KHOTBAH MINGGU ADVENT III

13 DESEMBER 2009

EV.: LUKAS 13 : 23 – 30

EP.: 2 TESALONIKA 2 : 13 – 17

1. Untuk memahami nas khotbah Minggu ini, ada beberapa hal yang harus kita cermati, yaitu:

a. Konteks nas (Lukas 13:23-30) ini, adalah perjalanan Yesus ke Yerusalem (lihat ay. 22 “Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem”). Mengingat waktu Tuhan Yesus, maka tinggal sedikit waktu lagi untuk mengambil keputusan terhadap pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Orang-orang harus sesegera mungkin mengambil sikap, apakah menerima atau menolak pengajaran Yesus.

(more…)

KHOTBAH MINGGU ADVENT II

6 Desember 2009

Ev.: Maleakhi 3: 1 – 4

Ep.: 1 Petrus 2: 11 – 12

1. Nama Maleakhi berarti “utusanku”; nama ini berasal dari kata “Malakhiah” yang artinya “utusan Tuhan”. Dia adalah seorang Yahudi saleh yang tinggal di Yehuda masa pasca pembuangan, rekan se-zaman Nehemia. Kepercayaannya yang kokoh akan perlunya kesetiaan kepada perjanjian (Mal. 2: 4, 5, 8, 10) dan yang melawan ibadah yang munafik dan tak bersungguh-sungguh (Mal. 1:7-2:9), penyembahan berhala (Mal. 2:10-12), perceraian (Mal. 2:13-16), dan mencuri persepuluhan dan persembahan yang menjadi milik Allah (Mal. 3:8-10) semua ini menunjuk kepada seorang yang memiliki integritas teguh dan pengabdian kuat kepada Allah.

(more…)

KHOTBAH MINGGU ADVENT I, 29 NOVEMBER 2009

Evangelium: BILANGAN 24: 15-17

Epistel: Wahyu 22: 16-20

1. Kitab keempat dari lima kitab Taurat ini melanjutkan sejarah umat Israel yang keluar dari Mesir dan yang sedang diper-siapkan untuk masuk ke Tanah Perjanjian, Tanah Kanaan. Di empat pasal pertama, kita bertemu dengan beberapa pengaturan umat di sekitar perkemahan mereka di kaki Gunung Sinai. Ada sensus umum yang menghitung jumlah laki-laki berumur 20 tahun ke atas yang dianggap sanggup berperang, dari masing-masing suku kecuali suku Lewi, yang dikhususkan untuk pelayanan kemah suci (ps. 1). Dilanjutkan dengan sensus khusus suku Lewi dan pembagian tugas pelayanan masing-masing puak di ps. 3-4. Pasal dua membicarakan pengaturan perkemahan mereka yang dipusatkan pada bangunan Kemah Suci.

Kitab Bilangan unik karena mengandung beragam genre/jenis sastra. Ada peraturan-peraturan Taurat baik yang bersifat ritual maupun aturan-aturan sehari-hari yang dijabarkan dengan rinci (ps. 5-6, 7, 8, 27-30). Ada daftar sensus masing-masing suku (ps. 1, 26). Ada narasi perjalanan Israel dan berbagai hambatan ketika hendak menuju Tanah Kanaan (ps. 10-25). Ada puisi-puisi di dalam penceritaan narasi tersebut (ps. 23-24). Ada daftar kota-kota atau daerah-daerah yang disinggahi Israel dalam perjalanan mereka di padang gurun menuju Tanah Kanaan (ps. 33). Beberapa peraturan baru dicatatkan pada pasal-pasal terakhir kitab ini. Secara sejarah, kitab ini mengisahkan generasi pertama Israel yang keluar dari Mesir akhirnya tak dapat masuk ke Tanah Perjanjian karena ketakpercayaan dan pemberontakan mereka terhadap Tuhan. Sedangkan generasi kedua, yang ketika keluar dari Mesir masih di bawah 20 tahun, dipersiapkan untuk masuk ke Tanah Kanaan.

Secara teologis, kitab ini menyajikan hukuman dan anugerah Tuhan kepada umat yang bebal. Generasi pertama dihukum tidak menerima warisan Tanah Perjanjian. Generasi kedua yang sama bebalnya, dianugerahi kesempatan untuk menikmati warisan tersebut. Pemeliharaan Allah nyata atas umat yang sebenarnya tak layak menerimanya, tetapi pada saat yang sama mereka tetap bertanggung jawab untuk setia dan bersandar pada Tuhan.

(more…)

KHOTBAH MINGGU, 22 NOVEMBER 2009

Evangelium: Yohanes 11 : 25 – 26

Epistel: Wahyu 7 : 9 – 17

1. Pada hari Minggu ini, 22 November 2009, sesuai dengan kalender gerejawi, HKBP memasuki Minggu yang disebut dengan Minggu “Ujung Taon Parhuriaon” dan sekaligus “Parningotan di angka naung monding”. Sebagai minggu akhir penutup kalender gerejawi, tentu kita masing-masing perlu merenung ulang (flasback) perjalanan kehidupan selama satu tahun kalender gerejawi ini. Itu sangatlah penting, mengingat bahwa tahun 2009 ini telah ditetapkan oleh Gereja kita HKBP sebagai tahun diakonia, tahun pelayanan “parasinirohaon”, sudahkah itu terlaksana? Paling tidak, kita menginginkan bahwa setiap warga jemaat mau untuk “ber-diakonia”. Itu adalah salah satu panggilan gereja di dunia ini.

(more…)

1. Pada hari Minggu ini, 22 November 2009, sesuai dengan kalender Gerejawi HKBP, akan menyelenggarakan Ibadah Akhir Tahun (“Ujung Taon Parhuriaon”) sekaligus “Parningotan di angka naung monding”. Ibadah Akhir Tahun berarti bahwa HKBP akan memasuki masa-masa Advent. Kata “Advent” berasal dari bahasa Latin, yaitu: “Adventus” yang berarti kedatangan Allah. Istilah ini dahulu dipakai dalam kekaisaran Romawi untuk menyambut kedatangan kaisar yang dianggap sebagai dewa, kemudian dipakai oleh pengikut-pengikut Kristus untuk menyatakan bahwa bagi mereka bukan kaisar, melainkan Kristus adalah Raja dan Tuhan. Masa Advent adalah masa persiapan sebelum Natal, yakni masa persiapan untuk menghayati makna kedatangan Kristus, sesuai dengan penantian Mesias oleh umat Israel yang terungkap dalam Alkitab Perjanjian Lama, juga sehubungan dengan kedatanganNya pada akhir Zaman. Namun, bukan Minggu Advent yang hendak dijelaskan dalam tulisan ini, tetapi Minggu “Parningotan di angka naung monding”.

Di Gereja HKBP, Minggu “Parningotan di angka naung monding” dilaksanakan pada Minggu ketiga bulan November atau minggu terakhir sebelum Minggu Advent I (tahun ini pada tanggal 22 November 2009). Di Gereja Roma Katolik, hal ini dilaksanakan pada tanggal 2 November (lih. Pdt. DR. A.A. Sitompul, Bimbingan Tata Kebaktian Gereja: Suatu studi perbandingan, BPK-GM, Jakarta, 1993, hl. 87).

Di kalangan Gereja Evangelis pesta ini dimulai sejak pemerintahan raja Friderich Wilhelm III tahun 1816 yang mengadakan pesta peringatan bagi orang-orang yang meninggal dunia dalam masa perang kemerdekaan. Pada masa sekarang ini minggu tersebut diadakan pada minggu akhir gerejawi (bulan November) dan di Eropa minggu ini disebut dengan minggu abadi, di mana minggu itu tidak hanya berhubungan dengan saat-saat terakhir sebelum kematian tetapi juga menunjuk kepada hari-hari penggenapan janji Allah pada akhir dunia ini, sehingga di dalamnya terdapat berita penghiburan dan berita kesukaan.

