RUKUN ITU INDAH

KHOTBAH MINGGU 23 AGUSTUS 2009

EV.: MAZMUR 133 : 1 – 3

EP.: LUKAS 10 : 25 – 37

1. Belakangan ini kehidupan masyarakat tidak lagi diwarnai sikap saling menghormati dan saling menghargai. Lihatlah rentetan persoalan di tengah-tengah gereja, keluarga dan masyarakat. Terlebih semakin suburnya kekerasan menjadi bagian pergumulan kita bersama. Kekerasan di rumah tangga, nilai-nilai keagamaan (iman) yang semakin terkikis habis, seakan-akan hanya slogan dan simbol saja. Radikalisme yang melahirkan teror dan ancaman di tengah-tengah masyarakat dan bangsa. Demikian juga sikap saling curiga dan saling memfitnah semakin bertumbuh subur. Kehidupan semacam ini tidak saja menghancurkan persatuan dan kesatuan, tetapi juga semakin menjauhkan berkat Tuhan dalam kehidupan umat. Dimanakah kerukunan dalam kehidupan persekutuan itu ditempatkan? Tempat seharusnya bagi kerukunan umat ada di dalam lingkup keluarga, gereja (antardenominasi dan dalam denominasi), masyarakat (antarras, suku, dan agama). Bila dalam hal yang disebutkan ini kerukunan sama sekali tidak mendapat tempat, kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat jauh dari jamahan anugerah Allah.

Mazmur ini menceritakan betapa rukunnya orang-orang yang hidup dalam Tuhan. Mazmur ini juga menceritakan betapa senangnya mereka hidup dalam kesatuan. Kesenangan ini bertambah-tambah mana kala mereka melakukan ziarah. Biasanya ziarah itu dilakukan dalam rangka mengunjungi tempat suci yang sudah dikenal oleh mereka yaitu kota Yerusalem, dan mengadakan upacara yang penting (hari-hari raya utama).

a. Ay. 1, menceritakan betapa senangnya orang yang melakukan ziarah. Ziarah ini biasanya dilakukan bersama-sama, baik dengan keluarga maupun dengan masyarakat yang terdekat. Mengapa mereka yang akan berziarah diharapkan hidup rukun?

b. Ay. 2, pemazmur menggambarkan berkat kesatuan itu seperti minyak yang khusus untuk penahbisan para imam. Mengapa Daud mengambarkannya demikian?

c. Ay. 3, pemazmur menggambarkan berkat kesatuan itu seperti embun yang menyegarkan dari Gunung Hermon turun ke gunung Sion. Apa harapan Daud dengan penggambarannya yang demikian?

2. Makna kerukunan. Mazmur ini melukiskan dua hal sebagai dampak positif dari persatuan dan kerukunan. Pertama, seperti minyak yang meleleh ke janggut. Dalam tradisi Perjanjian Lama, minyak dipakai untuk sesuatu yang bernilai sakral, kudus, misalnya mengurapi imam. Selain itu, minyak juga melambangkan kesukaan. Artinya, kerukunan dan persatuan menjaga kekudusan jemaat dan kesukaan mengalir rata ke semua pihak.

Daud memberikan rahasia mengalirkan berkat yaitu apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Dalam terjemahan KJV: …to dwell together in unity! Yaitu tinggal bersama dalam kesatuan. Kata “Dwell together” artinya tinggal bersama. Konteks tinggal bersama ini ada dalam pasal 132 yaitu berhubungan dengan pergumulan Daud untuk membangun sebuah rumah (bait) bagi Allah di Yerusalem: “Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub” (Mazmur 132:3-5). Hasrat untuk mendapatkan sebuah tempat untuk rumah kediaman Tuhan melebihi apapun yang pernah diinginkannya.

Kerinduan Daud yang begitu mendalam untuk membangun Bait Allah ini
berhubungan dengan janji akan kedatangan Mesias (Juruselamat) yang mengalir dari keturunan Daud “Di sanalah Aku akan menumbuhkan sebuah tanduk bagi Daud, Aku akan menyediakan sebuah pelita bagi orang yang Kuurapi” (Mazmur 132:17), yang akan mempersatukan semua bangsa-bangsa sehingga tinggal dalam satu rumah (bait) yang kita kenal sebagai Gereja Tuhan.

