TUBUH KRISTUS: BERBEDA TETAPI SATU

KHOTBAH MINGGU 5 JULI 2009

Ev: 1 Korintus 12 : 12 – 27

Ep.: Filipi 2 : 2 – 11

1. Bagaimana kesan dan perasaan Anda tentang gereja? Bangga akan kenyataannya? Kagum akan anugerah Tuhan yang tercermin di dalamnya? Kesan kita mungkin mendua. Di satu pihak kita kagum bagaimana Tuhan menebus beragam orang dan mempersekutukan menjadi gereja. Orang dari beragam latar belakang, dipersekutukan Kristus menjadi gereja-Nya. Ajaib bukan karya penyelamatan Kristus? Untuk itu kita bersyukur dan memuliakan Allah! Namun di pihak lain kita sedih melihat seringkali kesatuan yang telah Yesus wujudkan tidak secara aktif diwujudnyatakan oleh orang Kristen. Akibatnya bukan kesatuan yang terwujud, tetapi kumpulan yang di dalamnya ada ketidakcocokan.

2. Bahaya dari perpecahan. Bisa dipahami bahwa latarbelakang dan ciri khas tiap anggota gereja bisa menjadi penyebab sukarnya mewujudkan kesatuan. Paulus karenanya mengingatkan agar orang Kristen di Korintus melihat mereka sebagai “ras” dan “jati diri” baru yaitu “ras dan jati diri” milik Kristus yang telah dipersatukan oleh satu Roh. Perbedaan ras, latar belakang pendidikan, kedudukan sosial, tidak ditiadakan tetapi ditempatkan lebih rendah daripada kenyataan baru kita sebagai sesama tebusan Kristus!

Ada hal lain lebih menyedihkan yang berpotensi menjadi pemecah kesatuan Kristen. Karunia rohani berbeda-beda bisa menjadi alasan untuk membuat semacam hierarki rohani yang tidak benar. Ada yang menganggap bahwa karunia yang spektakuler menunjukkan tingkat yang lebih tinggi. Sembilan karunia Roh ini (ayat 7 – 11) harus dinilai dengan tepat. Karunia itu dari Roh Allah, jadi tak seorang pun boleh menyombongkan karunia yang diterima. Karunia dipakai untuk melayani orang lain, bukan untuk menonjolkan kerohanian diri sendiri. Karunia rohani banyak ragamnya (bahkan lebih dari sembilan bila kita lihat di Alkitab); sebab gereja memang sepantasnya memancarkan ragam keajaiban kuasa dan karya Allah.

Gereja harusnya suatu kesatuan dalam keragaman, sebab Allah kita pun tritunggal. Begitu banyak manifestasi kemuliaan karya Allah yang ingin Ia kerjakan melalui peran kita. Jangan perdebatkan apa yang Roh berikan untuk pembangunan jemaat. Syukuri dan berkontribusilah!

Sesuai dengan nas Epistel, Filipi 2:2-11, menyatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi perpecahan di tengah-tengah jemaat (secara khusus mari kita lihat ayat 3 dan 4), yaitu:

Pertama, mencari kepentingan sendiri (“mardingkandingkan”). Atau dapat kita katakan dengan ambisi mementingkan diri sendiri. Ada bahaya bahwa orang bekerja bukan demi kemajuan pekerjaannya, melainkan dirinya sendiri. “Mardingkan” dalam bahasa Batak Toba, dapat diartikan dengan pilih kasih, memilih yang bukan berdasar dari obyektifitas tetapi subyektifitas. Semua bermuara untuk kepentingan saya, kepentingan kelompok saya, kepentingan pribadi saya, saya dan saya. Inilah kelompok nepotisme. Akibat yang terjadi dari tindakan “mardingkan” adalah, ada yang diperhatikan dan diistimewakan, ada yang di ‘anakitirikan’ dan di ‘anakemaskan’. Sehingga disinyalir, tindakan seperti ini akan mengakibatkan perpecahan, baik di tengah-tengah persekutuan yang beraneka ragam itu, maupun di tengah-tengah suatu kelompok (marga, parsahutaon, kelompok sosial lainnya). Bayangkan saja saudara-saudara, kalau kita hanya memilih yang satu marga dengan kita dalam melakukan pekerjaan. Segala sesuatu berorientasi hanya untuk diri sendiri, ini pastilah sangat berbahaya. Siapa ‘mardingkan’, cepat atau lambat akan menuai persoalan bahkan perpecahan.