(more…)

SERMON EPISTEL MINGGU 22 NOVEMBER 2009

(Pangungkapon 7 : 9 – 17)

Oleh: Pdt. Lelim Yan Fransher Limbong, STh

1.    Songon tangkas itaboto ianggo isi ni buku Pangungkapon on, secara umum, hapapatar taringot tu angka na naeng masa sogot (panurirangon) na nilehon ni Debata tu apostel Johannes uju tarbuang ibana tu Pulau Patmos. Gumodang do angka na niida ni Apostel Johannes on bernuansa eskhatologis (eskaton = hari-hari terakhir), Maranatha manang parousia (haroro ni Tuhan Jesus) dohot na masa dihabangsa ni Debata. Ibarat ni sada “buku carita”, mansai godang do dinamika dohot konflik na masa na pinaandar ni buku Pangungkapon on. Secara umum, dinamika manang konflik i paporsukporsuk pemeran protogonis (na burju, siula na denggan) jala pasonangsonang pemeran antagonis (na jungkat, na jat). Alai, anggo ujung ni saluhutna, ima happy ending (akhir bahagia) tu pemeran protogonis jala sad ending (akhir yang mendukakan, menyengsarakan) tu pemeran antagonis. Jala angka na parsidohot mamparsaulihon happy ending holan angka na monang, na manahan ro di ujungna, na burju rasirasa mate (pat. Pang. 2 : 7, 10 – 11, 17, 26; 3 : 5, 12, 21; 15 : 2; 21 : 7). Pangapulion jala gogo na sian Debata do on tu angka na manghophop haporseaonna tu Debata dibagasan Kristus, na tongon dibagasan haporsuhon godang. Tongon dianiaya jala marutang hosa (talpe tu hamatean) do huria na parjolo i dina marhaporseaon tu Debata dibagasan Kristus. Manahan ma nian huria i dihaporseaon, dihaburjuon dohot pangoloionna tu Birubiru ni Debata. Ipeop ma na nidok ni Tuhan Jesus: ”Unang pola mabiar hamu mida angka na mambunu daging, angka na so tuk mambunu tondi; alai na marhuaso mangagohon daging dohot tondi tu na roko, i do sihabiaranmuna (Mateus 10 : 28)”.

(more…)

RENUNGAN, KAMIS 12 NOPEMBER 2009

Galatia 6 : 2 “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”.

Ayat ini sering sekali dipakai oleh pribadi maupun organisasi untuk mengingatkan orang lain akan tugas dan tanggungjawab sebagai orang Kristen. Ayat ini sebenarnya didasarkan oleh kasih Kristus. Kasih Kristus, itulah bingkai dari perbuatan kasih kepada sesama, yang menyentuh kehidupan sesama. Ternyata tuntutan ini menjadi penting, ketika banyak orang tidak mengindahkan tindakan nyata yang harus dilakukan dalam kehidupan ini. Beriman hanya di dalam konsep, tersimpan di dalam hati, tidaklah baik. Segala sesuatu yang kita percaya harus mewujud di dalam perbuatan dan tindakan kepada sekitar.

(more…)

SERMON EPISTEL MINGGU 15 NOPEMBER 2009

Ep.: Yesaya 43 : 8 – 13

1. Kitab Yesaya ini disebut menurut nama seorang nabi besar yang hidup di Yerusalem dalam bagian kedua abad kedelapan s.M.. Nama Yesaya diambil dari bahasa Ibrani: ישׁעיהו Yeshayahu atau Yəša‘ăyāhû. Arti daripada nama ini adalah “Penyelamatan Yahwe”. Seluruh kitab ini dapat dibagi dalam tiga bagian:

(more…)

RENUNGAN, SELASA 10 NOPEMBER 2009

Roma 12 : 13 “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!”

Di ayat 13 ini, Paulus mengemukakan konsep tentang kasih di dalam persekutuan yang bertalian dengan belas kasihan, yaitu: kasih yang membantu. Di ayat 13, Paulus mengungkapkan, “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!”

(more…)

RENUNGAN, SENIN 9 NOPEMBER 2009

Kisah Para Rasul 20:35 “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

  1. “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima,” (Kis. 20 : 35b). Perkataan ini tampaknya berbeda jauh dengan pandangan banyak orang dewasa ini. Sebab, yang dialami, dirasakan, dan diyakini oleh banyak orang justru sebaliknya. Banyak orang merasa lebih berbahagia menerima ketimbang memberi. Itulah sebabnya banyak orang lebih sering mengucapkan terima kasih ketika menerima sesuatu, dan sebaliknya jarang mengucapkan terima kasih ketika diberi kesempatan dan memang mampu untuk memberi sesuatu. Jangankan mengucapkan terima kasih untuk kesempatan memberi, banyak orang malah enggan memanfaatkannya (walaupun mampu); atau kalau akhirnya mau memberi, ia melakukannya dengan kurang antusias.
  2. (more…)

Yohanes 15: 9-17 (16)

Oleh: Pdt. Tumpal H. Simamora, STh

Yoh 15:9-17 memberi prinsip dan kekuatan panggilan Allah. Ketika boleh diangkat jadi anak-Nya, itu merupakan anugerah-Nya yang sangat besar. Perikop tersebut dimulai dengan pernyataan-Nya, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu.” (ayat 9). Lalu diakhiri dengan perintah­Nya, “Kasihilah seorang akan yang lain.” (ayat 17). Inilah inti iman Kristen.

Panggilan Kristen merupakan ikatan kasih sangat erat karena Tuhan menganggap orang percaya sebagai sahabat maka diceritakan-Nya semua. Sebenarnya status orang Kristen hanyalah hamba atau budak karena telah dibeli lunas maka tak boleh tahu yang dikerjakan oleh tuannya (ayat 15). Selain itu, ia seharusnya binasa karena berada dalam cengkeraman setan. Lalu Kristus menyerahkan nyawa dan mati baginya. Padahal ia tak lebih baik, layak, pandai dan talented di tengah seluruh umat manusia hingga sangat dibutuhkan sedangkan yang lain tak boleh dekat dengan-Nya. Seharusnya ia mengerti dan menyadari bahwa Tuhan ingin membangun relasi yang sangat intim dengannya hingga boleh memanggil Bapa kepada Allah.

Maksud perlakuan Tuhan semacam itu jangan dipikirkan memakai konsep dunia yang bisa salah di mana sahabat harus saling mengerti dan dealing karena keduanya punya hak sama. Sahabat dalam konteks Yoh 15:9-17 bukanlah yang berdialog dengan posisi sejajar tapi justru tak boleh melupakan sejarah yaitu status hamba. Jadi, ordonya vertikal namun Allah yang berdaulat bukan malah harus mengikuti keinginan manusia berdosa. Kristus memberi syarat atau patokan penting, “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (ayat 14). Itulah keselamatan. Maka orang Kristen harus kembali ke posisi yang benar dan tak boleh bersikap kurang ajar terhadap-Nya. Bagian tersebut menunjukkan nuansa paradoxical.

(more…)

Oleh : Pdt. Tumpal H. Simamora

Renungan, Selasa 9 Juni 2009

Roma 11:33 “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”

Dalam nas ini, Paulus memuji-muji kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Dalam ketiga kata kunci ini, sama sekali berbeda bila diperhadapkan dengan kekayaan, hikmat dan pengetahuan manusia.

Kekayaan Allah bukanlah kekayaan yang dipegang erat-erat untuk dinikmati sendiri. Itulah yang sering dilakukan manusia; orang-orang kaya seakan-akan menggenggam kekayaan miliknya. Daripada membagi-bagi kepada mereka yang berkekurangan, manusia sering kali malah ingin mengumpulkan harta lebih banyak lagi. Kekayaan Allah itu melimpah; Ia membagikannya kepada manusia dan dunia ciptaan-Nya. Itulah keselamatan; bahwa kita boleh turut menikmati kekayaan Allah.

(more…)

Renungan Rabu, 10 Juni 2009

1 Korintus 1: 9 “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.”

Apakah sebenarnya yang membuat gereja dapat bertahan sepanjang zaman? Apakah resep bagi langgengnya persekutuan orang percaya?

Sebelum menyampaikan keprihatinannya menjawab persoalan jemaat, Paulus menyampaikan alasan mengapa ia merasa berhak menyampaikan kata pengajaran dan nasihat kepada jemaat. Bagian ini penting karena akan menjadi semacam ‘dasar hukum’ bagi semua yang akan dipaparkannya dalam seluruh suratnya. Tanpa peranannya sebagai rasul Kristus yang ditunjuk oleh Allah sendiri (Kis.9:1- 19a), ia tidak mempunyai wewenang atau wibawa rohani apapun.

