MEMBINA HUBUNGAN KELUARGA YANG BERKENAN KEPADA TUHAN

Efesus 6 : 1 – 4

Surat Efesus adalah surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus di Efesus, ketika ia berada di dalam penjara (Efesus 1: 1; 4:1).  Surat ini merupakan seruan kepada umat Allah supaya mereka menghayati makna rencana agung dari  Allah itu untuk mempersatukan seluruh umat manusia melalui Yesus  Kristus (Efesus 1: 10). Rasul Paulus mengingatkan orang-orang percaya, agar tidak hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, melainkan hidup berpadanan sesuai  dengan panggilan Tuhan, karena mereka telah belajar mengenal Kristus (Efesus 2: 10; 4:1;4: 20).  Maka cara hidup yang harus ditunjukkan orang-orang yang telah belajar mengenal Kristus adalah harus menanggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah (Efesus 4: 21 – 24). Buktinya akan terlihat dan terasa bagaimana dia bersikap dalam kehidupan sehari-hari,  bagaimana hubungannya dengan Tuhan, bagaimana dia berinteraksi dengan sesama manusia, dan dengan sesama anggota keluarga. Semua hubungan itu dibangun dan dibina berdasarkan kasih Kristus.

Lalu, bagaimanakah seharusnya yang dikehendaki Tuhan dalam hubungan antara orang tua dan anak?

“Kewajiban anak terhadap Orang  Tua”

Paulus mengingatkan bahwa adalah sebuah keharusan atau kewajiban anak-anak menaati orang tuanya. Lebih tegas lagi dalam Ef 6:2  disebutkan tentang perintah yang sangat penting, yaitu menghormati ayah dan ibu. Sikap hormat anak kepada orang tua, tidak ditentukan oleh sebuah persyaratan, apakah orangtuanya baik atau tidak, tetapi merupakan sebuah keharusan karena sudah diperintahkan Tuhan dalam hukum Taurat (Kel. 20: 12).  Maksud dari sikap menghormati orang tua, dijelaskan dalam maksud dari Titah V yang tertulis dalam Katekhismus kecil Marthin Luther, yaitu kita harus takut serta kasih kepada Allah, sebab itu jangan kita bersikap remeh terhadap orang tua kita, terhadap pemerintah dan terhadap orang yang lebih tua. Jangan kita menimbulkan kemarahan mereka, tetapi hendaklah kita selalu menghormati dan mengasihi mereka, menuruti dan menyelami jiwa mereka, serta senantiasa berbuat baik kepada mereka. Dalam RPP HKBP (salah satu sumber hukum Gereja) kita dijelaskan bahwa sikap yang tidak menghormati orang tua adalah sikap anak yang memfitnah orang tua, bertindak kasar kepada orang tua, tidak patuh dan berperkara dengan orang tua, melecehkan orang tua, mengutuki, menyiksa dan mengusir orangtuanya. Tidak bersedia mengurus orangtuanya  yang sudah uzur dan perbuatan yang merampas harta milik orangtuanya.

“Berbahagia dan panjang umurmu di bumi adalah upah bagi anak yang taat kepada orang tua”

Dalam hukum Taurat V, Tuhan sudah mengingatkan siapa yang menginginkan lanjut umur di tanah yang diberikan Tuhan, maka ia harus menghormati orangtuanya. Jadi,  gagal atau berhasil anak adalah bagian yang menentukan atas sikap kepada orang tuanya:

a. Anak gagal atau berhasil mentaati Firman Tuhan.

b. Bahagia atau tidak dalam hidupnya.

c. Umurnya panjang atau tidak

Maka setiap orang perlu mencermati bagaimana sikapnya terhadap orangtuanya. Kalau kita ingin berbahagia dalam hidup ini, dan panjang umur, maka mari kita tunjukkan dulu rasa hormat  kita kepada orangtua. Menaati dan menghormati orang tua, adalah bukti kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan.

“Kewajiban Orang Tua terhadap Anak”

Paulus juga menasihatkan kepada  orang tua, dalam hal ini bapak-bapak untuk tidak membangkitkan amarah pada anak-anak mereka, tetapi mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Artinya adalah orang tua harus memelihara dan mendidik anak sesuai dengan ajaran-ajaran Firman Tuhan, dengan tujuan supaya anak bisa bertumbuh dengan baik sesuai dengan rencana Tuhan di dalam kehidupan anak. Gagal atau berhasilkah orang tua memelihara dan mendidik anaknya dengan baik menentukan,

a. Orang tua gagal atau berhasil mentaati Firman Tuhan.

b. Kehidupan anak-anaknya berhasil atau tidak.

c. Orang tua bersukacita atau berduka cita melihat kehidupan anak-anaknya.