Kedua, mengharapkan puji-pujian yang sia-sia, gila hormat (marhasangapon na rumar). Ini lebih kepada soal ‘harga diri pribadi’. Harga diri bagi banyak orang merupakan pencobaan yang lebih besar daripada kekayaan. Merasa dihormati, disegani, diutamakan, dimintai pendapatnya, dikenal bahkan dipuji-puji, sangat didambakan oleh banyak orang. Namun, tujuan orang Kristen bukanlah memamerkan diri, melainkan meniadakan diri. Ia harus melakukan perbuatan-perbuatan baik, bukan supaya orang lain memujinya, melainkan supaya mereka memuliakan Bapanya yang di sorga. Orang Kristen harus mengarahkan pandangan manusia bukan kepada dirinya sendiri, melainkan kepada Allah.

Ketiga, pemusatan kepada diri sendiri. Apabila seseorang selalu memperhatikan kepentingannya sendiri, ia cenderung berbenturan dengan orang lain. Bila baginya hidup adalah perlombaan yang hadiahnya harus dimenangkan, ia akan selalu menganggap orang lain sebagai musuhnya atau, paling tidak, saingan yang harus disisihkan. Pemusatan diri sendiri berarti, mau tidak mau, meniadakan orang lain; akibatnya tujuan hidup bukan untuk menolong orang lain, melainkan menyisihkannya.

Untuk mengatasinya dibutuhkan sikap menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Ini hanya dapat dilakukan bila kita mau merendahkan hati. Belajarlah melihat diri sendiri sebagai yang terakhir! Inilah cara kita menonjolkan kasih Kristus.

3. Saling diperlukan dan saling memerlukan. Paulus menggambarkan jemaat seperti tubuh. Suatu gambaran yang pas! Satu tubuh namun banyak anggota. Tiap anggota punya fungsi dan kegiatan berbeda-beda, namun tidak mungkin lepas dan terpisah satu dari yang lain. Yang satu memerlukan yang lain. Masing-masing diperlukan oleh yang lain. Demikianlah seharusnya realita jemaat sebagai tubuh Kristus. Itu harus menjadi prinsip kerja sama dalam jemaat, prinsip ibadah, prinsip pengembangan jemaat dan pelayanannya, prinsip penggunaan karunia-karunia rohani.

Maka sangatlah dibutuhkan aturan main, seperti tubuh yang salah aturan main, pasti akan berbahaya, akan terjadi disharmoni. Pentingnya aturan main di atas dapat lebih dipahami bila membayangkan apa akibat dari salah aturan. Apa jadinya bila seluruh anggota tubuh kita adalah mata? Apa jadinya bila semua anggota tubuh kita mogok kerja karena bukan mata? Apa yang harus dibuat untuk mencegah kekacauan dan kelumpuhan tersebut? Warga gereja harus belajar menghargai keunikan tiap orang. Warga gereja harus menilai kemampuannya sendiri dan kemampuan orang lain dalam perspektif kebersamaan tubuh Kristus. Maka pertanyaan kita saat ini adalah bila kesatuan dan pertumbuhan bersama adalah hal terpenting, karunia apakah yang lebih harus diutamakan dan diupayakan?

4. Kesatuan di dalam Kristus. Kembali kepada nas epistel kita, banyak nasihat firman Tuhan bagi warga gereja sulit kita praktikkan. Mengapa? Salah satu alasannya adalah karena nasihat-nasihat itu bertentangan dengan dorongan kodrati kita. Perikop ini dimulai dengan “Jadi karena dalam Kristus, atau “Sebagaimana dalam Kristus” (ay. 1). Karya dan teladan Kristus serta pengenalan kita akan Kristus adalah sumber aliran nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan (ay. 2-4). Tanpa sumber itu, semua kesatuan di antara manusia hanyalah semu belaka. Keakraban berdasarkan kepentingan sama, interes sama, hobi sama, hanyalah kesatuan berdasarkan kesamaan dorongan ego masing-masing orang.

Paulus mengaitkan kesatuan ini dengan kesempurnaan sukacita (ay. 1; bnd. Yoh. 17:13). Inilah sukacita seorang yang saleh, yang afeksi dan emosi terdalamnya serasi dengan rencana Tuhan. Inilah sukacita karena melihat saudara seiman hidup dalam kesatuan.