(more…)

Khotbah Minggu, 14 Juni 2009

Nas: Keluaran 7 : 14 – 25

“Tulah pertama: Air menjadi Darah”

Oleh: Pdt. Tumpal H. Simamora

  1. Awal persoalan dalam nas ini adalah ketika Firaun berkeras hati dan menolak membiarkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Penolakan ini adalah bukti bahwa Firaun tidak takut kepada Allah Israel. Firaun dengan sangat keras hendak mengandalkan kekuatan mantera dan ramalan para dukun yang bekerja untuknya. Oleh karena ramalan dan mantera itu begitu diyakini oleh Firaun, membuat ia berkeras hati untuk tidak memperbolehkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Walaupun sebenarnya sikap Firaun ini adalah suatu kebodohan, karena sikap dari penolakan itu mengakibatkan bangsa Mesir merasakan perbuatan tangan Tuhan seperti dalam Kel.8-10. Nas ini membuktikan dengan jelas, bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang dapat diandalkan. Kita hanya berharap kepada kasih sayang-Nya semata.
  2. Tugas besar dari Tuhan kemudian diberikan kepada Musa. Musa datang menjumpai Firaun untuk menyampaikan kepadanya, dari siapa dan untuk apa dia menerima tugas besar itu. Tugas besar yang disertai dengan wibawa dari yang mengutusnya merupakan andalan utama Musa. Musa tidak datang kepada Firaun dari dirinya sendiri, tetapi atas nama Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan. Kuasa dan wibawa Tuhan yang secara simbolik dinyatakan dengan tongkat yang ada di tangannya akan dinyatakan kepada Firaun secara khusus dan kepada bangsa Mesir secara umum. Tongkat yang dipakai oleh Musa hendak menyatakan kuasa Allah atas seluruh bumi dan bukti dari keberpihakan Tuhan kepada bangsa Israel. Hal itu dinyatakan dengan tegas dalam ay. 16 “TUHAN, Allah orang Ibrani, telah mengutus aku kepadamu untuk mengatakan: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun; meskipun begitu sampai sekarang engkau tidak mau mendengarkan.”
  3. (more…)

Renungan, Kamis 11 Juni 2009

2 Timotius 1:7 “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

Dalam ketiga ayat ini, Paulus menasihatkan dan memperingatkan Timotius untuk melakukan tiga hal. Pertama, untuk mengobarkan karunia Allah yang diterimanya melalui penumpangan tangan Paulus. Karunia yang dimaksud di sini adalah segala pemberian Allah yang memungkinkan dan memperlengkapi Timotius untuk melayani di jemaat Efesus. Karena itu, Paulus menasihatkan Timotius untuk mempergunakan karunia itu dengan lebih “berkobar lagi.” Kedua, agar Timotius tidak merasa malu untuk memberitakan Injil dari Tuhan. Kemungkinan untuk merasa malu ini nyata bagi Timotius, karena Injil itu adalah dari Tuhan Yesus Kristus yang mati disalibkan sebagai seorang kriminal; Injil yang juga diberitakan oleh Paulus yang kini meringkuk sebagai tahanan. Ketiga, agar Timotius mau ikut menderita bagi Injil tersebut. Kata “ikut menderita” di ayat ini mengandung makna berbagi penderitaan.

(more…)

Efesus 6 : 1 – 4

Surat Efesus adalah surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus di Efesus, ketika ia berada di dalam penjara (Efesus 1: 1; 4:1).  Surat ini merupakan seruan kepada umat Allah supaya mereka menghayati makna rencana agung dari  Allah itu untuk mempersatukan seluruh umat manusia melalui Yesus  Kristus (Efesus 1: 10). Rasul Paulus mengingatkan orang-orang percaya, agar tidak hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, melainkan hidup berpadanan sesuai  dengan panggilan Tuhan, karena mereka telah belajar mengenal Kristus (Efesus 2: 10; 4:1;4: 20).  Maka cara hidup yang harus ditunjukkan orang-orang yang telah belajar mengenal Kristus adalah harus menanggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah (Efesus 4: 21 – 24). Buktinya akan terlihat dan terasa bagaimana dia bersikap dalam kehidupan sehari-hari,  bagaimana hubungannya dengan Tuhan, bagaimana dia berinteraksi dengan sesama manusia, dan dengan sesama anggota keluarga. Semua hubungan itu dibangun dan dibina berdasarkan kasih Kristus.

Lalu, bagaimanakah seharusnya yang dikehendaki Tuhan dalam hubungan antara orang tua dan anak?

“Kewajiban anak terhadap Orang  Tua”

Paulus mengingatkan bahwa adalah sebuah keharusan atau kewajiban anak-anak menaati orang tuanya. Lebih tegas lagi dalam Ef 6:2  disebutkan tentang perintah yang sangat penting, yaitu menghormati ayah dan ibu. Sikap hormat anak kepada orang tua, tidak ditentukan oleh sebuah persyaratan, apakah orangtuanya baik atau tidak, tetapi merupakan sebuah keharusan karena sudah diperintahkan Tuhan dalam hukum Taurat (Kel. 20: 12).  Maksud dari sikap menghormati orang tua, dijelaskan dalam maksud dari Titah V yang tertulis dalam Katekhismus kecil Marthin Luther, yaitu kita harus takut serta kasih kepada Allah, sebab itu jangan kita bersikap remeh terhadap orang tua kita, terhadap pemerintah dan terhadap orang yang lebih tua. Jangan kita menimbulkan kemarahan mereka, tetapi hendaklah kita selalu menghormati dan mengasihi mereka, menuruti dan menyelami jiwa mereka, serta senantiasa berbuat baik kepada mereka. Dalam RPP HKBP (salah satu sumber hukum Gereja) kita dijelaskan bahwa sikap yang tidak menghormati orang tua adalah sikap anak yang memfitnah orang tua, bertindak kasar kepada orang tua, tidak patuh dan berperkara dengan orang tua, melecehkan orang tua, mengutuki, menyiksa dan mengusir orangtuanya. Tidak bersedia mengurus orangtuanya  yang sudah uzur dan perbuatan yang merampas harta milik orangtuanya.

(more…)

Renungan, Jumat 12 Juni 2009

1 Kor.2:10 “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”

Pernyataan Paulus dalam ayat ini (juga ayat 11) merupakan teguran tidak langsung kepada jemaat Korintus yang terjebak pada kesombongan intelektual dan spiritual. Filsafat dunia yang mereka pelajari membuat mereka sombong dan menganggap salib sebagai kebodohan. Pengalaman-pengalaman spiritual yang ”spektakuler” (misalnya bahasa roh) membuat mereka merasa diri lebih rohani daripada yang lain (band. 4:8; pasal 12-14). Hal ini juga sering mewarnai interaksi sesama, merasa diri lebih baik dari orang lain, sebagaimana kesan orang-orang Korintus yang menampilkan dirinya sebagai orang-orang yang sempurna secara rohani. Apa yang dinyatakan di 1 Korintus 2:10-11 mengajarkan kepada mereka bahwa orang yang sungguh-sungguh memiliki Roh Kudus seharusnya menjadi orang yang mengetahui hikmat Allah.

(more…)

1 Samuel 2 : 18 – 21

“Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima,” (Kis. 20 : 35b). Perkataan ini tampaknya berbeda jauh dengan pandangan banyak orang dewasa ini. Sebab, yang dialami, dirasakan, dan diyakini oleh banyak orang justru sebaliknya. Banyak orang merasa lebih berbahagia menerima ketimbang memberi. Itulah sebabnya banyak orang lebih sering mengucapkan terima kasih ketika menerima sesuatu, dan sebaliknya jarang mengucapkan terima kasih ketika diberi kesempatan dan memang mampu untuk memberi sesuatu. Jangankan mengucapkan terima kasih untuk kesempatan memberi, banyak orang malah enggan memanfaatkannya (walaupun mampu); atau kalau akhirnya mau memberi, ia melakukannya dengan kurang antusias.

(more…)

Renungan, Sabtu 13 Juni 2009

Matius 16 : 17, Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

“Siapakah Aku?” adalah pertanyaan untuk mengungkapkan penilaian atas  diri sendiri atau orang lain. Jawaban akan bermacam-macam tergantung dari pengenalan seseorang kepada obyek (yang dinilai/dikenal). Bisa baik, atau jahat, mungkin juga disamakan dengan yang lain, pokoknya macam-macam penilaian. Bila pertanyaan ini ditujukan kepada anak, “siapakah aku?”, lalu mungkin dia menjawab “ayahku”, maka anak itu mengenal  ayahnya dengan pengenalan yang bersifat pribadi. Dengan demikian pengenalannya adalah pengenalan yang dalam.

(more…)

Renungan, Selasa 16 Juni 2009

Yehezkiel 36 : 25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu”.

Nama “Yehezkiel” berasal dari bahasa Ibrani yaitu: “hazak” yang berarti “kekuatan”. Sehingga nama “Yehezkiel” mengartikan “Allah adalah kekuatanku”. Arti nama Yehezkiel itu kelihatan dari ketajaman berpikir dan daya nubuatannya yang begitu dalam tentang sesuatu yang akan terjadi kepada bangsa Israel.