Berkat dari Kesatuan (unity) digambarkan dengan begitu indah dan sangat peaceful. Dan memang di dalam hidup kita, selama kita hidup sebagai manusia, kita tidak dapat menghindari hubungan dengan sesama manusia.

Dari ayat ini, biarlah setiap kita mengingat, semakin kita dapat bersatu (united) dan rukun kepada lebih banyak manusia, semakin indahlah dan semakin diberkatilah hidup kita.

Perbedaaan bukan berarti Kesalahan. Perbedaaan bukan berarti Kekurangan. Itulah yang harus kita ingat. Jika tidak ada satu manusiapun yang memiliki sidik jari yang sama, itu berarti jika kita ingin memiliki hubungan yang luas, maka Anda perlu berharap akan adanya PERBEDAAN.

Perbedaan itu tidak masalah, asalkan dalam pikiran kita terus menerus ingat bahwa ”Perbedaan bukan Kesalahan dan Perbedaan bukan Kekurangan”.
Oleh karena itu hargailah perbedaan. Bergaulah terus dengan lapang hati, dengan sukacita. Semakin banyak orang di dalam ‘relationship’ kita, semakin kita rukun dengan banyak orang, maka hidup kita akan semakin diberkati!
Hidup akan mengalami pengalaman yang semakin diberkati dan semakin indah ketika kita berubah dalam penilaian kita terhadap orang lain sehingga kita dapat Bersatu dan Rukun dengan siapa saja. Better life now!

Kedua, seperti embun yang melambangkan penyegaran kehidupan. Berkat dan kehidupan sebagai dampak positif kerukunan akan terpancar dan dialami oleh mereka yang hidup dalam kerukunan.

Gunung Hermon pada zaman Daud ada dalam otoritas Siria (bangsa Asyur) dan jika di tarik garis lurus berjarak lebih dari 150 km dari Yerusalem (yang menggambarkan gunung Sion). Jadi jelas bagi kita bahwa berkat itu bisa hadir dari manapun termasuk dari bangsa-bangsa lain, jika Allah telah memerintahkannya. Ini sesuai dengan firman Allah yang  disampaikan nabi Yesaya: “Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan
bangsa-bangsa akan datang kepadamu.”
(Yesaya 60:5) Daud  menggambarkannya seperti minyak urapan dan embun Gunung Hermon yang turun ke gunung-gunung Sion dapat juga berbicara tentang kekayaan berkat Tuhan yang tidak terbatas untuk memberkati kita. “Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam dan
harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu,
bahwa Akulah TUHAN, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu”
(Yesaya 45:3). Jadi intinya adalah: marilah kita menilik hati kita sendiri. Apakah kita sudah tinggal bersama dalam kesatuan?

3. Lalu, bagaimanakah kita harus bersikap agar tercipta hidup rukun dalam kehidupan? Nas epistel Lukas 10 : 27 – 35, sebagaimana Tuhan Yesus menyatakannya, adalah dengan mau bertindak mengasihi sesama tanpa melihat latar belakang, ras, suku dan agama.

Alkitab mencatat ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho maka kalau kita perhatikan secara geografis letak Yerusalem memang lebih tinggi dari Yerikho dan jarak kedua kota ini 17 mil. Pada jaman itu jarak tersebut bukanlah jarak yang dekat dan mudah untuk ditempuh mengingat jalannya yang berbatu dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari gurun pasir dan di sepanjang perjalanan Yerusalem-Yerikho sering terjadi perampokan. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa orang yang lewat jalan tersebut bukan untuk sekedar jalan-jalan tetapi karena memang ada kepentingan. Dan di tengah jalan orang ini dirampok bahkan dilukai dan dikatakan ia hampir mati namun kebetulan ada seorang imam yang juga turun dari Yerusalem melewatinya dari seberang jalan.

