bersuara memuliakan Tuhan.

Paulus melanjutkan pengajarannya kepada jemaat di Roma mengenai kehidupan berjemaat. Sebelumnya ia telah mengingatkan jemaat di Roma untuk tidak saling menghakimi (14:1-13a) dan tidak menjadi batu sandungan bagi sesama ( 14:13b-23). Kini Paulus meminta jemaat Roma untuk aktif menciptakan kerukunan. Dasar dari pengajaran dan tuntutan kerukunan ini adalah hidup Kristus sendiri (15:3, 7).

Tindakan aktif pertama yang dapat dilakukan adalah menanggung beban sesama kita (1). Pepatah mengatakan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Golongan kuat kemungkinan besar adalah kaum berada, sebaliknya golongan lemah adalah kaum miskin. Saling menolong dan menanggung beban bahkan akan meruntuhkan batas-batas di antara umat manusia yang saling bermusuhan. Kedua, orientasi hidup orang Kristen seharusnya tidak berpusat pada apa yang menguntungkan dirinya sendiri, tetapi apa yang membawa kebaikan dan membangun orang lain (2). Semakin dewasa iman kita, semakin kita memikirkan kebaikan dan kemajuan orang lain yang ada di sekitar kita. Ketiga, kerukunan terjadi pada saat kita merelakan diri menerima orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya (7).

Kristus adalah sumber iman Kristen yang memberikan contoh bahwa hidup-Nya bukanlah untuk menyenangkan diri-Nya sendiri. Kristus bahkan menerima cercaan dan hinaan demi keselamatan kita semua (3). Ingatlah, Kristus menerima kita bukan karena kita hebat dan memiliki kelebihan, tetapi justru pada saat kita najis oleh dosa. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s