Ada dua bentuk nubuatan nabi Yehezkiel yaitu:

Bentuk pertama dari berita nubuatan Yehezkiel kepada bangsa Yehuda adalah menyerukan pertobatan dalam penderitaan multi krisis, pada awal terbuangnya bangsa tersebut. Panggilan pertobatan itu disampaikan dengan memberitahu hukuman berat yang akan dirasakan oleh bangsa itu.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 21 JUNI 2009

Yesaya 41:14-20

1. Pada nas sebelumnya, Yesaya menegaskan bahwa hanya Allah yang berdaulat di muka bumi. Pada bagian ini Allah mengeluarkan pernyataan indah, yaitu Ia akan memberi kemenangan bagi umat-Nya! (ay. 10, 16). Allah melakukan hal itu karena ikatan perjanjian-Nya dengan Israel, umat kesayangan-Nya (ayat 8-9). Tuhan tidak pernah ingkar janji, walaupun Israel terus-menerus tidak setia.

Dalam kenyataanyan, cinta kasih manusia kepada Allah mudah berubah. Cintanya di kala senang dan di kala susah berbeda. Meskipun dikatakan umat begitu mencintai Allah, namun faktanya beberapa kali mereka memberontak kepada Allah. Berbeda halnya dengan cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Meskipun umat pilihan-Nya memberontak kepada-Nya, namun kasih Allah tidak berubah dan tetap untuk selamanya. Hukuman merupakan salah satu bentuk cinta kasih Allah kepada umat pilihan-Nya. Dalam keadilan-Nya Allah memberi hukuman. Ingat, kasih-Nya tidak berubah! “Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau, jangan bimbang … Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau” (ay. 10).

(more…)

Lukas 16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”

Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping uang logam itu, ke dalam telepon.

“Halo, apa kabar?” telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan kilometer jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata: “Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan.” Ibu David berkata: “Anakku tersayang, mama tahu.”

(more…)

Renungan, Sabtu 20 Juni 2009

Ulangan 33:13b “Kiranya negerinya diberkati oleh TUHAN dengan yang terbaik dari langit, dengan air embun, dan dengan air samudera raya yang ada di bawah;

Segala sesuatu diukur dengan uang (materi/fisik), demikianlah banyak orang melihat kecenderungan hidup manusia di zaman ini. Ya, memang kita tidak perlu munafik bahwa uang juga punya peran di dalam kehidupan manusia. Namun, uang (materi) bukanlah segalanya. Uang hanyalah ‘alat’ untuk melakukan sesuatu dan pastilah bukan tujuan. Kebahagiaan hidup bukan ditentukan oleh uang tetapi sebenarnya adalah kedekatan kepada Penguasa langit dan bumi ini. Uang (materi) bagi sebagian orang adalah sesuatu yang dapat menciptakan kebahagiaan. Itu sebabnya di zaman yang materialistis, manusia mengejar kelimpahan materi karena adanya asumsi bahwa kelimpahan tersebut menentukan kebahagiaan hidup seseorang. Sebaliknya tanpa kecukupan secara materi maka kebahagiaan tidak mungkin diraih. Benarkah kecukupan materi menjadi sumber kebahagiaan yang sejati? Mari kita bersama mencermati apa yang diungkapkan bagian ini mengenai kebahagiaan.

(more…)

KHOTBAH MINGGU, 28 Juni 2009

Ev.: Kejadian 7: 10-24

Ep.: 2 Petrus 3: 3-10

1. Kisah air bah ini mengungkapkan tentang dua hal bertentangan dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, Allah menciptakan manusia untuk menjadi partner atau rekan kerja yang setia pada perjanjian-Nya. Allah berharap bahwa dalam kerja sama itu tercipta keharmonisan hubungan antara Pencipta dan ciptaan. Namun, pada pihak manusia, manusia yang sebenarnya adalah ciptaan yang patut taat kepada Allah, menolak untuk bekerja sama. Manusia menolak Allah! Penolakan ini mendatangkan murka Allah. Penolakan yang berakibat buruk dalam hubungan Pencipta dan ciptaan dan mengakibatkan disharmoni dari segala sisi. Semua itu hanya akibat dari sebuah penolakan (dosa). Penolakan itu berasal dari keraguan manusia akan penggenapan janji Allah yang berakibat kepada ketidakpercayaan. Maka berhati-hatilah, mana tahu posisi kita saat ini adalah sebagai orang yang meragukan janji Allah. Satu yang pasti agar kita mengetahuinya bahwa Tuhan tidak pernah lalai terhadap janji-Nya, Dia tidak pernah berdusta.

(more…)

Ep.: Filipi 2:2-11

1. Salah satu tujuan rasul Paulus mengirim surat ini adalah untuk memberi nasihat dan pengajaran kepada jemaat Filipi agar hidup sebagai orang Kristen. Rasul Paulus menasihatkan agar hidup orang Kristen menampakkan sikap: persekutuan=koinonia, kerendahan hati, sukacita dan kesetiaan. Rasul Paulus begitu menekankan kesatuan jemaat. Itu sebabnya rasul Paulus juga menekankannya berulangkali. Rasul Paulus menyadari bahwa perpecahan itu akan cepat menyebar yang akan berakibat buruk kepada kesatuan jemaat.  Ada beberapa gejala perpecahan yang terlihat di tengah-tengah persekutuan orang Kristen di jemaat Filipi, yaitu mementingkan diri sendiri (egoisme, marroha diri), puji-pujian yang sia-sia (marhasangapon na rumar, kebanggaan karena marga, kelompok) dan fanatisme kelompok.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 5 JULI 2009

Ev: 1 Korintus 12 : 12 – 27

Ep.: Filipi 2 : 2 – 11

1. Bagaimana kesan dan perasaan Anda tentang gereja? Bangga akan kenyataannya? Kagum akan anugerah Tuhan yang tercermin di dalamnya? Kesan kita mungkin mendua. Di satu pihak kita kagum bagaimana Tuhan menebus beragam orang dan mempersekutukan menjadi gereja. Orang dari beragam latar belakang, dipersekutukan Kristus menjadi gereja-Nya. Ajaib bukan karya penyelamatan Kristus? Untuk itu kita bersyukur dan memuliakan Allah! Namun di pihak lain kita sedih melihat seringkali kesatuan yang telah Yesus wujudkan tidak secara aktif diwujudnyatakan oleh orang Kristen. Akibatnya bukan kesatuan yang terwujud, tetapi kumpulan yang di dalamnya ada ketidakcocokan.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 12 JULI 2009

EV.: Imamat 25: 1 – 7

EP.: Mazmur 148: 3 – 14

1. Apa yang biasa mewakili sekaligus kehidupan sosial dan pekerjaan Anda, yang tanpanya hidup ini akan menjadi sangat sulit? Sebagian penduduk kota besar mungkin akan berkata dengan tegas” “handphone!” Yang lain mungkin akan menjawab: komputer, atau kendaraan/transportasi, dan lain sebagainyan. Bagi penduduk Israel zaman itu, dan seharusnya juga bagi kita semua di masa kini, tanahlah yang punya peranan sangat penting dalam kehidupan sosial dan pekerjaan, yang tanpanya hidup bahkan tidak dapat berlangsung. Karena itu, tidak heran jika Taurat Tuhan juga mengatur tentang tanah, bahkan melalui pelaksanaan tahun Sabat dan Yobel.

(more…)

Khotbah Minggu 19 Juli 2009

Ev.: Pengkhotbah 5: 9 – 11

Ep.: Matius 6: 19 – 21

1. Masalah yang menjadi pokok pemikiran kita sekarang merupakan masalah yang paling menuntut perhatian kita (seperti Yesus sendiri mengajarkan tatkala Ia memperingatkan kita), jangan sampai kita memperilah mamon. Intinya menunjuk kepada kehausan yang ditimbulkannya, para benalu yang didatangkannya dan gangguan pencernaan yang dideritanya sebagai hadiahnya yang khas. Oleh karena ada tiga hal yang dapat kita cermati dalam Kitab Pengkhotbah 5:9-11 ini, apa yang diperbuat dengan kekayaan?

(more…)

(Disampaikan pada Retreat NHKBP Jl. Letjend. Suprapto)
Tanggal 18 s.d. 20 Juli 2009 di Villa Bunga-bunga, Puncak, Jawa Barat
Oleh: Pdt. Tumpal Hasiholan Simamora, STh
Pendeta Diperbantukan di HKBP Jl. Letjend. Suprapto

The Power of Belief

Saudara-saudara Naposo Bulung,

Saya ingin bertanya: “apa yang membedakan seorang yang gagal dengan mereka yang berhasil?” Apakah mereka berhasil karena mempunyai uang banyak, waktu yang lebih, dukungan keluarga? Pertanyaan saya berikutnya seberapa banyak uang dan waktu yang Anda harus miliki untuk keberhasilan? Apa itu dukungan keluarga?

Saya tidak mengingkari pentingnya faktor-faktor di atas. Tapi yang ingin saya katakan adalah semua itu BUKANLAH faktor yang menentukan.