Ada kesan sepertinya ia memang sengaja menghindari orang itu. Ada beberapa kemungkinan penyebab imam tersebut tidak mau menolong, yaitu: pertama, ia takut mengalami nasib yang sama seperti orang itu, yakni dirampok, kedua, seorang imam mempunyai tugas khusus, yakni mempersembahkan korban. Untuk melakukan tugas khusus ini maka ia harus menguduskan dirinya dan salah satunya ia tidak boleh bersentuhan dengan mayat. Namun alasan ini tidaklah tepat karena Alkitab mencatat imam tersebut turun melalui jalan itu (ay. 31), berarti ia sama seperti orang itu, yakni dari Yerusalem ke Yerikho. Maka jelaslah bahwa imam tersebut sudah selesai melakukan tugasnya namun ia memang sengaja tidak mau menolong orang yang sedang dalam kesusahan tersebut.

Kemudian datanglah orang Lewi, melewati jalan yang sama dan ia pun hanya melewatkan orang itu begitu saja. Orang Lewi tidak sama dengan imam, orang Lewi hanya bertugas mengurus perabotan Bait Allah saja. Jadi sebenarnya bukan alasan baginya untuk tidak menolong orang itu. Bukankah ini menjadi gambaran setiap manusia dimana jabatan / kedudukan terkadang menghalangi kita untuk menolong sesama. Orang akan berpikir dua kali ketika hendak menolong sesama, mereka berpikir tentang akibat dan bagaimana cara yang tepat untuk  menolong sesama. Akibatnya karena terlalu banyak pertimbangan maka tidak ada tindakan nyata yang dilakukan. Berbeda halnya kalau seseorang tidak mempunyai jabatan di masyarakat akan lebih mudah baginya untuk menolong sesama tanpa perlu memikirkan akibatnya. Kedua tokoh yang ditampilkan oleh Tuhan Yesus, kedua-duanya adalah orang terpandang namun kedua-duanya gagal. Melihat hal ini maka pastilah si ahli taurat ini mengharapkan kehadiran tokoh ketiga adalah seorang yang dari keturunan Yahudi namun sungguh di luar dugaan ternyata tokoh yang ditampilkan Tuhan Yesus adalah orang yang paling ia benci dan tidak layak disebut sebagai sesama, yaitu orang Samaria. Begitu bencinya orang Yahudi pada orang Samaria sehingga menerima kebaikan dari orang Samaria merupakan suatu kehinaan bagi orang Yahudi. Tuhan Yesus justru memunculkan tokoh orang Samaria. Kalau imam dan orang Lewi tidak mau menolong karena pertimbangan takut dirampok maka pastilah orang Samaria pun seharusnya punya alasan yang sama karena orang Samaria pun mempunyai hukum yang sama seperti orang Yahudi, yaitu menyentuh mayat berarti menajiskan diri. Namun Tuhan Yesus justru memberikan perumpamaan ini dengan unik dan Alkitab mencatat bahwa orang Samaria ini digerakkan oleh belas kasihan (ay. 33) dan tidak berhenti di belas kasihan, orang Samaria ini merawat dan menaikkannya ke atas keledai tunggangannya bahkan membawanya ke tempat penginapan; ia juga menjamin bahwa ia akan kembali dan mengganti semua biaya yang dikeluarkan pemilik penginapan tersebut. Apakah kita mempunyai hati seperti orang Samaria ini? Just show your compassion and do it!

4. Aplikasi. Perumpamaan Tuhan Yesus ini kemudian diakhiri dengan pertanyaan-Nya kepada ahli Taurat, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?“ Kalau kita dihadapkan pada situasi demikian pastilah kita juga akan dibingungkan, kita berharap mendapat jawaban dari bertanya tetapi malah ditanya balik tentang siapakah sesama manusia itu? Kalau kita perhatikan maka pertanyaan yang Tuhan Yesus lontarkan pada si ahli Taurat sangat signifikan karena pertanyaan tersebut sekaligus mengkoreksi paradigma si ahli Taurat tentang “siapakah sesama manusia“, yaitu:

a. “Sesama manusia“ merupakan subyek. Perhatikan sesama manusia yang ditanyakan oleh ahli Taurat ini mempunyai kedudukan sebagai obyek karena kalimat ini seolah-olah bertanya, “Kepada siapa aku harus menunjukkan belas kasihan?“ Namun pernyataan Tuhan Yesus sungguh amat bijaksana, Ia balik bertanya sekaligus membalikkan posisi sesama manusia bukan lagi sebagai obyek melainkan subyek (ay. 36).

