TINGGALKAN IBADAH YANG SIA-SIA

(Yesaya 1 : 21 – 31)

I. PENGANTAR

Berita kenabian Yesaya dikaitkan dengan situasi sosial politik yang bervariasi pada zaman-zaman yang berubah-ubah. Tuhan dinyatakan sebagai Yang Setia terhadap perjanjianNya dan terhadap rencana keselamatanNya. Inilah berita pengharapan dan penghiburan yang penting dalam kitab ini (7:4; 6:13). Tuhan akan mendatangkan zaman yang baru di mana ada kebenaran dan keadilan secara universal, damai sejahtera di seluruh alam semesta di bawah pemerintahan seorang Raja Damai (lih. 9:1-6).

II.    LATAR BELAKANG

Pada abad ke-8 sM., timbullah zaman yang makmur bagi negara-negara Timur Tengah, termasuk Israel, oleh karena letaknya strategis untuk lalu-lintas perdagangan. Kekayaan harta material yang dimiliki oleh para pemimpin di Israel sayangnya disalah-gunakan dalam ibadah mereka yang penuh kemunafikan. Bila kita lihat nas yang mendahului perikope ini yaitu ay. 4, Israel dituduh telah sarat dengan kesalahan dan kejahatan, maka dalam ay. 10-15 ini dinyatakan bahwa inti dosa mereka ialah ibadah yang penuh kemunafikan terhadap Tuhan. Dosa yang paling berat bukanlah kriminal, melainkan tidak adanya kesadaran tentang dosa itu. Kehidupan religius mereka telah dipulas dengan kegiatan-kegiatan munafik yang dilakukan hanya untuk memuaskan diri sendiri, sebagai suatu pamer kesalehan diri sendiri. Hal itu diperlihatkan dengan banyaknya korban persembahan yang marak dengan pesta-pesta perayaan yang meriah, dengan menaikkan doa-doa yang panjang sambil menadahkan tangan mereka ke atas, dan sebagainya. Tetapi para janda dan yatim piatu diterlantarkan!

Akan tetapi, Tuhan, Allah perjanjian yang setia, tidak bisa dikelabui oleh tindakan-tindakan lahiriah yang munafik itu. Tuhan akhirnya merasa muak dengan cara-cara ibadah yang munafik itu, setelah mereka ditegur berkali-kali melalui para nabi. Mereka sudah terlanjur membelakangi Tuhan dan salah paham. Dikira melalui kegiatan-kegiatan kultus yang munafik itu mereka akan menerima pahala keselamatan dari Tuhan.

III. MEMAHAMI NAS

Ay. 21-23 : Nubuat tentang kenistaan Yerusalem. Dahulu kota Yerusalem merupakan kota kesetiaan, menjadi “kekasih Tuhan”, bahkan menjadi “isteri-Ku dalam kesetiaan (Hos.2:19). Akan tetapi, kini Yerusalem telah kehilangan segala kemuliannya itu, bahkan digambarkan sebagai perempuan sundal yang bejat moralnya. Mereka menindas golongan yang lemah (para janda dan anak yatim piatu. Para pemimpin sendiri sarat dengan kasus suap, korupsi dan sebagainya. Dengan demikian, benarlah jika dikatakan bahwa “dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat” (ay.6).

Dalam Perjanjian Lama, kepedulian terhadap golongan yang lemah dan miskin senantiasa dibela, karena solidaritas Tuhan dengan golongan itu selalu ditonjolkan, dan oleh karenanya menjadi pesan yang aktual bagi Gereja pada zaman modern ini juga.