(more…)

Disampaikan pada Retreat NHKBP Jl. Letjend. Suprapto tanggal 18 s.d. 20 Juli 2009 di Villa Bunga-bunga, Puncak, Jawa Barat
Oleh: Pdt. Tumpal Hasiholan Simamora, STh

Saudara-saudara, mari terlebih dahulu kita memahami apa maksud yang terkandung di dalam pengertian “habit” ini. Hal ini penting, karena ternyata “habit” itulah yang membentuk karakter. Atau boleh dikatakan karakter adalah kumpulan “habit” (kebiasaan) kita.

Motivation…. or Habits?

Motivasi
Berada dalam lingkungan orang orang yang suka belajar dan peduli dengan pengembangan potensi diri selalu saja memberikan pengalaman yang sangat menarik, karena banyak sekali hal positif yang bisa dipelajari.

(more…)

KHOTBAH MINGGU, 26 JULI 2009

EV.: Kisah Para Rasul 18: 1 – 5

EP.: 1 Timotius 6: 2b – 10

Pelayanan sebagai tanggung jawab dan kewajiban. Korintus adalah kota perdagangan, kota dagang yang kaya, di mana juga dosa sangat subur di kota ini. Di kota ini juga terkenal rumah berhala Aphrodite, yaitu dewi cinta kasih. Sebagai kota yang begitu banyak diingini oleh orang yang ingin berbisnis menjadikan kota ini menjadi kota yang ramai. Alkitab mencatat hanya ada satu kota yang membuat Paulus begitu takut dan gentar untuk memberitakan Injil yakni Korintus (1 Kor. 2:3). Mengapa? Karena Korintus adalah sebuah kota kosmopolitan pada abad pertama berpenduduk 200.000 jiwa, yang terdiri dari orang Yunani, Itali, veteran tentara Roma, pengusaha, pejabat-pejabat tinggi, dan orang-orang Asia termasuk di dalamnya orang Yahudi. Di samping sebagai ibu kota propinsi Akhaya, Korintus juga merupakan pusat bisnis yang sangat kaya. Namun seks bebas dan berbagai kejahatan pun sangat mewarnai kehidupan kota ini. Dalam kota yang penuh tantangan ini, Paulus meninggalkan Athena dan berangkat memasuki Korintus demi pewartaan Injil. Paulus akan memulai suatu masa kerja yang amat penting dan baru bagi tugas pelayanannya. Tidak ada yang dapat diandalkan oleh Paulus dalam tugas ini selain Tuhan yang mengutusnya. Karena bila berangkat dari dirinya sendiri, ia mengakui bahwa “sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar” (1 Kor. 2:2-3). Paulus mengatakan ‘datang dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar, menunjukkan keadaan diri, yang tidak memiliki kemampuan apa-apa dan tidak mengandalkan apa-apa selain mengandalkan Yesus Kristus, Dia yang disalibkan itu. Itulah tugas dan tanggung jawab yang selalu menjadi ciri khas dari rasul Paulus, tugas yang dilakukan dengan tanggung jawab dan merupakan kewajiban baginya sehingga dia berkata, “celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor. 9:16b).

(more…)

BAHAN SERMON

Ev.:  1 Raja-raja 21: 1 – 16

Ep.: Amsal 16: 16 – 20

1.   Kitab Amsal, Ayub, Pengkhotbah, merupakan bagian dari tulisan-tulisan hikmat pada Perjanjian Lama. Kitab Amsal berisi bahan pendidikan tradisional yang digunakan umat Israel sejak masa sebelum Kerajaan dan sesudah Pembuangan. Bahan pendidikan Israel ini bersifat teologis. Kadangkala, bahan pendidikan yang terdiri dari pengajaran hikmat itu, merupakan bahasan teologis yang sistematis, kerap pula berisi ulasan etis, dan yang paling sering mengenai perilaku yang amat praktis. Ketiganya, secara langsung atau tidak, tentu didasarkan kepada agama Israel. Pengajaran hikmat yang teologis, maupun yang etis dan praktis ini mengandung penyataan Allah. Melalui pengajaran itu Allah berbicara bukan hanya kepada orang Israel tetapi juga kepada orang Kristen. Karenanya, kedua jenis pengajaran ini berguna sebagai pedoman, terutama dalam kehidupan sehari-hari umat Israel, dan juga bagi orang Kristen.

(more…)

KHOTBAH MINGGU, 2 AGUSTUS 2009

Ev.: 1 Raja-raja 21 : 1 – 16

Ep.: Amsal 16 : 16 – 20

1. Ahab: Penguasa yang dikuasai. Tentunya kita masih ingat dalam zaman Orba dahulu, Sang Penguasa atau Anak Sang Penguasa atau bahkan teman Sang Penguasa begitu berkuasa. Apa pun yang mereka inginkan harus dapat dimiliki dengan cara apa pun, walau harus menabrak batas-batas moral, nilai-nilai agama, atau bahkan mengorbankan nyawa orang lain. Namun kekuasaan itu ternyata tidak pernah memberikan kepuasan kepada mereka. Setelah mereka berhasil menguasai bisnis-bisnis besar, mereka masih menginginkan bisnis-bisnis kecil seperti tata niaga jeruk, lahan perparkiran, dan pemasok sepatu seragam untuk sekolah tertentu. Siapa pun tidak berani menentang atau menghalangi keinginan mereka karena risikonya sangat berat.

(more…)

Firman Hari ini, Selasa 18 Agustus 2009

Yohanes 8:32 “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”.

Merdeka, merdeka, merdeka! Demikianlah seruan anak bangsa bila bertemu dengan tanggal 17 Agustus. Dan bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-64 kemarin, pekikan itu kembali terdengar di mana-mana. Semua seakan gembira dan terbukti dengan dirayakannya HUT Kemerdekaan ini dengan meriah atau sederhana di RT-RT setempat. Jalan-jalan ditutup di mana-mana, semuanya hendak menunjukkan kegembiraannya. Itu semua sah-sah saja, namun ada beberapa hal yang perlu kita cermati melalui Firman hari ini.

1.  Kemerdekaan itu bukanlah kemerdekaan kosong, hanya sebatas perayaan saja. Dalam nas ini, Tuhan Yesus memberi pengajaran yang ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya. Orang Yahudi yang sudah terbiasa dengan aturan-aturan yang ketat untuk menunaikan agama mereka. Ditekankan bahwa kemerdekaan yang di maksud menyangkut kemerdekaan jiwa, kebebasan dari belenggu dosa yang mengikat. Dan, hanya mereka yang sudah merdeka dan beriman kepada Anak Allah, Tuhan Yesus Kristus, yang sungguh-sungguh memperoleh kemerdekaan sejati.

2. Walaupun secara fisik orang Kristen mengalami penindasan, hambatan, dan lain sebagainya, tidak berarti bahwa secara jiwa pun mereka tertindas; namun secara praktis Kristen memiliki kemerdekaan jiwa yang sejati untuk beribadah dan berhubungan dengan Tuhan secara pribadi. Kemerdekaan Kristen diperoleh hanya bila seseorang tetap hidup sesuai firman Tuhan dan melakukan kebenaran Allah, walau di tengah penindasan, tekanan dan ancaman.

BAHAN SERMON EPISTEL

Minggu, 23 Agustus 2009

Epistel: Lukas 10 : 25 – 37

1. Penulis Injil Lukas yang umumnya terkenal dengan sebutan dokter Lukas, bukanlah seorang Yahudi. Latar belakang non-Yahudi ini tercermin dari pengkisahannya tentang kehidupan Yesus dengan menonjolkan sifat universal berita keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Lukas secara khusus memperlihatkan sisi kehidupan pelayanan Yesus kepada masyarakat kalangan bawah di Yudea, yaitu orang-orang miskin, kaum perempuan, anak-anak dan orang-orang yang paling berdosa, yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, khususnya masyarakat Yahudi. Lukas juga menyatakan bahwa Injil itu mencakupi juga bangsa-bangsa lain, dan khususnya orang Samaria yang dipandang rendah oleh orang Yahudi pada masa itu.

(more…)

THE HYMN: No.

In The Name of Father, God Almigthy, and His Son and The Holy Spirit. Amen!