b. Menjadi “sesama manusia“ merupakan tindakan nyata. Dengan bertanya siapakah sesamaku manusia, si ahi Taurat berharap memperoleh sebuah jawaban berupa definisi atau teori, yaitu manusia adalah… Si ahli Taurat hanya berbicara dibatas wilayah pemikiran namun jawaban tersebut ternyata berbeda dengan yang ia harapkan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa sesama manusia bukan sekedar teori atau definisi tetapi sesama manusia lebih menunjuk pada praktek nyata yang kita lakukan pada orang lain. Sesama manusia bukanlah berbicara hal teoritis tapi hal praktis dalam tindakan riil yang nyata.

c. “Sesama manusia“ bukan identitas. Ahli Taurat berharap mendapatkan jawaban dimana jawaban tersebut mengacu pada identitas manusia. Seperti kita ketahui, orang Yahudi sangat bangga dengan status dirinya dan menganggap bangsa lain sebagai kafir. Selesai mendengar perumpamaan dan si ahli Taurat kembali ditanya oleh Tuhan Yesus dan ia tidak berani menyebut identitas orang tersebut yang adalah orang Samaria, si ahli Taurat hanya menyebutkan tindakannya bahwa sesama manusia adalah orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya (ay. 37). Tuhan Yesus ingin mengubah paradigma kita bahwa sesama manusia bukanlah sekelompok orang atau status tapi kasih berupa tindakan nyata.

d. “Sesama manusia“ merupakan penyataan kasih. Sesama manusia berbicara tentang kasih bukan manipulasi, berbuat baik demi untuk mendapat keuntungan. Hati yang digerakkan oleh belas kasihan itulah yang    membuat kita menjadi sesama bagi orang lain. Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya jadi, Allah yang adalah kasih maka hendaklah kasih itupun   terpancar keluar dari diri kita. Satu hal kebutuhan manusia yang paling esensial adalah keselamatan. Dan menjadi tugas setiap orang Kristen untuk mengabarkan Injil keselamatan.

5. Kesimpulan. Terasakah bagi kita betapa mengejutkan jawaban Yesus? Dengan mengacu kepada sari Taurat (Ul.6:5), Yesus ingin menyadarkan dia bahwa hidup kekal bukan masalah warisan tetapi masalah hubungan. Faktor intinya bukan perbuatan tetapi kondisi hati. Kasih Allah yang telah mengaruniakan hidup dengan menciptakan manusia dan memberikan hukum-hukum-Nya, patut disambut dengan hati penuh syukur dan kasih di pihak manusia.

Mungkinkah orang mengalami kasih Allah dan hidup dalam kasih yang riil kepada-Nya namun hatinya tertutup terhadap rintih tangis sesamanya? Tidak, sebab kasih kepada Allah pasti akan mengalir dalam kasih kepada sesama. Namun, siapakah sesama yang harus kita kasihi itu? Lalu, lahirlah jawab menakjubkan dari Yesus tentang perumpamaan orang Samaria yang baik. Pertama, orang-orang yang dalam praanggapan si ahli Taurat pasti akan berbuat benar, ternyata tidak. Kedua, orang yang dalam praanggapan si ahli Taurat pasti salah, ternyata berbuat benar sebab memiliki kasih. Ketiga, ahli Taurat itu seharusnya tidak bertanya siapakah sesamanya tetapi bertanya apakah ia sedang menjadi sesama bagi orang lain.

Maka patutlah untuk kita renungkan dan untuk dilakukan: Orang yang mempraktikkan kasih seluas kasih Allah menunjukkan bahwa ia memiliki hubungan dengan Allah dan hidup kekal.

Saudara-saudara, mari doakan dan usahakanlah terus kerukunan dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa kita, niscaya berkat dan kehidupan dari Tuhan seperti minyak yang meleleh dan embun yang turun menjadi pengalaman umat selama-lamanya. Amin.

About these ads

3 responses to “RUKUN ITU INDAH

  1. sangat bagus themanya, semoga jadi berkat bagi keluarga2 yg saat ini bnyk mengalami konflik atau perpecahan.

  2. thema yg bagus, penulis siapa ya, koq tidk dicantumkan.

  3. thema yang sangat bagus.. terima kasih, ini dapat membantu sy menyelesaikan tugas makalah.. GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s