Cara orangtua mendidik anak sangat menentukan perkembangan anak. Jika mereka gagal mendidik anak dengan tepat, maka anak-anaknya nantinya akan berpotensi menjadi anak yang sulit untuk dipegang, dan lebih buruk lagi, dia akan menjadi calon penjahat dan perusak masyarakat. Karena itu, pendidikan anak merupakan satu hal yang perlu dipikirkan secara serius dan tidak boleh diabaikan. Kalau anak-anak di­didik dengan baik dan benar, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang bermoral, yang mempunyai cara hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Dalam aspek pendidikan anak, Alkitab memberikan penekanan lebih serius kepada bapak-bapak. Ada 3 alasan yang mendasari penekanan ini, Pertama, Alkitab mengatakan bahwa pendidikan anak adalah tugas penting yang tidak boleh diabaikan bapak. Seorang ayah tidak bisa meninggalkan tang­gung jawab pendidikan anak dan menyerahkan seluruh aspek pendidikan kepada ibu karena dia sendiri berperan sebagai wakil Allah dalam keluarga.  Rasul Paulus mengatakan, suami adalah kepala bagi isteri sama seperti Kristus adalah Kepala bagi jemaat.

Kedua, anak belajar mengenal Allah melalui figur ayah. Kalau seorang anak mempunyai konsep yang salah tentang ayahnya, maka konsepnya tentang Allah pun salah.

Ketiga, yang seringkali membuat anak marah dan sakit hati adalah ayah. Tentu saja tidak semua ayah berbuat demikian. Tetapi di dalam masyarakat, yang paling sering menganiaya anak adalah ayah. Karena itulah Alkitab mengatakan, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu.”

Dalam mendidik anak, yang paling utama adalah diperlukan adanya keteladan dari para orang tua. Kalau para orang tua mampu menunjukkan teladan yang baik, yang berdasarkan ketaatan pada Firman Tuhan serta membina hubungan yang baik antara suami dan isteri berdasarkan kasih Kristus, akan menumbuhkan anak-anak yang taat kepada Tuhan dan kepada orangtuanya. Sebaliknya, kalau para orang tua menunjukkan perilaku yang buruk dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama bahkan dengan keluarganya sendiri, akan menumbuhkan perilaku yang buruk pula dalam pribadi anak.

Dalam Amsal 6: 20-29, dijelaskan bahwa beberapa contoh buruk yang dapat merusak perilaku anak adalah dosa perzinahan. Orang tua yang tidak mampu memberikan teladan akan menghasilkan anak-anak yang tidak bisa jadi teladan pula. Di satu sisi mereka diajar bahwa tidak setia kepada pasangan, mabuk-mabukan, berjudi, memakai narkoba adalah sesuatu yang salah dan harus dijauhi. Namun di sisi lain mereka mengetahui bahwa orangtua mereka sendiri melakukannya. Anak-anak semacam ini akan menjadi bingung, gamang, malu, sakit hati, sedih, marah dan juga berontak. Tak jarang mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua mereka sebagai wujud dari protes. Bentuk lain dari perlakuan negatif dari orangtua yang dapat merusak pribadi anak-anak adalah hukuman (fisik dan omelan) yang berlebihan kepada anak, perlakuan pilih kasih, ketiadaan tatkala sang anak membutuhkan kehadiran orangtua, tuntutan terus-menerus tanpa pujian, atau terlalu memproteksi anak sehingga mereka tidak belajar untuk mandiri.

Masa depan setiap masyarakat terletak pada bagaimana anak-anak dibesarkan di dalam unit keluarga. Ketika ada yang salah di dalam lingkungan keluarga, dan orang-tua tidak memberikan perhatian yang benar kepada anak-anak di dalam rumah tangga dan tidak memenuhi tanggung-jawab yang diperintahkan oleh Allah untuk memperlengkapi anak-anak mereka untuk hidup dengan benar dalam hidup ini, maka masa depan dari orang-orang itu akan menghadapi kesulitan yang sesungguhnya.

5 responses to “MEMBINA HUBUNGAN KELUARGA YANG BERKENAN KEPADA TUHAN

  1. Bagus sekali!

    Banyak orang ingin panjang umur, ingin abadi.
    Banyak cara telah, sedang dan akan dilakukan.
    Ternyata simpel, “Hormatilah orang-tuamu …”

    Salam Maya!

    • tumpalhasiholansimamora

      Selamat datang di blog sederhana ini,
      menghormati orangtua juga adalah bukti sayang dan cinta anak kepada orangtuanya,
      thanks dan seringlah berkunjung ke blog ini.

      • Yayaya! Lae!
        Anak tentu kudu mencinta Orang-tua, karena Orang-tua telah, sedang dan akan mencintai anaknya sepanjang masa. Malulah kita bila cinta mereka tak berbalas, kan?

        Salam Damai!
        Mari mampir…

  2. Do you think Michel Jackson killed himself?
    What you think about my web? http://www.easyfaxlesspaydayloan.com fast cash advances fast cash advances

  3. Nico Walalayo

    Memang benar bahwa dalam pendidikan anak dalam keluarga lebih banyak dipercayakan kepada ibu karena berbagai kesibukan sang ayah. Dan banyak ayah yang belum perperan sebagai imam dalam keluarga. Namun demikian tidak semuah ayah meninggalkan tanggungjawabnya, masih banyak ayah yang sangat peduli dengan kehidupan anak dan keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s