(more…)

KHOTBAH MINGGU 23 AGUSTUS 2009

EV.: MAZMUR 133 : 1 – 3

EP.: LUKAS 10 : 25 – 37

1. Belakangan ini kehidupan masyarakat tidak lagi diwarnai sikap saling menghormati dan saling menghargai. Lihatlah rentetan persoalan di tengah-tengah gereja, keluarga dan masyarakat. Terlebih semakin suburnya kekerasan menjadi bagian pergumulan kita bersama. Kekerasan di rumah tangga, nilai-nilai keagamaan (iman) yang semakin terkikis habis, seakan-akan hanya slogan dan simbol saja. Radikalisme yang melahirkan teror dan ancaman di tengah-tengah masyarakat dan bangsa. Demikian juga sikap saling curiga dan saling memfitnah semakin bertumbuh subur. Kehidupan semacam ini tidak saja menghancurkan persatuan dan kesatuan, tetapi juga semakin menjauhkan berkat Tuhan dalam kehidupan umat. Dimanakah kerukunan dalam kehidupan persekutuan itu ditempatkan? Tempat seharusnya bagi kerukunan umat ada di dalam lingkup keluarga, gereja (antardenominasi dan dalam denominasi), masyarakat (antarras, suku, dan agama). Bila dalam hal yang disebutkan ini kerukunan sama sekali tidak mendapat tempat, kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat jauh dari jamahan anugerah Allah.

(more…)

Renungan, Sabtu 22 Agustus 2009

1 Korintus 3:17 “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan”

Orang Yahudi sangat yakin dapat memahami Perjanjian Lama karena merasa diri memiliki janji-janji Allah. Namun Paulus sangat jelas melihat ada sesuatu yang menutupi mata mereka dan membekukan pikiran mereka. Selubung itu mengakibatkan mereka tidak bisa memahami maksud perjanjian Allah (ay. 14, 15).

(more…)

Renungan, Rabu 26 Agustus 2009

1 Yohanes 4:20, “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya”.

Dalam ayat 20, Yohanes mengandaikan bahwa jika kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan, maka kasih yang sempurna melenyapkan kebencian juga. Bagi orang Kristen mengasihi saudaranya bukannya satu pilihan, melainkan satu kesempatan. Jadi tindakan mengasihi adalah satu kesempatan untuk merespon kasih yang telah terlebih dahulu berikan kepada manusia melalui Yesus Kristus. Kedua hal ini, mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah hukum yang berjalan bersamaan, bukan yang satu dilakukan, lalu yang satu ditinggalkan.

(more…)

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU 30 AGUSTUS 2009

Epistel: Galatia 4 : 22 – 28

1. Pendahuluan:

Surat Galatia ditulis Paulus karena alasan tertentu. Tidak terlalu lama, sejak ia meninggalkan jemaat-jemaat di Galatia yang baru didirikannya itu, Paulus diberitahu bahwa jemaat-jemaat itu dikacaukan oleh pengajaran yang justru merupakan kebalikan dari Injil.

Memang, ketika Paulus mulai mengabarkan Injil pada saat itu di sana juga telah tumbuh tradisi-tradisi tertentu dalam golongan-golongan jemaat Kristen. Dan saat itu Paulus tidak men-inkulturasi (menyesuaikan) kepada semua tradisi itu dan akibatnya ialah bahwa ia menggelisahkan gereja.

(more…)

Efesus 6:4 “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”.

Pengajaran firman Tuhan kepada anak perlu dilakukan secara berulang-ulang dan dengan tidak bosan-bosannya karena ini akan memudahkan anak untuk mengerti apa yang kita ajarkan. Dalam kitab Ulangan 11:19 jelas dikatakan, “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

(more…)

RENUNGAN, Kamis 27 Agustus 2009

Roma 15:5, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus”

Realisasi makna “kerukunan” dalam perjalanan waktu belakangan ini seakan sulit untuk ditemukan. Banyak berita kekerasan yang kita dengar dan lihat terjadi di tengah-tengah masyarakat, bangsa bahkan dalam hidup berjemaat kita. Berita kekerasan baik dalam rangka menegakkan pemerintahan (lihat saja berita terakhir di Venezuela, Myanmar, dll), dalam interaksi di tengah-tengah keluarga (KDRT), kekerasan dalam agama (karena pemahaman yang salah akan iman percayanya), dan lain-lain. Padahal, kita tahu semuanya, kekerasan dan kekacauan yang terjadi terus menerus akan menghambat pembangunan, solidaritas, persatuan dan kesatuan berbangsa dan bertanah air.

(more…)

KHOTBAH MINGGU, 30 AGUSTUS 2009

Ev.: Kejadian 17 : 15 – 27

Ep.: Galatia 4 : 22 – 28

Anda pasti mengenal Ishak dan Ismael. Dua kakak beradik berlainan ibu tetapi satu bapak yaitu Abraham. Anak yang pertama, Ismael lahir dari ibu yang bernama Hagar, merupakan budak Sara isteri Abraham. Sedangkan Sara, melahirkan Ishak anak perjanjian antara Tuhan dengan Abraham, sebagaimana terdapat kitab Kejadian 16 : 1- 4; “Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu”.

Ada banyak sikap yang ditunjukkan oleh nas khotbah kita minggu ini, baik dari sisi Hagar yang menganggap rendah Sarai yang mandul, ketidakyakinan Sarai akan janji Allah dan juga Abraham, kelihatan tidak percaya karena mengandalkan logika (umur yang tidak memungkin lagi untuk mendapatkan anak), namun akhirnya ia menyerahkan sepenuhnya dirinya kepada Allah yang mengadakan perjanjian tersebut.

1. Usia dan kemustahilan tidak dapat menghentikan kuasa dan kehendak Allah (ay.15-16). Abraham sudah ditetapkan Allah menjadi bapa sejumlah besar bangsa, yang pengukuhannya ada pada saat pemanggilannya untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya serta rumah bapanya (baca Kej. 12:1-3, bnd. 17:6-7). Apakah yang mendasari pemanggilan tersebut? Jelas sekali bahwa motivasi yang melatar belakangi pemanggilan tersebut adalah supaya Allah menjadi Allahnya Abraham dan Allah keturunannya. Tetapi apakah mungkin? Inilah yang menjadi persoalan sebab Abraham tidak mempunyai keturunan karena Sarai mandul. Memang, Abraham mempunyai anak dari budak perempuannya, Hagar, yang diberi nama Ismael. Pertanyaan sekitar logika di satu sisi dapat dibenarkan, yah… memang karena umur. Namun apakah bijak, bila orang percaya mengandalkan logika/akal bila Tuhan sudah justru “berkunjung” dan menyatakannya kepada manusia. Apakah baik, membuat logika menjadi tolak ukur bila berhadapan dengan Allah, pemilik semesta alam? Theophany, kunjungan Allah menyatakan sesuatu yang mustahil menjadi realita, yang kabur menjadi jelas, yang tidak mungkin menjadi mungkin (bnd. Luk.1:37). Karena kuasa Allah mengatasi kemampuan logika manusia. Ternyata pemanggilan Allah bukanlah isapan jempol belaka, Dia tidak pernah berdusta. Allah berkenan memberitahukan bahwa Sarai menjadi Sara (“Ibu bangsa-bangsa yang melahirkan raja bangsa-bangsa”) sama seperti Abram menjadi Abraham (“bapak segala orang yang beriman”) yang menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tuhan akan mewujudkan apa telah dikatakan-Nya, Sara akan melahirkan seorang anak. Pertanyaan yang terus berulang adalah “apakah mungkin?”

(more…)

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU, 6 SEPTEMBER 2009

EPISTEL: Roma 15 : 5 – 9

Pendahuluan. Surat Roma terdiri dari 2 bagian, yaitu:

1. Pasal 1-11 yang disebut bagian doktrinal, yaitu bagian pengajaran yang membicarakan secara theologis bagaimana seorang yang berdosa tidak ada harapan untuk bisa diselamatkan kecuali mendapatkan penebusan Kristus di dalam anugerahNya lalu menjadi anak Tuhan yang setia yang hidupnya memuliakan Tuhan. Roma 11:36 menjadi penutup dari seluruh rangkaian pengajaran doktrinal ini yaitu: sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Hidup adalah berasal dari Tuhan, diproses di dalam Tuhan, dan berakhir untuk Tuhan. Itulah hidup yang sejati.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 6 SEPTEMBER 2009

Ev.: Yohanes 17 : 14 – 23

Ep.: Roma 15 : 5 – 9

1. Doa Kristus. Doa adalah ungkapan terjelas dari kondisi hati orang terdalam. Hal ini dapat kita lihat di dalam perumpamaan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (Luk.18:9-13). Dalam doa-Nya ini terpampang jelas siapa Yesus dalam kesadaran diriNya, apa sikapNya terhadap Bapa, terhadap para murid-Nya, dan terhadap semua orang yang percaya kepada-Nya.

(more…)

RENUNGAN, Senin 7 September 2009

Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”

Ucapan Bahagia ini harus kita renungkan secara mendalam agar menjadi landasan, penentu arah, dan warna kehidupan kita. Ucapan Bahagia ini bukanlah alternatif etika namun keharusan, karena yang keluar dari mulut Yesus adalah wahyu khusus Allah.