Kesatuan ini meliputi beberapa hal. Pertama, kesehatian. Kristen seharusnya memiliki arah hati yang sama yaitu kepada Tuhan, dalam segala sesuatu memuliakan dan menyenangkan Tuhan saja. Kedua, sepikir. Pikiran harus dikuasai oleh kebenaran yang sama, yaitu firman Tuhan. Ketiga, satu kasih. Kristus mengasihi kita dan mempersatukan kita dengan Bapa yang di sorga. Waktu kita mengasihi, kita sedang membawa orang ke dalam kesatuan tubuh Kristus dengan satu tujuan, yaitu hidup bagi Tuhan dengan meneladani kehidupan Kristus.

Ada dua hal yang dapat menghambat kesatuan ini, yaitu mencari kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia. Untuk mengatasinya dibutuhkan sikap menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Belajarlah melihat diri sendiri sebagai yang terakhir! Inilah cara kita menonjolkan kasih Kristus.

5. Teladan Kristus. Setelah berbicara tentang kesatuan tubuh Kristus, Paulus menutup bagian ini dengan mengacu kepada teladan Kristus. Teladan Kristuslah yang menjadi acuan untuk kesatuan tersebut. Teladan Kristus itu adalah pengosongan diri-Nya. Sebelum kita menelusuri nasihat Paulus, marilah kita bayangkan apa konsekuensi yang harus Kristus tanggung ketika Ia memanusia.

Ia mengosongkan diri. Mengapa disebut mengosongkan diri? Karena dalam sepanjang hidup dan masa pelayanan-Nya selama tiga setengah tahun di bumi, Dia yang sekalipun adalah Allah yang sejati, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan (ay. 6). Kristus menjadi sama dengan manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba. Dia sebagai Allah yang tidak terbatas harus dilahirkan sebagai seorang manusia yang sangat terbatas, bahkan menjadi bayi kecil lahir di kandang hina.

Kita sulit mengerti pengosongan diri ini. Mungkin ilustrasi ini sedikit membantu. Ketika orang dewasa berusaha berkomunikasi dengan anak kecil, ia harus ‘mengosongkan diri’, berbicara dalam bahasa mereka, menanggalkan segala ‘kemuliaan dan kebesaran’ diri sebagai orang yang ‘di atas’. Ini terbatas menggambarkan pengosongan diri Kristus! Dialah Pencipta yang masuk ke dunia dan membatasi diri dengan menjadi manusia ciptaan. Bahkan, bukan hanya mengosongkan diri, Ia melangkah lebih rendah menjadi hamba dan mati menanggung penderitaan dan aib tak terperi.

Inilah cara Allah membawa manusia masuk dalam kepenuhan-Nya melalui penyangkalan dan pengorbanan-Nya agar orang mendapatkan berkat dan anugerah Tuhan. Semangat dan prinsip sama berlaku pula bagi warga gereja. Kristus telah membayar harga yang termahal yang dapat dilakukan dengan menyerahkan nyawa-Nya sendiri di atas kayu salib menjadi tebusan bagi banyak jiwa.

6. Tubuh Kristus dan Ulang Tahun Kemandirian (manjujung baringinna) HKBP. Sebagai Gereja, HKBP telah melewati banyak cobaan, menjadi garam dan terang dunia, alat Tuhan untuk menancapkan Kerajaan Allah di dalam dunia ini. Sebagai alat, tentulah mengalami begitu banyak goncangan karena memang dari dirinya sendiri, HKBP sebagai institusi dan secara pribadi tidaklah sempurna. Perpecahan adalah salah satu gelombang dari dinamika perjalanan Gereja. Namun dari semua hal, untuk mencapai kesatuan yang utuh, Gereja harus benar-benar belajar dan menjadikan Kristus sebagai teladan. Perbedaan pasti ada, namun perbedaan bukanlah kutuk, tetapi berkat untuk dapat saling membangun persekutuan umat Tuhan.  Gereja sebagai Tubuh Kristus haruslah diperankan dalam aturan mainnya. Masing-masing, baik Partohonan (Pendeta, Guru Huria, Bibelvrouw, Diakones, Sintua, Evangelis) dan non-Parthonan juga warga jemaat, mau saling merendahkan diri dalam tugas dan fungsinya di tengah jemaat. Itu hanya dapat dilakukan bila masing-masing mau merendahkan diri. Kemandirian HKBP sejak tahun 1940, telah mengajar HKBP bagaimana melakukan visi dan misi Gereja. Selamat Ulang Tahun Gereja-ku, “berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15: 58). Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s