Ay. 24-26 : Hukuman yang menjernihkan dan membangun kembali. Berita ini diawali dengan sebutan tentang Tuhan, yaitu Yang Mahakuasa, Yang Mahakudus dan Pendukung Israel. Dalam pemahaman yang seperti itu, Tuhan tidak bisa tinggal diam dalam menghadapi keadaan Yerusalem (Yehuda) yang demikian parah. Tindakan hukuman yang diambilNya terhadap umat yang membelakangi Dia bukanlah untuk membalas dendam saja, melainkan tujuannya ialah untuk memurnikan dan membangun kembali hubungan seperti yang berlaku semula, yaitu menjadi kota suci dan kota keadilan (ay.26). Akan tetapi, proses pemurnian akan disertai dengan “api penyucian” yang panas untuk memurnikan perak dari timahnya (Yes.33:14; 1:22). Akhirnya, perak itu akan menjadi murni kembali seperti semula. Di sini Tuhan digambarkan seperti seorang pandai besi yang melebur dan memurnikan logam.

Ay. 27-28 : Pembebasan Sion. Penebusan ini dilakukan oleh Tuhan dengan harga yang tinggi, yaitu penghakiman kebenaran dan keadilan. Yang dimaksudkan dengan “Sion” dalam ayat ini bukanlah lagi dalam arti geografis terbatas pada nama kota Yerusalem atau suku Yehuda, melainkan diberi arti yang universal sebagai “kota orang-orang yang bertobat” (ay. 27b). Hukuman itu yang dipikul oleh Sion dengan penuh penyesalan dan pertobatan, akhirnya membebaskan mereka dari segala kenajisan dan kenistaan. Dengan demikian, hubungan antara Tuhan dan sion menjadi baik dan pulih kembali. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak mau bertobat dan kembali kepada Tuhan hanya ada kebinasaan.

Ay. 29-31 : Kebobrokan moral-religius Israel dan Yehuda pada sepanjang masa disebabkan oleh kultus penyembahan berhala (Baalisme; lih. Yes. 65:14; 66:17). Kultus tersebut menyembah berhala Baal dengan istrinya, Astarte, yang dipuja sebagai dewa-dewa kesuburan di bidang pertanian dan perkebunan. Kebaktian berhala itu biasanya dilakukan di taman-taman di bawah pohon besar dan rindang, yang dipandang sebagai “pohon keramat”. Di bawah pohon-pohon yang demikian itu mereka melakukan pelecehan-pelecehan seksual sebagai persembahan kepada Baal, dengan maksud agar alam menjadi subur dan menghasilkan panen besar yang didambakan.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa mereka akan dipermalukan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Bola api itu adalah hasil pekerjaan dan tindakan mereka sendiri yang berdosa. Demikianlah murka Tuhan akan menyala terhadap mereka dan tiada seorang pun yang dapat mengatasinya (bnd. Yer. 23:29).

IV. RELEVANSI

Dalam nas ini diberitahukan bahwa Allah itu Maha Pengasih dan penuh kasih setia. Pintu akan selalu terbuka kepada mereka yang mau bertobat kepada Tuhan seiring juga dengan perubahan perilaku dan hidup dalam keadilan dan kebenaran. Dalam hal ini yang diutamakan adalah sikap, artinya perubahan di dalam sikap, menghidupi kebenaran dan keadilan. Doa dan persembahan tidak akan berguna tanpa pertobatan (sebagaimana hal ini dapat kita baca dalam Amos 5).

Ibadah bukanlah penampilan kesalehan pribadi tetapi ungkapan umat atas kasih setia dan penyertaan Tuhan. Dan hal itu dapat kita perlihatkan dengan kehidupan di dalam keadilan dan kebenaran. Hubungan baik kita kepada Tuhan diperlihatkan juga dengan solidaritas kita kepada sesama (sebagaimana nanti juga kita akan mengikuti panel diskusi pelayanan diakoni satu tahun di gereja kita).

Allah yang meminta kita untuk hidup di dalam keadilan dan kebenaran. Di dalam diri kita sebagai manusia berdosa, kita tidak akan mampu untuk melakukannya. Namun yang menjadi sukacita kita adalah ketika Allah memampukan kita untuk melakukannya.


About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s