(more…)

RENUNGAN, Selasa 8 September 2009

Yohanes 10 : 16 “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala”.

Tugas gembala sangatlah jelas. Namun segera akan terjadi perbedaan dipandang dari sisi mana dia bekerja. Gembala yang baik rela berkorban bagi kawanan domba-Nya tanpa pamrih, tanpa upah. Berbeda dengan gembala upahan yang melakukan tugas bukan karena tanggung jawab tetapi karena upah yang diterima. Ia tidak segan-segan lari meninggalkan kawanan domba yang dipercayakan kepadanya, bila kesulitan muncul tiba-tiba. Para gembala yang dimaksud Yesus mungkin sekali adalah para ahli Taurat dan orang Farisi yang menentang Dia, yang tidak memimpin umat kepada hidup. Mereka bukan menjamin keselamatan para domba tetapi justru mencelakakan.

(more…)

RENUNGAN, Rabu 9 September 2009

Efesus 2:17 “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”.

Dalam nas ini sangat jelas bagaimana perseteruan (perselisihan, perbedaan, persoalan) antara Allah dengan manusia telah diselesaikan di dalam darah Kristus. Itu berarti tembok pemisah antara Allah dengan manusia telah dirubuhkan oleh kematian Yesus Kristus. Tidak hanya itu, segala perbedaan-perbedaan, tembok pemisah antara kaum Yahudi dan kaum non-Yahudi telah dirubuhkan oleh darah Yesus.

(more…)

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU, 13 September 2009

Ep.: 1 Raja-raja 17 : 7 – 16

1. Israel, Raja dan Hukuman. Kemungkinan besar kita semua sudah mengetahui bahwa Kerajaan Israel Raya terpecah dua pada tahun 931 BC, setelah Raja Salomo meninggal menjadi Kerajaan Israel Utara dengan ibukotanya di Samaria dan Kerajaan Israel Selatan dengan ibukotanya tetap Yerusalem.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 13 SEPTEMBER 2009

Ev.: Kisah Para Rasul 28 : 1 – 10

Ep.: 1 Raja-raja 17 : 7 – 16

1. Allah berkarya di pulau Malta (ay.1-3). Pulau Malta adalah sebuah pulau yang berada di Laut Tengah. Sejak 218 seb. Mas. berada di bawah kekuasaan Romawi. Para penghuninya berbicara bahasa Fenesia yang menjadi bahasa ibu mereka. Tetapi mereka juga dapat berbicara bahasa Yunani dan bahasa Latin. Paulus kandas pada perjalanannya ke Roma di pulau Malta (Kis.28:1). Pulau Malta adalah juga sebuah tempat yang penting di jalan pelayaran kapal.

(more…)

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU 20 SEPTEMBER 2009

Ep.: Yeremia 26 : 7 – 14

1. Latar belakang dan kehidupan Yeremia di zamannya. Pada dekade terakhir pemerintahan Manasye, pemerintahan terlama dan tersuram dalam sejarah Yehuda, lahirlah dua anak laki-laki sebagai pemberian Allah kepada bangsa yang sedang dilanda kemerosotan dan kehancuran moral itu. Pemerintahan yang berlangsung sekitar setengah abad ini diwarnai dengan maraknya kembali praktik penyembahan dewa-dewa Kanaan dan Asyur, praktik kuasa-kuasa gelap, pengorbanan manusia (termasuk dalam keluarga raja sendiri) dan sistem peradilan yang bobrok. Semua ini menjadi bahan cemoohan, sebagaimana tertulis dalam 2 Raja-raja 21:16, “Lagipula Manasye mencurahkan darah orang yang tidak bersalah sedemikian banyak, hingga dipenuhinya Yerusalem dari ujung ke ujung…

(more…)

KHOTBAH MINGGU 20 September 2009

Ev.: 2 Korintus 11 : 7 – 16

Ep.: Yeremia 26 : 7 – 14

1. Paulus dan lawan-lawannya. Salah satu tantangan dalam upaya Pekabaran Injil yang dilakukan oleh rasul Paulus adalah adanya “rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus” (2 Kor.11:13). Setidaknya mereka adalah orang-orang bodoh (11:19), atau yang paling parah adalah pelayan-pelayan iblis yang menyamar (11:14). Paulus menyebut mereka “rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (11:5). Para rasul palsu ini telah menyelinap masuk ke jemaat Korintus. Siapakah mereka? Ada beberapa kesan tentang mereka:

(more…)

KHOTBAH MINGGU 27 SEPTEMBER 2009

EV.: RUT 2 : 8 – 16

EP.: FILIPI 2 : 1 – 11

1. Percakapan pertama antara Boas dan Rut. Percakapan ini adalah percakapan yang memang sangat dipengaruhi apa yang didengar oleh Boas mengenai Rut. Perilaku dan sikap Rut dalam hidupnya membuat Boas kagum dan salut kepadanya. Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah Rut dan apa yang dilakukannya sehingga Boas tertarik untuk memulai suatu percakapan bahkan menolongnya?

(more…)

SERMON EPISTEL

MINGGU 4 OKTOBER 2009

EP.: YESAYA 46 : 3 – 4

1. Kitab Yesaya terbagi atas tiga bagian, yaitu:

a. Pasal 1 – 39             : proto Yesaya

b. Pasal 40 – 55         : deutro Yesaya

c. Pasal 56 – 66          : trito Yesaya

Nas epistel ini, tentu, adalah bagian dari deutro Yesaya. Yesaya (deutro) hidup pada masa pembuangan di Babel kira-kira tahun 540 seb.M. Siapakah orang-orang buangan itu? Menurut suatu catatan pada penutup kitab Yeremia (52:28-30), 4.600 orang Yehuda dibawa ke Babel dalam tiga gelombang antara tahun 598 dan 582 seb.M. Mungkin hanya kaum pria yang terhitung dalam angka itu, sehingga jumlah jiwa seluruhnya mencapai 15 sampai 20 ribu orang, mengingat bahwa anggota-anggota keluarga ikut dipindahkan. Orang-orang buangan ini berasal dari golongan atas di Yerusalem dan negeri-negeri sekitarnya dan terdiri atas kaum bangsawan, imam dan pegawai tinggi, ditambah dengan beberapa ratus ahli dan tukang serta tuan-tuan tanah di daerah sekitar kota. Mereka dibolehkan tinggal bersama-sama dan menetap dekat Babel; di situ mereka diijinkan mendirikan rumah-rumah, bertani dan berdagang, memelihara agama dan budaya sendiri, namun mereka diharuskan bekerja rodi pada saat tertentu dan selalu menurut perintah-perintah penguasa Babel.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 4 OKTOBER 2009

EV.: MAZMUR 28 : 6 – 9

EP.: YESAYA 46 : 3 – 4

1. HKBP patut bersyukur pada Minggu ini mengingat Ulang Tahun kelahiran yang ke-148 tahun. 148 tahun adalah umur yang panjang dan patut disyukuri. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa sebagai Gereja yang dinamis dalam gerak pelayanannya, HKBP mempunyai persoalan, tantangan dan ancaman. Namun sungguh luar biasa pemeliharaan dan penyertaan Tuhan untuk HKBP. Itulah dasar bagi kita untuk mengenal perbuatan tangan Tuhan yang setia senantiasa bersama-sama dengan HKBP.

(more…)

BAHAN SERMON EPISTEL

MINGGU 11 OKTOBER 2009

Ep.: Kejadian 39 : 1 – 10

Memperhatikan kehidupan Yusuf, maka kita kembali diingatkan tentang kisah anak kesayangan. Menjadi anak kesayangan tidaklah selalu menyenangkan. Ada saja beban yang didapatkan sebagai anak kesayangan, mulai dari kecemburuan sampai dengan keinginan untuk membunuhnya. Stigma Yusuf sebagai “anak kesayangan” menjadi salah satu persoalan di tengah-tengah keluarga Yakub, ada yang diistimewakan dan ada yang merasa dipinggirkan. Kenapa? Karena di situ tumbuhlah rasa cemburu, iri hati dan berbagai emosi negatif mewarnai interaksi sesama saudara (lih. Yak.3:16).

(more…)

KHOTBAH MINGGU 11 OKTOBER 2009

EV.: YOHANES 13 : 12 – 17

EP.: KEJADIAN 39 : 1 – 10

Saudara-saudara, selamat berjumpa kembali. Nas Firman Tuhan hari ini menyapa kita untuk melakukan kehendak Sang Guru, yaitu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, Dia adalah teladan kita. Bila ada Guru, tentu ada murid, ada kurikulum, ada ujian (persyaratan untuk naik ke kelas berikutnya). Semuanya itu adalah bagian yang kita kenal dengan proses belajar mengajar. Nas ini adalah salah satu mata pelajaran dari Sang Guru, Yesus Kristus, bagaimana kita mau saling mengasihi dengan merendahkan diri dan mau saling melayani. Mari kita lihat beberapa hal penting di dalamnya.

(more…)

Renungan, Senin 12 Oktober 2009

1 Timotius 4 : 12 “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”.

Nas ini adalah nasehat yang menguatkan (strengthen) Timotius dari bapa rohaninya rasul Paulus. Nasehat itu bukan untuk mengendorkan semangatnya dalam pelayanan tetapi agar Timotius setia dan menjadi teladan. Ternyata, melayani dalam usia muda memiliki tantangan tersendiri. Pelayan yang harus tunduk kepada kehendak Tuhan, sementara di sisi lain harus menghadapi gejolak darah kemudaannya.

(more…)

RENUNGAN, SELASA 13 OKTOBER 2009

Matius 5 : 13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”.

Khotbah Yesus tentang garam dan terang dunia pada intinya menekankan bahwa Kristen tidak boleh hidup sebagai ‘gated community‘ (masyarakat yang dipagari). Kristen harus berbaur dengan masyarakat sebab hanya Kristen yang dapat menjadi garam dan terang dunia. Apa artinya?

(more…)

RENUNGAN, RABU 14 OKTOBER 2009

Amsal 13 : 20 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang”.

Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Terbentuknya karakter yang baik ditentukan kecenderungan, perhatian (atensi) seseorang.

(more…)

RENUNGAN, KAMIS 15 OKTOBER 2009

Filipi 4:4-5 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!”

Pertanyaan yang segera muncul dari nas ini bagi banyak orang adalah “apakah mungkin bersukacita senantiasa? Emang bisa? Masak, ketika kita berduka, menangis sekaligus tertawa? Imposible”. Meskipun banyak anggapan mengatakan bahwa anjuran ini tidak realistis dan mustahil untuk dilakukan, tetapi perintah ini dianjurkan oleh orang dalam posisi menderita, Paulus kepada jemaat yang juga terancam aniaya, Filipi! Yang mustahil menjadi mungkin, sebab sukacita yang dimaksud tidak bergantung kepada situasi atau peristiwa-peristiwa tertentu, melainkan sukacita yang keluar dari hati dan jiwa yang dipenuhi oleh damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, dan yang memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (ayat 7; bdk. Yoh. 14:27).

(more…)

RENUNGAN, JUMAT 16 OKTOBER 2009

Amsal 19:20-21 “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana”.

Nas hari ini menyapa kita untuk tidak meremehkan nasihat dan didikan. Itu sebabnya ayat ini dimulai dengan kata “dengarkanlah”. Kata itu mengajak kita untuk lebih memberi perhatian kepada nasihat dan didikan. Nasihat dan didikan itu yang akan mengarahkan kita untuk memilih hidup menjadi bijak dan tentu memperoleh sukacita di masa depan.

(more…)

RENUNGAN, SABTU 17 OKTOBER 2009

1 Korintus 15 : 33 – 34 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu”.

Pergaulan yang baik akan menghasilkan kebiasaan yang baik, dan tentu, pergaulan yang buruk adalah hasil dari kebiasaan yang buruk. Namun bila kita sudah mempunyai kebiasaan yang baik, tetapi melarutkan diri dalam pergaulan yang buruk maka nilai kebaikan itu akan serta merta luntur dan akhirnya hilang. Demikianlah juga rasul Paulus mengingatkan orang-orang Korintus tentang baiknya seseorang sadar akan dirinya yang sudah ditebus dan hidup dalam kebangkitan Kristus. Kata ‘sadar’ hendak mengingatkan banyak orang untuk tidak tertidur atau terlena dengan keadaan yang memabukkan, keadaan yang menjauhkan seseorang dari nilai dan kebiasaan baik.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 18 OKTOBER 2009

EV.: Keluaran 4 : 10 – 17

EP.: 2 Timotius 4 : 1 – 5

1. Panggilan Musa. Pola kisah dalam Kel 3:1-4:31 menonjolkan kombinasi

a. perutusan bagi pihak yang dipanggil oleh pihak yang lebih tinggi,

b. keberatan pada perutusan tersebut oleh pihak yang dipanggil,

c. penghiburan dan jaminan keberhasilan dari pihak yang lebih tinggi, dan

d. beberapa petunjuk penerimaan dan keberhasilan perutusan itu.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 25 OKTOBER 2009

Ev.: Yosua 1 : 6 – 9

Ep.: Yohanes 21 : 20 – 25

Siapakah Yosua?

Sebelum merenungkan nas khotbah Minggu ini, perlu kita mengenal siapakah Yosua. Dia adalah pemimpin suku Efraim dan menjadi salah seorang dari 12 pengintai yang di pilih Musa untuk mengintai tanah Kanaan (baca Bilangan 13). Sebelumnya Yosua bernama Hosea Bin Nun, tetapi oleh Musa dinamai Yosua. Dalam bahasa Ibrani, Yosua berarti “Allah Menyelamatkan” (yehôshûa‛ – Jehovah-saved). Dan ternyata benar Yosua adalah salah satu orang yakin bahwa Tuhan akan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian (Bilangan 14:6-8). Dan Yosua sendiri di pilih Tuhan untuk menggantikan Musa.

(more…)

SERMON EPISTEL MINGGU 1 NOVEMBER 2009

Ep.: Yosua 24 : 14 – 24

1.    Siapakah Yosua? Yosua adalah pemimpin suku Efraim dan menjadi salah seorang dari 12 pengintai yang di pilih Musa untuk mengintai tanah Kanaan (baca Bilangan 13). Sebelumnya Yosua bernama Hosea Bin Nun, tetapi oleh Musa dinamai Yosua. Dalam bahasa Ibrani, Yosua berarti “Allah menyelamatkan” (yehoshua‛ – Jehovah-saved). Dan ternyata benar Yosua adalah salah satu orang yakin bahwa Tuhan akan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian (Bilangan 14:6-8). Dan Yosua sendiri di pilih Tuhan untuk menggantikan Musa. ̂̂

(more…)

SERMON EPISTEL 8 NOVEMBER 2009

Ep.: 2 Korintus 9 : 6 – 15

1. Memahami surat 2 Korintus. Paulus menulis surat kiriman ini kepada jemaat di Korintus dan kepada orang percaya di seluruh Akhaya (2 Kor.1:1), dengan menyebut namanya sendiri sebanyak dua kali (2 Kor.1:1; 10:1). Setelah mendirikan jemaat di Korintus selama perjalanan misinya yang kedua, Paulus dan jemaat itu sering berhubungan karena masalah dalam jemaat. Urutan hubungan ini dan latar belakang penulisan 2 Korintus adalah sebagai berikut: Pertama, setelah beberapa kali berhubungan dan surat-menyurat yang awal di antara Paulus dengan jemaat itu (misalnya: 1 Kor.1:11; 5:9; 7:1), maka Paulus menulis surat 1 Korintus dari Efesus (awal tahun 55/56). Kedua, setelah itu Paulus menyeberangi Laut Aegea menuju Korintus untuk menangani masalah yang berkembang dalam jemaat. Kunjungan ini di antara 1 dan 2 Korintus (bnd. 2 Kor.13:1-2) merupakan suatu kunjungan yang tak menyenangkan, baik bagi Paulus maupun bagi jemaat itu (2 Kor.2:1-2). Ketiga, setelah kunjungan ini, ada laporan disampaikan kepada Paulus di Efesus bahwa para penentang di Korintus itu masih menyerang pribadinya dan wewenang rasulinya, dengan harapan agar mereka dapat membujuk sebagian jemaat itu untuk menolak Paulus. Keempat, sebagai tanggapan terhadap laporan ini, Paulus menulis surat 2 Korintus dari Makedonia (akhir tahun 55/56). Kelima, segera sesudah itu, Paulus mengadakan perjalanan ke Korintus lagi (2 Kor. 13:1, dan tinggal di situ selama lebih kurang tiga bulan (bnd. Kis.20:1-3a). Dari situ ia menulis kitab Roma.

(more…)

KHOTBAH MINGGU 8 NOPEMBER 2009

Ev.: Yesaya 58 : 4 – 12

Ep.: 2 Korintus 9 : 6 – 15

1. Pesan Yesaya terutama ditulis untuk bangsa Yehuda yang berada dalam pengasingan di Babel. Pengasingan ini merupakan konsekuensi dari Yesaya bagian pertama, “Penghakiman”. Tetapi, sekarang Yesaya mendapat kata baru yaitu “keselamatan”. Bangsa Yehuda di Babel tidak boleh putus asa: Allah akan menghampiri mereka dan mereka akan diselamatkan.

(more…)

Next Page »